X

The Only Way to End Q1 2026: Check Out Some Underrated Local Acts You Might Have Missed

by webadmin / 5 months ago / 693 Views / 0 Comments /

Kurasi unit-unit musik lokal fresh yang (masih) underrated dan wajib buat masuk radar sebelum melanjutkan eksplorasi di kuartal dua 2026.


Entah terasa lama atau sekejap mata, namun kartal awal 2026 akan segera berakhir. Kalender segera berlalu ke kuartal dua dan sangat disayangkan jika kita melauinya dengan melewatkan banyak hal.

Meskipun, kami sangat memaklumi jika kamu melewatkan banyak hal. Hujan distraksi seakan memaksa atensi berlabuh pada hal-hal di luar kesukaan pribadi, terutama nasib kita tinggal di negara ini. Amisnya aroma berita sosial dan politik masih tak kunjung berkurang dari tahun lalu. Setidaknya terhitung di kuartal awal tahun ini kita masih hidup di bawah bayang-bayang ketidakpastian bahkan ketakukan akibat dipaksa menelan kabar sulit cari pekerjaan, tanggapan pemerintah asal-asalan, hingga pembungkaman yang dikawal preman.

Suram. Just in case kita terlalu tenggelam dalam kabar-kabar buruk tadi, setidaknya masih ada ruang sempit untuk sejenak bernafas dan kembali menghidupi apa yang kita suka–dalam konteks ini musik. Kali ini, kami merangkum beberapa band lokal, mulai dari pendatang baru sampai yang sudah eksis tahunan namun tak kunjungi dapat lebih perhatian, wajib simak sebagai penambah referensi sebelum eksplorasi band-band baru dimulai di kuartal dua. Mulai dari metal, pop, alternatif sampai jazz eksperimental semuanya punya porsi.

Simak selengkapnya langsung di bawah ini. Btw, buat dengerin bandnya, kamu bisa langsung klik nama bandnya, ya!

Well Whale (R.I.P)

Bukan rekomendasi band yang mesti disimak ke depan, berhubung band ini sudah memutuskan buat usai. Unit asal Jatinangor berisi sekawanan satu kampus yang saya kenal lewat album debut Bittersweet Kisses (2020) akhir tahun lalu kembali merampungkan paketan rilisan, mungkin ucapan selamat tinggal–sebuah EP bertajuk self titled. Masih dengan pendekatan yang mentah dari musik indiepop, namun bertambahnya usia nampaknya memberikan sedikit sentuhan pendewasaan yang terasa cukup kentara buat rilisan berisi 5 trek ini. Setidaknya, mereka tak lagi menulis lagu telanjang macam “She’s A Punk” seperti di album sebelumnya. Kali ini lebih filosofis serta balutan lirik yang lebih dikemas. 

Trek pembuka langsung melayangkan pikiran kita kalau unit ini isinya punya selera film yang nggak murahan: “Throw Your Books, Rally In The Streets”. Dari komposisi yang ringan namun somehow terasa bijak, mereka seakan ingin menuntaskan perjalanan sebagai band dan ‘mati’ dengan tenang karena sebenernya EP ini merupakan langkah yang tepat buat mereka sebagai unit muda yang perlahan semakin dewasa, namun sayang, sampai akhir hayatnya lampu sorot tak begitu terang mengarah pada mereka, selayaknya taburan wasiat pada lagunya yang kadung semesta amini, “I’ve Made A Song That No One Wanted To Hear”. (Ilham Fadhilah)

 

Pierson

Masih di ranah pop-pop-an, unit baru netas asal Bandung yang beberapa waktu lalu kenalkan debutnya “Nine To Sick” jadi salah satu unit musik yang menarik buat penikmat indiepop. Berdasar pada debutnya, mereka menerjemahkan perasaan kalut sebagai pekerja dengan balutan sound yang ringan, mengalir, namun tetap terasa gelisah di beberapa titik. Buat kami, kuartet yang merilis debutnya di bawah label Greedy Dust ini juga punya kualitas yang menjanjikan, meski tak menyuguhkan kebaruan namun memberikan opsi talenta indiepop lokal yang layak buat dipantau. FYI, band ini juga masih dibadani oleh gitaris Well Whale. (Ilham Fadhilah)

 

Laundrette Hearts

Unit alter ego dari bassist Leipzig, Mirza P. Wardhana nyelonong melepas 4 trek EP bertajuk Accidental Smiles Februari lalu. Bisa dibilang proyek ini adalah yang kesekian dalam misi penyaluran obsesinya terhadap indiepop yang sudah mengakar sejak 2007, mengingat ia pernah tergabung di band-band macam Toy Tambourine sampai Lawrence & Kim.

Sebagaimana bentuk indiepop yang paling jujur, 4 trek tanpa polesan ia kenalkan. Cerminan dari egonya adalah tampil apa adanya–menurutnya itu adalah bentuk dari kejujuran yang paling brutal. Secara senyap, Accidental Smiles menyalurkan tiga trek orisinil serta satu trek cover dari Beat Happening. Publikasi yang effortless membuat monikernya ini tertimbun. Bukan trik tertentu atau sengaja membuat statusnya YTTA, tapi Mirza percaya tiap butir lagu akan menemukan pendengarnya sendiri, karena ia yakin setiap karya punya takdirnya masing-masing. Maka dari itu, tak ada salahnya kami memuat Laundrette Hearts di sini, karena mungkin ini bagian dari takdirnya sendiri. (Ilham Fadhilah)

 Supersonic Bloom

Pernah kepikiran ada band gitar berlirik Bahasa ala Perunggu tapi kebanyakan dengerin post-hardcore/grunge ala Title Fight atau Balance And Composure? Saya rasa perumpamaan itu paling cocok buat menggambarkan bagaimana gemilangnya formula musik yang dimasak oleh  Supersonic Bloom, unit muda asal Pekanbaru yang mencuri perhatian saya belakangan ini. Tak perlu waktu lama buat EP-nya yang bertajuk Nila dan rilis awal tahun ini nyangkut di telinga saya. Sejak bosan dengan Perunggu yang (kayaknya) lebih banyak ‘kompromi’ di Dalam Dinamika, memaksa saya mencari alternatifnya, yang belum dapat banyak sorotan, yang belum mengemban tumpukan ekspektasi dan akhirnya kebanyakan kompromi. Lirik puitis kawin selaras dengan dinamika musik yang kadang tak tertebak, kadang sekedar syahdu, dan kadang memantik angguk cukup kencang. Mereka memelintir ekspektasi yang mulanya menganggap akan terdengar monoton dan terprediksi, melangkah jauh dari skeptisitas dan menciptakan perkawinan refrensi yang menandai generasi dilahirkan dengan paripurna. Gilanya lagi, ini baru debut. Semakin memancing penasaran akan kiprah mereka selanjunya. (Ilham Fadhilah)

Hanging Gods

Proyek personel-personel band hardcore Ibukota yang kemudian banting setir main metal, Hanging Gods baru saja menebar teror pertamanya lewat single lepasan “Time is Due” sebelum kabarnya nanti disusul rilisan mini album yang lebih mematikan April mendatang.

Unit ini dihuni kuartet: Arief (Stand Clear, Heaven In, No Excuse, Twisted games), Indra (Final Attack, ZIP), Ghani (ColdSkin, The Brndls), dan Kevin (No Excuse), bermain lurus nan agresif macam d-beat yang dialiri deras infus riff-riff death metal. Tentu bukan sesuatu yang baru, tapi setidaknya debut mereka berhasil menorehkan namanya sebagai salah satu unit pendatang di kolom musik ekstrem yang wajib diintai. Tinggal tunggu kehadiran paketan mini albumnya yang akan datang, semoga dapat membantai keraguan. (Ilham Fadhilah)

 

Zookeeper

Informasi soal mereka masih minim, namun terkaan kami unit ini diisi oleh personel Karmax. Terhitung masih seumur jagung, tapi unit ini tak sungkan buat tampilkan materinya secara maksimal. Hadir lewat debut single “EXOTIC” yang keluar Februari lalu, baru-baru ini mereka tajamkan taringnya lewat EP Gates Wide Open yang dirilis Madafaka Records. Mereka memainkan hardcore dengan sound heavy, padat groove, serta riff-riff yang dicomot dari metal. Jika anggapannya jatuh pada heavy hardcore/beatdown medioker, mungkin Zookeeper akan lebih bisa memuaskan hasrat. Mereka tak menakar elemen-elemen di dalamnya berlebihan. Seakan materi yang digarap berdasarkan perhitungan agar permainan mereka gahar dan buas semata, bukan memantik orang terjun ke moshpit, karena dengan modal materi ringkas yang hanya dikemas 7 menit buat 6 trek, mereka mendahulukan pemuasan dahaga pribadi dan percaya gairah moshpit nanti mengikuti. (Ilham Fadhilah)

 

Klegoth Breaks

Entah kenapa, saya merasa excited melihat unit ini bisa bergaung lebih luas lagi, mengingat langkanya spesies jazz eksperimental yang muncul ke permukaan sekaligus talentanya yang nggak main-main. Klegoth Breaks, unit asal Lombok yang belum begitu bergerilya punya modal menjanjikan: rilisan yang hanya dilepas via Soundcloud. Tak ada keraguan, dari menyimak trek semata wayang “Belantara Sepi” dan beberapa live session yang sudah tersebar di kanal streaming bakal menuai decak kagum sekaligus tanda tanya besar, “Kenapa mereka belum dapat sorotan lebih, ya?” Mungkin satu dan lain hal karena diskografi yang masih minim, alasan lainnya bisa jadi soal geografis. Namun tak ada salahnya buat mengenalkan unit musik ini sebagai band underrated yang sangat layak buat diperhitungkan. They’re truly a hidden gem! (Ilham Fadhilah)

NozoK

Biasanya, underrated selalu ditakar dari metrik. Kalau bicara eksposur massal yang bukan skena-skena aja jelas NozoK masuk kategori underrated. Meskipun di ranah yang lebih niche, dia mungkin cukup dominan. Tapi satu hal bikin saya bersitegas memasukan namanya ke dalam list ini yaitu kehadirannya di scene no school hiphop yang tergolong kuat secara artistik tapi masih sering ketutup nama-nama kayak PORIS, Riski Inrahim, Student Park Street, dll.  Buktinya adalah mixtape NEOSANTAI yang dirilis oleh Preachja pada Januari kemarin. Terasa santai  di permukaan, tapi ada kecerdikan di balik pilihan beat dan flow yang ia pakai. Ia tidak terdengar ingin jadi paling keras, tapi justru itu yang bikin menonjol.

Lirik-lirik NozoK cukup catchy, formula musiknya juga bisa membuat rilisannya lebih dari sekedar bunyi–tapi komunikasi penanda generasi, di mana nama-nama yang diboyong seperti Dzulfahmi, Tsabat, sampai Isseysan hadir lebih dari sekedar kolaborator di NEOSANTAI. Dengan modal itu, saya berharap ia bisa bergerak bebas di bawah monikernya sendiri karena sejauh ini masih sering jadi plus one (biasanya dia manggung jadi semacam opener lah, kasarnya). Mungkin sudah saatnya ia  mendobrak lingkaran niche itu, ia terlalu cemerlang untuk terus berkubang di kolam kecil. (Freykarensa)

 

Falaci

Ada sesuatu yang belum sepenuhnya matang dalam musik Falaci, tapi justru itu yang bikin mereka jauh lebih menarik buat saya pribadi. Dari EP prototype [demo], terdengar bagaimana mereka bermain di wilayah gelap, membangun groove yang tegang lewat bass dan drum yang dominan, lalu membungkus itu semua dengan elemen elektronik kuat.

Rasanya seperti mendengar band yang sedang mencari bentuk terbaiknya, tapi tidak takut untuk terlihat mentah. Mungkin bentuk matang dari Falaci itu sendiri akan terlihat dalam album penuh yang menurut kabar burung akan rilis di tahun ini. Ada kegelisahan, ada energi, ada rasa ingin membongkar sesuatu dari dalam kepala mereka sendiri. Kalau kamu suka momen ketika sebuah unit musik terdengar masih berproses namun penuh potensi, Falaci ada di titik itu sekarang. (Freykarensa)

Deep Sweep

Deep Sweep muncul secara perlahan dari Medan, lewat dua single yang tersebar di kompilasi Home Listening Plaza. Tidak banyak gimmick yang digunakan tapi justru itu yang membuatnya terasa tulus dalam bermusik. Mereka seperti sedang membangun fondasi, satu rilisan kecil dalam satu ekosistem kota yang sedang bergerak.

Musiknya memadukan alternative, indie rock, dan sentuhan electronica yang tidak berlebihan. Ada nuansa melankolis yang tipis, tap tetap ada ruang kosong yang sengaja dibiarkan untuk pendengarnya bernapas. Mereka terdengar seperti band yang rasanya tidak memiliki urgency untuk menjadi besar secara buru-buru, tapi dengan sabar menanam benihnya sendiri. (Freykarensa)

Barp

Barp baru memiliki satu single berjudul “Nasty Blister” yang rilis akhir tahun lalu, tapi justru itu yang bikin saya semakin penasaran. Dari satu lagu itu saja sudah terasa fondasi alternative indie rock yang cukup solid, gitar yang tajam namun tetap catchy, dengan aura sedikit abrasif yang tidak sepenuhnya ramah ala-ala musik crank wave atau band-band rock era post-brexit.

Sebagai band yang berbasis di Bintaro, mereka terdengar seperti sedang berjalan secara perlahan untuk menggapai pintu masuk skena. Nasty Blister terasa seperti perkenalan yang sengaja dibuat singkat dan berbekas untuk membuat pendengarnya bertanya-tanya, apa langkah yang akan mereka ambil selanjutnya? (Freykarensa)

Satva

Ketika diberi mandat menyusun daftar ini, kepala seperti dipukul palu godam redaksi. Semua band terasa monoton, seperti kopi sachet yang dipaksa jadi espresso. Menodong pasangan sendiri mungkin bisa jadi jalan keluar. Bangsat! Ia lempar rekomendasi grup asal Bali ini, seolah sedang menyodorkan talenan kayu dengan barisan potongan molly sekaligus air putih berisi es batu dalam gelas wine. Alternative rock, garage, pop punk. Bahkan post-hardcore? Emo era 2000-an awal? Tai kuda lah! Semua elemen itu diperas, dipadatkan, dikompresi sampai jadi satu debut album paten bin padat, nekat, dan tak banyak cengkunek. Licks bluesy berkelindan dengan riff rock ‘n’ roll yang tak semenjijikan impersonator The Sigit. Di beberapa materi menyelip tulitit-tulilulit ala At the Drive-In, ada pula RATM-core. Ya, RATM-CORE! Karena saya benci terminologi hip-metal. Liriknya tak pretensius. Pattern dan gaya vokalnya mengingatkan pada satu grup kompatriot Kvelertak yang sudah sama-sama di level stadium rock/rock arena lalu nyaman bermain di panggung megah, melihat crowd seperti serangan zombie apokalips.

“Pop Riot.” Begitulah terminologi yang beredar soal mereka, entah siapa yang pertama kali mabuk dan mematenkannya. Ingatan melompat pada Blood Command dan dogma death-pop mereka yang genit tapi menggigit. Analogi ngawur? Tentu. Bayangkan Paramore yang selalu ada dalam  perangkap norak stadium empat karena masih punya repertoar sekelas “The Only Exception” (kecuali saat merilis Riot!). Lalu hari ini level noraknya makin menggerogot tak bisa sembuh, tinggal tunggu ajal ketika Hayley Williams bersabda bahwa Turnstile adalah Fugazi bagi dirinya. Bajingan! Kesambet wahyu apa si gerangan berambut warna-warni? Untungnya itu hanya ada dalam kosmos halusinasi pribadinya. Andai menyebut “Fugazi di era ini,” coba cekoki si biduan 13 Songs tiga belas kali putaran, lalu kalikan lagi tiga belas sampai lutut gemetar dan goyah atas pernyataannya sendiri. Setelah itu, baru boleh bicara kebisingan yang punya martabat. Tak lupa, beri juga Pink Noise milik Satva yang tak butuh minta restu dirinya. (Dimas Dritt)

Sayat

Goregrind mungkin tak digemari banyak individu. Kecuali keranjingan Reek of Putrefaction atau Symphonies of Sickness milik Carcass. Kerap mengulang Horrified, album semata wayang Repulsion hingga kuping berdarah. Saya pun tak terjerumus terlalu dalam. Hanya yang barusan disebut ditambah beberapa dari katalog diskografi Impetigo dan era awal Exhumed. Sisanya agak buta. Unit asal Jogja ini menarik perhatian ketika rilis Demo di 2024 silam. Berisi tiga trek. Goregrind purba, busuk, bau amis dan sadis. Tak hanya lirikal. Entah apa bius apa yang bisa menghasilkan dopamin lalu tak sadar ingin putar lagi dan lagi. Sayat pakai formula output sound total busuk yang benar-benar menyayat membran timpani secara literal. Mungkin itu yang menarik. Padat, singkat, cepat, menyayat? Tapi…entahlah. Tahun lalu memburai single “Case 5” yang terselip dari duodenum seonggok kadaver di ruang bedah. Tak perlu banyak bacot perihal jenis musik ini. Tinggal putar, ulang, putar lagi, ulang lagi. Ya, terus lakukan sampai muntah darah. Kalimat terakhir, pleSETAN dari repertoar milik AC/DCFor Those About to ROT (We Salute You). (Dimas Dritt)

WAFFLE

Malas jika harus mengulang ocehan yang pernah keluar dari kepala obat ini karena sempat membuat resensi singkat debut album mereka. Singkatnya, Waffle punya keberingasan tapi dengan corak musik yang tak mau pakai seragam dengan grup seangkatannya. Bangor. Masih berumur jagung, album pun baru rilis tempo hari, kumpulan materi brutal seperti boots delapan lubang kita yang mendarat kencang di tameng barikade aparat. Hardcore punk kaya rasa. Bumbu tengik nan kecut powerviolence adu banteng dengan hardcore punk mutan gorong-gorong, seraya interupsi dari breakdown groovy pemantik injak lantai mosh pit. Debut albumnya intens, maniak kebut-kebutan yang sekaligus diberi benzo agar tak lupa turun gigi. Lalu jemaat powerviolence murtad yang memoles soundnya terlalu bagus ini mulai injak pedal gas lagi seakan esok bakal mati. Terlalu bengis untuk kaliber grup pendatang baru. Pemain baru di liga scene musik ini dan bisa membuat yang lain senyum kecut karena merasa butut, bahkan melucuti senjata lawan sampai nyalinya menciut. (Dimas Ditt)

Bongeater

Menghamba pada riff Iommi. Linting indica murni. Ambil Les Paul atau SG. Betot senar Rickenbacker 4003. Gebuk drum sepenuh tenaga. Main tempo selambat kurir mariyuana yang doyan giting sebelum antar dagangan. Doom metal lokal tak kehabisan persediaan grup paten, meski jumlah yang layak dengar tak sesubur ladang ganja di Bromo yang baru ketahuan beberapa waktu lalu yang berkaitan dengan larangan penggunaan drone di kawasan tersebut. Ah taik, lah! Lupakan. Bongeater melebur semua diskografi Sleep hingga Bongripper. Main ngawang selama enam belas menit instrumental di debut album bertajuk Hymn of Doom layaknya Belzebong. Mengamalkan semua aspek trinitas jenis musik ini secara khidmat. Sound berat ultra-heavy, riff-riff sabbathian yang membosankan tapi entah kenapa banyak orang sinting yang memujanya, pattern drum tak monoton meskipun hanya mengiringi riff yang entah diulang belasan hingga puluhan bar. Menghirup nafas album Dopesmoker lalu menjelma menjadi entitas baru dan perlu diperhitungkan di kancah musik teler ini. Saat berbincang ngoceh ngawur bersama tiga kukang jemaat GKI (Gereja Kemabokan Indonesia) ini kabarnya sedang garap album lagi. Saya bersumpah di atas kitab kami (plat album Vol 4), ini adalah wahyu yang hukumnya dinantikan. (Dimas Dritt)

SPAKTRA

Merongrong dari gelap gang sempit di tengah temaramnya selatan Ngayogyakarta Hadiningrat. Morbid Wonolelo. Menjerumuskan crossover/thrash ala Bay Area ke dalam palung dosa paling dalam. Demo bertajuk “War Ashes” yang dilepas dari kandang di tahun lalu jadi pembuka gerbang lalu berhasil masuk daftar rilisan musik-musik biadab dan tak layak jika diacuhkan begitu saja. Hura-hura thrash dikencingi setan hingga masuk jerat perjanjian iblis selama tujuh turunan. Bengisnya Sepultura era awal, dosa-dosa Slayerhuakbar, hingga pengaruh crossover thrash modern jadi konfigurasi sonik yang bernas nan keras. Solid dan tak obesitas. Saya benci Power Trip pasca Riley Gale OD fentanyl. Bangsat! Masih terasa sesal hanya menyaksikan penampilan mereka satu kali. Tapi tak apa lah. Hm…Fugitive? Jangan tanya! Hanya mendompleng kematian Riley, sama halnya seperti Cobain dan Nirvana. Begitu pula proyek-proyek milik Dave Grohl. Kecuali Probot.

Yang membuat kuintet ini menarik adalah eksplorasi mendalam dalam meramu komposisi “thrash bengis”. Dengan pondasi dari pengaruh kental Metallica, sejumput Exodus, hingga Death Angel. Pekat. Diserobot crossover modern yang tak mengganggu kemurnian pondasi utamanya. Riff groovy-nya pun tak semembosankan Dazzle yang hanya jadi “Power Trip-nya Indonesia”. Gelar validasi dari audiens yang wajar jika dibanggakan, namun menjijikan untuk saya pribadi karena membunuh orisinalitas sebuah band. Vokal growl rendah dengan reverb menggulung dan disimpan di belakang membuatnya terdengar samar menjadikan tiga trek War Ashes dan Spaktra tak serta merta masuk ke liga death-thrash atau blackened thrash. Mereka masuk zona abu-abu, ditambah nomor pembuka bernuansa darkwave mentok. Pertanggungjawaban di atas panggungnya pun bisa menuntaskan rasa penasaran, biarpun baru sempat sekali melihatnya bermain di agenda tur Kilat (Australia), 2025 silam saat mampir ke kandang lima pendosa ini. (Dimas Dritt)

HONGKONG

 

Satu unit indie rock pendatang baru asal Bali unggulan dr. Marto lalu disepakati pula oleh Bangsat permanen. Kata mereka, grup ini punya banyak faktor ideal untuk merangsek ke kancah musik lokal dan jadi salah satu nama yang suatu hari harus diperhitungkan. Saya pun setuju. Berharap berumur panjang. Single pertama dengan titel “Derau” adalah nomor indie rock paripurna untuk jadi gambaran kehidupan urban dibalut merdu namun bising. Noisy. Terasa mentah, ditambah lirikal yang memaksa untuk diberi acungan jempol. Obrak-abrik alternative rock, shoegaze hantu nian samar, sampai liukan vokal yang terasa pop lalu mampu menghindar jauh untuk menyentuh level butut. Melayu. Ya, maksudnya melayu harfiah. Bukan pop melayu poni emo. Penampilan livenya memukau. Indie rock badung. Pop arbal. Menghipnotis bawah sadar untuk stage dive akibat sang vokalis bandel yang pecicilan seperti cacing kepanasanJimi Multhazam era Jimi Danger melakukan fusion dengan Liam Gallagher. Beberapa materi yang belum rilis, sepertinya tinggal rekaman, mampu keluar dari kata “kendor””. Mengingatkan era awal Barefood hingga Morfem. Brengseknya, mereka tak patut masuk liga perdebatan Morfem-core (The Jeblogs, The Kicks, dkk.) beberapa waktu lalu di salah satu platform media sosial. Bocah-bocah ini terlalu bangsat dalam meramu hingga punya pola unik tersendiri bahkan terlalu apik jika harus diseret paksa ke dalam spektrum tersebut. (Dimas Dritt)

 

 

 

 

Tagged

#music #indiepop #jazz #hardcore punk #underrated