X

Blast From the Underground: Beberapa Rilisan Hardcore/Punk/Metal Lokal Favorit Akhir November 2025

by Dimas Dritt / 10 months ago / 794 Views / 0 Comments /

Waffle, Maio, Horrified, Karmax, Blind Pig sampai Morbid Monke jadi pilihan yang layak buat kamu simak rilisan terbarunya.


Suara bawah tanah terus menggema, berdesis samar ke dasar tanah sampai akhirnya memanggil kami untuk terus menggali. Kancah gorong-gorong selalu punya sesuatu yang lebih menarik, setidaknya menyimpan satu, dua, atau bahkan banyak hal yang tak bisa ditemukan di permukaan. Dan menuju akhir hayat 2025, nafasnya masih diberkati dengan beberapa rilisan di lingkar metal/punk/hardcore lokal layak intai, baik yang sudah rampung, maupun pembuka menuju sesuatu yang lebih maut di waktu mendatang.

Dari yang bak lesatan tinju tepat di wajah, caur tapi presisi, agresi dingin juga mematikan, hingga yang lurus nembus serang psikis semuanya tersaji. Note: jika kelewatan, ada baiknya buat cek langsung dengan klik di nama dan judul rilisan tanpa perlu pikir panjang!

Waffle – Primal Instinct (Album)

Tak ada harapan sejak awal, hanya skeptisisme murahan yang muncul dari kebiasaan menghakimi band berdasarkan nama–refleks primitif yang terus berulang. Tapi begitu menyeret badan mereka ke gigs intim dengan sound caur, realitas seperti diinjeksi adrenalin di dada seratus delapan puluh derajat berubah. Mereka bukan hardcore medioker seperti kebanyakan penghuni abadi kanal dokumentasi hate5six, tapi sesuatu yang lebih ugal. Lebih dekat ke kegilaan yang biasanya ditangani psikiater yang sudah menyerah.

Oplosannya hardcore punk mentah disulut powerviolence mode maniak balap speedfreaks Ritalin. Waffle brengsek, tidak selembek namanya. Debut albumnya bukan sekadar impresif. Terasa intens. Cepat. Penuh groove. Kadang melambat seperti tubuh kehilangan kesadaran, progresif seperti bikin aransemen di kondisi belum tidur tiga hari. Pembuka elektronik dark trance, lalu sembilan nomor dan satu outro instrumental, semua seperti ajakan lompat ke pit tanpa jadi crowd killer tengik sok jagoan.

Saya jatuh cinta pada komposisi riff solid, tone heavy mematil seperti mesin rusak yang tak pernah mendapat izin operasional. Layak diberi ponten 8/10 tanpa debat. “Self-Righteous Violence,” jagoan saya, diselipi solo gitar pentatonik tipis. Gelap, mengendap-endap ala blackened death-thrash arwah penasaran. Tapi yang benar-benar menusuk adalah vokalnya. Seperti seseorang yang mencoba bernapas lewat tali simpul bunuh diri, tercekik putus asa, tetapi tetap berteriak hanya karena menolak mati dengan tenang.

Hardcore punk seharusnya memang terdengar seperti ini. Tidak sopan, tidak stabil, dan sepenuhnya tidak direkomendasikan oleh dokter manapun seperti rilisan-rilisan medioker gelombang masa kini yang terdengar seragam. Bikin muak seperti lihat seragam aparat.

Maio – B4DTR11P & BLACK CINDERELLA (Maxi-single)

Baiklah, satu kata yang muncul di benak adalah ubah haluan jadi makin busuk dan mematikan ini berhasil di trek pertama maxi-single ini. Kaya gizi dari segi komposisi. Dari OSDM, southern metal rawa-rawa penuh groove, hingga dark hardcore seperti grup-grup yang ditangani oleh Kurt Ballou di God City. Saya ingat komposisi Palm di album “My Darkest Friends”, sebuah langkah yang tepat. Dari riff pseudo-rock ‘n’ roll abang-abangan gang punk rock sok virtuoso di album awal. Coba lebih heavy rock semi stoner di album kedua, main licks blues-nya mulai paten. Bermain diksi Bahasa Indonesia. Sekarang mereka memilih mereng. Bukan meleng, bukan miring. Mereng, seperti logika yang retak tapi nekat laju terus. Trek pertama punya aransemen paten, mencuri perhatian satpam seperti shoplifters mengutil cat kaleng di supermarket untuk mencoret pos polisi dengan kalimat “aparat anjing!” demi mencari perhatian lagi. Dobel.

Harapan itu selalu ada, hanya saja langsung disiram air comberan ketika “Black Cinderella” yang menggamit Dannvs dari Ancient untuk melolong dengan lengkingan ala Halford yang kesetanan arwah Quorthon. Komposisinya? Selayaknya yang telah dilakukan Maio. Stagnan. Gerakan monoton yang hanya diberi sentuhan Dannvs sebagai kolaborator. Padahal, coba bayangkan jika mereka memberi percikan api hitam riff thrash api hitam atau thrash radioaktif lebih pekat dan beracun lagi. Atau sesederhana ditukar urutan treknya. Akan lebih memberi daya kejut defibrilator. Solo gitar heavy shread hanya setetes darah yang merembes dari nadi Pelle Ohlin cukup untuk bikin nomor ini meraung, tapi sekadar memberi kesan euforik sesaat. Satu lagi, saya lebih suka ketika mereka mengobrak-abrik diksi Bahasa Indonesia seperti di album kedua.

Horrified – Bloody Sworn//Horrific Scythe (Maxi-single)

Satu lagi sonik logam dari liang kubur sedalam enam kaki milik grup asal Timur Bandung. Kuburan massal yang berisi mayat-mayat death metal purba, grainkor, doom hingga sejumput sludge. Tak pernah tahu siapa pembawa bebunyian mayat ini. Tapi, rilisannya selalu menarik perhatian. Terakhir yang saya tahu, mereka melakukan split dengan Moremyrk, komplotan duo death-doom yang sama-sama bau amis. Kini kembali dengan formula maxi-single yang merupakan transisi dari deathgrind menjadi death metal murni.

Dua trek yang agak minim hook. Untuk transisi, mungkin bisa dimaklum. Ramuan purba ala Morbid Angel hingga tremolo riff tempo lamban Autopsy era Severed Survival. Dalam bagian kebut-kebutan saya luput dari nama Sadistic Intent. Sepertinya dua nama terakhir yang berhasil diserap dengan kadar makbul. Sisanya masih perlu menerawang lebih jauh. Hal yang kurang memuaskan dan masih bisa dipoles adalah perihal produksi, output sound mentah purba yang masih terlalu kurang sempurna kadang timpang di beberapa bagian.

Karmax – LP Promo (EP)

Injeksi Cro-Mags satu ampul. Heavy. Pukul. Telan. Mampus. Mungkin tak sejalan dengan Minor Threat, tapi ledakan substansi saat menyimak rilisan ini mengajak untuk mengepalkan tangan. Memasang wajah bengis pada breakdown adalah refleks motorik saat trek “Sembahyang” di ujung ajal.

Menuju sebuah groove alprakalips menuju kiamat yang kini jaraknya hanya beberapa inci. “Sambartaka” kiamat riff padat prototype hardcore metallic purba. Beri kami riff tajam untuk tanggah sambil mengadu rahang atas dan bawah untuk menandakan bahwa ini heavy as fuck!

Baiklah, yang menjabarkan tadi itu entah siapa. Sepertinya ia sudah landing. Baiknya, segera keluarkan itu album. Jangan beri kata ampun!

Blind Pig – Demo (Maxi-single)

Sepertinya bermain super kebut dan putar balik nyeret super lambat adalah wahana baru eksperimentasi hari ini. Demo singkat dua trek ini menghasut pikiran untuk mengingat Man Is The Bastard bahkan Dystopia dalam kadar rendah. Saya suka riff sok-sok southern di awal yang tak ada satu bar penuh di trek “Crime” lalu digeber tempo cepat awur-awuran. Kontradiktif. Bangsat! Saya baru ngeuh barusan tadi mirip riff “Dragonaut” milik Sleep. Ini mungkin hal yang sudah biasa, tapi dikadali unit powerviolence adalah sesuatu di luar perencanaan. Ditambah Sleep? Dasar bajingan!

Tak perlu ada ponten dan bacot serampangan panjang lebar untuk powerviolence. Ya, bikin lagu semaunya. Sound ala kadar atau dipoles cemerlang pun terserah. Tak ada aturan. Lagipula, aturan ada pun untuk dilanggar. Demo yang singkat. Cepat. Siapkan kotak obat. Madat. Sasaran tepat.

Morbid Monke – Still Alive (EP)

Bosan dan muak dengan ledakan gelombang post-punk dingin. Deathrock. Darkwave. Dan segala hal berbau goth titisan Robert Smith hingga Bauhaus. Semua orang main musik jenis ini sekarang. Seakan jadi hal standar keren baru pasca munculnya Pullo, Pelteras, hingga yang terakhir menarik perhatian adalah Asylum Uniform. Sisanya ampas kopi beraroma tak sedap. Tak seperti punggawa-punggawa pembawa kegelapan ini yang tampak urakan namun necis. Di kejenuhan tersebut, muncul grup Morbid Monke yang tak pernah saya dengar sebelumnya. Mengusung “Brexit post-punk wave” versi lebih teler layaknya Viagra Boys hingga Squid. Bedanya diinjeksi arak Bali murni Karang Asem.

Berhasilnya meramu segala unsur dari post-punk, dance punk, psikidelik, hingga blues mentok di tiap solo gitarnya. Ya, mereka tak hanya jadi copycat komplotan Shrimp Tech karena sama-sama memasukkan brass section di komposisinya. Malah itu yang jadi tukang bius amfetanarki utamanya. Mini album yang mereka luncurkan beberapa waktu lalu adalah sebuah bukti konkret jika disebut sebagai “Viagra Boys-nya Indonesia” adalah titel menjijikan yang patut diludahi rahak sisa ketamin. Empat trek art-punk mutakhir dari ”When I Feel Alive” hingga “Loser DogGo!” bikin jatuh dansa dan bangun lagi untuk menenggak bir dan cari kuncian kancing penenang. 

Tagged

#horrified #maio #2025 #morbid monke #hardcore