X

Balcony Buka Pintu Buat Lanjut: “Kalau Memungkinkan, Kenapa Nggak?”

by Ilham Fadhilah / 6 months ago / 643 Views / 0 Comments /

Balcony blak-blakan soal niat mereka pasca showcase-nya yang tak menutup diri buat lanjut sampai pandangan mereka melihat fenomena hardcore hari ini. 


Tandai kalender di 14 Februari, 2026, hari itu kita tak hanya merayakan luapan cinta yang meruah bersama perayaan semu Valentine, tapi perayaan berseminya kembali niat Balcony untuk menghembuskan nafas, merapikan diskografi, menjejaki panggung dan melantang nomor-nomor pentingnya. Maksud mereka tak semurahan ingin mengais sensasi apalagi validasi, tapi sesederhana membayar tuntas hutang proyeknya bersama Disaster dan Grimloc Records buat melancarkan full discography, salah satu pencetak biru sound hardcore heavy Bandung yang kerap luput dari anak-anak sekarang, ironisnya, saat kancah ini sedang hiperaktif. 

Balcony yang kini dibadani kuartet, Baruz (vokal), Ramdhan (gitar), Badick (bass) dan Febby (drum)  bersiap buat mengabadikan ceceran rilisannya dalam satu paket–rilisan fisik berbentuk 3x CD pack yang akan dikeluarkan kedua label. Dalam rangka menyambut hal itu, sebuah showcase digelar. Selain antusias yang memuncak karena kehadiran veteran hardcore Bandung ini kembali ke panggung sejak lebih dari setengah dekade silam, mereka membawa kehebohan selanjutnya: mengundang kawan seperjuangan, Homicide buat berbagi stage. Padahal seperti yang kita tahu, reuni atau apapun sejenisnya tak pernah ada di kamus Homicide karena mereka telah menutup buku (dan mungkin membakarnya) sejak 2007.  

Dengan mantap, kuartet ini mengaku sudah bangkit dari duka sejak kepergian Jojon hingga sang founder, Ardiandes tahun lalu meski mungkin tak pernah benar-benar sembuh, tapi untuk kemudian tampil secara prima di panggung nanti lain soal. Perihal penyesuaian kembali setelah sekian lama di band berbeda nyatanya tak meningkatkan kesulitan mereka untuk kembali beradaptasi. 

“Gampang-gampang aja sih,” sahut Baruz. 

“Yang susahnya ngapalin lagu-lagunya. Karena udah lama nggak dibawain terus harus bawain lagu-lagu itu, terutama di album Metafora Komposisi Imajinar (2003) karena komposisinya paling beda, durasinya juga lebih panjang-panjang”, aku Badick menyusul. 

Ya, Metafora Komposisi Imajinar memang jadi album termutakhir di era aktif-aktifnya Balcony. Permainan yang lebih luwes, referensi yang lebih luas hingga pendekatan yang tak dilakukan di dua album awal nyatanya jadi tantangan tersendiri saat kini mereka dipaksa mengingatnya.

“Terutama detail-detailnya sih”, Ramdhan menambahkan. 

Resiko membuat album yang kompleks adalah saat mulai kehilangan sentuhan dengannya. Mungkin Balcony kini sedang menghadapinya. Tapi hal itu tak menandakan jika Balcony hanya akan berfokus di album Metafora Komposisi Imajinar. Mereka mengupayakan impresi maksimal buat penonton nanti dengan gempuran padat 20-an trek, untuk yang merindukan katalog-katalog hit di Instant Justice (1997), Terkarbonasi (1999) hingga ceceran EP dan nomor-nomor remix, termasuk yang bersama Homicide. 

Ini tentunya jadi daya tarik tersendiri. Homicide secara terang-terangan mengaku tak bisa menolak begitu saja ajakan Balcony untuk manggung, mengingat hutang budi yang masih diembannya pada grup hardcore bentukan 1994 tersebut. Namun dalam kacamata mereka, alasannya mungkin lebih emosional dari sekedar itu. 

Kali ini Febby bercerita panjang, “Kalo saya pribadi pertama ketemu mereka itu ketika proses bikin album Terkarbonasi, pas zaman ‘State of Hate’ baru keluar di kompilasi Brain Beverages (1998). Dari situ kita kenal, nyambung pula dan nggak lama kita kerja bareng.

Saat itu, saya yang bikin cover kaset Terkarbonasi mungkin nggak akan pernah jadi kalo nggak ada Ucok. Bahkan sebelum lagu-lagunya direkam mereka udah kontribusi. Begitu pun sebaliknya, saat Homicide mau bikin lagu atau rekaman, mereka pake komputer di rumah (saya) atau pake fasilitas studio kita. Ya, saling lah gitu. Maka dari itu mungkin terbesit pikiran kayak ‘Kalau Homicide diajak manggung sama Balcony nggak mungkin nolak’, pun sebaliknya.”

Dari sekian ajakan bahkan ekspektasi yang mungkin sudah menghujani Homicide, bahkan setelah ada proyek lanjutan Ucok dan Aszy di Bars of Death, momentum ini yang mereka pilih untuk memuaskan dahaga publik, meski mereka menstabilo pernyataan jika ini hanya bagian dari pelengkap penampilan Balcony, bukan panggung mereka apalagi sampai reuni. “Hell no, fuck that!”, tegasnya.  

Lain dengan Homicide yang anti reuni, Balcony mengaku buka pintu buat lanjut. 

“Kalau memungkinkan, kenapa nggak?” terang Baruz.

Kemudian, vokalis Godless Symptoms tersebut kembali menerangkan, “Tapi kalau saya mungkin sadarnya personel yang lain punya jadwal yang lebih padat, kayak misal Ramdhan di Burgerkill. Makanya ini juga jadi semacam tes ombak lah selain animo juga ketersediaan jadwal personel lain. Kemarin kita sempat ada obrolan proyek ini bisa aja berlanjut ke tur sekali jalan, biar momen ‘Balcony balik lagi’-nya ada dan berlanjut, nggak cuma one show doang. Tapi kita lihat saja nanti”.

“Meskipun kalau dilihat dari sosmed, terus banyak media yang ngehubungin kayaknya antusiasnya juga lumayan ada. Terus beberapa kawan di luar kota sampai negara ikut nanyain/ngehubungin. Akhirnya kita jadi kepikiran agenda tur tadi. Ya semoga terealisasikan”, timpal Febby. 

“Tapi yang kita bisa pastikan, ini bukan panggung terakhir Balcony”, tegas Ramdhan. 

“Sebelum semua itu, kita fokus dulu ke show tanggal 14 ini, karena ini yang esensialnya: perayaan sederhana akan pertemanan kita selama 30 tahun. Geus karolot geuning, euy!” Badick berkelakar bijak. 

“Gimana kalian ngehasut Homicide buat (seenggaknya) menjajal panggung lagi di sini? Susah nggak sih?” tanya saya penasaran. 

“Karena kita ancam, kalo nggak mau manggung dibubarin. Padahal udah bubar, ya?” guyon Ramdhan.

“Susah-susah gampang sebenernya, tapi ya ada treatment khusus lah, hanya Balcony yang tahu caranya,” balas Febby. 

“Begitu pun saat Balcony rekaman album reuni 2011, mereka masih sudi ikut rekaman dengan nama Homicide, yang mana mereka udah bubar tahun 2007.” kenang Baruz. 

Di showcasenya nanti juga ada penampil lain, band yang mungkin kerap luput dari generasi terkini, unit sejawat punk rock/melodic, Rotten To The Core. Kemudian ada special appearence dari Vicky Mono (Burgerkill), diapit unit berbobot sound heavy luapan darah muda hari ini; Rounder dan Honey. 

Bicara soal hardcore hari ini, di mana sound heavy dan citra tough guy merajalela dan mencuri perhatian–baik dari minat sampai bahan perbincangan saking dungunya kelakuan preman-preman scene–Balcony pun tak luput dari kabar-kabar kancah hari ini yang kadang bikin kita miris mendengarnya; dari penonton gigs hardcore dipukul sampai dibacok. 

Seperti halnya anggapan banyak orang, mereka mengamini kalau memang ada penerimaan mentah terhadap kultur moshing/dancing di hardcore sendiri yang kemudian diterapkan tanpa tahu esensi seiringan inklusivitasnya. Bentuk pengekspresian yang sejatinya bebas selalu mengerucut sempit pada kekerasan. Walhasil, kemunduran berpikir seperti menganggap pit adalah ‘ring gulat’ menular, ironisnya di era saat literasi sangat mudah diperoleh, semudah mengonsumsi video yang mempertontonkan kekerenan violence dancing atau crowd killing.

“(Kalau kita bercermin ke masa lalu) keributan-keributan kayak gini mungkin ada, cuman dulu saat masih marak kesenjangan genre, jadinya ada ego antar satu genre dan lainnya, bukan gara-gara di moshpit”, Ramdhan bercerita. 

Kita sedang menapaki dekadensi. 

“Sayangnya, saya rasa masih tak banyak band-band hari ini yang menyuarakan edukasi buat audiensnya, padahal band punya kendali dan panggung yang cukup buat mengedukasi, terutama jika audiens mereka masih muda atau baru mengenal hardcore. Entah mungkin segan atau gimana, saya kurang paham,” Baruz menambahkan. 

“Selalu ada adaptasi, generasi hari ini juga menghadapi hal yang sama dengan dulu. Mungkin di era awal-awal Balcony manggung, saya pribadi dulu di scene alternatif kaget ketika masuk gig hardcore/punk karena ada moshing dan semacamnya. Tapi saya pribadi sedikitnya dapat edukasi dari band-band yang main. Mungkin band-band sekarang mesti lebih vokal lagi soal ini. Jadi pe’er bersama lah”, susul Febby.

“Saya pribadi nggak terlalu peduli sama tren atau apapun yang lagi ngetren, termasuk di hardcore, tapi ketika di hardcore show sudah membuahkan korban, itu jadi titik perhatian saya. Harusnya orang secara mendasar sadar kalau siapapun yang ke show atau terjun ke pit tendensinya pasti buat bersenang-senang, bukan celaka atau mencelakakan”, ungkap Badick lugas. 

“Bicara soal bacok-bacokan, mungkin dulu kita juga ngalamin ya? Namanya senggol bacok, sekali kesenggol langsung ‘dibacok’, cuman kan itu kultur di luar (scene), harusnya nggak masuk ke kita. Itu biasanya preman-preman di acara 17-an gitu di acara dangdut. “ Febby melanjutkan.

Lagi-lagi Balcony menunjukan kalau kita tengah dekaden. 

Arahan yang selalu berbuah sama, namun sering luput. Entah kenapa orang kerap mengabaikan pesan sederhana ini, atau jangan-jangan memang citra tough di hardcore yang sering disalahpahami sebaiknya tak pernah dikonsumsi di sini. Saya malas harus menegaskan hal yang sama nan klise yang seharusnya sudah tertanam di kepala setiap hardcore kids; “Hardcore adalah arena bersenang-senang”. 

Mungkin agar lebih relevan, kita bisa melihat bagaimana hardcore menuntun Balcony sampai hari ini; medium memperkuat ikatan dan menorehkan rilisan buat kembali atau terus dirayakan. Mungkin hal itu akan berbeda jika hardcore menyetir mereka pada ajang gagah-gagahan atau saling mencelakakan, bisa jadi hanya dendam atau bahkan trauma yang terawat. 

Semoga scene hardcore selalu dijauhkan dari mental-mental preman dengan dalih “Ini hardcore, cuk!”

Tagged

#grimloc records #bandung #homicide #balcony #showcase