BAGIAN 5: Melintas Sumatera Menyebrang Malaya hingga Siam, Sebuah Catatan soal “Poison And Spell Tour 2025” dari Critical Issues

Setelah Malaysia, kini mari membuntuti “Poison And Spell Tour 2025” bertandang ke Thailand, menjajal makanan khas, gigs yang intens, dan herbal siap hisap.
BAGIAN 4: DARI SIAM KEMBALI PULANG
Mendekati akhir bulan November 2025, sudah hampir satu bulan Critical Issues menjalankan “Poison and Spell Tour 2025” yang diawali di Sumatera dan kemudian menyeberang ke semenanjung Malaysia. Agenda tur di Malaysia yang berakhir Penang mengawali petualangan baru di Bangkok, Thailand. Bangkok adalah titik terakhir dari jadwal tur mancanegara Critical Issues sebelum kembali ke Indonesia, dan bermain satu jadwal di Tangerang untuk kemudian pulang ke Palembang.
Sawasdee Khrap, Bangkok.
Jumat, 28 November 2025. Pesawat yang saya, Ken, Måm, dan Mär serta Dewi tumpangi lepas landas dari Penang International Airport sekitar jam sebelas lewat tiga puluh menit waktu setempat sesuai dengan jadwal tanpa ada penundaan. Penerbangan dari Penang ke Bangkok berdurasi sekitar satu jam tiga puluh menit. Ada perbedaan zona waktu antara Malaysia dan Bangkok sehingga waktu di Malaysia adalah satu jam lebih cepat daripada Thailand yang waktu setempatnya sama dengan Waktu Indonesia Barat. Dengan perbedaan waktu itu, pesawat yang kami tumpangi mendarat sekitar jam dua belas lewat dua puluh menit waktu setempat di Don Mueang International Airport, Bangkok.
Di dalam kabin pesawat yang baru mendarat di landasan bandara Don Mueang, saya terpikir suatu peristiwa dalam sejarah Indonesia. Peristiwa yang bagi saya melekat dalam pikiran apabila menyebut nama bandara itu yaitu pembajakan pesawat Garuda Indonesia pada tahun 1981. Sebuah operasi pembebasan penumpang yang disandera kelompok teroris oleh Komando Pasukan Sandi Yudha yang sekarang disebut Komando Pasukan Khusus. Hal trivial yang mungkin kerap saya dengar ketika kecil karena dibesarkan dalam keluarga militer, dan operasi itu bisa dibilang membangun persona dan reputasi dari Kopassus. Bahkan ketika kecil saya sempat bercita-cita ingin menjadi anggota Kopassus. Walau kemudian ketika remaja pada masa akhir 1990-an, perspektif saya akan unit khusus itu sedikit banyak berubah khususnya karena operasi yang dilakukan di beberapa daerah operasi militer yang mencatatkan pelanggaran hak asasi manusia hingga penculikan aktivis oleh Tim Mawar. Yang ada sekarang saya malah tergabung di Cobra Hardcore Commando, dan mendarat di Don Mueang untuk melakukan operasi khusus berupa tur ke Bangkok.
Pesawat kemudian memasuki area apron, merapat ke garbarata dan pramugari membuka pintu kabin, lalu kami turun dari pesawat bersama penumpang lain. Cuaca Bangkok hari itu cukup cerah, saya pikir masih banyak yang bisa kami lakukan hari ini. Turun dari pesawat, kami berlima menyempatkan ke toilet terlebih dahulu sebelum menuju gerbang pemeriksaan imigrasi. Setelah selesai buang air kecil dan membasuh muka, keluar dari toilet, saya dan rekan-rekan tidak melihat Ken. Kami sempat panik karena setahu kami Ken tidak mengaktifkan paket international roaming, dan kami mencoba menelponnya. Muncul nada sambung dari kontak Whatsapp-nya, sepertinya dia sudah terkoneksi dengan Wifi bandara, dan ternyata dia sudah duluan menuju konter pemeriksaan imigrasi. Kami pun lega dan menyusulnya untuk bersama mengantri pemeriksaaan paspor. Tidak ada hambatan dalam proses stempel paspor karena Thailand Digital Arrival Card sudah dibereskan pada malam sebelumnya ketika kami masih di Penang, malah ketika selesai mengambil bagasi tidak ada proses pemindaian barang sama sekali oleh pabean Thailand.
Di area kedatangan, sebelum keluar saya mencari money changer untuk menukar sejumlah mata uang Ringgit yang dibawa menjadi mata uang Bath. Tidak semua jasa penukaran uang melayani penukaran Ringgit, setelah tanya- tanya akhirnya ada satu konter money changer yang menerima penukaran Ringgit, dan terletak dekat dengan pintu keluar. Setelah beres mengamankan bekal dana pegangan untuk di Bangkok, kami keluar dari gedung terminal kedatangan. Saya menghubungi rekan kami yang mengorganisir gig di Bangkok, Chatchai. Dia memberikan petunjuk lokasi penginapan yang dipesankan untuk kami di distrik Nonthaburi, dan meminta kami memberi kabar apabila sudah sampai di penginapan karena dia akan datang untuk proses administrasi agar kami bisa masuk kamar. Dengan informasi dari satpam bandara, kami menuju lokasi yang ditujukan untuk menunggu taksi dan mobil sewaan. Dewi kemudian memesan mobil sewa daring lewat aplikasi, dan sengaja memesan mobil yang berukuran besar agar tidak repot soal batasan jumlah barang dan penumpang.
Dari mulai momen bertanya kepada satpam tadi sepertinya bahasa akan menjadi hal yang akan sedikit menyulitkan di Bangkok. Ketika mobil yang dipesan datang, hal itu terjadi karena pengemudinya sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Mobil yang dipesan ternyata van setara Hi-Ace yang bisa memuat lima belas orang sehingga semacam mubazir untuk kami yang hanya berlima. Keluar dari bandara, mobil yang kami tumpangi memasuki jalan tol. Saya sedikit mengingatkan pengemudinya akan tujuan dengan menyebut nama penginapan dan lokasinya di Nonthaburi. Melihat keluar jendela, nuansa yang terasa seperti Jakarta.
Dalam perjalanan, saya menerima pesan teks dari Tedi, seorang teman di Tangerang. Sebelumnya dia juga sempat menghubungi, dan kalau senggang dia hendak menelpon. Saya bilang akan menghubunginya kalau sudah di tiba di Bangkok. Tedi menanyakan apakah kami sudah tiba di Bangkok, dan saya teringat janji untuk mengabarkan akhirnya langsung menelpon. Dibuka dengan bertanya kabar, Tedi memberi tahu bahwa rekannya Guok ditangkap oleh polisi karena kepemilikan psikofarmaka. Guok adalah teman kami dari Kadang-Kadang Kolektif yang akan mengorganisir gig di Tangerang. Mendengar itu saya terkejut, dan Tedi juga memberi tahu bahwa kawan-kawan di sana juga sedang bingung soal acara sebab semua informasi terkait tempat, izin, dan sound system ada di Guok. Dia dan kawan-kawan cukup kalang kabut, bingung antara mau ambil alih, atau memberi opsi pindah tangan ke show organizer lain. Setelah semua hal dijelaskan, Tedi menanyakan bagaimana baiknya, dan saya bilang saya tidak tahu, dan minta waktu untuk memberitahu rekan yang lain dan akan menghubungi lagi untuk pembahasan lebih lanjut. Saya menutup telpon, dan memberi tahu yang lain akan kabar yang mengejutkan itu. Hasilnya adalah untuk menghubungi kembali Tedi dan minta penjelasan teknis soal opsi pindah tangan ke organizer lain, begitu pula kemungkinan acara diambil alih oleh Tedi dan kawan-kawan. Terlalu banyak hal yang harus dicerna pikiran, dan sepertinya harus sejenak diendapkan, saya mengirim pesan teks kepada Tedi, dia akan saya hubungi kalau kami sudah tiba di penginapan.
Eforia ketibaan di Bangkok pun berubah menjadi disforia sebab kabar itu, dan bukan hanya karena acara yang terkatung-katung tapi juga karena apes dan sialnya teman kami Guok yang ternyata sudah dari sekitar tiga hari sebelumnya diciduk polisi. Perjalanan hampir tiga puluh menit dari bandara ke penginapan di daerah Nonthaburi jadi terasa begitu lama. Pengemudinya berkata Nonthaburi, ketika mobil yang kami tumpangi keluar dari jalan tol memasuki jalan raya dan berbelok ke sebuah jalan kecil dan berhenti di tempat yang dituju, penginapan bernama Surang Mansion. Masuk dari parkiran yang juga tempat front office, aura hotel ekonomis ala kost-kostan sangat terasa. Bukan hal yang mengecewakan, buat kami itu malah adalah akomodasi yang mewah. Setelah mengabarkan Chatchai bahwa kami sudah sampai, saya sempat bertanya ke pegawainya soal kamar kami, dan kembali harus berbahasa isyarat hingga akhirnya Dewi membantu menggunakan aplikasi penerjemah bahasa.
Kami merasa lebih baik menunggu Chatchai saja, dan sementara itu saya kembali menghubungi Tedi. Lewat sambungan telepon, dia menjelaskan, kalau mau mengambil alih dia harus merunut semua informasi yang hanya Guok yang tahu, dan karena tengah ditahan tidak bisa dihubungi. Soal pindah tangan dia bilang ada kawannya Gaus mungkin bisa saja membantu, tapi dengan begitu acara mungkin berubah dari rencana yang sudah berjalan dan diinformasikan. Tedi juga menambahkan yang krusial juga adalah teman-teman yang sudah membeli tiket presale. Akhirnya, seperti mandat rapat darurat Critical Issues sebelumnya saya meminta nomer telepon Gaus untuk mencoba menanyakan secara langsung. Sembari menunggu Chatchai yang belum datang, saya pun menghubungi Gaus. Lewat sambungan telpon, Gaus menjelaskan soal kemungkinan Natural Noise membantu seperti yang disampaikan sebelumnya oleh Tedi, dan Gaus juga menambahkan kalau tidak pun dia tetap akan membantu misalnya Tedi dan kawan-kawan tetap lanjut dengan Kadang-Kadang Kolektif walau tanpa Guok. Setelah berterima kasih, saya menyudahi telpon. Mendengar secara langsung dua kemungkinan yang ada, saya kembali rapat kecil dengan Ken, Måm, dan Mär. Setelah beres urusan kamar baru akan kembali menindaklanjuti urusan kepada Tedi karena Chatchai mengirim pesan dia sudah dekat.
Chatchai datang dengan masih berjaket sebuah perusahaan jasa kurir, dia minta maaf kalau menunggu lama karena dia dari tempat kerja. Dalam pertemuan pertama itu, kami semua pun berkenalan, dan paling tidak kami bisa nyambung karena dia sedikit banyak bisa berbahasa Inggris. Dia pun langsung mengurus kamar, memberi kami kunci kamar dan mengingatkan soal tanda terima yang jangan sampai hilang karena nanti ketika check-out untuk mengambil deposit uang jaminan yang adalah ongkos untuk kami ke bandara. Setelahnya dia pamit untuk langsung pergi lagi karena harus menjemput anak perempuanya. Walau pertemuan awal yang singkat tapi berkesan khususnya karena dia menunjukkan gestur baik denngan uang jaminan yang ditinggalkan untuk ongkos transportasi.
Kami semua pun langsung masuk hotel bersama semua barang bawaan, dan naik ke kamar yang bertempat di lantai dua. Chatchai memesan dua kamar untuk kami, dan untuk itu pengaturannya adalah satu kamar untuk saya dan Ken, sementara kamar lainnya untuk Måm, Mär, dan Dewi. Kamarnya bersih dan layak dengan shower air panas, sebuah kemewahan. Sambil menyusun dan membereskan barang, saya kemudian menghubungi Tedi, dan menjelaskan respon Critical Issues akan problem dan dilema terkait gig di Tangerang. Intinya adalah saya dan rekan- rekan sangat berterima kasih atas segala usaha kawan-kawan di Tangerang, tapi jujur juga tidak bisa memberikan pilihan akan langkah yang akan diambil. Hal itu karena kawan-kawan di sana yang lebih tahu kondisinya, dan apapun itu kami sebagai band juga siap menerima; termasuk apabila akhirnya acara pun harus dibatalkan. Kami akan mengikuti apapun langkah yang diambil oleh kawan-kawan di Tangerang. Tapi mengingat hanya ada tiga hari lagi menjelang acara, yang harus dipertimbangkan dan juga dipikirkan adalah apakah gig akan lanjut atau tidak, dan dengan konsep tetap sama atau berubah, semuanya harus diinformasikan dengan baik kepada band yang akan main serta kawan- kawan yang telah beli tiket. Tedi memahami, dan akan mengabarkan lagi secepatnya. Kami menyudahi telepon, saya menarik nafas dan mengajak Ken ke kamar rekan yang lain.
Kami berempat kembali rapat, dan saya menjabarkan kembali pembicaraan dengan Tedi. Apapun yang akan terjadi nantinya kami pikir dari pengalaman beragam hal dalam beberapa tur yang sudah dijalani cukup membuat kami sadar bahwa bagaimana pun sebuah perencanaan selalu akan ada kemungkin yang tidak diinginkan, Murphy’s law. Tunggu kabar dari Tedi, dan mengembalikan fokus ke Bangkok, sebab ada agenda yang juga tak kalah penting yaitu makan siang yang saat itu tertunda hingga menjelang sore. Kami berlima pun langsung keluar dari kamar, dan mencari tempat makan di sekitar penginapan. Ketika di luar, saya baru sadar walau matahari cerah tapi cuaca terasa sejuk, dan saya tengok di aplikasi cuaca, temperatur Bangkok sore itu adalah dua puluh derajat celsius. Sepertinya itu juga dampak dari Siklon Tropis Senyar di Bangkok bersama dengan bencana banjir yang menimpa di Thailand bagian Selatan.
Ada pusat perbelanjaan dan pasar di dekat penginapan, dan juga dua minimarket. Yang ajaib adalah kedua minimarket itu sama-sama 7-eleven di posisi berseberangan dan berhadapan. Cukup membuat saya menggaruk kepala, Indomaret dan Alfamart saja posisinya tidak sedekat itu antara satu gerai dengan gerai lainnya kalau di Indonesia. Kembali ke mencari makan, hal ini terbukti cukup rumit apalagi dengan plang dan menu yang ditulis dalam aksara Thai. Kami kemudian memilih sebuah kedai di pasar karena sepertinya punya beragam menu dari tom yam sampai nasi telur dadar. Di sini lah teknologi memainkan peranan, kami memilih menu dengan menggunakan aplikasi penerjemah dan kamera ponsel. Harga paket makanannya lumayan terjangkau dalam kisaran dua puluh lima ribu rupiah. Memesan nasi telur dadar daging cincang, saya suka sekali tambahan rasa dari kecap asin Maggi, dan acar cabai asin yang menjadi condiment. Walau masih sketchy dengan makanan Thailand, perut terisi dan kenyang adalah yang utama. Masih dengan larangan merokok di area makan sehingga seperti kebiasaan bergeser ke pinggir jalan untuk merokok. Dengan kejutan cuaca yang dingin dan kering, saya mulai merasa sinus seperti kumat, hidung mulai meler dan bersin bersama asap rokok yang saya buang. Saya bilang kepada yang lain beritahu kalau mulai terasa tidak enak badan karena saya mulai waspada. Sesudahnya kami kembali ke penginapan untuk istirahat dan santai sejenak. Sembari saya juga iseng mencari tahu farmasi kanabis yang mungkin ada di sekitar penginapan. Thailand punya regulasi tersendiri soal kanabis, dan itu membuat saya dan rekan-rekan penasaran.
Kami baru keluar lagi setelah mulai malam, niatnya adalah jalan-jalan santai ke pusat perbelanjaan yang tak jauh dari penginapan dan makan malam setelahnya. Pusat perbelanjaan yang didatangi ternyata besar sekali, wajar saja namanya The Mall. Cukup ramai pengunjungnya malam itu mungkin karena malam Sabtu. Kami berlima hanya mengitari lantai satu saja karena cukup hektik, dan sepertinya ada bazaar kopi di atriumnya yang membuat saya penasaran tapi tidak jajan karena uang pegangan yang pas-pasan. Kami tidak ada yang belanja kecuali Dewi yang malam itu sempat membeli teh khas Thailand di gerai jenama Thai Tea yang legendaris. Tak lama kami di pusat perbelanjaan itu, dan lanjut keluar untuk makan malam di warung makan yang sebelumnya kami datangi. Setelah makan, saya menyempatkan ke apotik untuk membeli obat flu dan masker.
Ketika hendak ke penginapan ternyata Mär juga sempat mencari info soal farmasi kanabis, dan yang terdekat hanya berbeda tiga pintu ruko dari penginapan. Setelah kami cek ternyata betul, dan kami lalu naik sejenak ke kamar penginapan. Malam itu Tedi mengabarkan lewat pesan teks bahwa dia dan kawan-kawan di Cisoka, Tangerang sudah mengambil keputusan untuk mengambil alih pelaksanaan acara di sana, dan acara akan tetap berjalan seperti yang telah direncanakan sebelumnya. Saya menyampaikan kabar baik itu ke rekan-rekan yang lain. Tak lama saya pikir sepertinya malam itu perlu sedikit relaksasi, terutama karena cukup tegang juga baru sampai langsung memikirkan soal jadwal gig di Tangerang. Saya langsung mengajak Ken, Måm, dan Mär untuk ke farmasi kanabis di sebelah penginapan, dan mereka tanpa pikir panjang langsung mau ikut termasuk Dewi, kecuali Måm yang katanya akan menyusul.
Ketika hendak ke penginapan ternyata Mär juga sempat mencari info soal farmasi kanabis, dan yang terdekat hanya berbeda tiga pintu ruko dari penginapan. Setelah kami cek ternyata betul, dan kami lalu naik sejenak ke kamar penginapan. Malam itu Tedi mengabarkan lewat pesan teks bahwa dia dan kawan-kawan di Cisoka, Tangerang sudah mengambil keputusan untuk mengambil alih pelaksanaan acara di sana, dan acara akan tetap berjalan seperti yang telah direncanakan sebelumnya. Saya menyampaikan kabar baik itu ke rekan-rekan yang lain. Tak lama saya pikir sepertinya malam itu perlu sedikit relaksasi, terutama karena cukup tegang juga baru sampai langsung memikirkan soal jadwal gig di Tangerang. Saya langsung mengajak Ken, Måm, dan Mär untuk ke farmasi kanabis di sebelah penginapan, dan mereka tanpa pikir panjang langsung mau ikut termasuk Dewi, kecuali Måm yang katanya akan menyusul.
Dengan wajah berbinar dan penuh rasa penasaran, saya dan rekan-rekan pun jalan ke farmasi sebelah. Tiba di situ kami membuka pintu geser, dan mengucapkan salam Sawasdee Khrap kepada apoteker yang sedang berjaga. Dengan berbahasa Inggris saya bertanya, dan bagusnya si penjaga bisa menjawab walau tidak begitu lancar. Saya bilang ke anak-anak, malam itu saya traktir dan niatnya adalah mencari kanabis yang dominan indica agar pas untuk santai malam dan istirahat. Saya pun melihat-lihat deretan stoples dengan stiker berisi keterangan jenis kanabis, dan terlihat sebuah stoples yang berisi White Truffle. Saya langsung memilih kanabis dalam stoples itu sebab sempat membaca soal strain hibrid yang dominan indica itu, dan membungkus dua gram. Farmasi itu ada lounge kecil di belakang untuk konsumsi herbal di situ, dan kami izin untuk nongkrong di situ sebab di Thailand sekarang tidak boleh lagi sembarangan mengkonsumsi kanabis di tempat umum.
Bagi kami mungkin ini adalah pengalaman pertama melihat bunga yang bentuknya begitu cantik dan aroma yang begitu kuat, White Truffle punya aroma agak skunky yang mungkin seperti bau jengkol. Kami pun menyiapkannya, menghancurkan bunganya dengan grinder, dan menggulungnya dengan kertas. Tanpa banyak babibu langsung dinyalakan, dan baru putaran pertama sontak saya, Ken, dan Mär terbatuk- batuk. Dewi yang tidak konsumsi herbal tertawa melihat kami, tapi sebab melihat kami menikmati jadi kesal karena sober sendiri, dia keluar membeli bir ke minimarket.
Saya menelpon Måm mengajaknya turun tapi katanya sendalnya dipakai oleh Mär, dan kami pikir kalau kepingin, telanjang kaki juga pasti akan turun. Kami pun lanjut nongkrong di lounge farmasi. Saya, Ken, dan Mär gits seperti kena bom karena efek body high dari indica. Saya tak pernah bermimpi kanabis akan bisa diregulasi atau dilegalisasi di Indonesia, baik untuk kegunaan medis apalagi rekreasional, sebab Thailand pun punya problematika sendiri; tapi untuk saat itu kami mencoba menikmati momen selagi di Bangkok. Farmasi yang kami tongkrongi tutup jam sebelas tiga puluh malam, dan kami cabut dari situ sekitar jam setengah sebelas malam. Pulang ke penginapan sambil terkikik dengan pengalaman baru itu, kami pun kembali ke kamar. Memang indica terbaik untuk rileks dan istirahat karena malam itu saya dan Ken tidur dengan sangat pulas. Malam pertama di Bangkok, dan mungkin saya pun tidur dengan tersenyum.
Sabtu, 29 November 2026. Hari itu saya bangun dengan segar walau hidung meler. Saya tidak begitu cemas karena tidak ada demam yang menyertai, jadi saya pikir hanya reaksi badan yang capek dan cuaca yang dingin. Saya mengajak Ken untuk makan nasi ayam yang kedainya tidak jauh dari pasar, dan setelahnya pergi ke The Mall untuk mencari money changer untuk menukar mata uang Ringgit pegangan pribadi saya ke mata uang Bath. Dengan bantuan aplikasi penerjemah, saya bertanya sana-sini untuk mencari lokasi tempat jasa penukaran mata uang di lantai paling atas The Mall. Sesudah beres dengan urusan tukar menukar mata uang, saya dan Ken langsung keluar karena tak ada lagi yang saya dan Ken cari di pusat perbelanjaan.
Kami berdua memilih kembali ke penginapan melalui jalur yang berbeda yaitu lewat jalan besar karena saya melihat di peta ada kedai kopi, jadi sekalian beli kopi dalam jalan pulang. Kami melewati jalur pedestrian di pinggir jalan besar yang tidak terlalu ramai hari itu, sambil celingak celinguk melihat peta lokasi kedai kopi. Ketika kami tiba di titik lokasi ternyata kedai kopi itu juga adalah farmasi kanabis, dan belum buka. Kami terkekeh karena mencari kedai kopi tapi malah ketemu kedai cici kalau meminjam istilah di Medan. Melanjutkan jalan kaki, Ken berhenti di barbershop di seberang penginapan, dia hendak pangkas rambut dan juga mau mengamati cara kerja barber di situ, semacam studi banding. Saya pun ikut menemani dengan duduk di depan pinggiran jalan sekalian memanfaatkan waktu santai untuk berjemur. Ken memotong pendek, rambutnya hingga hampir cepak di barbershop yang punya mahkluk penjaga berupa dua ekor kucing hitam yang identik.
Selesai Ken pangkas, saya menyempatkan membeli kopi hitam di kedai kaki lima sebelum pulang ke hotel. Setelah memberi uang makan siang untuk Måm dan Mår, baru kembali ke kamar. Di kamar saya menyalakan televisi, siapa tahu ada berita soal banjir di Thailand Selatan dan laporan cuaca. Dari siaran kanal berita yang saya simak dengan bantuan aplikasi penerjemah bahasa, betul sekali memang cuaca yang terjadi di Bangkok dan Thailand Selatan karena pengaruh siklon yang tengah terjadi. Di tengah sedang santai, dan ketika hendak merokok di bawah, Dewi yang tahu saya sebelumnya sempat ke money changer di pusat perbelanjaan minta informasi lokasinya. Dia mau mencari ATM bank tertentu, dan sepertinya tadi saya lihat karena tempat jasa penukaran uang yang saya datangi berada di lantai yang semacam area usaha jasa keuangan dan perbankan. Sekalian mau keluar merokok akhirnya saya ikut saja sekalian biar langsung sampai tepat sasaran. Berjalan kaki ke The Mall, siang itu cuaca cerah, enak rasanya sejuk tapi ada hangat matahari. Sebab saya sudah tahu, kami langsung saja naik elevator ke lantai tempat area perbankan. Sampai di lokasinya, Dewi masuk ke ruang ATM dari bank yang dicarinya untuk menarik sejumlah uang. Seperti biasa, ada biaya tambahan untuk penarikan uang di luar negeri dengan kartu ATM bank dari Indonesia. Kami berlima kemudian turun lantai demi lantai dengan eskalator sekalian jalan-jalan, dan kembali ke penginapan.
Kembali pulang lewat jalan besar, daerah sekitar Surang Mansion di Nonthaburi itu memang cukup hidup, selain toko-toko juga banyak kedai yang menjual makanan dan jajanan. Kedai kopi yang juga farmasi kanabis yang sebelumnya masih tutup sudah buka dan beroperasi. Berbelok ke jalan tempat penginapan, Dewi dan yang lain sempat cek tarif sebuah gerai binatu di sebelah barbershop yang didatangi Ken. Ketika sedang merokok sambil menunggu rekan yang lain di binatu, pesan teks dari Chatchai masuk ke ponsel saya. Dia mengabarkan akan menjemput kami sekitar jam setengah enam, dan akan membawa mobil jadi kami tak perlu memesan mobil untuk ke venue. Saya memberitahu yang lain kabar dari Chatchai, dan mengajak untuk bersiap-siap. Kami naik ke kamar, membongkar tas merchandise dan menyiapkan yang akan dibawa, serta mempersiapkan diri agar tinggal bergerak ketika Chatchai datang menjemput. Tempat tinggalnya juga di distrik Nonthaburi, dan kami sengaja diinapkan di daerah itu agar dia juga tidak harus jalan jauh untuk mendatangi kami.
Satu dan lain hal, larangan merokok di dalam area penginapan juga sepertinya membuat saya dan rekan-rekan selalu lumayan cepat kalau urusan keluar ke bawah sebab sekalian merokok di pinggir jalan depan. Maka dari itu kami cukup sat-set untuk menurunkan barang, dan standby menunggu Chatchai di depan penginapan bahkan sempat untuk bolak balik jajan ke minimarket. Baru hampir jam enam Chatchai datang, dan kami memasukkan barang di bagasi dan memuatkan lima orang dalam mobilnya. Sepertinya di Thailand lumayan santai soal aturan penumpang mobil dibandingkan di Malaysia. Dari jalan kecil lokasi penginapan, Chatchai mengemudikan mobilnya ke jalan raya dan memasuki jalan tol. Tempat acara malam itu adalah Mega Weez Store yang berlokasi di Srinakarin sekitar tiga puluh menit dari Surang Mansion di Nonthaburi. Mega Weez adalah sebuah farmasi kanabis, dan akan menjadi pengalaman pertama bagi Critical Issues bermain di sebuah farmasi kanabis.
Dalam perjalanan, saya mengobrol dengan Chatchai, dan dia cerita sudah punya dua orang anak. Anak lelaki yang paling besar berumur dua puluh tahun, dan bekerja di The Mall, sementara anak perempuan bungsunya berusia delapan tahun. Saya bertanya berarti dia menikah di usia cukup muda, dan Chatchai menjawab dia dan pasangannya berkomitmen tapi menjalani hubungannya tanpa ikatan pernikahan sampai sekarang. Hal yang mungkin tidak terlalu lazim di Indonesia tapi mungkin hal yang biasa di Bangkok, tapi daripada dibilang kepo saya tidak menanyakan lebih lanjut.
Jalanan malam itu cukup padat dan macet, dan Chatchai bilang mungkin akan sedikit lebih lama sampai venue di Srinakarin. Gig yang diorganisir oleh Chatchai dan kawan-kawan malam itu di sana bertajuk HerexMee Showcase Volume 3. Kami bisa terhubung dengan Chatchai atas bantuan teman kami Anca, personil dari Koteka Is the Reason yang menjalankan tour booking Poisonsnails.
Setelah menembus kemacetan kota Bangkok di malam minggu kami pun tiba di Srinakarin. Mega Weez Store berada di lantai dua sebuah ruko di pinggir kanal sungai. Dalam informasi flyer, acara dimulai jam tujuh malam, tapi kata Chatchai santai saja, dia akan memulai kalau crowd sudah mulai ramai. Kami pun menata meja lapak merchandise yang tersisa tidak terlalu banyak lagi. Tapi yang menarik perhatian saja adalah konter farmasi yang dengan tumpukan stoples stainless steel kedap yang berisi beragam jenis kanabis. Melihat-lihat dan mulai memilih jenis herbal untuk nanti aftershow di sana. Selain itu sembari menunggu acara dimulai, saya juga mengobrol dengan teman-teman yang mendatangi meja merchs. Saya berkenalan dengan Tabito yang fasih berbahasa Inggris dan saya terkejut dia bisa sedikit bahasa Indonesia, dan dia bercerita ternyata di awal 2000-an dia sempat berkeliling Indonesia khususnya pulau Jawa, dan nongkrong dengan kawan-kawan scene hardcore punk di beberapa kota di sana.
Ada lapak Smoothie Records di sebelah meja kami, label D.I.Y. yang dijalankan oleh Nampan pemain gitar dari Crapgum, band grindcore yang malam itu juga main, dan dia juga adalah personil dari band powerviolence Speech Odd. Ada beberapa band Indonesia yang dirilis oleh Smoothie Records, Mass-49 (Bandung) dan Dissolve (Lampung). Di dalam ruangan Mega Weez merokok dilarang – tapi membakar kanabis tidak – maka itu saya merokok di luar, dan kembali berkenalan dan berbincang dengan scenester lokal yang bernama Somluck dengan panggilan, X. Seorang ilustrator yang juga menjalankan label Narockabhumi Records, walau tampilannya punk tapi sepertinya cukup berumur karena jenggot dan rambutnya sudah memutih uban tapi masih fit. Di luar bersama X juga ada Jame, pemain drum KaoscursË, yang dengan postur badan besar, kepala botak, dan bomber jacket hitamnya terlihat gahar. Obrolan dipantik karena saya memakai kaos Kontrasosial yang sempat main di Bangkok ketika tur bersama Brigade of Crow. Sementara saya di venue, Ken, Måm dan Mår serta Dewi menyempatkan keluar untuk makan karena acara belum mulai, dan untuk itu saya pun standby di meja lapak untuk melayani kawan-kawan yang membeli merchs dan rilisan Critical Issues. Salah satu yang cukup banyak dibeli adalah pin logogram Cobra Hardcore Commando yang dibuatkan oleh Asrul, dan dberikan kepada kami ketika di Noise Cave, Kuantan. Dia membuatkannya sebagai bentuk support untuk tur Critical Issues.
Menjelang jam delapan malam, gig goers satu demi satu mulai datang, dan Chatchai bilang sebentar lagi acara akan dimulai. Saya kemudian memberitahu rekan lain yang sedang keluar makan lewan pesan teks di grup. Tak lama Ken, Måm, Mår, dan Dewi pun kembali ke venue, dan mereka bilang makan di sebuah kedai di pinggir jalan besar. Saya tak memperhatikan jam tapi mungkin sekitar jam setengah sembilan, band pertama malam itu mulai bersiap. Bandnya bernama Barber Dead, dan mereka memainkan musik alt-rock yang bernuansa noise rock dengan riff gitar yang fuzzy dan disonan. Menarik juga melihat penampilan mereka malam itu sebagai band pembuka sebab mungkin karena musiknya berbeda dengan yang lain. Pemain drumnya juga adalah pengelola dari Mega Weez Store.
Seusai Barber Dead menyelesaikan set dan membereskan peralatan musiknya, selanjutnya adalah Anarch. Chatchai adalah vokalis dari band powerviolence/grindcore yang berformat trio vokal, drum, dan gitar itu. Tapi sepertinya backline dan sistem tata suara malam itu semacam bermasalah sehingga penampilan mereka diwarnai usaha untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. Walau mereka terlihat seperti tidak puas, tapi Anarch menyelesaikan set mereka dengan agresi maksimum.
Melihat itu pikiran saya masuk mode problem solving dan mencari variabel opsional untuk masalah teknis yang terjadi, dan berbincang dengan Nampan karena setelahnya adalah giliran Crapgum. Tampil berdua, drum dan gitar, Nampan yang bermain gitar menggunakan A/B Switch untuk memecah sinyal gitarnya menjadi dua. Satu output menggunakan amplifier bass, dan satu lagi langsung dicolokkan ke mixer. Sementara vokal yang sebelumnya timbul tenggelam apabila masuk ke mixer akhirnya menggunakan dua amplifier mini sebagai output. Dua amplifier itu ternyata kurang bertenaga apabila digunakan untuk musik ekstrim yang high gain. Dengan setelan itu masalah yang dihadapi Anarch bisa diatasi oleh Crapgum walau vokal tidak begitu muncul dengan jelas. Terpukau dengan Crapgum, saya juga lega paling tidak ada solusi opsional untuk nanti Critical Issues.
Setelahnya dalam rundown malam itu adalah Outside In, yang dibantu oleh Nampan untuk menyiapkan set mereka seperti Crapgum. Hanya bedanya kali ini bassnya yang langsung dicolokkan ke mixer. Trio yang memainkan street punk ala UK82 itu bermain maksimal dan memecah lantai dansa liar malam itu dengan sing along, pogo dan fist pumping. Mereka juga sempat menampilkan rekan mereka, Tar, untuk bernyanyi di satu lagu. Saya sempat mengobrol dengan dia sebelumnya, dan dia cerita akan main dengan Outside In tapi agak kurang pede, dan saya bilang gas saja jangan kasih kendor, punk. Dan malam itu terbukti dia tampil ganas bersama Outside In.
Dilanjutkan kemudian adalah penampilan dari KaoscursË. Dengan Jame sebagai pemain drum, band itu juga berformat trio tanpa pemain bass. Dari laman Bandcamp sebelumnya saya dengarkan, dan informasi terkait band asal Bangkok itu punya lima personil. Mereka membombardir malam itu dengan amunisi raw crust punk peleburan pengaruh dari band Skandinavia dan Jepang. Mentah, kasar, dan tanpa ampun. Tapi sebelum ada tanda-tanda KaoscursË akan mengakhiri setnya entah kenapa Jame meninggalkan perangkat drumnya dan berjalan keluar, dan mereka berhenti secara tiba-tiba.
Saya tidak bertanya apa-apa soal itu, karena giliran Critical Issues setelahnya dan kami pun mempersiapkan set dengan dibantu oleh Nampan. Dengan mengenyampingkan hal teknis, kami bermain selepas mungkin di kesempatan pertama kalinya bermain di Bangkok. Repertoar empat belas lagu kami gas malam itu, dan rekan-rekan yang datang memberikan apresiasi yang luar biasa, hal itu jelas memberi energi lebih kepada kami berempat. Sebelum lagu “Zero Hour” saya juga sempat membahas soal banjir yang terjadi di Thailand Selatan, dan turut berduka akan bencana itu begitu pula dengan yang terjadi di Sumatera.
Di akhir set saya berterima kasih kepada semua yang datang malam itu, dan memberikan salam Khop khun khap. Ketika tengah membereskan perlengkapan, saya disapa oleh seorang yang hadir malam itu, kami berkenalan dan dia bernama Nii, seorang warga Jepang yang sedang bekerja di Thailand. Dia memberikan apresiasi atas penampilan kami malam itu, dan membeli kaset album rekaman “Poison and Spell”. Sebelum semua bubar, kami mengajak teman-teman yang datang berfoto bersama untuk merekam momen kebersamaan di gig malam itu.
Setelah semua beres, tanpa basa-basi lagi saya langsung menuju konter farmasi Mega Weez Store, dan memilih varian herbal untuk rileks setelah bermain. Saya pikir sepertinya karena sudah malam akan kembali mencari jenis hibrid dengan indica dan sativa yang seimbang, dan pilihan saya jatuh kepada Georgia Runtz. Tapi sialnya adalah baterai dari timbangan yang akan dipakai untuk menakar kehabisan daya. Akibatnya, apoteker yang sedang jaga ribet mencari baterai pengganti sampai harus keluar membeli. Melihat mereka hektik, saya berpikir sepertinya mereka habis mengkonsumsi kanabis jenis dominan sativa karena aktif betul. Sementara menunggu baterai saya bilang kepada Chatchai bahwa kami masih akan nongkrong di situ, dan dia bilang tidak apa dan santai saja karena yang lain juga belum mau pulang. Tak lama penjaga yang tadi keluar datang dengan baterai baru, dan Georgia Runtz yang mau saya beli pun ditimbang, tak banyak saya hanya membeli satu gram.
Saya dan Ken kemudian menyiapkannya, menggulung dan langsung dinyalakan. Måm yang tidak berkesempatan mencicipi di malam sebelumnya baru kebagian malam itu, dia terkejut dengan herbal yang dihisapnya sampai terbatuk. Kami mengobrol, bercanda, dan terkakak di selasar luar Mega Weez Store, bahkan Ken sempat ber-moonwalk ria dan itu membuat kami semua terbahak. Critical Issues untuk malam itu sementara berubah menjadi Chronical Issues. Chatchai membelikan kami bir karena dia tahu tenggorokan kami pasti kering, memang bisa saja Chatchai. Tapi di tengah kami berempat lagi asyik, tiba-tiba Chatchai bilang dia mau melakukan wawancara dengan Critical Issues. Saya bertanya apakah sekarang, dan dia mengiyakan. Kami pun melakukan sesi wawancara saat itu juga di ruang dalam Mega Weez Store, dan itu adalah sesi wawancara yang sangat berat sebab we’re high as fukk.
Seberes sesi wawancara, Chatchai baru mengajak kami untuk pulang. Somluck juga akan ikut ke Nonthaburi kerena ternyata rumahnya juga di sana sehingga dia memesankan mobil sewa daring tambahan. Saya, Ken, dan Somluck – atau X – naik di mobil sewa, sementara Måm, Mår, dan Dewi di mobil Chatchai. Dengan dua mobil, kami bergerak pulang ke penginapan di Nonthaburi. Dalam keadaan “tinggi”, perjalanan di dalam mobil berasa seperti naik roller coaster, bahkan Ken sempat beberapa kali terpejam. Sesampainya di penginapan, Chatchai sudah sampai terlebih dahulu.
Keluar dari mobil, angin malam itu terasa dingin sekali, dan Somluck yang bercelana pendek sampai bergidik. Saya dan rekan-rekan berterima kasih kepada Chatchai dan Somluck untuk malam itu, mereka berdua lanjut untuk pulang dan saya serta rekan yang lain langsung masuk penginapan dan naik ke kamar. Sampai kamar, saya berganti baju, langsung rebahan dan bablas tidur, sementara Ken langsung tidur tanpa berganti terlebih dahulu. Dan, sepertinya begitu pula dengan Måm dan Mår di kamar mereka. We really had an awesome night, but for now we’re off to never never land.
Tapi sekitar jam empat pagi saya sempat terbangun karena lapar, sial. Tadinya mau saya bawa tidur saja tapi perut keruyukan, dengan bercelana pendek akhirnya saya turun dan keluar untuk jajan ke minimarket, dan dinginnya malam itu sangat terasa hingga tanpa disadari badan bergidik gemetar. Di subuh yang dingin itu saya terpaksa bertahan duduk di pinggir jalan depan penginapan karena ngemil sambil merokok, dan tanpa mengulur waktu setelahnya dengan cepat saya kembali ke kamar, dan kembali menyambung tidur.
Minggu, 30 November 2026. Hari ketiga rombongan tur Critical Issues berada di Bangkok, dan hari itu adalah jadwal kami day-off. Kami bangun cukup siang karena santai, dan rekan yang lain hari itu hendak mencuci baju setelah kemarinnya cek kedai binatu di dekat penginapan. Saya juga minta bantuan Dewi untuk membuat rencana jalan-jalan hari itu, dan setelah mengulik di internet, hari itu destinasinya adalah area sekitar Wat Pho yang juga dekat dengan Grand Palace. Kami bersiap-siap agar ketika keluar hotel sekalian ke kedai binatu, makan siang, dan langsung bergerak ke daerah Phra Nakhon yang menjadi lokasi untuk pelesiran siang itu.
Setelah urusan binatu beres dan perut aman terisi makan siang, Dewi memesan mobil sewa daring dan berharap pengemudinya mau mengangkut kami berlima. Tak lama, mobil yang dipesan pun datang, dan berkenan membawa kami semua asal diberi tambahan bonus tips sebesar lima puluh Bath atau sekitar dua puluh lima ribuan Rupiah dengan nilai tukar waktu itu. Pengemudinya cukup lancar berbahasa Inggris sehingga saya bisa mengobrol dengan dia. Banyak hal yang saya tanyakan dari mulai soal raja baru hingga foto ibu suri dari raja Thailand yang banyak dipajang di jalan, dan ternyata beliau meninggal dunia pada bulan Oktober 2025. Hanya satu hal yang tidak saya tanyakan yaitu konflik di perbatasan Kamboja, sebab saya pikir kalau sekedar bertanya mungkin itu isu sensitif yang bisa merubah mood obrolan dalam mobil siang itu, apalagi pasca kesepakatan gencatan senjata pada bulan Juli 2025. Tapi walau orangnya asyik ternyata agak ganjen juga karena dia sempat memberi sentuhan fisik ke Dewi yang duduk di depan ketika hendak turun, dan Dewi baru bilang ketika mobilnya sudah berlalu pergi.
Kami diturunkan tepat di dekat pintu masuk Wat Pho, kuil yang terkenal karena patung Buddha besar yang berbaring, dan soal posisi berbaring itu dari yang saya baca adalah penanda saat terakhir Buddha sebelum wafat atau paranirvana. Kami hendak masuk tapi urung karena ternyata ada tiket masuknya, bukan karena tidak mau keluar uang tapi dana kas band untuk tur sudah mulai menipis. Akhirnya kami berjalan-jalan mengelilingi tembok luar kuil ke arah jalan besar sampai ke Bangkok National Museum. Tidak masuk ke dalam saya, Ken, Måm, Mår, dan Dewi jajan kopi dan duduk-duduk di pelataran rumput museum seperti pengunjung lain di situ macam piknik di taman. Puas duduk- duduk kami lanjut berjalan mengitari museum menuju area pinggir Sungai Chao Praya yang berseberangan dengan Wat Arun yang artinya Kuil Fajar dalam bahasa Indonesia. Sesampainya di sana, matahari siang itu masih berada dalam posisi yang menyilaukan sehingga kami berpikir untuk kembali lagi agak lebih sore.
Kami berlima pun memutuskan untuk jajan, dan mencari kedai Pad Thai, mie goreng khas Thailand. Siang itu, Maha Rat Road yang diisi jejeran toko dan restoran cukup ramai dipenuhi wisatawan, sehingga kami agak bingung hendak makan dimana. Kami sempat mendatangi beberapa tempat sampai kembali lagi ke pintu masuk Wat Pho. Dewi memeriksa beberapa rekomendasi dan lokasinya di peta hingga kami memutuskan untuk makan di sebuah kedai Pad Thai yang sepertinya OG. Tempatnya kecil dan harus mengantri untuk dapat duduk, dan kami menunggu hingga dipersilakan masuk oleh pemiliknya yang ramah. Kami pun memesan Pad Thai, menu ini berbeda dengan mie goreng yang saya tahu di Indonesia. Menu khas Thailand itu sangat menarik karena didominasi rasa asam yang menyegarkan. Saya pun mengucapkan aroy ne khap yang berarti rasanya enak kepada ibu pemilik kedai. Dengan senyum yang merekah lebar, dia membalasnya dengan khop kun kha.
Setelah makan seperti biasa saya, Ken, Måm, dan Mår merokok di luar kedai di pinggir jalan. Matahari sudah mulai meredup, dan kami pun kembali lagi ke Wat Arun Viewing Point untuk santai nyore di sana. Sampai di situ ternyata sudah tidak sepi seperti waktu kami datang sebelumnya, sore itu tempat itu sudah ramai dengan wisatawan. Kami duduk-duduk di taman dan pendopo yang ada di sana sambil menikmati pemandangan Sungai Chao Praya dan Wat Arun di seberang. Ketika hari mulai gelap baru kami memutuskan untuk kembali pulang ke penginapan. Sewaktu Dewi hendak memesan mobil sewa daring lewat aplikasi, anehnya tidak bisa menjemput di dekat sekitar Wat Pho. Sepertiny harus ke arah jalan besar untuk bisa melakukan pemesanan. Langit menghitam jingga di atas Chao Praya, kami berjalan menyisir sisi luar tembok Wat Pho ke arah jalan besar. Melewati jajaran tembok tinggi dari Grand Palace dengan gedung kantor Departemen Pertahanan Thailand di seberangnya. Cukup jauh juga kami berjalan hingga persimpangan besar sampai ke sebuah perhentian bis. Di situ baru opsi penjemputan mobil muncul dalam aplikasi, dan seperti sebelumnya kami memberikan tips lebih kepada pengemudinya agar mau membawa lima orang penumpang.
Sesampainya kami di Surang Mansion di Nonthaburi waktu masih jam delapan malam. Malam itu niat saya, Ken, dan Mår adalah nongkrong lagi di farmasi kanabis di sebelah penginapan, tapi Dewi dan Måm tidak ikut. Untuk sesi nongkrong kali itu kami lebih bersiap, dan beli Thai tea dengan ukuran gelas raksasa dan cemilan. Kami masuk dan disambut baik oleh penjaga yang sama dengan ketika kami datang dua malam sebelunya. Kami bertiga dipersilakan ke lounge di bagian belakang, dan langsung mempersiapkan herbal untuk malam itu. Kali ini kami lebih menikmati dan santai, bahkan saya pun menyempatkan untuk mengisi data kartu kedatangan di All Indonesia untuk kepulangan kami ke Indonesia besoknya.
Setelah makan seperti biasa saya, Ken, Måm, dan Mår merokok di luar kedai di pinggir jalan. Matahari sudah mulai meredup, dan kami pun kembali lagi ke Wat Arun Viewing Point untuk santai nyore di sana. Sampai di situ ternyata sudah tidak sepi seperti waktu kami datang sebelumnya, sore itu tempat itu sudah ramai dengan wisatawan. Kami duduk-duduk di taman dan pendopo yang ada di sana sambil menikmati pemandangan Sungai Chao Praya dan Wat Arun di seberang. Ketika hari mulai gelap baru kami memutuskan untuk kembali pulang ke penginapan. Sewaktu Dewi hendak memesan mobil sewa daring lewat aplikasi, anehnya tidak bisa menjemput di dekat sekitar Wat Pho. Sepertiny harus ke arah jalan besar untuk bisa melakukan pemesanan. Langit menghitam jingga di atas Chao Praya, kami berjalan menyisir sisi luar tembok Wat Pho ke arah jalan besar. Melewati jajaran tembok tinggi dari Grand Palace dengan gedung kantor Departemen Pertahanan Thailand di seberangnya. Cukup jauh juga kami berjalan hingga persimpangan besar sampai ke sebuah perhentian bis. Di situ baru opsi penjemputan mobil muncul dalam aplikasi, dan seperti sebelumnya kami memberikan tips lebih kepada pengemudinya agar mau membawa lima orang penumpang.
Di tengah keasyikan nongkrong, saya baru sadar kami sudah sangat lama berada di lounge farmasi itu. Saya lalu berinisiatif untuk memberi uang servis lebih kepada penjanganya tapi dia menolak, dan mau kami santai dan enjoy saja ketika tahu kami besok akan pulang ke Indonesia. Masalahnya adalah dia harus keluar sebentar, kalau kami mau pulang sekarang dia akan kunci pintu farmasinya tapi kalau kami masih di situ dia minta tolong untuk menjaga farmasi sebentar selagi dia keluar. Sebegitu percayanya dia kepada kami, saya langsung mengiyakan tanpa pikir panjang. Ajaib juga di Bangkok tiba-tiba dipercaya menjadi penjaga farmasi kanabis. Dia keluar dan saya pun duduk di konter sementara Ken, dan Mår tertawa geli akan pengalaman malam itu.
Agak lama kawan itu pergi, dan dia berterima kasih kepada kami ketika dia kembali ke farmasi. Bagusnya tidak ada pasien yang datang karena kalau iya agak kikuk juga kami karena itu semacam bermain dengan batasan pelanggaran hukum di Thailand. Dari sesi malam itu masih tersisa herbal yang tak mungkin kami bawa pulang jadi terpaksa kami merelakan herbal yang tersisa. What happens in Bangkok stays in Bangkok. Dan kami kembali ke Surang Mansion dalam keadaan happy and high as fukk. Sampai kamar saya dan rekan-rekan sebelum tidur langsung berkemas barang karena besoknya kami harus keluar pagi untuk berangkat ke bandara. Gits dan tids di malam terakhir di Bangkok.
Senin, 1 Desember 2025. Kami bangun bersama kesibukan awal pekan dari distrik Nonthaburi, pagi itu kami harus berada di bandara sekitar jam sembilan. Semua berkemas dengan ritme yang sepertinya terbentuk dari kebiasaan dalam perjalanan, dan belajar dari segala hal yang salah dalam pengalaman tur-tur sebelumnya. Sedikit banyak pagi itu saya berpikir, dan bersyukur untuk bisa sampai di titik itu, dan akan pulang dengan aman tidak kurang satu apa pun; walau jatah budget pegangan kami untuk di Bangkok sangat ngepas, dan hanya untuk sampai di Bandara Don Mueang, jajan sarapan, dan untuk ongkos pengemasan bagasi.
Bersama kami, Dewi juga ikut check-out dari penginapan pagi itu, tapi dia tidak ikut kawanan Critical Issues kembali ke Indonesia. Dia masih tinggal di Bangkok, dan melanjutkan traveling ke Vietnam. Sedih juga kami pulang tidak bersama Dewi, bagi saya pribadi dengan dua kali ikut tur bersama Critical Issues, dia sudah semacam extended member dari Critical Issues. Sekitar jam tujuh pagi kami berlima turun ke parkiran penginapan, saya memesan mobil sewa daring serta membereskan administrasi di resepsionis untuk mengambil uang deposit; lumayan nilainya untuk bayar mobil sewa daring ke bandara, dan jajan sarapan. Tapi, sialnya radio handy talkie dari housekeeping yang memeriksa kamar bilang ada handuk yang bernoda, pegawai resepsionisnya menunjukkan pesan teks berisi foto handuk tersebut. Saya menjawab dengan aplikasi penerjemah, noda seperti karat itu sudah ada saya lihat dari saat check-in. Pegawai itu membantah dengan bilang semestinya kami lapor, dan untuk noda handuk kali itu kami tetap didenda. Saya malas berdebat, dan mengiyakan dana deposit yang dipotong sebesar denda yang harus kami bayar.
Mobil yang kami pesan tiba di depan Surang Mansion sekitar jam delapan pagi, semua barang diperiksa ulang dan dimuat ke bagasi. Dengan harapan baik untuk perjalanan yang masih akan dilanjutkan, kami berpisah dengan Dewi. Safe journey, safe return. Kembali berempat, kami bergerak ke bandara. Pengemudi mobil menurunkan kami di Terminal 1 untuk keberangkatan, dan semua barang diturunkan dan dinaikkan ke troli untuk dibungkus di konter pengemasan bagasi. Pesawat yang akan kami tumpangi siang itu adalah dari maskapai Air Asia dengan nomer penerbangan QZ-251 dengan tujuan ke Bandara Internasional Soekarno Hatta yang dijadwalkan berangkat pada jam sebelas lewat dua puluh menit waktu setempat dari Bangkok. Masih ada banyak waktu, kami tidak tergesa ke konter check-in bersama barang yang sudah dikemas untuk diproses masuk bagasi pesawat. Dengan tiket sudah di tangan, dan semua barang dipindai untuk dimasukkan bagasi, ada hal yang sedikit membuat kami bingung karena tanpa penjelasan apapun, gitar dan bass tidak diluncurkan masuk ke jalur berjalan, tapi dikeluarkan kembali. Saya pikir ada apa, alat musik kami ditahan kah, apa ada yang salah. Saya menanyakan itu kepada pegawainya, dan dia menjawab tidak ada apa-apa nanti akan dibawa khusus oleh kru kargo bagasi ke pesawat. Walau awalnya saya masih tetap bingung karena hambatan bahasa, akhirnya mengerti untuk barang dengan bentuk besar atau bukan tas akan dibawa terpisah untuk dimasukkan dalam bagasi pesawat agar bisa disusun dengan aman.
Urusan bagasi beres kami langsung menuju ke ruang tunggu keberangkatan. Melewati proses pemeriksaan paspor di konter imigrasi, dan untuk sekali lagi melewati pemindaian barang dan badan. Dikarenakan mata uang Bath kami sudah tidak bersisa terutama karena terpotong denda noda handuk, maka kami melewatkan jajan makan sarapan di bandara Don Mueang. Urusan perut ditahan dulu sampai Jakarta. Memasuki ruang tunggu, kami menunggu waktu yang tersisa di Bangkok berdetak hingga panggilan keberangkatan tiba. Petualangan penuh momen ajaib yang luar biasa, walau sejenak tapi paling tidak bisa belajar untuk mengalami secara langsung bagaimana kanabis, dan substansi seperti THC dan CBD ada deregulasi sehingga bisa diakses oleh publik. Hal yang mungkin terlalu malas untuk dipikirkan di Indonesia. Memasuki kabin pesawat, sekarang kami pulang, dan mungkin untuk datang lagi nanti. Khop kun khap, Bangkok.
To be continued..






























