BAGIAN AKHIR: Melintas Sumatera Menyebrang Malaya hingga Siam, Sebuah Catatan soal “Poison And Spell Tour 2025” dari Critical Issues

“Poison and Spell Tour 2025” hampir usai, kini saatnya mereka pulang dan habiskan sisa show di Tangerang juga Palembang sebelum ambil rehat pasca tur.
The Chaos Continues in Swissoka
Hampir genap sebulan berada di jalan, melintas antar kota, antar provinsi, dan menyeberang antar negara, akhirnya jadwal tur Critical Issues di negara tetangga berakhir tepat di awal pekan pertama bulan Desember 2025. Di hari Senin siang tanggal 1 Desember 2025, saya, Ken, Måm, dan Mår sudah berada di dalam pesawat untuk kembali ke Indonesia dari Bangkok, Thailand. Penerbangan dari Bandara Internasional Don Mueang ke Bandara Internasional Soekarno – Hatta memakan waktu kurang lebih tiga setengah jam. Pesawat dengan nomer kode QZ251 yang kami tumpangi lepas landas dari Bangkok sekitar jam setengah dua belas siang waktu setempat. Tidak ada perbedaan waktu antara Bangkok dan Jakarta, dan kami tiba di Bandara Soekarno – Hatta pada jam tiga sore. Kami bersyukur akhirnya kembali pulang dan tiba di Indonesia tanpa kurang suatu apapun.
Semuanya lancar kecuali ketika pemeriksaan paspor di imigrasi, Ken harus mengisi ulang formulir kedatangan All Indonesia karena ada ketidaksesuaian data nomer paspor. Saya agak tertawa dalam hati sebab ingat formulir kedatangan itu saya isi ketika tengah berada di farmasi kanabis di Nonthaburi, Bangkok. Sepertinya saya salah ketik, dan rekan yang lain khususnya Ken juga skip sewaktu memeriksa ulang informasi kartu kedatangan digital yang saya kirim ke e-mail masing-masing personil Critical Issues. Selain itu tidak ada masalah yang berarti dalam proses kedatangan di Bandara Soekarno-Hatta. Sembari menunggu bagasi, saya menghubungi Tedi yang kabarnya akan menjemput. Dia bilang akan datang bersama kawannya yang membawa mobil agar kami tidak perlu memesan mobil sendiri untuk ke Tangerang. Di dalam bandara kami disambut oleh seorang kawan dari Bandung, Nabil, yang kebetulan bekerja di Bandara Soekarno – Hatta. Dia standby untuk membantu apabila ada masalah dengan barang yang kami bawa. Setelah semua bagasi lengkap dan beres dimuat ke troli, kami keluar ke pelataran terminal kedatangan. Ken, Måm, dan Mår menyempatkan ke ATM, sementara saya bersama Nabil menjaga barang dan berkontak dengan Tedi yang sudah dalam perjalanan ke bandara. Ketika mereka bertiga kembali gantian giliran saya ke ATM untuk mengambil uang, dompet sudah kosong untuk menebus kerinduan akan rasa rokok kretek.
Kami lalu menunggu Tedi di area penjemputan bersama Nabil. Ada kejadian yang cukup ajaib sewaktu kami menunggu di situ. Tiba-tiba saya disapa oleh seorang pria, dia bertanya soal kami yang menjalankan tur. Saya mengiyakan, dan menanyakan dia sendiri baru sampai atau tengah menunggu jadwal penerbangan. Dia bilang sedang menunggu rekannya, kemudian dia menerima telepon yang sepertinya dari koleganya. Hidup dengan ayah yang seorang tentara di lingkungan militer, saya perhatikan cara dia menjawab telepon, dan dari gesturnya saya menerka dia adalah tentara. Untuk memvalidasi itu saya menanyakan kepadanya berdinas dimana, dan dia bilang dia berdinas tidak berseragam dan hendak penempatan di perbatasan Kalimantan Barat. Dia cerita sewaktu SMP sempat datang ke gigs DÈTENTION. dan kemudian mendaftar menjadi tentara karena susah mencari pekerjaan. Fenomena dan dinamika sosial yang menarik, dan kami sempat mengobrol hingga akhirnya dia pamit untuk nyamperin koleganya. Cukup absurd juga momen itu, pulang tur dan ketemu intel di bandara.
Satu jam lebih waktu berlalu di area penjemputan, cukup lama juga saya dan kawan-kawan menunggu Tedi padahal dia sempat bilang sudah dalam perjalanan. Sempat beberapa kali dia menanyakan lokasi kami menunggu di terminal 2, karena ternyata dia sempat kelewatan lokasinya sehingga harus memutar di dalam area Bandara Soekarno – Hatta. Setelah Mår sempat berkomunikasi dan mengirimkan foto patokan lokasi akhirnya Tedi tiba bersama rekannya Epri yang membawa mobil. Dia cerita dari Cisoka ke bandara tidak masuk tol jadi agak lama, dan ditambah sempat tersesat mutar-mutar ketika mereka tiba di Soekarno – Hatta. Kami pun memasukkan barang-barang ke bagasi mobil, dan setelah berterima kasih kepada Nabil yang menemani di bandara maka kami pun masuk mobil. Mobil yang dikemudikan Epri meluncur keluar bandara sekitar jam lima sore, dan Tedi bilang kita akan lewat jalan belakang dan tidak lewat jalan tol karena lumayan juga ongkos tolnya.
Perjalanan ke Tangerang itu melewati jalur yang banyak pabrik, dan pada hari Senin di jam pulang kerja sehingga terjebak jalan yang macet padat merayap. Memasuki kabupaten Tangerang, Tedi menunjukkan arah daerah tempat lokasi pagar laut yang diprotes nelayan Banten. Sayang hari sudah gelap jadi kami mengurungkan niat untuk melihat. Tiga jam lebih perjalanan kami dari bandara, dan saya yang duduk di bangku belakang sempat tertidur. Sekitar jam delapan baru kami sampai ke rumah Fikri di Balaraja. Tedi bilang kami diajak makan dulu di situ sebelum ke Cisoka. Di situ kami disambut oleh kawan-kawan, dan langsung diajak makan bersama. Saya, Ken, Måm, dan Mår yang belum makan siang pun memakan dengan lahap menu masakan rumah yang dihidangkan di teras rumah Fikri. Disitu Tedi dan kawan-kawan cerita soal situasi dan kondisi yang sempat dihadapi acara yang akan diorganisir di Cisoka. Hampir batal, Tedi bilang dengan dorongan dari Iink pemain drum Peace or Annihilation akhirnya mereka memutuskan untuk meneruskan acara sesuai rencana yang disiapkan oleh Guok. Saya berterima kasih kepada mereka atas usaha dan bantuannya, dan menanyakan kabar Guok yang kata Tedi masih diproses dan ditahan di polsek setempat. Obrolan pun berlanjut hingga kemudian Tedi mengajak kami untuk lanjut bergerak ke Cisoka, dan kami pun berpamitan kepada Fikri dan semua kawan-kawan di sana.
Kembali masuk mobil, Epri dan Tedi membawa kami ke Cisoka yang sekitar lima belas menitan dari Balaraja. Kami dibawa ke rumah teman mereka Resga, tempat kami akan menginap selama di Cisoka, Kabupaten Tangerang. Tiba di sana, barang pun diturunkan dari mobil dan dibawa masuk ke dalam rumah di kamar yang disiapkan Resga untuk kami tidur. Setelah itu, Saya, Ken, Måm, dan Mår bergantian membersihkan diri, dan mengobrol dengan Tedi, Resga, Epri dan beberapa kawan lain yang malam itu hadir di rumah Resga. Obrolan di ruang tengah sempat membahas kembali situasi dan kondisi terkini dari pengorganisiran acara di Cisoka, dan dari semua yang sudah dipersiapkan kembali, harapannya adalah gig bisa berjalan lancar. Sampai cukup larut malam juga sesi perbincangan di ruang tengah rumah Resga. Cukup panjang dan melelahkan juga hari itu sehingga saya undur diri duluan dari ruang tengah, dan menggelar matras untuk mengambil posisi savasana alias rebahan tidur.
Selasa, 2 Desember 2025. Hari itu kami bangun cukup siang, tidak ada rencana lain kecuali gig yang akan mulai dari sore nanti. Venue nya pun tak jauh dari rumah Resga, posisinya hanya beberapa meter di belakang rumahnya. Sebuah bangunan besar kosong yang dengan penambahan sistem tata suara dan tata cahaya sederhana disulap menjadi venue bernama Sarang Kelelawar. Guok pun rumahnya tak jauh dari situ, dan begitu pula Tedi. Satu lingkungan hardcore punk, Cisoka buat mereka adalah Swissoka, kalau mereka menyebutnya. Tedi dan kawan-kawan juga hanya perlu memastikan sound system dan lighting datang ke tempat acara, dan dipasang di posisi yang bagian atapnya tidak bocor. Ada satu sisi tembok yang di depannya semacam ada riser dan cocok buat posisi panggung tapi sayang bagian atapnya sudah plong alias tidak ada atapnya lagi. Cuaca belakangan juga kerap hujan maka lebih baik tidak mencari masalah karena peralatan yang basah. Hari itu kami pun mode rumahan alias bersantai di rumah Resga, jalan hanya untuk jajan di pinggiran jalan depan.
Tapi ada satu hal yang saya, Ken, Måm, dan Mår harus lakukan hari itu yaitu mengalokasikan sejumlah dana dari kas band untuk solidaritas korban bencana banjir di Sumatera. Sejak dari bangun saya berkontak dengan kawan-kawan di Padang, Medan, Lhokseumawe, dan Banda Aceh, selain bertanya kabar juga bertanya informasi jejaring gerakan swadaya masyarakat yang bergerak ke titik bencana di tiap kota dalam tiap provinsi. Dalam tur kali ini jejaring scene hardcore punk yang sebelumnya bergerak membuat ruang alternatif bermutasi menjadi jejaring penggerak solidaritas. Setelah semua informasi terkait penggalangan bantuan terkumpul, maka niat pun dibulatkan dan ditunaikan. Yang terjadi di Sumatera bukan hanya bencana hidrometereologi tapi juga bencana ekologis. Akibat yang muncul dari deforestasi, monokultur, dan industri ekstraktif yang dipacu kerakusan dan pengelolaan yang ugal-ugalan. Oligarki dan praktik predatoris kanibalistik yang memakan nyawa tak hanya manusia tapi semua mahkluk di tanah yang dikeruk dengan kemaruk. Semua rasa bercampur apabila melihat mendalam apa yang terjadi di Sumatera, apalagi hari-hari ditambahi bualan dan bantahan rezim dengan administrasi yang inkompeten; bahkan masih sempat untuk korupsi. Sudah terhimpit masih mencari kesempatan. Sial! Bicara perintah dan pemerintah, entah ada atau tidak koordinasi atau rantai komando, atau pejabat hanya melihat ke atas dan menjilati dubur atasan yang terus berkicau. Maaf apabila jadi sedikit meracau, sebab ketika di Thailand, saya melihat berita perdana menteri minta maaf secara publik atas bencana banjir yang terjadi di Thailand Selatan, tidak hanya itu bahkan kepala daerah dan instansi terkait diberhentikan karena gagal melakukan mitigasi sehingga bencana meluas dan memakan korban jiwa, pengungsi serta kerugian material lainnya. Sementara di Indonesia, apalah arti satu dua ribuan nyawa dalam statistik pemerintahnya.
Setelah semua dana dialokasikan ke titik bencana, maka kami kembali ke aktivitas hari itu di Cisoka. Memesan tiket bis untuk kepulangan ke Palembang adalah agenda selanjutnya, saya menghubungi agen bis yang biasa dinaiki. Tadinya hendak memesan untuk titik keberangkatan dari Balaraja yang lebih dekat dari Cisoka, tapi ternyata karena satu dan lain hal pihak agen meminta untuk naik dari Bitung. Daripada ribet akhirnya saya mengambil pilihan itu walau lokasinya lebih jauh. Kami bersiap untuk bergerak dari rumah Resga menjelang sore sebab akan menyempatkan soundcheck di venue. Semua barang lapakan dan equipment disiapkan untuk sekalian dibawa, dan saya, Ken, Måm, dan Mår keluar jalan kaki ke venue yang ditasbihkan dengan nama Sarang Kelelawar. Sesi soundcheck tidak memakan waktu lama, dan langsung disambung dengan menyusun merchs dan rilisan fisik di meja lapak yang sudah disiapkan. Acara akan dimulai sehabis maghrib, dan setelah semua persiapan beres kami nongkrong di venue karena sudah ada kawan-kawan yang datang sore itu. Ada beberapa kawan yang menghubungi saya memberitahu mungkin tidak sempat datang karena tidak menyangka acaranya di Kabupaten Tangerang, dan cukup jauh dari Jakarta.
Menunggu acara dimulai, saya dan rekan Critical Issues lain nongkrong di kedai kopi di sebelah venue. Selain kawan-kawan dari seputaran Jabodetabek, datang juga anak-anak rantau Palembang seperti Eky, dan Sawibeatz serta Agung Haye artis tato yang saya sempat kaget karena sekarang lebih gemuk dari yang sebelumnya kurus. Langit semakin gelap dan waktu maghrib pun sudah lewat, cukup seru dan panjang obrolan di kedai kopi, sampai kemudian distorsi mulai meraung dari Sarang Kelelawar di sebelah.
Band yang bersiap main pertama adalah Celeng the Abstrack, band asal Tangerang yang memainkan noise core/grind dengan hanya drums dan gitar bass. Dengan pemain drum yang memainkan bebunyian dari rangkaian stompbox, sayang sekali sepertinya sistem tata suara di gig tidak mendukung bass yang menggunakan overdrive berat sehingga tidak keluar maksimal.
Ada sepuluh band yang seharusnya main di gig yang diberi tajuk Back from the Grave Vol.2 tapi ada tiga band yang urung main yaitu Tersanjung XIII, Gloo, dan Gerd. Gerd adalah band yang salah satu personilnya adalah Guok, dan karena dia sedang ditahan maka mereka pun batal untuk main. Bermain kedua setelah Celeng the Abstrack adalah Westnoize. Band yang juga dari Tangerang itu mengganas dengan formula hardcore yang heavy dan groovy.
Acara berlanjut, dan giliran selanjutnya dalam rundown malam itu adalah Kartel. Kuartet dari Tangerang itu memainkan crossover thrash metal. Penampilan mereka malam itu cukup intens, dan seusai set personilnya sempat memberikan kaset dari album penuh mereka yang berjudul “Ordo Karnivora”. Dari tiga band yang bermain awal saja saya melihat scene Tangerang memiliki band-band yang ganas, begitu pun band selanjutnya di gig malam itu yaitu Heidegger. Melebur tema politikal dengan kelam nan muram dari musiknya yang berada dalam spektrum neo- crust yang atmosferik. Mereka menyuguhkan set yang impresif malam itu.
Gempuran crust pun dilanjutkan oleh Dishold. Band ini bukan wajah yang asing karena sebelumnya sempat melakukan tur ke Palembang pada tahun 2022 silam. Dengan elemen crust yang suram, mereka adalah salah satu band favorit saya, dan mereka bermain dengan mantap. Dan sepertinya menjelang akhir acara, line-up didominasi crust punk karena setelahnya adalah Peace or Annihilation yang cukup saya nantikan di gig hari itu. Tapi mereka tampil dalam format trio karena vokalisnya Baskoro sedang berada di Semarang, sehingga Ari bermain bass dan mengambil alih vokal di gig malam itu. Ari main dengan wajah yang masih lebam karena kecelakaan berspeda tapi tetap P.O.A. menggelontorkan aura ganas yang membuat crowd memanas. Namun menjelang akhir set P.O.A. hingga mereka selesai ada semacam keributan di sisi area masuk ke dalam bangunan Sarang Kelelawar. Atensi pun terpecah, dan ternyata gig mendapatkan kunjungan dari tentara yang adalah Babinsa (Bintara Pembina Desa) yang sepertinya hendak menghentikan acara malam itu karena alasan perizinan.
Momen itu diwarnai Tedi dan kawan-kawan yang berdebat panas dengan anggota Babinsa, dia merasa sudah membereskan semua urusan pemberitahuan dan perizinan. Anak-anak menduga mereka hendak meminta dana tambahan sehingga acara direcoki. Saat itu adalah giliran Critical Issues untuk main tapi melihat kejadian itu saya, Ken, Måm, dan Mår pun bingung. Kawan-kawan di sana malam itu menyuruh kami untuk tetap mempersiapkan set dan main, kawan-kawan akan menahan Babinsa di depan menghambat mereka di situ. Kami pun dengan cepat bersiap, dan main di tengah kemungkinan acara akan dihentikan oleh Babinsa gabut yang merecoki acara. Teman-teman yang datang pun tanpa peduli tetap memberikan support dengan mengganas di pit. Namun keriaan itu tidak berlangsung lama karena Critical Issues terpaksa stop setelah lagu keempat. Aparatnya makin ngotot. Sound system langsung dimatikan kawan-kawan agar Babinsa tidak mengambil alih mikrofon. Walau kesal, crowd malam itu pun dengan kondusif membubarkan diri dan menongkrong di sekitar venue. Saya dan kawan-kawan pun masih lanjut nongkrong di kedai kopi sebelah venue. Setelah satu demi satu pulang, baru kami kembali ke rumah Resga bersama Tedi dan kawan-kawan.
Terlepas dari gangguan di acara tadi, dan Critical Issues tidak bermain repertoar penuh, di mana situasi menjadi momen yang sangat Murphy’s law, saya merasa gig di Tangerang itu malah menjadi salah satu yang spesial dalam tur Critical Issues kali ini. Apabila dilihat dari sisi lain acara malam itu malah menunjukkan perkawanan dan komunitas dengan semangat D.I.Y. dalam bentuknya yang paling riil. Kami jelas berterima kasih dan salut kepada kawan-kawan di Cisoka karena mengatasi hambatan yang terjadi, dan tetap menciptakan ruang untuk kami yang datang dari jauh. Di rumah Resga, kami ngaso dan makan malam nasi bungkus dengan kawan-kawan lain yang menginap di sana malam itu. Malam berlanjut dengan obrolan yang kembali membahas soal insiden tadi, dan Tedi juga cerita para anggota itu memang agak problematik dari sejak dia mengurus ulang perizinan acara. Kisah klasik hubungan aparat negara dan masyarakat sipil. Lewat tengah malam menuju dini hari, seperti yang lain, saya pun berundur tidur. Namun apa daya ketika hendak mengambil posisi di atas karpet tiba-tiba Mår yang sepertinya sudah terlalu mabuy menggelundung seperti gelondongan kayu dari kasur ke karpet yang seharusnya menjadi posisi saya tidur, dia melindur dan lanjut tidur. Tergusur, saya lalu menggelar matras di ruang tengah, luas dan lebih sejuk. Mata terpejam bersama kelebat siluet buram dari Tedi dan Resga yang masih mondar mandir di ruang tengah. Lewat sudah hari yang penuh kejutan, saatnya badan diistirahatkan sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Rabu, 2 Desember 2025. Setelah ditutup dengan chaotically epic gig di Cisoka sehari sebelumnya, hari itu adalah jadwal kepulangan Critical Issues ke Palembang. Pegawai agen bisnya bilang sudah harus standby di loket bis di Bitung pada jam setengah empat sore, masih ada cukup waktu untuk tidak terburu-buru. Rencananya, kami akan berangkat jam dua siang dari rumah Resga diantarkan oleh Epri dengan mobilnya. Seperti biasa semua barang sudah dikemas, hanya Måm yang sibuk mencari celana pendek hitam yang disangka hilang tapi ternyata terselip di sisi kasur. Kalau dipikir-pikir tak mungkin juga ada yang mau ambil celana busuk personil band tur.
Siang itu saya, Ken, Måm, dan Mår jajan makan dengan pilihan masing-masing karena ada pilihan kios penjual makanan di pinggir jalan depan yang sederetan dengan minimarket. Saya menanyakan kepada Tedi pada jam berapa Epri akan datang, dan dia menjawab Epri belum membalas pesan teks dan telponnya. Tapi kata Tedi memang kawannya itu biasa begitu, dan nanti juga akan datang. Sementara terus mencoba menghubungi, Tedi juga minta rekannya untuk cek Epri ke rumahnya. Sembari menunggu Epri, saya bilang kalau misalnya tidak bisa dihubungi juga tidak masalah kami naik mobil sewa daring ke Bitung. Kabar baru muncul lewat jam dua siang, Epri pergi jalan dengan geng Vespa yang dia ikuti. Instingtif langsung saya memesan mobil lewat aplikasi, dan kami berlima dengan barang lengkap bergerak jalan ke depan untuk menunggu di parkiran minimarket. Dua kali pesanan saya diterima, kami tunggu, tapi kemudian dibatalkan. Terkaan saya karena ini akan melewati jam sibuk bubaran pabrik ke daerah yang juga hektik. Pesanan baru diterima oleh mobil ketiga pada jam tiga sore, dan adrenalin mulai mengalir sebab ini artinya kami akan berpacu dengan waktu. Mencoba tetap optimis, saya menepis pikiran akan skenario terburuk ketinggalan bis.
Lima belas menit kemudian, mobil yang dipesan tiba di parkiran minimarket, itu pun karena lokasinya kebetulan dekat. Memuat barang dengan cepat, berpisah dan berpamitan dengan Tedi dan kawan-kawan, dan langsung masuk mobil. Lalu lintas cukup merayap dengan banyaknya ruas jalan di kecamatan Cisoka yang dalam perbaikan. Saya bilang ke pengemudinya bahwa kami agak dikejar waktu, dan dia bilang tidak bisa menjanjikan karena kemungkinan besar akan terjebak macet walau masuk tol sekali pun. Langkah pertama adalah menelepon pegawai loket bis, dan dia minta selambatnya jam empat sudah di loket bis Bitung. Kepala saya sudah mulai memikirkan beberapa opsi langkah untuk worst case scenario, mulai dari menginap di Bitung sampai ngompreng bis sampai Merak, dan lanjut ngeteng dari Bakauheni ke Palembang.
Menit terus berjalan ketika mobil yang kami tumpangi diputuskan masuk jalan tol dengan traffic yang cukup padat, dan ditambah turun pula hujan deras. Semakin menegangkan secara psikologis perjalanan kami sore itu, dan saya pun buka suara melemparkan kemungkinan apabila ketinggalan bis kepada yang lain, dan coba memikirkan opsi yang bisa diambil untuk nanti dibahas kalau sudah sampai di loket bis. Saya sengaja tidak mengontak lagi agen bis, biarlah dia saja yang memberi kabar. Jam empat lewat lima belas menit, dan estimasi GPS masih ada lima belas menit lagi untuk sampai tujuan di Bitung. Berpikir dalam diam, gejala panik mulai merayap, dan diredakan dengan tarikan dan helaan nafas, pasrah untuk biarlah sampai dulu di loket.
Mobil keluar tol dan mulai merayap pelan menuju pos polisi yang menjadi patokan lokasi loket bis, dan dia menepi untuk berhenti. Bersama hati yang cemas dengan ligat kami semua menurunkan barang, dan langsung menuju loket bis. Petugas loket menerima kami, dan bilang beruntung bisnya belum datang sebab ada kerusakan, dan harus diservis sehingga bis akan datang terlambat. Kami berlima pun menghela nafas lega, tak apa kami yang menunggu daripada kami yang tertinggal. Dengan tersenyum petugas loket membalas dengan bilang kalau jam keberangkatan normal jelas kami akan ditinggal sebab armada bisnya selalunya tepat waktu. Masih sempat saja dia promosi. Sial!
Langit terlihat lebih gelap karena hujan yang turun mengguyur, dan kami menunggu di bedeng yang berisi deretan kios loket bis. Semacam kontradiksi langsung dari pengalaman naik bis di negeri jiran. Masih belum ada kabar pasti bis akan datang jam berapa, tapi nanti akan diberitahu kalau sudah jalan karena jaraknya hanya satu jam dari lokasi loket bis di Bitung. Kami yang merasa sangat lega pun baru bisa santai, dan memesan kopi serta mie instan. Bis yang terlambat bisa ditunggu, paling tidak kemungkinan terburuk ditinggal bis untuk perjalanan pulang ke Palembang berhasil dielakkan. Dengan semua kesialan, dan kekacauan, serta ditambah ketegangan di ujung perjalanan, kami masih diberi kesempatan untuk pulang entah karena keberuntungan, atau berkah para musafir dalam safar yang akan segera berakhir.
Palembang, Kami Pulang
Rabu, 3 Desember 2025. Setelah menunggu hampir dua jam di loket, bis yang telat karena harus diservis tiba sekitar jam enam lewat di Bitung, Kabupaten Tangerang. Langit sudah gelap, dan hujan gerimis, kami memuat barang ke bagasi bis dan menaiki bis yang kami tumpangi untuk pulang ke Palembang. Setelah duduk di bangku bis, saya menghela nafas lega setelah ketegangan karena hampir ketinggalan bis. Banyak juga penumpang bis yang hendak ke Palembang bersama kami di hari itu. Petualangan panjang hampir berakhir, dan perjalanan dari Bitung ke Palembang sekitar dua belas jam. Jalan darat ke Palembang dari pulau Jawa adalah hal yang biasa dijalani oleh Critical Issues dalam tur karena itu adalah opsi transportasi yang paling terjangkau.
Bis berjalan menembus hujan, dan saya memejamkan mata hingga tertidur. Baru terbangun ketika bis berhenti di rumah makan, dan kami turun bersama penumpang lain untuk makan dan meregangkan badan. Di meja yang berisi menu makanan khusus penumpang bis, saya, Ken, Måm, dan Mår mengantri menukarkan kupon makan. Setelah makan, sambil menikmati rokok, kami berempat kembali mengobrol akan kejadian sebelumnya dan bersyukur tidak ditinggal bis. Pengalaman ini menambah cerita seperti ketika dalam tur Critical Issues pada tahun 2023 lalu kami hampir ketinggalan pesawat sewaktu hendak terbang dari Kuala Lumpur ke Pekanbaru. Maka dari itu di kesempatan tur kali ini, kami agak cukup memperhatikan perencanaan waktu terkait transportasi dalam tiap destinasi. Tapi sebaik- baiknya perencanaan akan selalu ada hal yang tidak terduga. Panggilan untuk kembali naik ke bis berkumandang lewat pengeras suara, dan kami berempat pun meninggalkan meja makan untuk menaiki bis.
Biasanya setelah perhentian untuk istirahat dan makan, tak lama lagi bis akan masuk ke pelabuhan Merak di Cilegon, Banten. Saya lupa jam berapa bis yang kami tumpangi memasuki pelabuhan karena ponsel saya mati, dan jam di dalam kabin bis pun sepertinya error. Tak begitu padat antrian untuk menaiki kapal feri malam itu sehingga cukup cepat bis menaiki kapal feri yang akan menyeberangi Selat Sunda menuju Pelabuhan Bakauheni. Perjalanan melintasi Selat Sunda berdurasi sekitar dua jam, dan sialnya malam itu kami kebagian kapal feri yang agak jelek, tapi terlepas dari itu yang penting selamat. Dan soal keselamatan ini di atas kapal sempat ada petugas yang memberikan petunjuk keselamatan dengan cara komikal. Dari sekian kali menaiki kapal feri penyeberangan Selat Sunda, saya sudah tahu praktek itu dan bilang ke rekan yang lain ujungnya pasti jualan. Dan, benar sekali petugas itu menutup sesi instruksi keselamatan dengan jualan minyak gosok dan peci.
Kami mengisi waktu dengan mondar- mandir di dek kapal feri, dan rebahan di bangku kabin penumpang, atau bolak balik merokok di area luar. Di tengah laut yang gelap gulita, pendar cahaya pelabuhan Bakauheni perlahan terlihat semakin mendekat, pertanda sebentar lagi kapal akan sandar, saya dan rekan-rekan pun bersiap. Kami turun ke dek kendaraan untuk kembali naik ke bis setelah petugas mengumumkan kapal akan segera merapat ke pelabuhan Bakauheni lewat pengeras suara. Tak lama setelah kami menaiki bis dan kembali duduk di bangku, kapal feri yang ditumpangi pun berlabuh di pelabuhan Bakauheni, Lampung. Pintu palka kapal dibuka, dan satu demi satu kendaraan turun melewati rampa. Perjalanan kami pun berlanjut, masih ada sekitar enam jam lagi hingga tiba di Palembang.
Saya dan rekan-rekan pun lanjut tidur, dan terbangun ketika langit sudah mulai terang di jalan tol menuju Palembang. Bis yang kami tumpangi memasuki batas kota sekitar jam tujuh pagi, dan kami berhenti di loket bis di daerah Poligon. Turun dari bis, kami mengeluarkan semua barang bawaan dari bagasi. Di situ kami berpencar, Ken pulang ke rumahnya yang tak jauh dari situ, sementara saya, Måm, dan Mår memesan kendaraan untuk menuju Sekip untuk kemudian kembali ke rumah masing-masing.
Kami bersyukur bisa mengakhiri perjalanan dengan selamat dan kembali ke rumah tak kurang satu apapun. Setelah masa rehat sejenak pasca kepulangan dari tur, masih ada dua agenda jadwal gig lagi yang menanti Critical Issues di Palembang. Yang pertama adalah gig Suara Untuk Sumatera yang diorganisir oleh kawan-kawan PunkToPunx pada tanggal 13 Desember 2025. Sebuah gig penggalangan dana bantuan untuk korban banjir di Sumatera yang selain Critical Issues juga melibatkan band lokal Palembang lainnya yaitu Fatality, Neighborhood, CSF, Bad Voice, Skip, Brisik, Rush-D, Tampar Balik dan Newbiess. Cukup lumayan dana yang terkumpul walau sempat diwarnai hujan deras.
Agenda gig yang kedua Critical Issues di Palembang adalah Savage South Fest yang diorganisir oleh rekan-rekan New Wave of Savage South Hardcore pada tanggal 20 Desember 2025. Gig penutup yang asyik karena digelar di sebuah area outdoor di Gandus dengan setelan perkemahan. Selain Critical Issues dan band lokal Palembang yaitu Worst Enemy, The Conqueror, Erazed, Unspec, dan Disaster of Boys, juga menampilkan band dari luar Palembang yaitu Morvoid (Bandung), Primal Impact (Jambi), Set Spell (Jambi), dan Peace Sells (Lubuklinggau). Perhelatan itu juga dimeriahkan oleh DJ set dari Milisi Funky dan Triballux.
Dua gig di bulan Desember 2025 itu menutup petualangan panjang dari “Poison and Spell Tour 2025”. Banyak pengalaman dan pelajaran yang kami ambil sebagai band dalam tur Critical Issues kali itu, dan pastinya punya makna yang besar bagi saya, Ken, Måm, dan Mår secara pribadi maupun secara kolektif sebagai band. Semuanya hanya mungkin terwujud dari support kawan-kawan terhadap Critical Issues, dan bantuan semua kolektif/DIY show organizer di tiap kota dan negara yang kami singgahi. Terima kasih dan hormat kami untuk semua yang terlibat, semua band yang main bersama Critical Issues, dan rekan-rekan yang menyempatkan datang ke gig. Harapannya adalah semoga jejaring yang terbentuk tetap terjaga, dan semoga pula kami bisa bertualang lagi dengan tur selanjutnya. The chaos will continues.
***
EVERY MEMBER’S NOTE ABOUT POISON AND SPELL TOUR 2025
LÖR:
Tur di akhir tahun 2025 lalu bagi saya pribadi adalah bagian dari uji coba fisik pasca masalah kesehatan di bagian cervical di tulang belakang saya. Dengan persiapan fisik yang intensif, saya bersyukur untuk bisa melewatinya tanpa masalah. Selain itu juga adalah medan uji coba etos kemandirian dari Critical Issues di jalan, dan pastinya tak akan mungkin terwujud tanpa support dari kawan-kawan, dan semua yang membantu sehingga Poison and Spell Tour 2025 bisa terwujud.
MÅM:
Poison and Spell Tour 2025 dengan jadwal dari Sumatera, Malaysia hingga Thailand secara pribadi adalah tur terlama saya yang tanpa jeda. Banyak sekali pelajaran dan beragam hal baru yang saya temui selama tur kemarin. Dari soal disiplin, mengatur ego, membangun inisiatif, dan komunikasi, sampai koneksi pertemanan yang baru. Waluu bukan tur pertama saya, dan tur sebelumnya pun cukup panjang tapi untuk waktu satu bulan penuh di jalan bersama band itu rasanya lebih greget! Banyak juga momen yang bercampur dari senang, kesal, lelah dan sedih semuanya ada dalam sebulan penuh itu. Tapi yang utama, kami melewati semuanya dalam kebersamaan. Dan jurnal ini mungkin menceritakan itu semua.
Ken:
Jadwal touring satu bulan yang cukup berkesan dengan perjumpaan teman- teman jejaring scene tiap kota, berdiskusi dan sharing akan banyak hal, mengamati transisi bahasa, kuliner, dan budaya dari rentetan destinasi. Hanya saja ada rasa duka dengan bencana alam yang menimpa beberapa titik yang sempat kami kunjungi di Sumatera. Selebihnya saya rasa kami semua sangat menikmati perjalanan panjang kemarin. Dan pastinya terimakasih banyak untuk semua yang terlibat.
MÅR:
Tur kemarin sangat menyenangkan, sekaligus melelahkan namun membanggakan. Saya juga berkesempatan bertemu teman baru dan berbagi cerita di setiap kota. Seru! Dan pastinya jadi ingin jalan tur lagi.


























