X

Menyelami Krisis Eksistensial Lewat The Summer Hikaru Died

by webadmin / 10 months ago / 2059 Views / 0 Comments /

Melihat serial anime sebagai refleksi dari rasa hampa dan krisis eksistensial di tengah kehidupan nyata.


Menonton The Summer Hikaru Died terasa seperti menyentuh sesuatu yang dingin dan lembut sekaligus. Di permukaannya, kisah ini tampak sederhana–tentang dua anak laki-laki yang tumbuh di desa kecil yang dikelilingi pegunungan. Mereka begitu dekat, hampir tak terpisahkan. Hingga suatu hari, Hikaru hilang di gunung selama seminggu dan kembali dalam keadaan yang aneh. Ia terlihat sama, berbicara dengan cara yang sama, tersenyum seperti dulu, namun Yoshiki, sahabatnya, tahu bahwa sesuatu sudah berubah. Ada sesuatu yang lain yang hidup di dalam tubuh itu. 

Saya duduk lama setelah episode pertama di musim pertama berakhir. Rasanya tidak tahu harus bagaimana. Ada rasa sedih yang samar, tetapi juga keingintahuan yang sulit dijelaskan. The Summer Hikaru Died nggak buru-buru menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ia membiarkan penontonnya merasakan sendiri ketegangan di antara dua anak laki-laki ini, antara keinginan untuk tetap bersama atau sengaja 

Dalam setiap tatapan, setiap keheningan, ada rasa rindu yang tidak punya tempat untuk pulang. Yang membuat cerita ini begitu menempel adalah bagaimana ia menggambarkan kesedihan tanpa suara, kesedihan yang mungkin cenderung terasa membingungkan. Tidak ada teriakan, tidak ada air mata berlebihan. Hanya sepi yang terus menekan perlahan. Desa tempat mereka tinggal seperti dunia yang berhenti berjalan. Gunung menjulang di kejauhan, hutan terlihat gelap, udara terasa berat. Semuanya seakan ikut menyimpan rahasia yang tidak diucapkan walaupun secara visual yang ditampilkan warna-warnanya vibrant.  Saya bisa merasakan bagaimana kesunyian menjadi bagian dari cerita, membuat batas antara manusia dan hal-hal di luar nalar semakin kabur.

Yoshiki tahu kebenarannya, namun ia memilih untuk tidak mempedulikan apa yang merasuki Hikaru dengan terus berbicara, berusaha tertawa, seolah semua baik-baik saja, seolah ia masih hidup. Di titik itu, cerita ini mulai berbicara tentang hal yang jauh lebih besar dari sekadar kehilangan seorang teman. Ibaratnya seperti berbicara tentang cara manusia yang seringkali menyangkal kenyataan. Tentang keinginan untuk mempertahankan sesuatu yang seharusnya sudah hilang. Tentang rasa takut menghadapi kekosongan dan ketidakhadiran.

Selama menonton, saya sering merasa seperti ikut terperangkap di dalam dunia mereka. Ada momen ketika Yoshiki bermimpi tentang masa lalu, tentang saat-saat sederhana yang terasa begitu hidup. Dalam mimpi itu, warna-warna terlihat hangat dan suara tawa terasa nyata. Namun ketika Yoshiki bangun, semuanya terasa dingin kembali. Perasaan itu aneh sekali. Saya jadi sadar betapa mudahnya manusia terjebak di antara mimpi dan kenyataan. Perasaan di mana selalu ingin kembali ke suatu masa di mana kenangan indah tinggal dan tidak bisa dibawa ke kehidupan saat ini. Kita tahu sesuatu sudah berakhir, tapi hati tetap menolak bergerak.

Hikaru–dalam bentuk barunya–menjadi simbol dari sisi kondisi manusia saat berhadapan dengan absurditas hidup, kehilangan, dan kesadaran bahwa cinta pun tidak bisa menyelamatkan kita dari kefanaan. Ia ada, tapi tidak sepenuhnya hidup. Ia berbicara, berjalan, tersenyum, namun semuanya (sekali lagi) terasa hampa. Melihatnya membuat saya berpikir tentang tubuh manusia dan jiwa yang menempatinya. Apa jadinya ketika yang satu tetap ada, tapi yang lain sudah pergi? Apakah masih bisa disebut hidup? Pertanyaan itu membuat saya merenung lama. Kadang kita pun menjalani hari dengan cara yang mirip–secara fisik hidup, namun batin kita diam di tempat yang sama.

Dalam banyak hal, The Summer Hikaru Died terasa seperti cermin yang memperlihatkan sisi rapuh manusia yang sering kita hindari. Bagaimana kita menolak kehilangan, bagaimana kita menipu diri sendiri agar tidak perlu merasa sakit. Yoshiki tahu Hikaru sudah mati, tapi ia tetap berbicara padanya, tetap berjalan bersamanya, tetap menatap wajah yang sama setiap hari. Ada bagian dari saya yang memahami pilihan itu. Kadang, bertahan dalam kebohongan terasa lebih mudah daripada menerima kebenaran yang terlalu menyakitkan. 

Saya suka bagaimana seri ini menggambarkan hubungan mereka dengan begitu lembut. Cinta Yoshiki pada Hikaru terasa ambigu, tapi nyata. Tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata. Ada kedekatan yang dalam, ada rindu yang tertahan. Dalam setiap interaksi, bisa merasakan ketegangan antara rasa sayang dan ketakutan. Rasanya seperti menonton seseorang yang tahu cintanya sudah tidak bisa diselamatkan, tapi tetap menolak melepaskannya.

Saya rasa The Summer Hikaru Died berbicara tentang eksistensi dengan cara yang sangat halus. Ia tidak mengajarkan atau memberi jawaban, hanya menunjukkan bagaimana rasanya hidup ketika batas antara hidup dan mati, antara cinta dan kehilangan, menjadi kabur. Mungkin karena itu, setelah menonton, saya merasa hampa. Seperti duduk sendirian di sore hari, tahu bahwa dunia masih berjalan, tapi hati tertinggal di satu tempat yang tidak bisa dijangkau lagi.

Saya berpikir, mungkin krisis eksistensial selalu hadir dalam bentuk seperti ini. Tidak datang dengan gemuruh, tapi muncul pelan-pelan melalui hal-hal kecil. Melalui tatapan, mimpi, dan kenangan yang terus kembali. The Summer Hikaru Died menunjukkan bahwa manusia memang tidak selalu mengerti, dan mungkin memang tidak harus mengerti tentang makna besar kehidupan.

Ketika episode terakhir di musim pertama ini berakhir, saya masih duduk lama menatap layar yang gelap. Rasanya seperti baru saja melewati mimpi panjang yang belum selesai. Saya tidak merasa sedih dan juga tidak tenang. Ada perasaan menggantung di hati, seperti kabut yang belum terangkat. Mungkin ini yang disebut kehilangan yang hidup di dalam diri, yang tidak pernah benar-benar pergi. Dari situ, saya hanya bisa berpikir bahwa menjadi manusia memang seaneh ini, dengan terus berusaha mencari makna bahkan jika semuanya sudah tidak punya bentuk lagi.

Teks Gren Rain

Tagged

#the sumer hikaru died #anime #japan