X

If You Ever Feel Numb, Watch Movies. Karena Ternyata Hidup Bisa Dipinjam dari Fiksi

by webadmin / 1 year ago / 1092 Views / 0 Comments /

Eksplorasi ringan tentang kenapa dunia nyata kadang terlalu absurd untuk dihadapi tanpa bantuan sinema, dan bagaimana film bisa jadi penambal sementara untuk jiwa yang bolong.


Pernah nggak sih merasa seperti zombie? Tapi bukan zombie ala Hollywood yang punya tujuan (walau hanya berburu otak), tapi zombie yang masih hidup, makan nasi, kerja 9 to 5, update Instagram Story–tapi secara eksistensial, kosong. Mati rasa. Tidak sedih, tidak senang, tidak apa-apa. Datar. Seperti nasi dingin di warung yang nggak laku-laku.

Selamat datang di zaman post-boredomism. Di mana bukan hanya pekerjaan yang membunuh kreativitas, tapi juga algoritma, kapitalisme, dan ekspektasi sosial yang membuat kita lupa rasanya jadi manusia. Untungnya, kita masih punya satu hal buat dinikmati: film.

Menurut laporan World Health Organization (WHO), lebih dari 280 juta orang di dunia mengalami depresi, angka yang terus meningkat setiap tahun, terutama di kalangan usia produktif yang ironisnya hidup dalam “zaman paling terhubung sepanjang sejarah umat manusia.” Di Amerika Serikat sendiri, survei dari National Institute of Mental Health (NIMH) tahun 2023 menunjukkan bahwa 1 dari 5 orang dewasa mengalami gangguan suasana hati. Jadi kalau kamu merasa kosong, mati rasa, atau hanya bisa senyum kalau ada diskon ongkir-selamat, kamu tidak sendirian.

Lalu muncullah solusi yang tidak ditemukan dalam toolkit WHO, tapi tersedia 24 jam di Netflix atau di platform penyedia serupa lainnya: film. Menurut penelitian dalam Journal of Media Psychology, menonton film dramatis tidak hanya meningkatkan empati, tapi juga membantu mengaktifkan kembali refleksi diri dan mengurangi perasaan kesepian. Jadi lain kali kamu menangis karena tokoh utama film kehilangan cinta sejatinya, jangan merasa bodoh. Itu bukan sekadar air mata murahan, itu otakmu bilang: “Eh, kita masih hidup loh.”

Dan di sini lah titik ironi yang menghangatkan dada: kadang kita justru butuh dunia palsu untuk bisa merasa nyata. Realita terlalu penuh tuntutan untuk tampil waras, efisien, dan resilient. Maka kita istirahat sebentar di dunia fiksi. Menyaksikan karakter yang lebih hancur dari kita, dan merasa lega karena, yah… ternyata ada yang lebih kacau. Karena jujur aja, melihat Joaquin Phoenix jatuh cinta pada operating system yang tak punya tubuh tapi punya suara manis itu somehow lebih masuk akal daripada memahami kenapa kamu bisa staring at the ceiling tiga jam dan nyebut itu “me time.”

Mari kita realistis: hidup modern itu melelahkan. Bangun, buka HP, lihat berita buruk, ngopi sambil buka laptop, kerja sampai magrib, lalu scroll TikTok sambil merasa bersalah karena nggak produktif. Otakmu seperti browser dengan 57 tab terbuka dan nggak tahu lagu mana yang nyala. Nah, di tengah overload itu, di situlah film bisa masuk. Film nggak minta kamu berpikir keras. la datang, duduk di sebelahmu, dan berkata: “Tenang, aku akan merasakan ini untukmu.”

Film adalah bentuk seni yang menawarkan pengalaman langsung. la tidak hanya bercerita; ia menghidupkan cerita. Visual, suara, ekspresi wajah, musik latar, semuanya membombardir indramu dalam satu waktu. Dalam 90 menit, kamu bisa jadi balerina depresi (Black Swan), programmer kesepian yang jatuh cinta sama AI (Her), atau perempuan plastik yang akhirnya sadar dunia ini patriarkal (Barbie). Dan yang paling penting: kamu bisa merasa sesuatu. Bahkan kalau itu cuma rasa sesak setelah nonton ending Past Lives dan berkata dalam hati: “Anjir!“.

Ada argumen klasik: “Lho, kenapa harus lari ke fiksi? Kan itu bukan dunia nyata.” Mari kita jawab dengan sarkasme manis: ya tentu saja itu bukan dunia nyata, makanya bisa bikin kamu merasakan sesuatu. Dunia nyata terlalu sibuk dengan pajak, deadline, dan influencer yang jualan serum pemutih. Fiksi tidak peduli kamu siapa, ia hanya ingin kamu duduk dan merasa jadi ‘manusia’.

Menurut penelitian dari University of Oxford, menonton film bersama secara kolektif bisa meningkatkan pelepasan endorfin dan rasa keterikatan sosial. Jadi bukan hanya kamu jadi lebih “hidup,” tapi juga sedikit lebih terhubung dengan manusia lain, yang mungkin sama ‘mati-nya dengan kamu–meski sama-sama mati, setidaknya kita nggak ngerasa sendiri.

Kalau kamu bertanya, “Oke, terus nonton film apa?” Jawabannya bukan “Yang rating-nya tinggi di IMDb,” tapi “yang bikin kamu kesetrum secara emosional.”

Berikut daftar film buat kamu yang sudah lupa rasanya punya denyut nadi:

Past Lives (2023)

Disutradarai oleh Celine Song. Kalau kamu pernah mikir, “Seandainya dulu nggak pindah…” atau, “Mungkin kalau kita ketemu di waktu yang beda…” maka Past Lives akan langsung menusuk kamu di tempat paling lembut dari yang kamu pura-pura keras: hati. Film ini mengikuti kisah Nora dan Hae Sung, dua teman masa kecil dari Korea Selatan yang berpisah saat kecil karena migrasi, lalu bertemu kembali puluhan tahun kemudian, dalam suasana yang terlalu dewasa untuk sekadar nostalgia, tapi terlalu emosional untuk disebut “teman lama.”

Film ini bermain di spektrum emosional yang samar-samar, penuh dengan konsep Korea bernama In-Yun—tentang keterkaitan spiritual antar manusia di banyak kehidupan. Tapi jangan takut jadi mistis, karena yang membuat Past Lives menyayat bukan filosofi reinkarnasi, melainkan cara kita sebagai manusia modern terus dihantui pilihan yang tidak pernah kita buat secara sadar.

The Worst Person in the World (2021)

Daripada merasa kamu satu-satunya orang gagal di usia 30-an, tonton dulu Julie yang sedang berasa di quarter-life crisis yang hidupnya lebih berantakan dari 3 tab Shopee yang kamu buka bersamaan.

The Worst Person in the World bukan tentang orang jahat, tapi tentang rasa bersalah yang terlalu manusiawi: saat kamu ingin jujur pada dirimu sendiri, tapi takut mengecewakan orang lain. Joachim Trier, sang sutradara membingkai kisah Julie seperti buku harian yang terbuka, lengkap dengan babak-babak, absurditas, patah hati, dan satu momen yang membuatmu merasa hidup tapi hanya untuk kehilangan itu beberapa menit kemudian.

Her (2013)

Siapapun yang pernah jatuh cinta pada sesuatu yang tak bisa dimiliki (bahkan Al sekalipun) akan merasa ditelanjangi di film ini. Kamu mungkin belum pernah jatuh cinta sama operating system, tapi bukan berarti kamu nggak pernah kesepian di tengah dunia yang hiper-terkoneksi.

Itulah yang terjadi sama Theodore dalam Her, seorang penulis surat personal (ironis, kan?) yang menemukan intimacy dalam bentuk suara bernama Samantha. Tapi jangan buru-buru nge-judge. Karena film ini bukan soal teknologi canggih, tapi soal kebutuhan mendasar manusia untuk didengar, dimengerti, dan disayangi… bahkan jika itu datang dari kecerdasan buatan.

The Shape of Water (2017)

Kadang yang paling ngerti rasa kesepianmu bukan manusia lain, tapi makhluk dari laguna misterius yang ditangkap untuk penelitian di lab. The Shape of Water bukan cuma kisah cinta aneh ala Beauty and the Beast versi dewasa. Ini adalah surat cinta untuk orang-orang yang selama ini dianggap ‘aneh’, ‘gagal berfungsi, atau ‘tidak normal’. Elisa, perempuan bisu yang bekerja sebagai cleaner, menjalin koneksi yang dalam dan spiritual dengan makhluk amfibi di lab rahasia milik pemerintah AS.

A Silent Voice (2016)

Apa jadinya kalau penyesalan bisa bersuara? A Silent Voice bukan sekadar film animasi tentang bullying. la adalah tamparan halus (tapi menyakitkan) tentang rasa bersalah, penghakiman diri, dan proses menebus kesalahan tanpa jaminan pengampunan. Shoya, si mantan pelaku bullying, mencoba berdamai dengan masa lalu saat bertemu kembali dengan Shoko, gadis tuli yang dulu ia sakiti.

Film ini menyayat bukan karena adegannya dramatis, tapi karena semuanya terlalu sunyi. Sunyi seperti perasaan bersalah yang kamu simpan diam-diam. Sunyi seperti ruang kosong di hati yang nggak tahu bagaimana cara minta maaf. Dan sunyi seperti dunia yang lebih suka memalingkan wajah daripada melihat luka yang tidak berdarah.

Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004)

Pernah pengen banget ngelupain mantan? Nah, Joel dan Clementine melakukannya. Secara harfiah. Dengan prosedur medis. Tapi seperti biasa, otak manusia tidak segampang itu. Eternal Sunshine adalah eksplorasi paling kacau tapi jujur tentang ingatan, cinta, dan absurditas romansa yang gagal. Ketika kamu pikir kamu bisa buang kenangan pahit, justru yang muncul pertama adalah momen-momen paling manis-yang diam-diam masih kamu simpan baik-baik.

Visualnya surealis, tapi pesannya grounded banget: cinta bisa datang dengan kekacauan, trauma, kegagalan, dan kebingungan. Tapi dari semua itu, justru kita belajar jadi manusia.

Love Letter (1995)

Kadang, yang kita rindukan bukan orangnya, tapi versi kita yang ada saat dia masih di sini.

Itulah rasa yang ditinggalkan Love Letter, sebuah film Jepang yang lembut, tenang, dan dalamnya seperti salju yang menumpuk di kota Otaru. Saat Hiroko mengirim surat untuk tunangannya yang sudah meninggal, dan mendapat balasan dari perempuan lain dengan nama yang sama, kita langsung masuk ke dunia di mana rindu sebenrnya dan memang tidak butuh logika.

Film ini bicara tentang bagaimana kenangan bisa terpantul lewat orang asing, dan bagaimana cinta bisa tetap hidup, meski orangnya sudah tidak ada. Ini bukan romansa, ini renungan. Tentang menulis surat ke masa lalu, dan akhirnya, membaca balasan dari dirimu sendiri.

***

Tapi apa ini beneran solusi buat bikin kita ngerasa hidup lagi?

Tidak, film tidak akan menyelesaikan hidupmu. Setelah credits roll, kamu tetap harus bayar tagihan. Tapi di antara urusan duniawi itu, film memberikan celah. Sebuah jeda di mana kamu bisa menangis tanpa harus punya alasan, tertawa tanpa takut terlihat bodoh, dan merasa tanpa perlu validasi.

Film bukan solusi, tapi pengingat. Bahwa kamu masih bisa tersentuh. Bahwa kamu, yang mungkin sudah tidak tahu cara merasa selain lewat meme dan notifikasi, masih punya ruang di dalam dada itu untuk bergetar. Sedikit saja. Dan kadang, itu cukup untuk bertahan satu hari lagi.

Kenapa butuh sinema untuk merasa hidup? Karena dunia nyata terlalu sibuk menyuruh kita “move on,” “stay productive,” “jadi versi terbaik diri sendiri. Sedangkan film berkata sebaliknya: “Hey, kamu bisa merasa gagal, aneh, bodoh, bingung, dan itu sah.”

Dalam dunia nyata, kamu harus kuat. Dalam film, kamu boleh rapuh. Dan lucunya, dari dunia fiksi itulah kamu bisa belajar jadi manusia yang lebih utuh. Kalau kamu merasa mati rasa, itu bukan karena kamu tidak cukup bersyukur atau terlalu manja. Itu karena hidup ini berat. Dan kadang, satu-satunya cara untuk mengingat bahwa kamu masih hidup adalah dengan menyaksikan kehidupan orang lain, meski fiktif.

Film bukan candu, tapi cermin. Dan seperti semua cermin yang baik, ia akan menunjukkan sisi kamu yang bahkan kamu sendiri tak sanggup lihat. Jadi, kalau kamu merasa mati rasa…

Ambil selimut. Matikan lampu. Tarik napas. Dan tekan tombol play.

Teks: Gren Rain