X

When Weeaboo Meets Hardcore: Letupan Energi Geeky dari Midnight Meowth

by webadmin / 10 months ago / 718 Views / 0 Comments /

Menengok unit hardcore yang secara terang-terangan bawa budaya pop Jepang sebagai image-nya.


Menjadi weeaboo tak selalu berakhir jadi ingin terdiskoneksi dari dunia nyata–lebih memilih punya husbu atau waifu ketimbang pasangan asli atau berharap terjebak di isekai daripada menjalani hidup sehari-hari. Mereka justru bisa menancap tajam ke tanah, jadi penyampai amarah, tukang rapal mantra penuh semangat, atau pengendara musik kencang yang memantik geliat moshpit hingga kesadaran sosial. 

Midnight Meowth adalah nama yang representatif dari anggapan “Jika otaku sudah turun (untuk suatu persoalan), maka hal itu ada di level gawat”. Baru-baru ini mereka merespon kebengisan aparat yang (lagi-lagi) merefleksikan busuknya institusi tersebut soal memanusiakan manusia, bahkan ketika lusinan kasus (dibaca: dosa) sebelumnya tak pernah tuntas ditebus. “Apple Cat Apple Bee” yang didapuk jadi single terbaru adalah cara mereka buat bilang “All Cops Are Bastards”spread the message smoothly, but still sharp. Weeaboo style. 

Ketajamannya mereka runcingkan dengan agresi kilat hardcore punk, intrik metal, namun melodis seperti post-hardcore. Rasanya seperti menemukan nafas lanjutan dari band macam Edzweck atau nervous light of sunday, namun kali ini lahir di Malang. 

Band ini dihuni secara kuintet dengan formasi terkini: Nisa (vokal), Ocin (gitar), Welly (gitar), Obed (bass) dan Biting (drum). Meski tak semua original members, namun pada dasarnya mereka bertemu lantaran satu elemen dari budaya populer Jepang yang sama-sama mereka gemari: anime. Tanpa sungkan, mereka menceritakan,

“Sebetulnya sedikit lupa gimana awalnya, cuma seingatku karena kami semua suka nonton anime aja, terus pengen bawa konsep yang agak aneh, mungkin sesederhana itu.” kenang Nisa. 

“(Singkat cerita) setelah kita sepakat bikin band hardcore, tapi dilihat dari fisik-fisiknya kita nggak ada yang serem, macho, alias tampang2 kita tuh yang bagian pupuk bawang, culun, jadi kita sepakat bikin band hardcore tapi weeaboo”, tambah Ocin. 

“Lagipula masing-masing dari kita pasti ada aja yang nonton anime tiap hari, bahkan tiap pagi. Mau berangkat kerja nyempetin satu atau dua episode anime dulu. Jadi jiwa-jiwa weeaboo ini emang udah ketanam di tiap personel kayaknya”, lanjutnya. 

Credits: Dokumentasi band

Ya, menjadi penggemar akut anime atau manga bukan sebuah guilty pleasure buat mereka, mereka menganggap itu sebagai jati diri, di tengah krisis identitas band, di tengah menjamurnya ‘performative tough guy hardcore band’. 

“Dari awal kami semua (kecuali Biting waktu itu) udah akut (sama hal-hal kayak anime atau manga). Dari nongkrong ngomongin anime, komik, merch, sampai nyelipin istilah Jepang di obrolan sehari-hari. Akhirnya kepikiran: ‘Daripada nutup-nutupin, ya udah sekalian aja jadi identitas band’”, ungkap Obed. 

Biting pun merespon, “Mungkin aku yang paling beda di sini karena aku murni masih belum tertarik dengan perkara weeaboo ini dan tidak tahu menahu tentang jejepangan (kecuali One Piece, Naruto, Tsubasa, Dustbox, Four Get Me A Nots, Zivilia) jadi aku memutuskan keluar dari zona nyamanku buat genre ini.”

Menurut mereka, tak ada yang perlu disembunyikan dari seorang weeaboo, menjadi diri sendiri adalah salah satu hal penting dari hardcore. Dan setelah itu, mengkomunikasikan apa yang jadi muatan energi mereka jadi satu lagi hal penting lainnya. Namun sebelum itu, komunikasi internal lebih dulu mereka prioritaskan. Dan nama “Meowth” diteguhkan sebagai lambang dari komunikasi itu sendiri, once again, weeaboo style.

“Karena di Pokemon hanya Meowth yang bisa ngomong.” terang Nisa singkat. 

Lebih detail, Obed menambahkan, “Meowth itu ikonik karena: bisa ngomong, nyebelin, tapi lovable. Dan dia representasi ‘chaos kecil yang niat’. Selain itu namanya gampang diingat, lucu, dan nggak terlalu agresif buat band yang isinya orang ngamuk tapi suka anime.”

Namun perihal siapa yang paling geek soal Pokemon, mereka justru saling tunjuk.

“Mungkin Nisa sama Ocin. Mereka bisa debat evolusi, region, sampai strategi battle. Aku dan Welly lebih ke penikmat kasual, Biting tahunya karakter lucu aja”, tunjuk Obed. 

Soal materi, Midnight Meowth tak selugu citra yang coba dibangun, materi mereka tanpa kompromi. Tak muluk-muluk jika saya bilang di awal seakan menemukan nafas lanjutan dari Endzweck dan band-band semisal. Seringkali mereka menunjukan sampul yang manis buat rilisan yang mengusik. Sejauh ini lima buah single sudah mereka lepas, termasuk single terbarunya “Apple Cat Apple Bee” yang didaulat jadi teaser album perdana mendatang. 

Namun agar tetap menunjukan citra yang khas, mereka kerap mengambil dunia jejepangan sebagai sumber inspirasi atau bahkan menggunakan lirik berbahasa Jepang. Mereka tetap melakukannya meski tahu tak ada satu pun dari mereka yang mahir berbahasa Jepang. 

Dari lini gitar, tentunya progresi chord yang khas dari band-band Jepang punya porsi inspirasi utama, selain akhirnya lebih meluas lagi ke OST anime atau potongan dialog dalam anime. 

Bahkan kayak lagu yang berjudul “Tsuyoku Are (強くあれ)”, itu terinspirasi dari anime Haikyuu!!. Beberapa liriknya berasal dari kata-kata penyemangat kakeknya Nishinoya”, pungkas Nisa.

Sementara soal kemahiran bahasa Jepang..

“Nggak ada satu pun dari kami yang jago berbahasa Jepang, semua liriknya dibuat kawan kami, jadi kami tahu nyanyinya aja, hahaha. Oh iya, kawan kami tersebut Aris Dwi Isyadi alias Jembi”, aku Ocin. 

Namun mereka tetap bercita-cita bisa menulis lirik Bahasa Jepang sendiri secara paripurna suatu saat. “Kami belajar bareng-bareng dengan beberapa kawan kami yang dari sastra Jepang dan orang Jepang. Meskipun di beberapa lagu masih ada bahasa yang kurang tepat, tapi dari sana jadi terlihat progress-nya”, tambah Nisa. 

Namun dari sana peer mereka jadi cukup banyak, selain menebus asa untuk lepas dari ikatan single yang sudah mereka lakoni empat tahun belakangan, mereka juga sedang menajamkan kemampuan Bahasa Jepang. Gimmick yang total. 

Namun di tengah kepadatan para personelnya dengan band masing-masing, hingga pekerjaan yang membawa mereka ada di kota satu dan berangkat ke kota lainnya di esok harinya, tekad mereka tetap bulat untuk bisa punya album sendiri, meski sempat urung sejak tertahan Covid dua tahun lamanya. 

“’Apple Cat Apple Bee’ itu sebenarnya jembatan ke album pertama kami. Materinya udah mulai disusun, tapi kami masih ngejar waktu karena beberapa personel sempat di luar kota. Targetnya album penuh bisa mulai digarap serius setelah ini”, tegas Obed.

Hari esok masih panjang buat Midnight Meowth Mimpi mereka mungkin tak muluk-muluk, namun di tengah keadaan super sibuk yang mereka lakoni, mereka masih bisa melihat secercah cahaya, menyampaikan geeky attitude ke kancah musik yang masih punya label maskulin sampai hari ini.

Mereka yakin akan masa depan yang akan mereka tapaki, meski negaranya seperti tak memilikinya. Dan dari suramnya keadaan, rasanya pindah ke dunia anime jadi opsi yang bagus. Jika hal itu bisa kejadian, begini jawaban mereka:

Ocin: Tanpa mengurangi rasa sungkan, Highschool DxD.

Nisa: Anime shoujo, biar bisa ketemu ikemen, wkwk

Welly: Jelas, yang pertama ke universe-nya Totoro karena aku ingin kerja part-time jadi kernet Catbus yang sangat “welcome”. Kedua, aku ingin ke universe-nya Pom Poko buat bantuin para rakun melawan orang-orang perusak alam, hehehe.

Obed: Gintama atau Danshi Koukousei no Nichijou kali ya, biar bisa bercanda ngawur sama temen tanpa takut konsekuensi hukumnya, haha!

Biting: Hachi lebah, pengen membantu dia buat cari ibunya. Meskipun ending-nya udah ketemu tapi seenggaknya kalo aku bantu pasti lebih cepet. Thanks!

Teks dan interview: Ilham Fadhilah