MASS-49: Devosi Tottsuan Dari Simpang Limbangan

Catatan tur Jepang Mass-49, dari Garut ke tanah kelahiran banyak inspirasinya dan mempersembahkan racikan amis grainkor, doom—dan diantaranya—sendiri.
Hasil kawin silang segitiga selain domba priangan. Gerinda psikopat kabur dari RS kejiwaan. Manufaktur bunyi-bunyi disonan. Keduanya sama-sama kelas aduan. Kelebihan dosis dua angka dari senapan serbu hasil tangan Kalashnikov—jika ini memang senapan serbu jenis baru. Entah apa maksud dari 49 yang dipatri di belakang nama grup sadistik eksekutor grainkor ini. Huh… lompati pagar rumah sakit jiwa, manujah orang asing. Buraikan ususnya. Ini versi Sumanto terpapar T-Virus jang ia injeksi sendiri sebagai narkotik favoritnya. Campur apapun jenis speed tentu. Supaya bpm terjaga di gigi empat. Ini grainkor, hey bajingan!
Ada penulis congkak bin menyebalkan sempat resensi EP No Longer Human yang terkejut dengan bonus trek di rilisan tersebut versi plat 12”, tajuknya “Annihilation”. Pembinasaan. Gerinda dengan bensin Harmony Corruption (1990) milik Napalm Death. Bensin oplos sudah pasti. Pekatnya doom a la Mortiferum mendominasi trek berdurasi hampir sebelas menit. Mesin gerinda macet. Leatherface lagi kena sinte.
Masuk gigi netral. Parkir sejenak RX-King jambret. Linting tembakau tingwe. Resapi…
Mereka tenyata sengaja ingin membuat hal yang beda setelah beradu ide. Hasilnya sebuah track death-doom yang disuntik EP Mushikeras (2023) milik veteran doom Jepang, Corrupted.
“Belum terpikir waktu itu akan jadi seperti ‘Annihilation’. Kita masih ngumpulin beberapa referensi dulu, apakah mau dibikin sama seperti lagu-lagu MASS-49 yang sebelumnya, atau bikin yang beda dan bedanya itu seperti apa. Akhirnya beberapa dari kita ngumpulin referensi, terus kebetulan muncul satu referensi yang bener-bener langsung ngeklik sama kita berlima. Itu si Corrupted yang Mushikeras. Nah itu setelah dieksplorasi, kayaknya bikin gini cocok juga ya… yang notabenenya bertolak belakang dengan si MASS-49 yang sebenarnya,” Febi (gitar) menjelaskan.
Dari mereka ada pertanyaan, “Apa kita beneran mau bikin kayak Musikheras?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja bukan dengan gagah dan percaya diri. Bukan dengan kepastian. Lebih mirip orang giting yang baru sadar dirinya sudah terlalu dalam menghirup mariyuana kualitas buruk. Seburuk-buruknya hingga paru tak lagi mampu menampung asapnya. Setengah pasrah. Setengah penasaran. Kepala berdenyut dengan ritme yang tidak ada di ketukan manapun.
Dan kemudian… cetas! Seperti korek api di ruangan yang sudah penuh dengan gas metan dari gas LPG bocor.
Dua nama. Salsa Larasati. Orcyworld. Turut kongkalikong yang bukan dari perburuan melelahkan seperti junkie yang capek cari-cari vena baru buat disuntik heroin. Nama itu sudah lama duduk manis di sudut kepala, menunggu diambil. Teman dekat. Dua sejoli yang ternyata bisa nyanyi. Fakta yang selama ini ada di depan mata layaknya botol wiski yang sudah dikosongkan tapi masih menyisakan setetes di dasarnya dan akhirnya nafas terakhir itu jatuh ke lantai.
Ide dilempar. Disambut. Tidak ada negosiasi panjang yang menguras isi kepala. Tidak ada tawar-menawar seperti transaksi di gang belakang. Dan begitulah Annihilation lahir tanpa ritual, hanya kepasrahan kolektif. Lagu penutup yang jadi cara terbaik untuk sesuatu yang harus berakhir: total, rata, tidak menyisakan remahan yang layak dikenang. Tapi sekaligus jembatan menuju MASS-49 berikutnya. Rilisan yang belum lahir, tapi baunya sudah tercium dari jauh. Berat. Gelap. Seperti sesuatu yang sudah lama difermentasi di tempat yang tidak pernah kena cahaya. Begitu juga yang terjadi dengan Orcyworld, si pembaca mantra merapal komat-kamit menggunakan bahasa yang ia buat sendiri. Hanya Tuhan, setan, dan dirinya yang tahu artinya.
FROM GARUT TO OSAKA
Mereka bawa logan ini karena semua anggota punya darah Garut—pure-blood maupun mudblood, kalau mau pinjam istilah dari semesta Harry Potter yang entah kenapa kita semua masih bawa-bawa sampai umur segini seperti bekas luka yang tidak mau sembuh tapi kita sudah putus urat malu. From Garut to Osaka tidak tercetus sejak awal. Bukan karena mereka terlalu sibuk atau terlalu bodoh, tapi karena ide yang benar-benar hidup tidak datang dari rapat. Datangnya dari panik, dari detik terakhir, dari momen ketika semua pintu sudah ditutup dan satu-satunya yang tersisa adalah jujur atau mati.
Dan mereka memilih jujur. Yang mana di industri ini, hampir sama saja dengan mati.
Osaka tidak pernah minta diinvasi oleh anak-anak dari kota yang baunya campuran belerang dan kulit domba. Tapi begitulah sejarah bekerja. Tidak diminta, terlambat disadari, selalu terasa seperti kecelakaan yang kemudian kita bingkai dan gantung di dinding yang biasa para spiritualis sebut takdir.
Perkara slogan yang baru muncul di detik akhir seperti wahyu di Gunung Cikuray, akhirnya mereka coba bersiasat bagaimana caranya tancap gas mulai dari Garut.
Kita kilas balik, dari pengakuan Dikdik (gitar), saat MASS-49 pertama kali muncul para bajingan ini dikit-dikit berkelakar nyebut; “MASS-49 itu dari Cisompet.”
Sampai pada akhirnya pada show MASS-49 di Cipanas pun ada penonton yang menghampiri, nanya sambil cengar-cengir: “Dari Garutnya kapan?” Orang beneran tergocek! Bukan satu-dua orang. Banyak. Gara-gara bacot ngawur yang entah pertama kali keluar dari mulut siapa kemudian menyebar seperti COVID-19 di pesta nikah indoor tanpa ventilasi, ada yang sungguh-sungguh percaya ini geng Cisompet tulen, Garut Selatan asli dan lahir dari kabut, bau jaket kulit domba dan doa ibu-ibu pengajian yang entah kenapa anaknya jadi begini.
Otak yang sudah direndam berpuluh miligram bius orang mau melakukan operasi ini langsung terbersit legenda musik gerinda Jepang. Selain Unholy Grave yang diucapkan dengan hormat di scene ini seperti orang menyebut nama nabi, ada satu lagi yang relevan. Yang terlalu relevan seperti nasib yang sudah terpatri di Lauhul Mahfuzh sebelum pemuka agama hingga pendosa lahir.
Ya, SOB. Bayangkan jika Tottsuan lahir di bidan sekitaran Pasar Limbangan dan memutuskan memberi nama grupnya Sabotage Organized Garselian.
Selepas menghantam selah dari Garut seraya memberi ornamen retak pada tiap jaket kulit para pengrajin Asgardian. Kuintet biadab ini main di Flower City Deathfest esok harinya. Band muda beda liga. MASS-49. Mayat hidup dari got isi darah gelimpang mayat tikus pembawa hantavirus menebar wabah zombi aplrakalips di hajat tahunan legendaris scene death metal lokal. Dulu ada Bandung Deathfest, kini Flower City Deathfest jadi insureksinya. Ini adalah anomali. Dari sekian banyak grup liga ini, mereka menggasak B.C. Rich dengan formula death-grind hangit pun tengik.
Biarpun bukan hal yang sepenuhnya mengejutkan, munculnya MASS-49 dalam line up Flower City Deathfest bersanding dengan Turbidity, Morbus Corpse, hingga Death Vomit adalah anomali.
Agung (vokal) menjelaskan, “Sebenernya itu terjadi secara nggak sengaja. Organik aja. Dari pihak Flower City Death Fest, mereka memang notice si MASS-49. Kalau nggak salah tagline mereka memang di Flower City Death Fest tahun ini memang mereka looking up untuk band-band next generation. Terus Flower City Deathfest coba nge-reach out si MASS-49 lewat si Boy, lalu nyampein ke kita. Setelah dicek tanggalnya, kebetulan memang secara nggak sengaja berdekatan sama agenda tur Jepang kita. Ya udah jadi dipas-pasin aja, kita tanggal 4 main di Garut, tanggal 5 main di Flower City Deathfest.”
Ya, death metal sempat dianggap jamet. Katro. Khususnya di Bandung medio dua ribu belasan awal. Muncul istilah death metal goodbye. Salah satu kawan yang terjerumus dalam pada palung musik jenis ini dan mengaku sempat jadi pelaku tipikal penonton yang melakukan ekspresi gestur tersebut pun mengamini. Ia pun risih dengan hal tersebut lalu ubah haluan saat dapat asupan narkotik bernama stoner/doom/psych/sludge. Memang perjalanan eksplorasi musikal. Tapi faktor tersebut benar adanya. Entah apa yang terjadi. Fenomena zaman seperti hardcore TikTok hari ini? Atau cuma ya… angin selewat. Entah.
Bacang (drum) memberi tanggapan sebagai yang ada di rentang waktu tersebut dan saksi hidup.
“Ya, itu cuma fenomena zaman aja sih. Kayak fase bagaimana orang berekspresi saat menonton band yang mereka suka.”
Hm… terlalu diplomatis? Kurang menggigit. Tapi biarlah.
Akhirnya tur ke Negeri Sakura. Ya! Nyekar ke tanah kelahiran legenda yang dimotori Tottsuan. Mengobrak-abrik kandang Corrupted, inspirator mereka bikin trek lambat sepuluh menit. Merayakan grotesque lompat ke rel tepat sebelum kereta lewat. Play fast or die? Hm… Play fast, die beaten by the fast! Sabotage Organized Barbarian kena teror grindfuckers Garselian.
Mari terbang ke Jepang. Di mana G.I.S.M. meracik hardcore punk paling metal sejagat Nipon, Unholy Grave totalitas gila-gilaan perihal diskografi, S.O.B. bikin crossover hardcore punk dan metal bpm kilat. Sila sebut fenomena ganjil lain yang luput di tulisan ini. Beberapa persiapan yang mereka lakukan cukup detail. Yang jadi kendala pasti finansial jika melakukan tur mandiri. Namun selalu ada siasat di kondisi dan nasib yang total kelewat bangsat.
“Untuk dana tur lebih ke lebih parsial sih dengan sponsor. Kalau kendala, sebenernya dari awal kita selalu ngobrol soal potensi-potensi kendala yang bakal kita hadapi. Salah satunya waktu itu musimnya lagi peralihan dari musim dingin ke musim panas, jadi cuaca itu hal krusial yang harus terus kita monitor.
Dari update berita yang kita pantau, cuacanya justru nggak menentu, musim dinginnya cenderung lebih panjang. Jadi kita harus prepare jaket ekstra serta hal apapun buat menghangatkan diri. Terus kendala kedua soal memutuskan bawa alat apa aja yang akan dibawa buat tur, karena itu langsung berkaitan sama bagasi di pesawat. Barang pribadi sama equipment band harus diperhitungkan banget,” papar Agung.
Sudah banyak insight soal scene bawah tanah Jepang entah langsung dari sana atau beberapa band lokal yang lebih dulu melakukan tur kesana. Ini kacamata dari band UMKM. Ugal, mikro, dan kurang masyhur. Tur overseas bagi band yang baru punya dua EP seakan misi bunuh diri di kacamata saya pribadi. Tapi tur seakan jadi rukun iman sebuah band. Seperti judi bola pasang tim butut berharap mafia bandar ngoprek papan skor. Tak mungkin menang besar bila tak berani taruh besar. Apakah mereka meyakini rukun iman itu?
Bacang sepakat, “Bisa dibilang seperti itu sih. Soalnya kayak pertanggungjawaban sebuah karya lah,” jawabnya.
“Nah, bener. Intinya karena kita punya tanggung jawab terhadap semua karya yang udah kita buat. Nggak bisa cuma selesai di proses produksi aja. Setelah karya dirilis, kita juga mikirin next step-nya gimana caranya karya itu bisa sampai ke lebih banyak orang.
Dari sisi promosi, ya ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Salah satunya bikin merchandise, tapi yang paling ngaruh menurut saya tetap perform live. Karena dengan manggung, kita bisa ketemu langsung sama pendengar, dan itu jadi cara yang paling efektif buat memperluas jangkauan. Siapa tahu ada orang yang belum kenal kita jadi penasaran,” Agung menambahkan lebih detail.
Dari lima titik yang mereka sambangi, semuanya adalah venue gorong-gorong secara literal. Tempatnya di bawah tanah. Osaka sampai Yokohama. Club Stomp hingga El Puente. Jika bicara soal bagaimana rasanya main di sana akan terdengar klise. Bicara kultur scene musik bawah tanah jadi sesuatu yang lebih menarik.
“Yang jadi sorotan sebenarnya, disiplinnya mereka aja. Pas show mulai jam 3, ya udah band pertama jam 3 semuanya masuk. Mulai main band pertama, terus beres, semua istirahat. Keluar ngerokok, lalu masuk lagi,” Muslim (bass) menjelaskan.”
“Beda culture, begitu disiplin. Karena disiplin itu, benar-benar kayak semua band datang dari sebelum acara mulai. Bahkan dari band pertama main dan mereka akan bubar itu setelah band terakhir main. Dan biasanya hampir di semua gigs yang kita jalanin, ternyata kulturnya seperti itu,” tambah Agung.
“Misal jam sembilan beres, ya beres, langsung bubar,” tegas Muslim.
Agung pun memaparkan perbandingan dengan scene lokal kita; “Kan kalau di kultur kita, beres acara ada nongkrong-nongkrong, ngobrol-ngobrol, baru bubar. Mungkin karena beberapa orang di sana masih banyak yang pakai transportasi umum dan harus ngejar kereta. Soalnya kereta cuma sampai jam 11 malam, akhirnya jadi kayak nggak mungkin berlama-lama di venue. Semua orang beres, pokoknya bubar aja.”
Muslim menyebut satu lagi hal menarik soal masih adanya bertukar informasi gigs menggunakan metode jadul: bagi-bagi poster ketika mereka main di tiap titik. Ya, saya merasa ini merupakan hal yang menarik jika diterapkan kembali di era serba digital hari ini.
“Di sana tuh kayak masih bagian dari kultur aja si bagi-bagi ‘brosur’ untuk gigs berikutnya dan itu masih berlaku sampai saat ini. Kayak misalnya poster gig; ‘Oh ada ini nih di venue ini atau di venue lain pun’. Jadi setiap orang membagikan brosurnya masing-masing kayak ‘Ini dateng ya ke acara gue’. Itu sih yang menarik bagi kita. Kadang yang membagikannya memang member si bandnya dan akhirnya kita tuh bisa ngobrol.
‘Oh lo membernya si ini ya? oh member si band itu ya?’ Jadi bisa memperpanjang jejaring lah dari cara itu.
Dan sisa-sisa brosurnya itu tuh mereka tinggal di venue. Nah, jadi setiap ke satu venue itu sering nemu brosur-brosur lama-lama gitu. Jadi, urang sama si Dikdik lah sering di tiap venue kita ambilin buat koleksi. Kayak si envy, PALM… banyak pokoknya,” jelas Febi.
“Nanti envy sama PALM main bulan Juni nanti juga ada brosurnya di situ. Oh iya, sama kuturnya di sana. Bikin gigs-nya udah dari jauh-jauh hari, udah di-planning bahkan kayak dari setahun sebelumnya,” tukas Agung sembari kasih bahan analisa lanjutan.
Gekiko Fest memang acara tahunan yang mungkin skalanya tidak grande seperti Summersonic. Jauh sekali. Tapi anak-anak ini bilang, tak perlu bicara yang skalanya sebesar itu. Bahkan, untuk show kecil yang isinya cuma beberapa band pun semua sudah terorganisir dengan sangat baik. Hampir semua live host punya tim khusus untuk menangani hal-hal teknis di venue. Mulai dari show director, sound engineer, stage crew. Lengkap.
Baiklah. Bicara soal sound di sana yang konon disana punya level yang patut diberi kata layak. Mereka pun mengamini.
“Bagus sih. Di gigs kecil pun sound-nya keren banget. Yang mungkin teknisnya, listriknya satu bagus. Sama anak-anak mereka dijaga, dijaga banget. Mulai dari pemilik sampai yang dateng ngerawat itu. Di show kecil pun ada sound engineer,” Febi mulai buka topik
“Iya, bahkan di show kecil pun setiap live host itu pasti punya sound engineer. Memang real sound engineer gitu,” sambar Agung.
Dikdik merangkum, “Jadi, kesimpulan sound di Jepang tuh harade kabeh (bagus semua), walaupun venue-nya kecil kayak Osaka sama Kyoto, sound itu pake yang beda desain juga. Ibaratnya venue itu kayak main di toko Husted Youth tapi pake sound IFI (perbedaan skala in-store session show dengan panggung sekala menengah-atas), terus nggak ngegulung. Padahal keras banget. Nggak ‘bocor’ juga keluar venue.”
Mungkin itu yang menjadi titik kepuasan dalam tampil live. Orgasmatron. Mimpi basah. Dan jadi sebuah hal yang bikin beberapa individu yang tak suka tampil, entah malas lihat orang banyak atau faktor lainnya—saya bersumpah ada beberapa tipikal individu yang seperti itu—bisa mau jadi hayu gaspol ketika harus tampil karena merasa musik yang dibawakan mampu tersampaikan dengan tepat. Untuk kasus ini dalam segi output sound. Mereka pun memberi afirmasi dan punya opini menarik.
“Dan bahkan urang tetep ada pikiran juga, mungkin salah satu faktor kenapa band-band sana keren-keren tuh ya, mungkin karena orang ketika nonton live di sana tuh memang outputnya keren. Makanya jadi lebih tersampaikan lah musiknya (dalam segi sound),” ujar Febi.
Mereka bisa memvalidasi hal ini karena ada satu momen yang juga menunjukkan betapa supportifnya budaya di sana. Hal ini pun sudah terjadi di sini dari sejak scene bawah tanah berkembang layaknya bunga yang tumbuh di beton. Mereka sempat bilang juga ketika bermain di beberapa titik Pulau Jawa punya daya apresiasi cukup tinggi.
“Ada yang dari Australia dua orang sih. Si Michael sama temennya, urang lupa namanya. Jadi dia emang sengaja dari Australia gitu ke Jepang, kayak dia gig hopping aja gitu. Dia memang sengaja satu bulan di Jepang nyari gigs. Terus di Nagoya kebetulan dia yang nggak expect apapun. Kayak, ya dia datang aja ke gigs itu karena memang liat line up-nya ada si Besthoven, dll.
Pas ngeliat kita perform, dia ngerasa excited banget. Bahkan beres kita manggung pun, dia nyamperin kita. Dia sangat appreciate; ‘urang nggak expect bisa ketemu band kayak MASS-49. Bahkan dari awal urang datang ya memang nggak berekspektasi apapun. Yang nonton, nonton aja. Begitu liat si Mass, kok ini beda gitu diantara performer yang lain,” gitu katanya. Intinya, dia suka banget sama si MASS-49.
Akhirnya kayak dia notice juga kita main di Gekiko. Dia sampai bilang, ‘Oke, urang akan dateng di hari si MASS-49 main, urang akan nonton kalian lagi di Gekiko.’ Dan ternyata betul, dia datang pas kita main di Gekiko, dari awal gitu dia datang. Setelah show di Gekiko, dia mengapresiasi lagi bahwa ‘Oh emang ya, kalian memang bagus. Ternyata emang keren. Urang kira hanya kemarin di Nagoya sepintas doang, ternyata emang beneran keren.’
Bahkan sampai di afterparty si Gekiko yang di El Puente, dia datang lagi, dia nggak berhenti mengapresiasi. Dan salah satu yang… anjir, ternyata oh, bener musik kita ter-deliver dengan baik itu, ada orang lagi yang jauh-jauh nyamperin kita dengan perjalanan makan waktu 6 jam. Jadi memang yang nonton datang dan kasih apresiasi plus suportif. Kayak, suka bandnya langsung beli merchnya,” Agung ngoceh panjang lebar dengan sumringah.
Saya merasa bosan jika harus memasukkan tetek-bengek kendala perihal visa, birokrasi, pendanaan dan segala hal yang berkaitan untuk mendukung terwujudnya sebuah tur, baik dalam negeri atau lintas negara bahkan benua. Ditambah entah akan selesai kapan tulisan ini jika ngoceh panjang lebar soal itu. Jika itu yang kalian cari? Lebih baik stop di sini. Bangun jejaring dari sekarang. Hubungi kawan-kawan band yang pernah melakukan ibadah ini. Jika ada yang pelit ilmu. Tinggalkan. Cari lagi kawan lain. Jangan lupa ludahi wajahnya pada si gatekeeper model begitu. Sekalian sumpahi bandnya lekas bubar!
Ada satu mungkin… fun fact yang menghambat sulitnya cari penginapan karena ketika main di Gekiko Fest, salah satu idol group asal Korea Selatan sedang tur comeback pasca-wamil dan rilis album baru. BTS. Garsel ngaduan Korsel. Itu saja. Karena dua southern beda kompas baku hantam. Yang satu hingar bingar di Tokyo Dome, satunya lagi menggerinda WildSide.
Saya lebih tertarik kesialan-kesialan saat sebelum, sesudah, atau saat pertunjukan berjalan.
“Kejadiannya, urang hampir nggak main. Mereka berempat udah sampe nge-set up alat,” ujar Dikdik.
“Jadi urang nge-set buat satu gitar aja,” tukas Febi.
“Gara-garanya urang nyusul dan nyasar. Akhirnya memutuskan untuk itu pas lagi di jalan ke sana, sampai udah bilang, ‘Kayaknya maen berempat aja, ini urang nyasar’ dan emang repot banget kan di sana (kalau udah nyasar gitu). Dikejar rundown main juga yang harus tepat waktu. Akhirnya baru dateng pas banget mau lagu pertama,” lanjut Dikdik.
“Tapi yang lucunya, sebelum si Dikdik dateng, urang udah siap-siapin kabel sama alat dia walaupun udah setting parallel. Takutnya, dia dateng. Dan iya tiba-tiba dateng. Udah lah akhirnya colok lagi lah setting ulang alat kita format dua gitar. Dan akhirnya maen, kita main nih… semua main lagu pertama. Tengah lagu pertama, senar urang putus,” Febi menambahkan.
“Putus?” tanya saya.
“Putus! Putus di gig kelima! Jadi tetep berempat, urang mundur nggak main nih. Kita setlist ada 7 atau 8 lagu. Urang main di lagu pertama dengan ke-chaos-an tadi. Akhirnya coba benerin gitar dulu. Tiba-tiba dibantu sama temen-temen dari Choked by Own Vomits buat nyari tang. Untungnya nemu, akhirnya bisa dipake buat ngelepas senar urang. Pasang senar lagi. Urang masuk ke set kita pas lagu terakhir. Waktu udah beres mereka ngasih, istilahnya bonus track. Si Tomoki bilang buat main masih bisa satu lagu lagi katanya. Nah di lagu terakhir bonus itu lah urang dikasih kesempatan main lagi,” tambahnya dengan penuh mimik dan nada dramatis.
Itu salah satu kendala yang menarik buat saya, menunjukkan sikap show must go on (yang bagi saya merasa jijik untuk mengetiknya karena terkesan sok bijak) atau aji mumpung karena ini main di negeri impian bersama dedengkot-dedengkot sana yang secara langsung menginfluens secara musikal. Jawabannya entah. Biar mereka dan arwah Tottsuan yang melempar dirinya sendiri ke rel kereta untuk digilas yang tahu jawabannya.
Tak ada tips atau petuah-petuah seperti yang kalian suka lihat dari postingan instagram Berry Antiseptic di sini. Ini hanya sebuah wawancara demi mengarsipkannya dalam… anggap saja ini adalah jurnal abal-abal yang ditulis dalam kondisi mengurangi kualitas tidur, merongrong kotak P3K dan menandaskan jumlah angka stok substansi, hingga mencari sakit akibat naiknya asam lambung karena mengokop belasan gelas kopi hitam campur es batu Yang terakhir, untungnya tak pernah datang.
Tur selesai. Senar sudah diganti. Brosur gigs yang ditinggal di venue sudah dicuri untuk koleksi. Entah apa yang mereka bawa pulang selain oleh-oleh dan utang moral kepada Tottsuan yang sudah lebih dulu memilih cara paling epik untuk pergi, hingga nama-nama lain yang sudah disebut di atas. Yang jelas, MASS-49 pulang dengan satu keyakinan baru bahwa musik mereka sampai ke Negeri Sakura. Dan bagi grup grainkor berisi member yang punya aliran darah keturunan dari kota beraroma campuran belerang dan kulit domba, sudah lebih dari cukup punya alasan untuk datang lagi ke sana.












