X

TRACK TALK: Ministry Of – Fase (HFMF Records, 2026)

by Freykarensa Ersaddy / 4 weeks ago / 150 Views / 0 Comments /

Rilsan yang tiap treknya mengalir dengan mulus, terasa aman didengar, meski pendekatan itu membuatnya sesekali berisiko terdengar generik.


Ada satu hal yang terasa berbeda ketika mendengarkan Fase, EP terbaru dari Ministry Of. Bukan karena band ini tiba-tiba meninggalkan apa yang sudah mereka bangun sebelumnya, melainkan karena ada perubahan kecil dalam cara mereka menyampaikan sesuatu. Setelah album Reverie yang rilis tahun lalu, Ministry Of kembali dengan empat lagu yang terdengar seperti catatan dari satu tahun yang cukup panjan: “Langkah”, “Laju”, “Terbang”, dan “Hilang”, sebuah rangkaian lagu yang berangkat dari pengalaman tentang pekerjaan, kehilangan, kelelahan, dan berbagai perasaan yang muncul ketika seseorang sedang berada di antara satu fase kehidupan dan fase lainnya.

Mungkin itu juga alasan mengapa judul Fase dirasa tepat. Tidak ada satu emosi yang benar-benar mendominasi EP ini. Kelelahan tak selalu bermuara pada kesedihan, kehilangan mesti jadi akhir, dan keinginan untuk terus bergerak bukan berarti ia sudah tahu ke mana harus pergi. Ministry Of tampaknya tertarik pada ruang di antara semua perasaan tersebut. Ruang yang familiar bagi banyak orang, tetapi sering kali sulit dijelaskan ketika sedang mengalaminya sendiri.

Langkah” membuka EP ini dengan gagasan yang cukup sederhana, tetapi terasa semakin relevan ketika dipikirkan lebih lama. Lagu ini berbicara tentang dorongan untuk terus bekerja dan menjalani hidup seperti mesin, sebuah rutinitas yang perlahan membuat seseorang lupa kapan terakhir kali benar-benar berhenti. Menariknya, Ministry Of tidak menerjemahkan gagasan tersebut melalui musik yang sepenuhnya muram. Ada energi yang tetap membuat lagu ini bergerak maju, seolah-olah tubuh masih berjalan meski pikiran sebenarnya sedang meminta waktu untuk beristirahat.

Kontradiksi kecil itu menjadi salah satu hal yang membuat “Langkah” terasa menarik. Lagu ini berbicara tentang berhenti, tetapi tidak pernah benar-benar berhenti. Ada sesuatu yang terus mendorongnya ke depan. Mungkin memang begitu cara kelelahan bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Kita tahu bahwa kita perlu mengambil napas, tetapi tetap saja bangun keesokan paginya, kembali bekerja, kembali melakukan hal-hal yang sama, lalu berharap suatu hari nanti ada cukup waktu untuk benar-benar beristirahat.

Di sini, keputusan Ministry Of untuk menggunakan bahasa Indonesia juga mulai terasa penting. Sebelumnya, mereka lebih banyak menggunakan bahasa Inggris dalam karya-karya mereka. Pada Fase, seluruh lagu ditulis dan dinyanyikan dalam bahasa Indonesia. Perubahan ini membuat pengalaman mendengarkan terasa lebih langsung. Ada jarak tertentu yang hilang, terutama ketika liriknya berbicara tentang pengalaman yang sangat dekat dengan keseharian. Yang menyenangkan, Ministry Of tidak terdengar seperti sedang berusaha membuktikan bahwa mereka bisa menulis dalam bahasa Indonesia. Perubahan ini terasa cukup natural, seperti sesuatu yang memang akhirnya perlu dilakukan.

Dari “Langkah”, EP ini kemudian bergerak menuju Laju”. Jika lagu pertama terasa seperti proses mengatur kembali napas, di sini justru keputusan untuk kembali berjalan. Ada dorongan yang lebih besar, meskipun arah perjalanannya belum tentu jelas. Ministry Of tidak mengubah formula mereka secara drastis. Gitar masih menjadi bagian penting dari identitas mereka, dan musiknya masih berada di wilayah indie rock yang cukup melodis. Namun ada rasa percaya diri yang membuat lagu ini terasa seperti bagian dari proses perkembangan, bukan sekadar pengulangan dari apa yang sudah mereka lakukan sebelumnya.

Terbang”, sebagai trek ketiga memberikan ruang yang lebih lapang dalam EP. Lagu ini terasa lebih ringan dibandingkan dua lagu sebelumnya, tetapi tidak sepenuhnya meninggalkan rasa melankolis yang sudah dibangun sejak awal. Ada keinginan untuk bergerak meninggalkan sesuatu, tetapi juga kesadaran bahwa meninggalkan sebuah tempat atau keadaan tidak selalu berarti benar-benar terbebas darinya. Ministry Of cukup bijak untuk tidak menjelaskan semua kemungkinan tersebut. Musiknya memberi arah, tetapi pendengar tetap memiliki ruang untuk menentukan sendiri apa yang ingin dibawa pulang dari lagu ini.

Hilang”, yang menampilkan Finna Amalia, menjadi penutup yang memberikan warna berbeda. Kehadiran vokal tambahan tersebut membuat lagu ini memiliki perspektif yang lebih luas dibandingkan lagu-lagu sebelumnya. Finna tidak terasa hadir hanya untuk menambahkan variasi di lagu terakhir. Vokalnya menjadi bagian dari atmosfer lagu, terutama ketika Fase kembali berhadapan dengan tema kehilangan. Setelah tiga lagu yang banyak berbicara tentang bergerak, lagu ini terasa seperti momen ketika seseorang akhirnya menoleh ke belakang.

Meski begitu, Fase juga memiliki bagian yang terasa masih terlalu aman. Keempat lagunya memiliki atmosfer yang cukup konsisten, tetapi konsistensi tersebut sesekali membuat perbedaan antar trek tidak terasa terlalu jauh. Ada kemungkinan bahwa Ministry Of masih bisa mendorong dirinya lebih jauh, terutama dalam hal dinamika dan aransemen. Mereka sudah memiliki fondasi yang cukup kuat, sehingga eksplorasi yang lebih berani terhadap struktur lagu, tekstur gitar, atau bahkan perubahan tempo bisa membuka kemungkinan baru yang menarik.

Di sisi lain, Fase tidak terasa seperti usaha untuk memulai kembali dari nol. Ministry Of tidak sedang menghapus Reverie atau meninggalkan identitas yang sudah mereka bangun sebelumnya. EP ini lebih terasa seperti perubahan sudut pandang. Mereka masih berada di wilayah indie rock yang sama, tetapi sekarang memiliki cara yang berbeda untuk membicarakan pengalaman mereka. Penggunaan bahasa Indonesia menjadi salah satu bagian dari perubahan itu, tetapi bukan satu-satunya hal yang membuat Fase terasa berbeda.

Namun mungkin justru itu yang membuat Fase terasa sesuai dengan judulnya. EP ini tidak terdengar seperti pernyataan final tentang siapa Ministry Of. Ia lebih mirip sebuah catatan kecil tentang apa yang sedang mereka lewati sekarang. Tentang pekerjaan yang melelahkan, kehilangan yang masih terasa, keinginan untuk pergi, dan kebutuhan untuk sesekali berhenti. Empat lagu yang tidak menawarkan jawaban pasti, tetapi cukup jujur untuk mengakui bahwa terkadang bergerak maju juga berarti belum tahu sebenarnya kita sedang menuju ke mana. 

Tagged

#indie rock #reverie #fase #ministry of