X

Riri ‘The Dare’: Mending Jadi Badut Daripada Bully

by Prabu Pramayougha / 2 years ago / 1089 Views / 0 Comments /

Siapa yang tak kenal akan band indie pop kebanggaan Lombok hari ini bernama The Dare? Kiprah mereka di kancah musik arus pinggir terbilang gercep dan rasanya sudah tidak mengherankan kalau melihat nama mereka menghiasi berbagai line-up helatan musik berskala besar mau pun menengah.

Namun masih yang belum mengetahui bahwa di balik kemanisan musik yang mereka mainkan, para personilnya menampilkan true color-nya masing-masing yang membuktikan bahwa pada akhirnya sebetulnya secara kasat mata mereka semacam barudak keneh. Baik dari segi selera humor, sudut pandang personal sampai cara berkomunikasi yang mereka proyeksikan kepada berbagai orang di skena.

Salah satu personil The Dare yang lumayan menarik perhatian saya akan sisi manusiawi tersebut adalah Riri – gitaris dari unit musik yang sempat merilis single “Semeti Medley” di paruh awal tahun 2022 ini. Di balik pesonanya sebagai gitaris salah satu band yang sedang hype di skena musik arus pinggir masa kini, Riri adalah pribadi yang menarik ketika diajak berbincang secara personal. Dari pemilihan kata sampai ekspresi wajahnya ketika mengobrol, dia selalu menyiratkan persona bak seorang kawan lama yang lucu dan selalu dinanti di tongkrongan.

Maka di Proportion kali ini, saya iseng berbincang dengannya dengan dalih ‘interview’ untuk mengajakmu lebih mengenal sosok Riri melebihi reputasinya sebagai gitaris The Dare.


“Ri mau nanya yang basic dulu deh, perkenalan Riri dengan musik dimulai kapan dan darimana? Apa band atau musisi yang pertama kali bikin kamu pengen bermusik?”

Sebenernya untuk musik itu, aku masih awam banget. Punya band pertama kali pun ini sejak The Dare ada. Itu pun hasil dari tongkrongan biasa yang akhirnya tercipta ide untuk mulai bermusik.

Dulu aku sering ikut serta di acara festival musik lokal. Tapi tentu saja bukan sebagai performer. Aku disana jadi orang yang anterin makan buat penampil (tertawa). Lima tahun terus aja kayak gitu. Dari pengalaman itu, aku jadi banyak dapat teman baru dan insight tentang musik.

Oh sama ini, dulu tuh sering banget dengerin Marjinal dan itu momen aku mulai belajar main gitar. Buat ngulik lagu-lagu mereka. Ini serius loh!

“Sosok Riri di zaman bangku sekolah itu kayak gimana sih? Udah sengocol sekarang enggak?”

Aku dari jaman SMA memang udah gesrek kayak sekarang. Sampai temen-temen SMP dan SMA-ku itu masih inget sampai sekarang kalau aku suka ojol-ojol niruin suara kambing (tertawa). Mungkin itu  caraku ngehibur diri dan juga orang-orang disekitarku. Yaaa daripada harus jadi pemudi tukang bullying, aku lebih milih jadi badut yang setidaknya bermanfaat buat bikin teman-temanku ketawa (tertawa)

“Boleh dong nanti pas manggung keluarin tuh suara kambing. Anyway, terus awal mula bisa main bareng The Dare gimana tuh? Boleh diceritain?”

Jadi The Dare itu awalnya adalah project aku dengan Timmy (manager The Dare). Karena waktu itu Timmy liat aku ngulik-ngulik gitarnya lagu Marjinal dan sering nyanyiin “Kiss Me”-nya Sixpence None The Richer. Dari situ dia suka ngajakin aku untuk buat ngulik-ngulik lagu gitu. Iseng doang.

Kita pun suka iseng rekam-rekaman lagu raw yang kebanyakan isinya suara gitar dari mulut kayak “neng nong teng tong teng” (tertawa). Eh ujung-ujungnya malah ganti konsep karena muncul saran dari beberapa teman juga buat ngebentuk band personilnya cewek semua ketimbang berdua doang.

Akhirnya Timmy bantuin nyariin personil lainnya dan terbentuklah kita dengan formasi berempat kayak The Dare sekarang.

“Riri pernah nyangka enggak sih The Dare bakal secepet ini jadi ‘populer’? Ada imbasnya enggak ke kehidupan personalmu sejak reputasi The Dare jadi kayak sekarang?”

Kaget sih. Tapi lebih banyak bersyukurnya sekarang. Karena sejak 2018, sejatinya tujuanku dan The Dare masih sama. Band ini dari awal memang sebagian visinya adalah untuk diproyeksikan sebagai medium yang setidaknya bisa digunakan sebagai jembatan antara Lombok dan kota-kota sentral (di Indonesia).

Dan tentu saja untuk mewujudkan itu kami harus mendapatkan spotlight dari khalayak luas.  Ketimbang disebut populer, aku lebih memilih untuk menyebut ini “mendapat spark-nya”. Karena dengan mendapat perhatian dari publik, kami jadi bisa membuka jalan untuk hal-hal menarik yang mungkin masih tersembunyi di Lombok. Baik itu musik, makanan, isu-isu di Lombok dan masih banyak lagi hal-hal di kancah Lombok yang bisa kami gaungkan lewat The Dare.

Treatment ini banyak kok digunakan oleh teman-teman (musik) di berbagai daerah. Memang sebisa mungkin mencoba untuk mendapatkan spark-nya dulu supaya bisa berbuat banyak ke depannya.  Entah itu untuk membantu teman-teman kami di Lombok atau untuk menjembatani teman-teman di kota lain untuk mengenal Lombok lebih dalam.

Biar jawaban ini enggak terlalu naif dan terkesan sok mulia. Ada juga kok imbas balik ke kitanya juga secara material. Baik untuk pemasukan personal atau pun untuk masuk ke kas band. Lumayan buat jajan bakso (tertawa). Sisanya kita alokasikan untuk dibalikin ke penonton dalam bentuk bendera dan tabungan untuk bikin acara kalau ada kawan kami dari luar kota yang mau tur ke Lombok.

Dedikasi kami di musik sih kayanya biasa aja. Enggak serius-serius amat. Banyak kawan kami di luar sana yang lebih mendedikasikan dirinya untuk musik. Kalau kami sih bisa dapat teman baru dan bantu-bantu dikit juga udah senang kok. So in the end, buat aku menjadi populer atau apalah itu tidak seutuhnya buruk. Tinggal bagaimana mempergunakan kebermanfaatannya saat mendapat atensi dari publik.

“Menurutku, The Dare ini bisa dibilang band ambisius. Salah satu contohnya pas kalian memutuskan untuk menjalankan tur Javakensi di paruh awal tahun ini. Gimana rasanya jalanin rangkaian tur sepanjang itu? Ada yang bikin kamu pribadi berat menjalankannya enggak selama tur?”

Ambisius banget sih enggak. Karena sebenarnya tour ini sudah diinisiasi sejak rilis EP Women Who Sailed The World (2019) waktu itu. Cuman kebentur sama pandemi karena kegiatan personal kami juga kena dampaknya. Lucunya karena kita dianggap hilang, sempet digosipin bubar juga tuh (tertawa).

Akhirnya awal tahun 2022 pas pandemi mulai surut dan kebetulan kondisi kami sudah membaik, akhirnya kami agendakan ulang rangkaian tur itu. Ceritanya misi balas dendam (tertawa). Kita bayar lunas deh itu dengan tur sebulan penuh.

Kita sempet bikin PO merch sebelum tour buat nutupin biaya perjalanan kami. Bersyukur banget juga itu pas PO banyak yang support kami dengan membeli merch-nya.

Banyaklah hal gambling yang kami lakukan untuk tetap bisa lanjutin perjalanan. Kalau yang berat sih, mungkin karena kita juga bawa Rumi (Anaknya Yollan, gitaris The Dare) dan kondisi Yollan waktu itu juga sedang hamil. Jadi lumayan tricky dan harus hati-hati juga di perjalanan. Kalau dari aku personal sih enggak terlalu ngerasa berat-berat banget. Dibawa senang aja karena bersyukur dapat banyak teman baru. Yang banyak pusing mah tim produksi & dokumentasi kayanya tuh (tertawa).

“Selama ini kayaknya kalau lihat unggahan foto The Dare manggung kelihatannya seru-seru aja. Ada enggak pengalaman manggung paling menyebalkan dari Riri pribadi?”

Selama ini menurut aku pribadi tidak ada hal-hal yang menyebalkan. Semuanya masih terkontrol dan happy-happy aja. Mungkin cuman hal-hal minor kayak pipi dan mulut ketampol mic gara-gara ada yang crowdsurfing. Sama mungkin pas waktu tur kemarin sempat sakit pas baru sampai Jawa Tengah. Sisanya aman terkendali.

“Pertanyaan iseng lainnya. Buat yang belum tahu sama persona Riri di internet, kamu sering banget disebut ‘bunda’. Coba jelasin dong asal muasal panggilan itu?”

(Tertawa) Jadi aku tuh mulai aktif lagi main Twitter dari beberapa bulan ini. Biasalah suka share meme dan unggahan receh yang biasa aku posting di sosmedku yang lain. Maaf ya kalau annoying tapi emang aktivitas itu ngehibur aku banget dari kompleksnya hidup (tertawa). Entah kenapa gara-gara itu, jadi ada beberapa orang yang suka bales, “bun bun” gitu. Enggak tahu deh tepatnya kenapa.  Eh malah keterusan. Bukan lagi username dayblunts yang dikenal sekarang (tertawa).

“Ri, izin iseng sekali lagi ya. Riri harus pilih salah satu dari dua benda yang disebutkan dan sebutkan alasannya kenapa memilih benda itu. Nih yang pertama:
Celana jeans atau katun

Katun. Karena katun bahannya lebih adem dan enggak terlalu berat. Luwes aja gitu.

Lipstick atau eyeliner

Lipstik. Aku enggak bisa lepas dari lipstik! Enggak tahu kenapa lebih penting aja ketimbang eyeliner. Atau biar kaya lagunya Miharu Koshi aja kali ya yang “Lipstick War” (tertawa)

Sepatu Doc Marten atau Converse

Docmart. Aku ngerasa lebih ganteng aja kalau pakai boots! (tertawa)

Sosis atau chicken nugget

Chicken nugget. Lebih ada kriuk-nya karena aku garing juga (tertawa)

“Ngaco ah. Ada yang mau disampaikan buat menutup interview ini?”

Semoga pengalamanku yang enggak penting-penting banget ini ada manfaatnya. Baik itu manfaat untuk bermusik atau untuk sekedar haha-hehe. Banyak perspektif berbeda yang lahir dari latar belakang kami di kancah Lombok yang mungkin perspektifnya berbeda dengan teman-teman di kota lain. Mungkin yang baiknya bisa diambil, yang kurangnya tolong banget dilengkapin. Dan jeleknya buang aja ya (tertawa).

Mungkin aku sekalian mau ngucapin terima kasih buat teman-teman yang sudah support dan juga banyak yang memberi teguran dan masukan baik untuk aku secara personal dan juga untuk The Dare. Semoga semua hal itu ada manfaatnya, cheers!

“Terima kasih, Riri!”

Iya kak Prab!

 


Dengarkan The Dare di sini:

Tagged

#proportion #the dare #interview #music

Leave a Reply