TRACK TALK: Feral Wound – Chase Death (Husted Records, 2026)

Lebih dari sekedar tajuk, Chase Death adalah upaya Feral Wound mengejar kematiannya sendiri, dengan komponen maut yang tak kunjung kendor sejak rilisan awal.
Kadang ada album yang tidak perlu pengantar panjang. Tidak perlu konteks. Tidak perlu kalian tau siapa personilnya atau siapa yang produseri. Feral Wound dengan Chase Death adalah salah satunya. Atau justru sebaliknya? Perlu semua itu tapi mereka tidak peduli apakah kalian tau atau tidak. Hasilnya sama–kalian tetap kena jebak.
Death metal punk. Kategori yang terdengar seperti hasil snobs mabuk debat soal genre sampai meja tongkrongan penuh botol kosong dan tidak ada yang menang. Dengan mencuatnya Chase Death dan tiba-tiba kategori itu masuk akal dengan cara yang tidak bisa dijelaskan menggunakan kalimat langsung atau metafora apapun yang masih terdengar waras. Tak sesederhana Discharge yang diputar lebih lambat, pun Autopsy yang dipercepat. Tanaman yang tumbuh di tanah kuburan di antaranya dan memilih untuk ikut mati bersama si empunya tanah. Bangsat.
Saya ingat pertama kali pasang EP Desolate Dominion. Bersama kawan baik yang sama-sama tergila-gila thrash. Semenjak itu, memberi hormat dan penasaran mengkulik trio death metal gedor pintu tumbuh. Semacam ditinju tepat di dada oleh orang yang tidak punya alasan personal untuk melakukannya—tapi kekeuh melakukan dengan sisa tenaga penuh dendam kesumat yang bahkan dia sendiri lupa asalnya dari mana. Itu yang terjadi di “Opus Belli”. Dosis thrash yang mendominasi disikat ugal dengan death metal bejat mega-destruktif. Dan harmonisasi Swedish death di bagian akhir cukup buat tetap menaruh ekspektasi lebih. Suntikan pertama selalu yang paling absolut.
Agresor penebar teror. Saya suka ketika insting binatang ini tak pernah salah soal grup yang layak diberi pasang telinga. Sama halnya ketika menemukan Exhorder, sialnya kali ini diinterupsi Morbid Angel di waktu bersamaan. Keparat. Riff gitar dan tone-nya lebih berangasan ketimbang rilisan sebelumnya. “Rotten Glory” terdengar seperti benang-benang merah lirikal Bolt Thrower, bedanya Feral Wound lebih kerasukan G.I.S.M. Lebih kotor. Lebih tidak minta maaf. Lebih mirip mati OD yang direncanakan dengan matang pula tenang
Vokal yang terdengar seperti orang di simpul pancang bunuh diri dan tetap berusaha mengeluarkan suara dari dasar sumur. Saya suka trek “Chase Death” yang kawin bengis dengan nomor “Somber Star”. Feral Wound tidak butuh banyak kata untuk membuat kalian merasa sudah mati duluan. Lagi-lagi. Saya tahu sekumpulan anak haram ini tak pernah mau basa-basi. Kabut dan kematian dan sesuatu yang mengejar dari arah yang tidak bisa kalian tentukan.
Bintang di album ini bukan navigasi. Melainkan penanda pembusukan yang kebetulan letaknya jauh di atas. Bahkan langit di sini sudah keburu mati sebelum kalian sempat mendongak untuk mencarinya. Anak tanpa Bapak. Dunia tanpa hagia. Rahim tanpa cahaya. Tenggelam bersama semua yang sudah menyerah lebih dulu seperti pecandu yang memilih untuk tidak bangun dari lantai tempat dirinya ngejoprak. Dan Feral Wound membangun semua itu dengan cara yang terdengar seperti igauan yang terlalu koheren untuk diabaikan. Anjing. Bangsat. Jahanam.
Tujuh belas menit penuh menguber kematian sendiri. Tiap langkah yang disangka tepat adalah satu sekop tanah yang digali sendiri sambil senyum-senyum tidak sadar. Setara empat puluh lima detik dengar album ini—dosis yang cukup untuk bikin ketagihan tapi tidak cukup untuk membunuh, dan itu yang paling sialan dari semuanya. Melungsurkan Chase Death dalam sel penjara agar para tahanan semangat mengoyak napi kasus rudapaksa lebih tak kenal ampun lagi. Buat bajingan itu seperti sedang dalam sudut pandang melihat sampul Severed Survival (1989) milik Autopsy. Hingga tubuhnya terkoyak saat “Perdition” jadi lagu tema. Lekas mokat.
Terasa nuansa mesin perang yang dirancang untuk terus bergerak sampai tidak ada yang tersisa untuk dihabisi. Tak peduli menang. Riff-nya lambat tapi bukan doom. Pertengahan tempo yang terasa seperti keputusan kolektif dari orang-orang yang sudah tidak terburu-buru karena mereka tau kalian tidak kemana-mana di trek ini dan saya terjebak akan siap pasang kuping sampai titik nadir. Ada groove yang memaksa untuk pasrah. Headbang terus sampai mampus. Seperti morfin yang cara kerjanya bukan menghilangkan rasa sakit—tapi membuat kalian terlalu lelah untuk peduli bahwa kalian masih kesakitan.
Di balik lumatan pil yang di mana saya selalu bersumpah tiap miligramnya, “Cryptic Decay” adalah kutukan maut anak haram death-thrash paling bergajulan yang pernah ada. Atas nama salib granit raksasa dalam Skogskyrkogården di Stockholm, Scott Burns beserta talentanya, dan Violent Mind yang kerap hadir di sampul album Kreator. Penutup album ini pun punya hook penuh toksin Hottentotta Tamulus satu ampul penuh. Siap masuk tubuh. Demi satu tujuan. Menguber kematian tadi. CARI MATI!
“Bellum Inane”. Death-doom ringsek hancur mumur. Enam menit menuju stasiun akhir dan hitung mundur. Ya. Liang kubur. Isian slompret menuju akhir lagu adalah penanda datangnya Azrael di sakaratul maut. Terdengar seperti pesakitan dicabik arit metafisik dari ujung kaki hingga kepala secara perlahan—layaknya hujaman riff lamban dan gebukan drum nihil—lalu mata terpejam pelan-pelan mengikuti album ini yang ditutup menggantung fade out. Itu cara menguber kematian paling epik. Jauh lebih epik daripada sayat nadi sendiri…
Dan kalian tak pernah sadar kapan persisnya. Sialnya, sejak awal sudah punya keputusan untuk menyimak Chase Death adalah bentuk sukarela secara sadar, tanpa paksaan dan penuh konsensus untuk menguber kematian tersebut. Kemudian berakhir mati. Mampus!
‘Wretched faith
soldiers’ fate
Fooled by masters
Tricked by rats
Abandoned soul
left for dead
Whoever won
We lost the set’ — “Bellum Inane”
