X

TRACK TALK: Billfold – Vaxa Aftur (Disaster Records, 2026)

by Karel / 3 months ago / 487 Views / 0 Comments /

Delapan tahun jeda menjadi sebelas lagu, album ketiga ini jadi ajang Billfold mencari bentuk baru tanpa bersikukuh memutus akar yang membesarkannya.

Tidak banyak eksponen pop-punk lokal yang berhasil melalui ujian waktu tanpa kehilangan karakternya sendiri. Sebagian berhenti tepat ketika momentum sedang membumbung tinggi. Selain itu, ada yang bertahan binti terseok-seok dengan memainkan beberapa hits lama layaknya unit tribut mengenang masa mudanya sendiri. Separuhnya lagi kadang berputar 180 derajat hingga sulit menemukan benang merah yang menghubungkan karya terbaru mereka dengan alasan mengapa orang pernah jatuh cinta sejak awal—kerikil dilematis pendewasaan dan mentoknya penjajakan songwriting. Tapi, patut digaris bawahi Billfold tampaknya memilih jalan yang lebih pelik dari seluk beluk itu semua. Walhasil, Vaxa Aftur berdiri menopang tatih di tengah persimpangan itu.

Begini, kalian yang sekarang mau menyentuh 30 atau menginjak usia 26 jalan (mostly) menyadari garis waktu ketika nama Billfold hampir selalu muncul dalam percakapan rentetan pop-punk, easycore, emo dan melodic hardcore Indonesia. Memang, mereka bukan band mega pada masanya atau kelompok yang menyodor evolusi peta musik independen secara radikal. Namun, Billfold memahami sesuatu yang kerap diremehkan yaitu kemampuan menulis lagu yang terasa kudu hidup. Tembang-tembang mereka bergerak, lantas berlari dengan jingkrak menghentak.

Cukup kelindan terbesit, unit asal Bandung mepet Cimahi ini pandai betul mengajak pendengarnya ikut terseret ke dalam pusaran energi yang lahir dari senggama pop-punk, gempita hardcore dan taburan melodi catchy yang cukup kuat untuk diteriakkan berbarengan. Tatkala This Billfold rilis pada 2017 secara mandiri kala itu, tidak banyak yang menyangka bahwa bingkisan tersebut akan menjadi penutup sebuah babak panjang. Setelah pertunjukan terakhir mereka pada 2018, aktivitas Billfold perlahan anyep hingga akhirnya menghilang dari keseharian banyak pendengarnya.

Tahun demi tahun berlalu. Kemudian helatan Hellprint di medio 2022 datang membawa kejutan. Kawanan bentukan Mei 2010 akhirnya muncul lagi. Namun bukan dengan wajah yang sama seperti lima tahun sebelumnya. Supergirl ikonik mereka, Gania Alianda memutuskan mengundurkan diri secara baik-baik di sela waktu tersebut. Bagi banyak orang terutama penggemar, kehadiran armada baru yakni Savira Razak dan Mustika Kamal langsung memunculkan satu pertanyaan yang sulit dihindari, “Masihkah ini Billfold?”. Daya tariknya yakni Vaxa Aftur seperti tidak pernah mesti terdengar sibuk guna menjawab pertanyaan tersebut.

Album ini tidak membuka diri dengan manifestasi tentang identitas baru dan menghabiskan energi untuk membuktikan bahwa mereka masih relevan. Billfold memilih sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih berisiko; simply mereka menulis sebelas lagu, merekamnya lalu membiarkan lagu-lagu itu berbicara sendiri. Keputusan tersebut menjadi fondasi utama mengapa Vaxa Aftur bekerja sedemikian rupa.

Untuk memahami album ini secara utuh, penting mengingat dari mana Billfold berasal. Mereka berembrio dari generasi yang menemukan musik lewat cara-cara yang nyaris terasa prasejarah dibanding hari ini. Sebelum algoritma menjadi kurator utama selera publik, banyak orang menemukan nama-nama baru secara keren dan kulik binti selam melalui forum internet, memberi testi ter-snob di Myspace, earlier Facebook, blogspot yang penuh tautan mati, menelanjangi Mediafire, menanti ripping-an CD ke mp3 dari teman tongkrongan atau rekomendasi dari kakak angkatan yang di Senin pagi mengisahkan nge-gigs di studio show atau awayday (janlup ngeceng) ke pensi rival sekolah lantas membawa cerita tentang entitas yang wajib dengar sekaligus diperhatikan.

Sekali lagi, itu zaman (bagi penggemar pop-punk/emo/hardcore melodik bla bla bla) saat Set Your Goals, Four Year Strong, New Found Glory, Daggermouth, Transit, Polar Bear Club, The Wonder Years hingga Have Heart, H2O, Shelter dan CIV beredar dari satu kantong ke kantong tangkringan lainnya seperti rahasia bersama. Era ketika nama-nama seperti Drive-Thru, Vagrant, Epitaph, Bridge Nine, Eulogy menyimpul—menonggak sampai yang kekinian macam Fearless, Hopeless hingga Run For Cover menjelma semacam kompas budaya bagi banyak muda-mudi yang tumbuh bersama ceruk tersebut, bahkan sampai detik kalian membaca naskah ini. 101% Billfold merupakan produk dari lingkungan itu. Secara jejaknya pun masih terasa jelas dalam Vaxa Aftur.

Menariknya, album ini tidak terdengar seperti upaya menghidupkan kembali masa lalu. Billfold tidak sedang bermain peran sebagai versi muda dirinya sendiri. Malahan terdengar seperti orang-orang yang pernah hidup di masa tersebut lalu membawa seluruh pengalaman itu ke masa kini. Tanpa memaksa norak. Perbedaan yang tampak kecil, tetapi sangat menentukan. Sejak “Terjaga” membuka album, Billfold segera memperlihatkan arah yang mereka tempuh. Tidak ada intro panjang yang mencoba membangun mitologi tentang kembalinya sebuah band. Trek pertama ini langsung berjalan dengan percaya diri, seolah ingin mengatakan bahwa delapan tahun jeda tidak perlu dijelaskan secara berlebihan dengan lantunan layaknya homage untuk band pop/rock terbaik negeri ini, Naif.

Pendekatan serupa berlanjut pada “Kontradiksi” yang memamerkan salah satu kualitas terbaik Billfold sejak dulu: kemampuan menjaga momentum. Ada urgensi yang mengingatkan pada energi Set Your Goals era Mutiny! atau Four Year Strong di masa-masa awal. Bukan karena tempo cepatnya semata, melainkan karena setiap bagian terasa memiliki tujuan yang jelas.

Kejutan terbesar album ini justru datang dari pilihan tematiknya. Lihat saja judul-judul seperti “Manipulasi Benih Gamang”, “Muskil Tanpa Akhir”, “Pelik Membaik” atau “Akhir Tujuan”. Bila diperhatikan seksama, Ini bukan padu padan kosa kata yang lazim muncul dalam katalog Billfold belakangan. Ada kecenderungan baru yang menarik. Mereka tampak semakin tertarik pada wilayah psikologis yang lebih kabur, terkesan reflektif dan merasa begitu dewasa. Jika karya-karya terdahulu banyak bergerak pada relasi intra manusia, Vaxa Aftur beberapa kali menyelinap seperti pergumulan panjang seseorang dengan dirinya sendiri.

“Manipulasi Benih Gamang” menjadi contoh totok. Titelnya terdengar nyaris kikuk dalam konteks pop-punk. Terlalu besar dan abstrak. Hampir seperti judul esai ketimbang lagu berdurasi tiga menitan. Namun, justru di sanalah daya tariknya. Billfold terdengar sedang menguji batas baru dalam penulisan liriknya, mencoba keluar dari wilayah yang selama ini terasa aman.

Eksperimen tersebut mencapai bentuk paling matang dalam “Muskil Tanpa Akhir”. Ini adalah jantung album. Chorus-nya memiliki kualitas yang semakin langka dalam musik gitar modern yaitu menempel tanpa terasa memaksa. Nomor ini memahami bahwa melodi yang baik tidak perlu mengumumkan dirinya sebagai momen besar. Selorohnya bisa datang dengan alami, lalu menetap cukup lama di kepala pendengarnya. Jika ada satu lagu yang berpotensi bertahan paling lama dari album ini, kemungkinan besar jawabannya ada di sini.

Di sisi lain, perubahan terbesar dalam tubuh Billfold tentu hadir melalui duet Savira Razak dan Mustika Kamal. Savira membawa karakter yang terbentuk dari pengalamannya bersama Kilms. Cara dirinya merapal lirik sering kali terasa lebih ritmis daripada melodius. Beberapa bagiannya bahkan mendekati pola yang lazim ditemukan dalam melodic hardcore atau spoken-word yang dipercepat. Vira memperlakukan suku kata seperti bagian dari perangkat ritmis.

Mustika hadir dari arah berbeda. Perjalanannya bersama Last Goal Party, Cvndy, proyek terbarunya WAIT hingga rilisan solo “Enough” membentuk pendekatan yang lebih melodius dan fluid. Tika sendiri memahami cara membuka ruang ketika lagu mulai terasa terlalu padat. Perjumpaan dua karakter ini menjadi salah satu kekuatan terbesar Vaxa Aftur.

Meski begitu, di sinilah pula tersimpan kritik paling menarik terhadap album ini. Billfold belum sepenuhnya memanfaatkan potensi yang mereka miliki. Savira dan Mustika terkadang terdengar terlalu santun satu sama lain. Padahal benturan antara dua karakter vokal yang berbeda bisa menghasilkan dinamika yang jauh lebih eksplosif dan berdegup. Sesekali muncul keinginan untuk mendengar keduanya saling mendorong lebih keras, mengambil risiko yang lebih besar, bahkan membiarkan ketegangan itu menjadi bagian dari identitas musik mereka. Potensinya sudah terlihat. Hanya saja belum sepenuhnya rileks ataupun all out.

“Bebal” menjadi pengecualian yang menyenangkan. Lagu ini membawa semangat yang paling dekat dengan era Brave (2014) maupun This Billfold, tetapi tidak pernah jatuh menjadi nostalgia seharga satu bundelan inkubus (intisari kuku bima). Justru coba bergerak ringan, percaya diri dan mengingatkan bahwa salah satu kekuatan terbesar Billfold selalu terletak pada kemampuan mereka menulis lagu yang menyenangkan tanpa menjadi terdengar dangkal.

Sementara itu, “Memori” meletakkan dimensi lain. Pemain gitar Angga Kusuma dan penggebuk drum Irfan ‘Pam’ Maulana adalah penanggung jawab utama atas penulisan lagu ini. Keduanya merakit salah satu simpul penting yang menghubungkan masa lalu dan terkini Billfold. Selain nama-nama personel seperti Moch. Eriansyah (gitar), Eko ‘Oink’ Tristiyanto (gitar) dan Ferin Mohamad Fazrin (bas), sekongkol antara Angga dan Pam terasa signifikan karena dua-duanya memahami bahasa Billfold dari dalam. Mereka tahu kapan sebuah lagu perlu berlari dan kapan harus berhenti sejenak untuk membiarkan emosinya bekerja. Tidak ada permainan metafora yang berlebihan dan cenderung ingin bersikeras mengejar keindahan di sini.

Justru kesederhanaannya yang membuat “Memori” efektif. Di tangan yang salah, tema kehilangan dan kenangan bisa berubah menjadi klise dalam hitungan sepersekian menit. Tetapi Angga maupun Pam berhasil menjaga lagu ini tetap membumi. Hasilnya adalah salah satu momen paling tulus dalam keseluruhan album.

Meski demikian, Vaxa Aftur tidak selalu mempertahankan intensitas yang sama. Beberapa bagian di paruh tengah album terasa terlalu nyaman berada di sekat yang sudah dikenal. Lagu-lagunya tetap solid, tetapi tidak meninggalkan bekas sekuat nomor-nomor terbaik yang ada di sini. Menariknya, persoalan tersebut bukan lahir dari kurangnya keberanian. Rasanya justru Billfold terdengar cukup berani.

Masalahnya, mereka terkadang belum sepenuhnya percaya diri terhadap keberanian itu sendiri. Nah lho?! Secara konseptual, album ini menawarkan ide-ide yang lebih menarik dibanding sebagian besar diskografi sebelumnya. Secara section musikal, beberapa lagu masih sesekali kembali ke formula yang sangat familiar. Akibatnya muncul kesan bahwa dua dorongan sedang berjalan berdampingan: satu ingin bergerak maju, sementara yang lain masih sesekali melirik ke belakang. Ketegangan itu tidak selalu merugikan. Toh, dalam beberapa momen justru membuat Vaxa.. terasa manusiawi, karena perubahan jarang berlangsung secara murni.

Tajuk ketiga ini tidak terdengar seperti karya sebuah band yang sudah menemukan seluruh jawabannya. Acap terdengar seperti karya orang-orang yang masih penasaran terhadap dirinya sendiri setelah bertahun-tahun berlalu. Pada akhirnya, mungkin itu pencapaian terbesar Billfold.

Mereka tidak mengubah delapan tahun jeda menjadi monumen nostalgia atau membuang seluruh identitas lama demi terdengar baru. Malah sebaliknya, keenam kepala ini memilih jalur yang lebih sulit: menerima bahwa perubahan dan ingatan bisa hidup berdampingan dalam ruang yang sama. Vaxa Aftur mungkin bukan album terbaik yang pernah diramu. Tetapi, bisa jadi mungkin menjadi kepingan yang paling jujur. Ah, entahlah!

Tagged

#billfold #disaster records #easycore #pop punk