X

‘Junji Ito Maniac’: Serial Anime Absurd

by Abyan Nabilio / 1 year ago / 2064 Views / 0 Comments /

“Ulasan tentang Junji Ito Maniac: Tales of the Macabre, anime terbaru adaptasi dari manga-manga pendek Junji Ito.”

Saya tidak sengaja menemukan serial ini atas rekomendasi Netflix setelah menamatkan anime psychological thriller dengan judul Monster (sebenenarnya belum tamat di penyedia layanan streaming tersebut). Yang membuat anime ini menarik perhatian adalah trailer-nya yang berisi ketidaksinambungan antara musik math rock bernuansa mayor menyenangkan dan cuplikan adegan serta dialog kelam, biarpun ada perbincangan soal kucing menggemaskan di sana. Selain itu, gaya gambarnya juga terkesan “dewasa”. Layaknya Monster dan beberapa anime dengan target pasar dewasa lain, gaya rambut dan setelan tiap karakter masih masuk akal, tidak seperti anime-anime shonen yang karakternya harus punya rambut rancung.

Awalnya, saya tidak sadar bahwa Maniac adalah adaptasi karya-karya Junji Ito karena judul yang terpampang besar adalah Japanese Tales of the Macabre. Setelah melihat intro episode pertama (yang lagunya bersama dengan lagu penutup diputar di trailer sangat cocok dimainkan dalam gim musik mobile macam Cytus), baru lah nama mangaka spesialis horor tersebut terlihat. Saya hanya tahu namanya dan manga Uzumaki sebagai karyanya dari teman yang memang geek pervisualan dan budaya pop beberapa tahun lalu. Karena membaca Uzumaki saja belum sempat, maka anggap saja ini sebagai ulasan orang awam.

Maniac merupakan sebuah antologi kisah horor berisi 20 cerita yang dimampatkan dalam 12 episode. Seperti serial anime kebanyakan, durasi tiap episode sekitar 20 menitan dan beberapa episode berisi dua judul sekaligus. Jika disimpulkan, judul-judul di dalamnya terasa kikuk, aneh, absurd, dan mengganggu. Biarpun dari judulnya saja sudah terkesan horor, istilah mengganggu, menurut saya, lebih tepat untuk menggambarkan serial ini dibanding mengerikan.

Beberapa episode bahkan sepertinya ditujukan sebagai hasil dekonstruksi komedi situasi keluarga yang ditambahkan unsur “mengganggu” khas Junji Ito yang, bisa saya simpulkan, punya selera humor yang buruk. Episode pertama, “The Strange Hikizuri Siblings: The Séance”, bisa dijadikan contoh. Biarpun ada unsur pemanggilan arwah di sana, hubungan antara Misako, si bungsu dari tujuh bersaudara Hikizuri yang mentalnya tidak stabil, dan Hitoshi, yang biasa dijadikan tumbal kakak-kakaknya untuk menenangkan sang adik, lebih bikin merinding dibanding kemunculan ektoplasma sang ayah.

Nuansa serupa juga terasa dalam dua judul dengan nama Souichi di dalamnya, “The Room with Four Walls” dan “Souichi’s Beloved Pet”. Bocah tengil dengan hobi menggigit paku dan jahilnya lebih-lebih dari kuli bahkan tukang santet ini memang merupakan karakter maskot yang beberapa kali muncul dalam manga pendek Junji Ito bahkan punya kompilasinya sendiri, Souichi’s Diary of Delight. Biarpun tampang Souichi sudah mengerikan, ditambah tukang kayu di judul pertama yang tak kalah seram dan judul selanjutnya bertemakan kutuk-mengutuk dengan ilmu hitam, kengerian sebenarnya adalah bagaimana keluarganya memaklumi Souichi. Anak yang tiap saat menggigit paku saja sudah aneh untuk diwajarkan, ditambah kejahilannya yang terlalu niat sampai-sampai kelewat di luar nalar. Kakak pertamanya yang sering jadi korban pun hanya menanggapi kelakuan Souichi seperti menanggapi kejahilan yang biasa dilakukan seorang adik.

Titik horornya bukan hanya dari segi visual, malah sisi tersebut kadang bisa dimaklumi. Dari tiga judul di atas, titik yang lebih bikin ngeri adalah, “Kok bisa ya hubungan keluarga macam begitu?” Karena itu, kehororan Maniac lebih menyerang psikis dibanding mata.

Secara personal, saya punya tiga judul favorit, “The Bully”, “Ice Cream Truck”, dan “The Hanging Balloons”. Ketiganya sama-sama menggganggu, namun dua judul yang disebut belakangan lekat dengan unsur body horror  absurd khas Junji Ito. “Ice Cream Truck” dengan adiksi terhadap es krim yang berujung maut sedang “The Hanging Balloons” dengan balon-balon berwajah yang siap menggantung leher orang-orang berwajah sama dengan mereka. Selain mengganggu psikis, Junji Ito, katanya, juga dikenal dengan body horror-nya dan itu terbukti di dua judul tersebut. Biarpun imajinatif, ia bisa memanfaatkan bentuk-bentuk yang biasa ditemukan sehari-hari menjadi objek laten fobia penikmat karyanya. Setelah menonton dua judul tersebut, orang mungkin akan jijik menjilat es krim dan paranoid melihat balon helium.

“The Bully”, di sisi lain, merupakan entitas berbeda. Cerita tentang perundungan yang akan berakhir pada perundungan lain sangat mungkin terjadi di dunia nyata. Sehari sebelum menulis artikel ini saja, saya menemukan berita tentang ibu yang membunuh anak umur dua tahunnya sendiri,  mungkin terjadi bila cerita “The Bully” diteruskan.

Bagi saya, Maniac cukup bisa dinikmati biarpun, kalau tidak ada keperluan mengulas, mungkin saya tidak akan menghabiskan ke-12 episodenya dalam tiga hari. Namun, nampaknya bagi beberapa pembaca karya Junji Ito puritan, adaptasi ini terasa kurang, seperti adaptasi-adaptasi karyanya yang lain. Sebelumnya, manga-manga Junji Ito pernah diangkat menjadi beberapa serial anime dan beberapa film live action. Setidaknya, live action Uzumaki dan serial anime sebelum ini, Junji Ito Collection, tidak berhasil memuaskan ekspektasi para penggemar manganya. Karena itu, saya mencoba membaca beberapa manga pendek Junji Ito setelah menonton Maniac untuk dijadikan bahan tulisan tambahan.

Setelah membaca beberapa manganya, saya jadi paham mengapa para penggemar Junji Ito banyak yang kecewa akan adaptasi anime ini. Kehororan Junji Ito memang paling efektif ditampilkan lewat gambar diam dalam panel-panel komik tanpa warna. Selain itu, beberapa adegan juga dipotong dalam Maniac. Beberapa judul seperti “The Back Alley”, “The Thing That Drifted Ashore”, dan “Unendureable Labyrinth” terasa kurang greget karena alasan tersebut. “The Back Alley” tidak bisa menangkap ekspresi bayangan korban-korban Shinobu, “The Thing That Drifted Ashore” kehilangan beberapa dialog penting, sedangkan “Unendureable Labyrinth” tidak berhasil membangun suasana mengerikan dengan menampakkan detail-detail yang Ito berhasil sampaikan di versi manganya.

Beberapa judul dengan unsur komedi yang sudah dibahas sebelumnya juga lebih terasa kikuk, absurd, dan mengganggu (dalam artian baik) di versi manganya, membuat saya lebih paham di mana letak “lucu” dari selera humor Junji Ito.

Tadinya saya mau menuliskan kalau kemungkinan alasan para penggemar Ito tidak begitu menyukai Maniac adalah kurangnya unsur baru yang bisa dimanfaatkan serial ini sebagai media animasi dalam memaksimalkan cerita-cerita dalam gambar diam versi manga. Namun, hal tersebut bisa dipatahkan oleh lagu es krim di “Ice Cream Truck” yang di-remix begitu lofi hingga sumbang dan mengusik telinga karena manga tak punya unsur audio. Selain itu, versi animenya juga dapat menyempilkan referensi detail antarjudul, seperti cuplikan tayangan televisi “Ice Cream Truck” yang merupakan bagian dari “The Hanging Balloons” dan buku yang dibaca Ishida dalam “The Back Alley” juga merupakan bagian penting dari “Library Vision”.

Sebagai orang yang lebih memilih menonton anime dibanding membaca manga, ada beberapa episode yang lebih dapat saya nikmati di versi animasi ini. “Tomie: Photograph”, “The Hanging Balloons”, dan “Layers of Fear” contohnya. Ketiganya berhasil menggambarkan apa yang ingin disampaikan Ito di versi manga. Bahkan adaptasi cerita kedua Tomie (sama seperti Souichi, sering kali menghiasi judul manga Ito) berhasil melampaui versi manganya, di mata saya.

Junji Ito Maniac: Japanese Tales of Macabre merupakan tontonan yang cukup bisa mengisi waktu kosong, apa lagi bagi Anda yang sedang menunggu adaptasi animase Uzumaki yang jadwal tayangnya sudah ditunda tiga kali. Horor milik Junji Ito bisa jadi paling efektif disampaikan dalam format hitam putih, maka biarkan para animator Uzumaki mencoba hal tersebut karena setidaknya teaser yang sudah keluar punya format serupa.

 

Tagged

#netflix #Maniac #uzumaki #Japanese Tales of the Macabre #anime

Leave a Reply