X

A (Simple) Guide to Indonesian Math-Rock

by Sendhi Anshari Rasyid / 2 years ago / 1972 Views / 0 Comments /

Berawal dari pertanyaan sederhana, “band math-rock di Indonesia itu ada apa aja, sih?” saya mencoba untuk bertanya kepada orang lingkungan terdekat yang memang aktif di ranah permusikan, namun hasilnya ternyata banyak juga yang kebingungan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Saya hanya mendapatkan beberapa nama yang memang sudah diketahui banyak orang saja. Oleh karena itu, saya akhirnya memutuskan untuk mencoba menelusuri jejak dari band-band yang bermain di ranah tersebut.

Jujur, saya cukup kesulitan untuk menemukan band yang memang pure menggunakan math-rock sebagai formula utama dalam bermusiknya. Karena kebanyakan di ranah local menggabungkannya atau bahkan bertindak sebagai pelengkap dari musik lain, seperti post-rock, metal, emo, dan lainnya.

Sebelum terjadi ribut-ribut di kolom komentar ataupun sosial media yang menagih, “a, kok band A dan band B nggak masuk ke list ini, sih?” saya mau disclaimer dulu sedikit. Daftar ini akan bersifat sangat subjektif berdasarkan pemahaman saya terhadap musik math-rock itu sendiri dan besar kemungkinan adanya perbedaan pemahaman mengenai hal tersebut.

Jadi, kalau ada band kesukaanmu yang nggak saya masukin di daftar ini, jangan marah dong~ Mending kita diskusiin aja. Hee.


Murphy Radio

Songs Recommendation: Autumn, Hippo

Nama yang paling populer sekaligus menjadi top-of-mind ketika berbicara mengenai math-rock Indonesia. Jika sebelumnya jenis musik ini terasa sangat segmented, Murphy Radio berhasil menjadi pintu gerbang untuk memperkenalkan musik ini ke ranah yang lebih populer dan luas.

Bahkan album Self-Titled perdananya langsung mendapatkan rekognisi secara internasional karena dirilis oleh An ATMOS Initiative (Singapura) dan Friend of Mine (Jepang). Selain itu, tepat rasanya jika menempatkan album tersebut sebagai salah satu rilisan esensial bagi kancah math-rock di Indonesia.

 

hulica

Songs Recommendation: i heard you like jazz, but i’m in a fast jazz band that you won’t be able to dance with; an imperfect mangrove, Pt. I

hulica melakukan pendekatan musik math-rock yang lebih kompleks dan dinamis dan dibubuhi oleh narasi personal nan sentimental ala band-band emotive. Pada kebanyakan materinya, trio asal Bandung/Jakarta tersebut cukup jarang melakukan repetisi dari bagan lagunya, sehingga setiap lagunya terasa linier dan dinamis.

Meskipun sudah terbentuk sejak tahun 2016 silam, hulica terhitung jarang dalam mengeluarkan rilisan. Rilisan terakhirnya adalah sebuah 3-way split bersama cues (Singapura) dan Kudaranai 1nichi (Jepang) yang dirilis oleh KAT Rekords (Indonesia), Tired Records (Singapura), dan ungulates (Jepang) dalam format kaset pita pada tahun 2021.

 

Dystopiafarm

Songs Recommendation: Ripping The Page

Dystopiafarm merupakan trio asal Makassar yang muncul dan hilang secara tetiba. Pada akhir tahun 2021, mereka sempat merilis debut video klipnya, ‘Ripping The Page’, namun sehari setelahnya entah karena alasan apa video tersebut mendadak hilang. Beberapa bulan berselang, video klip tersebut dipublikasikan ulang pada kanal YouTube mereka. Serba mendadak, kan?

Hingga saat ini saya belum mendapatkan informasi jelas apakah mereka masih aktif berkarya atau bahkan masih utuh sebagai sebuah proyek musik. Sesuatu yang saya sayangkan, padahal materi yang Dystopiafarm suguhkan pada single-nya tersebut sangat menarik untuk disimak.

 

Lightspace

Songs Recommendation: Sakura Hanami, Musubi

Lightspace adalah pemegang tongkat estafet di ranah post-rock kota Bandung saat ini. Meskipun lebih sering diasosiasikan dan aktif bermain di kancah tersebut, secara musik mereka banyak mengambil inspirasi dari band-band math-rock Jepang, seperti te’ dan LITE. Hal tersebut tercermin pada aransemen yang mereka buat pada beberapa rilisan terbarunya.

Sejak single ‘Sakura Hanami’ dirilis, nuansa math-rock semakin kental terasa untuk mengimbangi benang merah post-rock yang mereka miliki. Terlebih jika dibandingkan dengan rilisan terdahulunya yang memiliki dosis math-rock yang cukup minim.

 

eleventwelfth

Songs Recommendation: capture me to fantasy, back when i leaned my back on her back

Selain Murphy Radio, eleventwelfth merupakan nama lain yang langsung diasosiasikan ketika berbicara soal math-rock di Indonesia. Jujur, awalnya saya kurang setuju pada pendapat tersebut, karena pada materi terdahulunya nuansa tersebut nggak terlalu terasa dan cenderung jatuh pada teritori so-called midwest emo.

Namun, pikiran saya berubah ketika perilisan maxi-single ‘reality/fantasy’ dilepas, di mana kuartet tersebut menginjeksi kadar math-rock yang cukup kentara pada aransemennya yang terdengar lebih dinamis melalui ragam permainan time-signature.

Oh iya, sedikit trivia, eleventwelfth memiliki sebuah tradisi untuk merilis sesuatu pada tanggal 11 Desember. Nggak sabar rasanya menantikan materi seperti apa yang akan mereka suguhkan di akhir tahun ini.

 

Charlie Brown & His Avoidant Personality Disorder

Songs Recommendation: All I’ve Done Was Wrong, As I Had Expected; The More I Try To Think, Everything Seems To Become Strange

Ada banyak proyek musik yang dimulai dari sebuah keisengan hingga akhirnya mendapat rekognisi yang besar, lalu kemudian dijadikan proyek yang digarap secara serius. Sayangnya, Charlie Brown & His Avoidant Personality Disorder bukanlah satu di antaranya.

Sebuah one-man project yang menghilang sebelum mendapatkan rekognisi yang semestinya. Sebuah hal yang (terpaksa harus) dimaklumi mengingat dirinya menulis “not a really serious instrumental solo project” pada keterangan di EP-nya. Sangat disayangkan.

 

STUC

Songs Recommendation: Blu, Spin

Kuartet asal Bandung yang baru menampakkan dirinya pada tahun 2020 lalu melalui single-nya, ‘Blow’. Meskipun begitu, sebenarnya masing-masing personil STUC merupakan orang-orang yang sudah cukup lama malang-melintang di kancah permusikan Bandung.

Salah satu kelebihan dari STUC menurut saya adalah memiliki bassline yang catchy dan groovy alias enakeun pisan. Sehingga sulit rasanya buat mengabaikan permainan bass dari setiap lagu yang mereka suguhkan. Nggak percaya? Coba deh dengerin lagu mereka, terlebih di dua single teranyarnya.

 

Aarth

Songs Recommendation: Dehidrasi; Sembunyi, Mendekap, Berbahaya

Evolusi dari sebuah band yang sebelumnya bernama Beautiful Garbage. Meskipun mengidentifikasi diri mereka sebagai band yang bermain di ranah garage/indie-rock, nyatanya secara instrumentasi, apa yang Aarth suguhkan melalui debut albumnya cukup sahih untuk dikategorikan masuk ke ranah math-rock. Setidaknya menurut saya.

Berbeda dengan band math-rock kebanyakan, secara pendekatan output sound pun terdengar cukup berbeda. Di mana Aarth berfokus mengedepankan narasi yang disampaikan oleh sang vokalis dibanding kompleksitas aransemen yang dibuat. Salah satu band underrated yang harus kamu dengerin.


Honorable Mention

Balum

Songs Recommendation: Another Next Time, Lonely Coffee

Merupakan proyek musik solo dari gitarsi band emo veteran Bandung, Alone At Last*. Melakukan pendekatan musik yang progresif ala CHON, Polyphia, dan Yvette Young, permainan muruluk dari Balum langsung terdengar sejak awal lagu.

Karena merupakan proyek instrumental, melodi gitar tersebut cukup mendominasi sebagai penyampai narasi di sepanjang lagu. Tapi, seru rasanya kalau suatu saat dirinya berkolaborasi dengan seorang vokalis.

 

Direct Action

Songs Recommendation: Blush Blush, (i)

Direct Action adalah sebuah band yang unik. Karena, selain diprakarsai oleh gegedug, yaitu Iyub (Sugarstar/Santamonica) dan Tyo Nugros (ex-Dewa19), music yang mereka mainkan juga terdengar sangat unik dibandingkan koleganya. Duo tersebut menggabungkan antara music analog dan juga elektronik, lengkap dengan segala eksperimentasinya. Sedikit banyak mengingatkan saya kepada Battles.

Direct Action merupakan salah satu band yang incar untuk tonton penampilan live-nya. Semoga suatu saat kesampaian.


Kemungkinan ada beberapa nama yang nggak terdeksi oleh radar saya personal hingga akhirnya terlewat. Tapi, setidaknya melalui daftar ini semoga bisa menjadi katalis untuk band-band math-rock lokal semakin banyak bermunculan.

Kalau harapan muluk-muluknya sih, suatu saat pergerakannya bisa didokumentasikan melalui sebuah kompilasi. Sebagai penanda kalau kancah ini telah eksis di Indonesia. *colek records label yang mau~

Tagged

#math rock #listicle #indonesia #feature

Leave a Reply