X

Nardwuar: Jurnalis Musik Legendaris yang Eksentrik

by Prabu Pramayougha / 1 year ago / 572 Views / 0 Comments /

Mungkin sudah seharusnya Nardwuar diberikan Piagam Nobel akan konsistensinya memberikan produk jurnalisme unik selama 3 dekade ini.


Sebagai seseorang yang kebetulan berkecimpung di dunia ‘media’ musik, kerap kali hujaman pertanyaan seputar siapa sosok yang menginspirasi saya untuk terjun ke ranah ini menghantam berbagai percakapan yang topiknya mengarah ke sana. Jujur, saya tidak pernah mempelajari jurnalisme secara teoritis mau pun pragamatis. Awalnya semua saya kerjakan karena keadaan alias tuntutan untuk ‘bekerja’ dan mendapatkan penghasilan untuk menyambung hidup dari hari ke hari. Jadi seringkali saya kebingungan untuk menjawab pertanyaan macam itu.

Namun kalau memang ada satu sosok yang membuat saya yakin bahwa saya bisa melakukan berbagai aspek di profesi ini dengan berbagai kekurangan pemahaman saya akan teknis dan juga teori, saya rasa sosok itu adalah Nardwuar – sang jurnalis eksentrik dari Kanada sana.

Nardwuar dikenal sebagai sosok pewawancara legendaris yang selalu sukses menyuguhkan pertanyaan tak terduga dan mampu menyetir subjek yang ia wawancarai untuk turut larut dalam perbincangan semi-absurd-namun-super-informatif. Dia pun terkenal karena selalu bisa membawa berbagai fakta atau kabar yang benar-benar obscure dari orang yang ia wawancarai. Entah dalam bentuk kutipan dari media antah berantah dari tahun kapan sampai ke benda-benda yang ternyata memiliki koneksi personal yang belum banyak orang tahu akan narasumbernya.

Hal lain yang membuat sosok Nardwuar patut diperhatikan adalah bervariasinya latar belakang sosok yang ia wawancarai. Mulai dari musisi, pemain film, atlit olahraga bahkan sampai sosok-sosok politik dunia. Almost every famous people who went to Canada at least once has been Nard’d. Dan Nardwuar pun tidak pernah merubah konsistensi metode wawancaranya yang unik terhadap semua narasumbernya. Kadang berkat pembawaaannya yang seperti itu, momen-momen menarik muncul di tayangan wawancaranya.

Nardwuar (tengah) bersama Turnstile (via nardwuar.com)

Salah satu momen wawancara terbaik Nardwuar bagi saya pribadi adalah ketika dia berusaha untuk meng-interview Kurt Cobain ketika Nirvana bermain di Vancouver pada tahun 1994 silam. Konon Nardwuar yang kala itu reputasinya sudah mulai dikenal sebagai seorang penyiar radio eksentrik di stasiun CITR Kanada ingin mewawancarai Nirvana dengan menunggu mereka di hotel yang mereka singgahi. Namun karena hampir seharian dia bertengger di sana, para awak hotel pun menganggap Nardwuar hanya seorang fans yang ingin menguntit kemana pun Nirvana pergi. Bahkan Nardwuar pun sempat mencoba peruntungannya untuk bertemu dengan Nirvana dengan bersembunyi di toilet hotel. Tapi sialnya keberadaannya diketahui oleh sekuriti hotel dan ia pun langsung diusir dari sana.

Nardwuar pun tidak patah semangat. Dia pun masih menunggu kedatangan band grunge yang dianggap sebagai band yang membuka portal punk untuk dunia populis itu di sekitaran hotel di hari berikutnya. Ternyata upayanya berbuah hasil ketika Dave Grohl (drummer Nirvana saat itu) datang ke lobi hotel. Nardwuar pun menghampir Grohl dan memintanya untuk memasukan namanya ke guest list konser Nirvana. Dave pun mengiyakan dan akhirnya Nardwuar pun bisa bertemu dengan Nirvana di backstage konser itu.

Cerita momen wawancara Nardwuar lainnya yang menarik adalah ketika ia berhadapan dengan Pharrel Williams – punggawa dari grup hip hop alternatif N.E.R.D dan kelak terkenal berkat lagu “Happy” – di tahun 2008 lalu. Williams yang di paruh awal wawancara terlihat begitu bosan karena sepertinya sudah menganggap wawancara Nardwuar kemungkinan besar sama seperti wawancara lainnya, tiba-tiba terkejut ketika Nardwuar mengeluarkan single piringan hitam dari Wreckx-N-Effect yang berjudul “Rump Shaker”.

Bukan tanpa alasan Williams begitu kaget, karena selama karir bermusiknya dia belum pernah dihadapkan dengan seorang jurnalis yang tiba-tiba memaparkan rilisan perdana di masa lalunya sebagai seorang produser musik. Williams pun menyanjung Nardwuar berkat metode wawancaranya yang eksentrik tersebut. Karena Williams terkagum olehnya berkat derasnya pertanyaan dan paparan yang belum pernah ia dengar dari sebuah pewawancara.

Tapi tak semua wawancara Nardwuar berjalan seru. Ada beberapa momen Nardwuar disepelekan (atau bahkan diserang) karena persona dan metode yang ia bawakan ketika wawancara berlangsung. Salah satunya adalah momen ketika ia mewawancarai Blur di tahun 2003 silam. Drummer Blur, Dave Rowntree, menyerang Nardwuar secara verbal selama wawancara berlangsung. Bahkan ia pun sempat melemparkan kacamata dan topi milik Nardwuar di tengah-tengah interview sebelum akhirnya Rowntree keluar dari ruangan.

Beberapa tahun setelahnya ketika Rowntree mengemban tugas sebagai politisi di Inggris, kabar miring akan perilaku yang ia torehkan ketika diwawancarai Nardwuar pun sempat terkuak kembali. Walhasil Rowntree sempat membuat permintaan maaf kepada Nardwuar yang ia tuangkan di halaman website pribadinya.

Kini Nardwuar tak berhenti melakukan wawancara. Dia masih aktif di kanal Youtube-nya dan juga sebagai penyiar radio senior di CITR. Reputasinya pun semakin menancap paten ketika banyak pihak membahas siapa sosok jurnalisme dunia yang memiliki metode pendekatan wawancara yang unik sekaligus autentik. Nardwuar bak menghantam norma jurnalisme yang sudah diatur sedemikian rupa dengan pendekatan wawancaranya yang begitu gerilya, aneh dan efisien.


Meski mungkin dari segi klasifikasi dan terminologi spesifik akan metode yang ia gunakan termasuk kepada kategori gonzo journalism, apa yang Nardwuar lakukan seakan memiliki kelasnya sendiri. Sebuah entitas sendiri. Anomali. Bagaimana ia menghamburkan berbagai macam fakta dan trivia soal narasumbernya, bagaimana ia memberikan banyak hadiah sebagai jembatan pembuka paparan baru dari sang narasumber, bagaimana ia mencitrakan dirinya sebagai pewawancara yang berdandan dan bertingkah pandir namun ternyata memiliki sumber riset yang tak pernah terpikirkan oleh siapa pun. Mungkin sudah seharusnya Nardwuar diberikan piagam Nobel untuk kiprahnya yang telah konsisten memberikan produk jurnalisme unik dan paten selama 30 tahun ke belakang ini.

Bagi saya pribadi, Nardwuar adalah seorang contoh yang mewakili diri saya – si awak media musik amatir yang datang dari latar belakang non-jurnalistik – ketika dihadapkan dengan sesuatu yang harus dilakukan. Karena ketika konteks menulis atau wawancara di lingkup musik dihadirkan, tidak ada jalan kembali. Setidaknya itu yang ia pernah tuliskan kepada saya ketika saya meminta sarannya akan pilihan profesi saya sekarang.

Terima kasih, Nardwuar!

Nardwuar memberikan semangat kepada saya via DM!

Tagged

#interview #music #nardwuar #journalism

Leave a Reply