X

No Exit Intimaté Show; Menyulap Kamar Tidur jadi Arena Gigs

by Ilham Fadhilah / 5 months ago / 419 Views / 0 Comments /

Gigs mandiri memang selalu riang untuk digelar. Selain etosnya yang bersahabat, juga lebih fleksibel karena didasari bersenang-senang. Kali ini kami ngobrol bersama Biman, Muslim dan Dikdik dari No Exit buat berbagi cerita tentang helatan terakhirnya yang terpaksa ‘menyulap’ kamar tidur jadi arena gigs.


Kurang lebih sepekan yang lalu, kolektif bernama No Exit kembali mengupayakan keriangan intimate show yang kerap digelarnya sebagai salah satu pemberdaya gigs anak-anak Bandung. Melanjutkan program milik mereka yang memang menjurus langsung pada konsepnya; Intimaté Showcase, Minggu (1/10) jadi waktu yang dipilih buat melancarkan helatan keempatnya ini.

Kali ini dihelat dalam rangka menyambut dua band yang sedang menjalankan tur; Huminoid (Manado) dan Grief. (Bandung). E-flyer yang disebarnya mencantumkan bahwa helatan ini juga akan disertai oleh beberapa penampil lain, baik sesama band maupun entitas musik lain seperti selector/DJ.

Berlokasi di Bayang Healing Space, sebuah coffee shop di bilangan Jl. Terusan Cigadung yang kedengarannya masih cukup asing (khususnya buat anak-anak Bandung). Dimulai dari sore hari serta didukung cuaca Bandung yang belakangan sedang cerah-cerahnya membuat konsep mereka di tempat outdoor ini berjalan mulus. Tak ada kalang kabut karena turun hujan, angin kencang, atau genangan air yang berusaha mencapai monitor dan gear para pemain.

Suasana Intimaté Show di Bayang Space sore hari. Foto oleh: @ramadhan_hendri

Awalnya acara berjalan lancar dan selamat, namun menuju larut, mereka baru mulai menemui hadangannya. Lokasinya yang berhimpitan dengan pemukiman warga rupanya memicu beberapa protes. 

“Sekitar jam 8-an malam, kita didatengin warga yang protes karena berisik. Padahal tanggung sisa band-band tur (Huminoid dan Grief.) yang belum main. Selain itu, kita juga udah minta izin dan ngelakuin kewajiban lainnya demi izin itu”, pungkas Biman menceritakan kronologi malam itu dari kacamata penyelenggara.

Mungkin jam segitu terhitung sudah cukup larut untuk warga sekitar yang sudah kepalang kesal. Lantaran tak tanggung-tanggung, protes itu tidak lagi meminta penyesuaian pengeras suara atau toleransi waktu yang lebih ketat, melainkan pernyataan tegas; pembubaran total. Hal tersebut tentunya membuat penyelenggara kebakaran jenggot.

“(Malam itu) udah nggak ada opsi lagi. Kalo nggak acara dibubarin, atau mau nggak mau pindah tempat”, ujar Dikdik.

Penampilan Rounder di Bayang Space. Foto oleh: @ramadhan_hendri

Hal yang sangat beresiko buat anak-anak No Exit jika memilih untuk melanjutkan acara, karena harus menemukan venue dalam hitungan jam (atau bahkan kurang). Sementara untuk menemukan venue di Bandung, terkadang kurun waktu mingguan saja rasanya masih kurang, mengingat sempitnya opsi di sini yang kerap kali mesti melibatkan keamanan serta biaya selipannya. Oops! just saying

Namun, berhubung rumah Dikdik bersebelahan dengan venue, maka opsi memindahkan gigs ini ke kamarnya muncul di benaknya sekaligus jadi opsi paling efektif buat dilakukan. Setelah meminta izin dan membicarakan segala halnya dengan orang rumah dan ketua RT, akhirnya rencana ini pun yang disetujui oleh semua pihak yang terlibat.

“Padahal kamar (saya) udah diatur buat tidur banget, ngejamu anak-anak Huminoid yang nginep,” tambah Dikdik. 

“Kenapa akhirnya Dikdik nawarin diri kamarnya untuk dipakai jadi gigs?” balas saya.

“Jadi saya tuh sebenernya nyicil sound, ampli gitu-gitu, karena planning dua tahun ke belakang pengen bikin live session gitu di kamar. Nah sekitar setahun ke belakang alat-alat mulai kumplit, cuman belum kesampean terus. Akhirnya kemaren kesampean juga, itu pun karena kepepet hahaha”, terangnya.

Penampilan Huminoid di kamar Dikdik. Foto oleh: @sandi_greystoke

Setelah venue berhasil dipindahkan, tanpa butuh waktu lama – sekitar 15 menit – set untuk panggung serta sistem tata suara pun sudah siap dan kamar Dikdik pun berhasil disulap jadi arena gigs. Walhasil, penampilan Huminoid dan Grief. pun tak jadi urung disaksikan oleh mereka yang datang. Tanggung jawab gelaran ini pun tertuntaskan, meskipun beberapa selector yang direncanakan jadi penutup helatan ini tak jadi tampil.

“Tapi secara teknis apa nggak sama aja berisiknya? Karena kan setelah dipindah, notabenenya masih di lingkungan sekitar situ juga”, tanya saya penasaran.

“Seenggaknya nggak seberisik ketika masih di Bayang sih, mungkin agak mendem karena di dalam ruangan. Jadi kayak orang nyetel lagu terus bocor ke tetangga-tetangga gitu, mungkin hahaha”, jawab Muslim.

Penampilan Grief. di kamar Dikdik. Foto oleh: @sandi_greystoke

“Lagi pula, sebelumnya di Bayang memang beberapa kali ada acara dan didatengin warga juga, cuman nggak terlalu banyak, mungkin tiga sampai lima orang. Saya pikir, kemarin yang dateng bakal segitu juga, jadi anak-anak udah prepare buat situasi itu. Taunya warga yang dateng (sekitar) 30 orang”, aku Dikdik yang juga bisa dibilang bagian dari warga sekitar.

“Hal apa sih yang kalian rasain setelah melalui pengalaman krusial tersebut sebagai penyelenggara gigs?”, tutup sesi wawancara ini dari saya.

“Kalo saya sih jadi konsen banget di masalah izin sih, mesti banget di-make sure sampe sedetail-detailnya. Intinya tertib administrasi itu perlu dan bagaimana menyiapkan back up secara cepet, supaya nggak gelagapan ketika ada sesuatu terjadi.

Selain itu, malam itu kerasa banget juga gotong royongnya, baik penyelenggara maupun penonton yang notabenenya masih temen-temen mau pun yang reguler. Sebagian ada yang beresin kamar Dikdik, sebagian lagi ngangkut alat-alat dari venue awal untuk dipindahin”, ungkap Muslim.

“Kemarin yang kita rasain tuh semangat kolektif temen-temen kerasa banget sih. Meskipun saat itu belum ada opsi buat dipindahin di kamar Dikdik, karena opsi itu dateng bisa dibilang last minute banget. Udah hampir mau selesai beres-beres, baru akhirnya opsi itu muncul. Untungya lagi, dari penonton dan band-band turnya nggak ada yang protes. Jadi emang sempet sedih tapi seneng juga, roller coaster banget pokoknya”, tutup Biman.

 

Tagged

#No Exit Room