X

Tiga Puluh Tahun Burgerkill: Begundal Hardcore Ugal-ugalan Anjing Edan Tanpa Akhir

by webadmin / 11 months ago / 834 Views / 0 Comments /

Perjalanan Burgerkill adalah perjalanan hidup itu sendiri; luka, tawa, kehilangan dan resistensi. Tiga puluh tahun bukan hanya menoreh sejarah di bab heavy metal Indonesia, namun kesahihan mereka dapat menyatukan banyak orang dalam nama cinta yang sama.


Mesin dan peluru semakin siap mematuk, energinya kunjung panas melepuh. Ledakan riff menembak jidat—headbanging, slam dance tidak terelakkan, pit meletup liar. Rumpun begundal ugal-ugalan membentuk pusara demi entitas yang mereka elu-elukan. Di Graha Manggala Siliwangi, 13 September 2025 lalu, ribuan kepala serempak mengangguk: Resilient Show adalah perayaan 30 tahun Burgerkill. Tiga dekade penuh darah, keringat, dan air mata. Elan devil horns dan kepal tangan menjulang abadi!

Tiga puluh tahun adalah legitimasi utuh bagi sebuah unit metal/hardcore di negeri ini—wilayah yang sering kali dipandang sebelah mata, bahkan dipinggirkan. Burgerkill menjadikannya monumen. Sejak 1995, Aries Tanto alias Ebenz almarhum sudah percaya membawakan sekelumit metal, hardcore, punk kemudian membakarnya dengan totalitas adalah pilihan hidup. Pembangkangan in a good way. Tak peduli kanan-kiri bilang mustahil, Burgerkill menyalakan tombol gairah tanpa kompromi.

“Si Burgerkill tuh bukan band besar, tapi band aktif,” gumam Ebenz di banyak kesempatan. Kalimat tersebut kini menjadi sumpah sakral manifesto.

Malam itu Burgerkill bersenjatakan Ronald Alexander Radja Haba (vokal), Agung Ridho (gitar), Ramdan Agustiana (bas) dan Putra Pra Ramadhan (drum) membentangkan setlist lintas zaman. Sedari Dua Sisi yang old school, metallic hardcore esensial Berkarat, seikat properly kickass entities, Beyond Coma and Despair, Venomous, Adamantine sampai beberapa materi pagebluk After The Storm. Mereka tentunya memboyong wajah-wajah lama nan prima dan spesial. Sebut saja Iman ‘Kimung’, Toto Suprihatin, Gugum, Abdul Kandris ‘Andris’ dan Vicky Mono. Bahkan Fadly Padi ikut tampil dan membius. Begundal tersenyum lebar; ada air mata, pekik riuh histeris di sekeliling gedung pertunjukan.

Tapi sebuah konser dua setengah jam penuh tak lahir dari keberuntungan. Itu kerja tubuh, teknik, dan disiplin yang kukuh. Saya sempat tanya soal stamina terlebih dahulu melalui perjumpaan virtual terpisah melalui Zoom dua pekan selepas konser. Jawaban mereka sederhana tapi sungguh nyata.

Agung coba menjawab sambil tergopoh-gopoh mengunci ruangan kursusnya yang kala itu hampir menunjukkan pukul setengah 12 malam, “Olahraga cukup, yang pasti memberi energi terbaik. Lagi diet keto nih (tertawa). Yang penting jangan dibawa pusing,” jelasnya.

Beda sama penggebuk drum Putra. Bagi dirinya, energi justru datang dari kebiasaan jalan-jalan dan nongkrong. “Kalo kulineran pasti dikejar dan selalu penasaran dengan rasanya biar mood selalu happy. Terus keep in touch sama teman lokal kalo lagi main di luar kota, ngobrol ini itu. Juga gue suka main skateboard. Pola makan dijaga, biar endorfin stabil.”

Sedangkan Ronald lebih lurus, “Ya gue sih selalu angkat beban dan treadmill di rumah, intinya olahraga cukup.”

Ramdan menyeloroh hobinya skate juga jadi “suplemen” buat jaga mood. “Sama kayak mereka sih, saya juga menyempatkan untuk main setiap pagi (selepas antar istri atau anak) karena hobi juga.”

Kalau fisik terjaga, telinga pun tetap terbuka. Soal “ngulik”, mereka ngakunya masih haus. Agung bercerita, “Lagi ngulik musik jazz sama masih mendengarkan musik-musik baru dan lama.”

Justru Ronald, “Udah nggak sengulik dulu, dapat rekomendasi dari teman, nongkrong dengan anak-anak sekarang kayak Futura Records, gara-gara informasi cepat banget. Single-single yang rilis di YouTube gue coba dengerin satu-satu.”

Putra lebih ekstrem. “Minimal satu hari harus nemuin satu band baru. Kemudian belajar part atau teknik drum yang belum pernah disentuh sebelumnya.” Dia meyakinkan lagi, “menurut gue kalo ada band bagus pasti suara drumnya bagus.”

Ramdan yang selalu terlihat lebih kalem menampakkan ke-geeky-an. “Saya sekarang sering ngulik synthesizer, menyelam audio engineering lebih dalam untuk kebutuhan mixing dan mastering, selain ngulik bass pastinya.”

Itu memperlihatkan kenapa Burgerkill bisa tetap cair. Sejak awal, referensinya sudah tak terbendung. Meliputi Minor Threat, Fugazi, Rest In Pieces, Gorilla Biscuits, SOD, Cryptic Slaughters, Faith No More, Pantera, Iron Maiden, Sabbath, Megadeth, Ryker’s, Vision Of Disorder, Ramones, Nirvana, Alice In Chains, Skid Row, NIN, The Cure, Depeche Mode, Pet Shop Boys, Deftones, Napalm Death, Emperor, Aeon, At The Gates, Turbonegro, Converge, Unbroken, Bastard Priest, Palm, Poison The Well, Slipknot, Glassjaw, Bad Religion sampai Iwan Fals, Pas Band, Padi, Puppen, Full Of Hate, etc (you name it). Rakus dalam arti yang diversely, tapi justru di situlah Burgerkill meramu identitas ajegnya.

Perjalanan album mereka terbilang episodik tidak meluntur. Dalam arti selalu menapaki level musikal yang semakin evolutif hingga menjadi patronase slash blueprint wajah metal modern negeri ini. Mulai dengan Dua Sisi (2000), Berkarat (2003), Beyond Coma and Despair (2006), Venomous (2011), Adamantine (2018), lalu proyek orkestra Killchestra (2020) kemudian After The Storm (2022). Berkarat bahkan mengantongi penghargaan Best Metal Production di AMI Awards 2004—pengakuan formal untuk album penuh pahit getir ketika itu. The rest is history!

Berbicara panggung internasional? Jangan ditanya. Mereka mencatat jejak di Australia (Soundwave 2009, Big Day Out 2010), menang penghargaan Metal As Fuck di Golden Gods besutan majalah Metal Hammer (2013), masuk line-up Wacken Open Air (Jerman) dan Bloodstock Festival (Inggris) pertama kali pada 2015. Tur Eropa Bandung Blasting bareng Jasad—yang menggila di Obscene Extreme Festival. Tahun 2018 mereka balik lagi ke Wacken dan sekalian merekam Killchestra di Praha bersama Czech Symphony Orchestra.

Namun perjalanan itu ditempa oleh kehilangan yang begitu pahit tidak terkira. Dua mesin inti, Ivan “Scumbag” Firmansyah (vokal awal yang sungguh ikonik—si setan iblis neraka) dan Aries Tanto “Ebenz” (pendiri, otak utama, sang tastemaker ulung, SG worshipper) telah tiada, Ivan di 2006 silam dan Ebenz ketika 2021. Tapi alih-alih membuat Burgerkill terpuruk, justru kehilangan itu menjadi motivasi kekuatan baru. Agung tersenyum bila harus merawat ingatan akan Ebenz, “Momen bergitar bersama, bermusik dan heureuy (bercanda), tentunya berdiskusi bersama. Orang yang seru si babeh (Ebenz-red) mah.”

Ramdan coba mengenang, “Nyambung kalo ngomongin musik apapun, asik kalo ngobrol dan bercanda.  Teman diskusi yang baik.”

Putra mengingat tegasnya Eben, “Momen nggak akan gue lupain sama beliau tuh, selalu tegas ketika off stage dan on stage.”

Ronald, personil yang masuk paling baru mengutip pendek: “Pak Ebenz memang sudah menjadi ikon metal Indonesia berkat pencapaiannya selama beliau hidup. Total!”

Bila tentang Ivan, Agung mengingat kebersamaannya.

“Ivan dan saya selalu saling menginap di rumah masing-masing. Pernah bapak saya nanya ke dia ketika saya lagi keluar, ‘Dek, sakit nggak ditato banyak gitu?’ Terus Ivan cerita ke saya pas sampai kamar sambil ketawa, ‘Babeh maneh ngajak ngobrol ka urang soal tato, Gung’. Orangnya memang pendiam, misterius, tapi suka di-heureuyan (dibercandain) sama anak-anak juga. Tapi dia tuh bisa bikin lirik dan puisi yang kelam banget.”

Ronald melirih menghadap tepat di layar, “Sangat in pain di hidupnya, penuh dengan kemarahan yang besar di dalam dirinya kalo gue rasa alm. Ivan tuh.”

Burgerkill pun merawat loyalitas para fans yang militansinya kadang di luar akal sehat, ya milisi begundal itu sendiri. Cerita paling gila, kalau merujuk kata mereka berempat bersamaan. “Ketika tur Resilient Sumatera dan Jawa Barat. Ada satu orang yang literally hadir di setiap titik tur, ada yang sengaja ngejar dari Purwakarta sampai ke Palembang pakai motor. Gila!” kata Ramdan mewakili perasaan yang lain. 

Namun guratan rajah logo maupun font band di tubuh. Itu masih yang paling brutal. Begundal lebih dari sekadar fans. Burgerkill sudah menganggap mereka keluarga, saksi, sekaligus bahan bakar.

Credits: John Alexis

Di balik kerasnya secara musikalitas, Burgerkill tetaplah manusia yang usil, terkadang memiliki guilty pleasure unik dan yang pasti konyol. Ronald dengan ngakaknya, “Mas Agung tuh paling usil, anjir! Contohnya pernah ngelempar kunci kamar hotel ke kolam ikan dengan cueknya.”

Agung—gitaris yang pernah memperkuat Jeruji ini lantas menyangkal, “Eh bukan jahil ah. Itu mah bentuk kreatifitas (terkekeh) biar cair aja, Nald.”

Di tempat lain, Putra blak-blakan kalau ada hal populer yang banyak orang sukai tapi dirinya tidak sama sekali. “Gue tuh nggak suka Metallica dan Megadeth, emang nggak masuk aja di gue,” jujurnya.

Ramdan dengan penuh tanya apakah ini adalah hal yang cukup menggelikan bagi kebanyakan orang atau tidak mengungkapkan, “Saya suka nonton drama romantis kayak Fly Me to Polaris (Hongkong), memang alur ceritanya bagus kok.”

Dari layar zoom yang sudah memasuki dini hari tersebut Ronald memiliki sisi lembut di luar sosoknya yang gahar di atas panggung, “Gue masih suka dengerin lagu daerah dari kawasan Timur, mengenang masa kecil karena gue tumbuh di Kupang, malah bisa diputar berjam-jam.”

Burgerkill pun sempat mengenang seberapa rock and roll-nya mereka sebagai entitas yang sudah melanglang buana ke mana-mana. Saat di Amsterdam mereka sempat main lalu ditonton personil Agnostic Front. Di Wisconsin (USA), anak-anak BK seru-seruan sampai subuh menganggumi para locals nge-dress punk rock yang tentu menyaksikan mereka. 

Di Sumatera, bus mereka tidak kuat menanjak ketika memasuki kawasan Aceh dan harus berjalan kaki setapak demi setapak sampai busnya mampu berjalan lagi. Semua dapat dibilang absurd tapi nyata. “Di YouTube si BK ada tuh cuplikannya pas kita suruh turun dulu (tertawa),” sebut Ronald. What a journey!

Soal visi ke depan apalagi bila menyinggung album baru, Agung terang-terangan. “Secara sound dan aransemen tentu berbeda, benang merah masih sesuai karakter Burgerkill. Berevolusi pastinya, dan tidak ingin mengulangi apa yang sudah pernah dibuat.”

Album baru bahkan sudah masuk ranah mixing-mastering, hanya sempat terganjal hardisk jebol dan masalah hardware. Untuk ranah visual akan digarap oleh kawan baik mereka, Dady—seorang yang sudah akrab akan estetika, style dan tetek bengek detail desain Burgerkill sejak lama—sahabat karib Ebenz di kampus Itenas.

Ronald menjelaskan prosesnya, “Gue mempelajari pola riff terlebih dahulu, mulai menulis lirik dan menyesuaikan karakter vokal.”

Putra sendiri memiliki treat tersendiri yakni terus mengubek referensi vocabulary (band) baru, lalu Ramdan fokus mendalami synth dan ranah mixing mastering. 

Intinya yaitu satu, eksplorasi tanpa kehilangan karakter atau dalam bahasa kasar mereka, “Kudu keren jieun nanaon ge, mun teu mah kajeun ulah atawa teu kudu! (Harus keren kalo bikin apa-apa, kalo nggak keren mending nggak usah)”. Celotehan yang sering dipupuk Ebenz almarhum kala masih ada, meskipun kerap membacot dengan nada candaan. Sebuah mindset sederhana agar kian berproses level demi level.

Mereka pun tahu betul, relevansi berarti beradaptasi tanpa jadi sesuatu yang norak atau tertinggal. “Jangan jadi jamet LOL, tetap gaul dan nongkrong, keep up dengan yang ada sekarang, jangan sampai kudet”, tegas Putra.

Agung menutup lebih filosofis, “Kami semua mencintai Burgerkill itu sendiri, mun geus kahatean mah hese leungitna (kalo udah kehatian, susah ilangnya).”

Ada momen kocak saat saya tanya sampai kapan Burgerkill akan terus melaju, “Sampai negara bubar hahaha,” kata Ronald. Dengan Agung seketika menimpal, “Dikasih sehat sampai tua, semaksimal mungkin, sampai nggak bisa main musik lagi.”

Ramdan malah bilang ia sama sekali tak kepikiran soal pensiun. Merupakan jawaban ringan, tapi kalau kalian dapat dengar dengan hati, itu sebuah sumpah yang tulus.

Pukul 02.00 dini hari, kami sepakat merangkum obrolan, saling berpamitan, Zoom room memuai dan izin guna beristirahat. Anak-anak Burgerkill, ¾ nya adalah ayah dan warga biasa, pagi harus antar buah hati ke sekolah. Lanjut beraktivitas sesuai yang mereka tengah kerjakan. Ada banyak laga (panggungan) penting dan para begundal yang menanti di pekan-pekan selanjutnya. 

Tiga dasawarsa Burgerkill adalah cerita tentang pembangkangan maksimum dengan apa yang sudah mereka yakini sejak tiga origins kala itu (Ebenz, Scumbag dan Kimung) seiya sekata menancapkan spreading hardcore the reality tepat di ruangan badan penyuluhan siswa SMA 1 Ujungberung (kini SMAN 24 Bandung). Mereka telah sempat terlilit asa, mengalami kehilangan, gonta-ganti formasi, siksa batin, bahkan dihantam duka. Tapi tiap kali jatuh, mereka bangun dengan kepala lebih tegak. Tonggak deklarasi Burgerkill sudah jelas; melungsurkan gairah, adaptif nan relevan, selangkah ke seberang, mode inspiratif dan akan selalu siap mengguncang pit hingga ke seantero jagat. ‘Only the strong, we are venomous!…’

Anjing edan! Hajar terus jalanan! Hail!

Teks dan interview oleh Karel