X

Twinkle-Me-Not: 5 Rekomendasi Band Math-Rock ‘Bising’ Untukmu

by Sendhi Anshari Rasyid / 1 year ago / 355 Views / 0 Comments /

Bosan dengan math-rock dengan nuansa yang bright nan ceria? Tenang, inilah rekomendasi beberapa band math-rock yang ‘bising’.

Berdasarkan pemantauan saya di sosial media, ketika berbicara mengenai musik math-rock di ranah lokal, ada beberapa hal yang selalu terasosiasikan. Salah satunya adalah musik dengan nuansa yang bright dan ceria. Hal tersebut terlihat melalui berbagai artis yang sering kali disebutkan pada sebuah percakapan yang terpantik melalui kalimat “rekomendasiin band math-rock yang enak, dong.” Padahal, sebenarnya pendekatan terhadap musik math-rock terjadi dalam spektrum yang cukup luas. Apa yang saya sebutkan sebelumnya hanyalah satu di antaranya.

Pada tulisan kali ini, saya ingin mengajak kamu untuk membuka khazanah musik yang lebih luas lagi dengan memperkenalkan ragam musik math-rock yang mungkin belum terlalu familiar di kalangan awam, yaitu musik math-rock dengan pendekatan yang lebih agresif nan angsty. Secara singkat, mungkin saya akan mendeskripsikan band-band yang ada pada daftar kali ini sebagai band yang terbilang cukup ngebut untuk ukuran math-rock, tapi belum terlalu chaotic untuk jatuh di ranah mathcore. Beberapa di antaranya ada yang diisi oleh vokal, dan beberapa lainnya cuma instrumental aja. Jadi, bisa dipilih sesuai dengan preferensi masing-masing.

Kalau kamu sedang berencana untuk membuat sebuah grup musik yang memainkan math-rock, mungkin beberapa nama di bawah ini bisa menjadi tambahan referensi. Terutama jika bandmu kelak enggan dilabeli sebagai ‘just another (mediocre) math-rock band’ oleh para warga.


Space Corolla

Kalau kamu menganggap sound gitar yang dimainkan oleh band math-rock itu akan melulu clean, maka kamu salah. Space Corolla membuktikan bahwa mereka tetap dapat melakukan eksplorasi bebunyian gitar yang eksperimental melalui materi-materinya. Meskipun hanya beranggotakan tiga personil saja, tapi apa yang mereka suguhkan dapat terdengar penuh, chaotic, namun melodius dalam waktu bersamaan. Berdasarkan deskripsi tersebut, tentunya musik mereka bukanlah sesuatu yang cocok untuk dijadikan musik latar dalam mengawali pagimu. Melainkan lebih cocok didengarkan ketika pikiranmu sedang mumet oleh berbagai masalah yang ada di kepala.

Apresiasi terbesar saya berikan untuk sang gitaris yang bisa memainkan tab gitar njelimet dan teknikal, sambil bernyanyi dan memainkan efek gitar. Kacau! Biar lebih paham, coba deh kamu sempatkan buat nonton live performance dari band asal Puerto Rico tersebut, niscaya kamu bakalan terkagum-kagum bahkan dalam beberapa detik awal.

AGATHA

Sebagai tempat yang dijadikan kiblat untuk mencari referensi band-band math-rock, tentunya Jepang nggak cuma sebatas tricot dan toe saja. Ada banyak nama-nama lain yang harus diperhitungkan. Salah satunya adalah AGATHA. Namun, berbeda dengan kedua nama populer tadi, AGATHA melebur musik math-rock, post-hardcore, dan emo dalam satu kesatuan.

Ketika pertama kali mendengarkannya, saya merasa bahwa masing-masing instrumennya terdengar seperti bermain sendiri-sendiri, alias memainkan pattern yang berbeda. Walaupun begitu, somehow semuanya terdengar bisa berpadu dan saling melengkapi satu sama lain. Bagi kamu yang bosan mendengarkan band math-rock Jepang dengan pembawaan instrumental yang mendayu, maka AGATHA adalah opsi lain yang bisa kamu dengarkan dan dalami.

Futbolin

Futbolin adalah band lain yang menggunakan eksperimentasi sebagai landasannya dalam berkarya. Pada rilisan manapun yang kamu dengarkan dari mereka, kalimat tersebut akan senantiasa selalu terlintas di pikiran. Menggabungkan kompleksitas musik math-rock dengan bebunyian sintesis dan juga vokal yang berteriak jadi ciri khas musik mereka.

Salah satu penyesalan adalah kenapa saya baru menemukan mereka beberapa waktu lalu, karena eksistensi mereka sudah hadir sejak 2015 silam melalui sebuah EP. Saat ini mereka tergabung ke dalam sebuah records label asal Jerman bernama Konglomerat Kollektiv yang juga merupakan rumah dari band-band eklektik lainnya.

Hella

Hella merupakan contoh dari band yang bisa merepresentasikan sebuah emosi melalui musiknya meskipun tanpa menggunakan lirik. Setiap materinya terasa penuh energi. Walaupun bagi kamu yang menyukai jenis musik math-rock dalam spektrum yang lebih sendu dan mendayu, maka akan membutuhkan waktu ekstra untuk meresapi rlisan mereka. Anggukan kepalamu akan terasa kagok kerena perubahan time signature seenaknya yang diiringi oleh permainan yang kompleks.

Bagi kamu yang ingin melakukan eksplorasi musik math-rock lebih jauh, mendalami apa yang Hella lakukan saya rasa merupakan sebuah keharusan. Karena kehadiran mereka dianggap berpengaruh untuk kancah math-rock secara general. Bahkan, Fecking Bahamas, media musik yang mendedikasikan diri secara khusus untuk mengulas serba-serbi math-rock, menganggap album Hold Your Horse Is (2002) sebagai salah satu rilisan math-rock esensial.

Blakfish

Mungkin banyak yang belum tahu bahwa tahun 2000an merupakan sebuah golden era bagi pergerakan kancah musik math-rock di kawasan Britania Raya dan Irlandia. Pada tahun tersebut ada banyak band bermunculan yang mencoba mengeksplorasi berbagai spektrum turunan dari jenis musik njelimet tersebut. Jika kebanyakan hasil dari pergerakan tersebut membawakan musik math-rock yang terdengar pop-y, seperti TTNG. Ada sebuah band bernama Blakfish yang membawakan math-rock yang cenderung jatuh dalam teritori sound yang terdengar lebih agresif.

Mereka menggabungkan antara formula fundamental math-rock dengan sisi angsty dari post-hardcore. Melalui liriknya, kuartet tersebut banyak mengungkapkan kegelisahan dan kegeraman terhadap berbagai hal di sekitarnya. Kombinasi antara keduanya membuat formula musik yang mereka bawakan rasanya akan bisa menyegarkan telingamu, di tengah gempuran band-band math-rock yang membawakan formula generik yang membosankan. Salah satu karya mereka bahkan sempat digunakan sebagai soundtrack dari game Dirt 2 pada platform Playstation 2.

Tagged

#music #math rock #listicle

Leave a Reply