X

BAGIAN 2: Melintas Sumatera Menyebrang Malaya hingga Siam, Sebuah Catatan soal “Poison And Spell Tour 2025” dari Critical Issues

by Farid Amriansyah / 5 months ago / 1076 Views / 0 Comments /

Melihat lebih dekat yang terjad di tur Critical Issues di utara Sumatera: realitas dalam lingkup scene sampai memancing imaji lidah menjajal kuliner khasnya.


BAB II: Menuju  Penjuru Utara

Setelah menyelesaikan jadwal tur dalam rute Sumatera Barat, misi lintas Andalas selanjutnya dari “Poison and Spell Tour 2025” adalah Sumatera Utara, dan Aceh. Ada tiga titik yang didatangi oleh Critical Issues di dua region itu yaitu Medan, Lhokseumawe, dan Banda Aceh.

Jumpa Kawan di Medan

Sesudah perjalanan bis dari Palembang ke Padang, saya dan rekan-rekan Critical Issues harus kembali menempuh rute jarak jauh antar kota antar provinsi dari Payakumbuh ke Medan. Perjalanannya menghabiskan waktu kurang lebih enam belas jam; yang katanya jadi lebih cepat dengan adanya ruas jalan tol baru dari Pekanbaru. Mengubah bentang alam, modernisasi memang terkadang memudahkan tapi di Sumatera hal itu selalunya harus dibayar mahal dengan kerusakan lingkungan. Perjalanan kami pun cukup ditemani pemandangan pelepah pohon sawit yang berkelebat lewat di balik jendela bis yang kami tumpangi. 

Dalam tur Critical Issues perjalanan bis jarak jauh adalah hal yang cukup biasa dijalani, namun kali ini ada hal yang tidak biasa dari bis yang kami naiki dari Payakumbuh yaitu bis selalu berhenti ketika waktu salat. Hal yang baik bagi yang hendak menjalankan ibadah khususnya penumpang yang muslim, tapi juga momen yang pas untuk sejenak turun dari bis sembari meregangkan badan dan merokok. Tapi ketika mulai memasuki wilayah Sumatera Utara, saya dan Ken sempat kaget terbangun sewaktu kernet membangunkan penumpang untuk salat subuh dengan suara yang besar. Kaget dan juga membuat tersenyum geli karena seperti dibangunkan salat subuh oleh orang tua saya sewaktu masih kecil.

Hari Rabu tanggal 12 November 2025, bis yang kami tumpangi memasuki batas kota Medan pada pagi menjelang siang, tapi karena harus mengisi bahan bakar terlebih dahulu malah jadi mengulur waktu sebab SPBU cukup ramai hingga terjebak dalam antrian yang panjang. Bis masuk pool yang berlokasi di jalan Sisingamangaraja baru sekitar jam sebelas siang, dan disana kami sudah ditunggu oleh Riza – vokalis Repulsed – yang menjemput kami. Riza adalah teman lama saya, Ken, Måm, dan Mär karena dia sempat berkuliah dan tinggal cukup lama di Palembang hingga akhirnya dia kembali ke keluarganya di Medan.

Sebelum mengantarkan kami ke rumah kost yang akan menjadi penginapan Critical Issues selama di Medan, Riza terlebih dahulu mengajak kami ke kedai kopi miliknya yang bernama Dukku di daerah Medan Tembung. Di situ kami disuguhi kopi, dan makan siang dengan menu mie sop, hidangan berkuah khas Medan yang isinya adalah daging ayam – atau daging sapi –, sayuran dan bihun dalam kuah kaldu yang gurih. Datang menemui kami di situ juga adalah Budi, mantan vokalis Turtles Jr yang setelah sempat terjebak masalah imigrasi di Jepang memutuskan untuk pulang ke Medan.

Dengan menyisakan mangkuk, piring dan gelas-gelas kosong, sesi nongkrong dan obrolan yang seru di Dukku harus disudahi dulu karena Riza hendak mengantarkan saya, Ken, Måm, dan Mär ke penginapan sebelum hari terlalu sore. Tempat kami menginap adalah Pelangi Residence, sebuah rumah kost milik Encrot – personil EmpatBelas dan Social Fact – yang di terasnya dulu sempat aktif toko dari jenama apparel lokal Medan, Ammunition. Kami menurunkan barang dan memasukkannya ke dalam kamar yang berada di lantai dua, dan kemudian Riza meninggalkan kami untuk istirahat sejenak sebelum nanti malam dia akan datang lagi untuk menjemput kami raun-raun – istilah yang dipakai di Medan untuk jalan-jalan.

Di kamar kos kami berbenah barang dan istirahat sejenak, nikmat sekali rasanya meluruskan badan setelah perjalanan yang panjang. Kami baru bersiap sesudah maghrib,  dan menunggu Riza datang menjemput. Begitu dia datang kami dibawa ke resto Floc.co yang dikelola oleh Boncel, vokalis Pleazure and Pain. Di situ ternyata Yagi, Fakhry dan kawan-kawan dari Insist Records sudah menunggu kami, kecuali Andes yang masih bekerja dan kabarnya akan menyusul. Oya, Andes pula yang selama ini berkontak dengan Critical Issues untuk rencana jadwal tur kami ke Medan. Dengan Budi yang juga ikut menyusul dan bergabung dengan kawan-kawan di Floc.co, kami makan malam dengan menu ala Western yang fancy dan nongkrong cukup lama karena di luar hujan deras turun mengguyur kota Medan.

Sesudah hujan sedikit reda, saya mengajak Riza dan Budi untuk bergeser dari Floc.co untuk menyambangi teman-teman di The Goodfight Music Studio. David dan rekan-rekan dari Fingerprint mengajak bertemu di sana karena kebetulan itu juga rumah dari vokalisnya, Lepot. Kami disuguhi kopi dan makanan di kedainya yang baru dibuka di situ, sebelum kemudian pindah nongkrong ke ruangan kantor lantai atas untuk perjamuan yang telah disiapkan. Kepulan asap dan botol minuman berputar menemani obrolan multi topik yang berlangsung hingga dini hari di The Goodfight Studio. 

Ketika tiba waktunya pulang saya sudah gontai, dan kami tidak langsung kembali ke penginapan karena Riza, Ken, Måm, Mär, dan Budi ingin makan dulu. Saya skip dan lupa kejadiannya tapi kata mereka saya muntah di warung yang kami datangi sehingga sempat terjadi keributan antara Budi dan penjaga warung makan. Sebabnya karena kasirnya itu sepertinya minta uang kebersihan karena warungnya saya muntahi. Kawan-kawan sempat menenangkan situasi dan mengajak Budi untuk cabut dari situ. Akhirnya saya – yang dalam kondisi blackout – dan rekan-rekan Critical Issues pun diantarkan pulang ke penginapan. Masalah tidak berhenti di situ, sebab ternyata pagar. Pelangi Residence sudah digembok ketika rombongan tiba, dan Riza harus berkali-kali menelpon penjaga rumah kost untuk minta dibukakan pagar supaya kami bisa masuk.

Keesokan harinya, saya bangun dengan kepala berat dan masih memakai pakaian semalam dengan sepatu dan celana yang dihiasi bercak muntah yang telah mengering. Sembari diceritakan kejadian semalam, saya minta maaf ke Ken, Måm, dan Mär karena telah merepotkan mereka.

Hari itu juga kebetulan kami santai karena hari Kamis tanggal 13 November 2025 itu adalah jadwal kami day-off di Medan. Hal yang disengaja karena selain memberi waktu untuk pemulihan fisik dari perjalanan yang cukup panjang begitu juga karena esok malam seusai gig rencananya akan langsung berangkat ke Lhokseumawe. Santai sebentar sebelum tancap gas lagi, dan pastinya juga agar bisa raun raun di Kota Medan.

Kami baru keluar siang menjelang sore hari itu, Riza menjemput ke rumah kost dan karena lapar langsung misinya adalah mencari makan. Banyak pilihan yang terlewat karena kami keluar terlalu sore, dan akhirnya karena hari itu pun mendung jadi terpikir makanan yang berkuah. Dipilih lah sebuah rumah makan sop langganan keluarga Riza dari sejak jaman kakeknya. Tiba di rumah makan bernama Warung Sop Ayam Bacok yang berlokasi di daerah jalan Krakatau itu setelah mengambil posisi di meja tanpa basa-basi langsung memesan makanan. Ada yang pesan sop, dan ada yang pesan mie sop, tapi saya pesan keduanya karena terasa lapar sekali sepertinya perut ini. Cuaca mendung dan makanan hangat berkuah, sungguh kombinasi yang tepat.

Setelah misi mengisi perut selesai, misi selanjutnya adalah Måm sejenak mau ke toko Maternal Disaster mencari tas pengganti untuk tas pinggangnya yang rusak. Dan, itu juga cukup penting karena di tas itu dia menyimpan dokumen seperti paspor, dompet berserta isinya, dan bawaan esensial harian lain yang bisa kacau kalau tercecer karena tas yang rusak. Setelah mendapatkan barang yang dicari, ternyata bukan hanya Måm yang belanja tapi juga Riza. Alih- alih hanya menemani, dia malah membeli sebuah bangku lipat kecil yang katanya asyik kalau untuk dibawa outdoor atau memancing. Dari situ kami meluncur bersama Riza dengan mobil Snoop Dog-nya ke studio musik di rumah Keval. Riza bilang hari itu band yang main di gig besok akan latihan di situ, dan kami pikir ke studio itu saja biar sekalian nongkrong dengan teman-teman yang datang untuk latihan.

Studionya berlokasi di dalam perumahan di daerah Glugur. Di sebuah ruangan yang mengambil tempat di area yang sebelumnya mungkin ruang tamu dari rumah yang juga dihuni oleh Keval dan keluarganya. Kami tiba di situ sesudah maghrib, dan sudah ada band yang latihan. Langit yang sudah gelap sesekali juga berpendar karena kilat, seperti kemarin malam itu juga sepertinya Medan akan diguyur hujan. Di depan rumah Keval, kami nongkrong di teras kecil yang menjadi tempat teman-teman mengobrol sambil menunggu jadwal latihan. Sungguh efisien karena bisa ketemu semuanya hanya di satu tempat. Apa yang saya perhatikan di studio musik Keval, dan The Goodfight Music Studio membuat saya berpikir dan baru tersadar di Palembang mungkin itu yang kurang dan hilang; studio musik yang juga asyik untuk menjadi tongkrongan. Penting juga karena bisa jadi ruang organik yang memantik ide kreatif dan kolaborasi, pertukaran referensi, serta juga menambah pemahaman akan hal teknis dan skill yang terkait musik. 

Dan ketika saya menceritakan itu di teras, hujan deras turun ketika kami baru terpikir untuk memesan kopi dan membeli jajanan. Tapi tak masalah karena Riza menawarkan diri untuk pergi membeli dengan mobilnya. Riza cs yang jajan kopi datang tak lama berselang setelah teman lain yang datang membawa martabak. Kombo maut aktivitas gigi dan mulut.

Di tengah hujan yang deras dan band yang bergantian latihan, saya melihat pojok ruang tamu Keval dipenuhi dengan kabel dan perkakas serta komponen elektronik berserakan bersama efek gitar dan hardcase di atas lantai. Ternyata malam itu Imam – yang bermain gitar di Saint Ali dan Social Fact – setelah sesi latihan band harus menyelesaikan routing efek gitar Fakhry dan merakitnya ke dalam hardcase. Dikebut bukan tanpa alasan, hal itu karena Fakhry akan memakainya untuk bermain bersama Caveman dan Social Fact. Urgensinya adalah kedua bandnya itu tidak hanya akan bermain di jadwal gig Critical Issues di Medan, tapi juga akan menjadi rekan tur untuk jadwal selanjutnya di Lhokseumawe.

Saya lupa jam berapa kami pulang ketika hujan sudah mereda sebab ketika sampai di penginapan, seperti malam sebelumnya, kami disambut dengan pagar yang terkunci. Dan seperti sebelumnya juga Riza harus menelpon yang menjaga kost untuk tolong membukakan gembok pagar. Kami masuk dan naik ke kamar setelah sebelumnya minta maaf karena pulang terlalu malam kepada penjaga kost, dan berpamitan dengan Riza yang seharian menemani kami. Hari sudah Jumat tanggal 14 November 2025 ketika kami perlahan terlelap.

Kami bangun lebih cepat hari itu, dan menunggu Fakhry dan Riza yang akan datang menjemput setelah salat Jumat. Fakhry datang terlebih dahulu, Riza menyusul kemudian. Sekalian keluar dari penginapan, semua barang yang kami bawa juga diturunkan dan dikeluarkan dari kamar kost dan dimuat ke dalam mobil untuk dibawa ke tempat acara malam itu. Walau memungkinkan meninggalkan sebagian dan mengambilnya kemudian seusai acara, tapi biar taktis lebih baik dibawa semua sehingga malamnya tidak perlu bolak balik lagi dari venue.

Ada dua alasan untuk itu, pertama, rombongan Critical Issues, Social Fact, dan Caveman harus langsung berangkat ke Lhokseumawe seusai gig di Medan. Kedua, rencana jadwal keberangkatan itu dikarenakan jadwal acara di Lhokseumawe yang akan berjalan dari pagi hingga sore hari. Dengan perjalanan sekitar enam jam maka kami harus berangkat lebih cepat, selambatnya jam dua pagi dari Medan, apabila kami ingin tiba pagi di Lhokseumawe sehingga punya waktu santai untuk ngopi dan sarapan, serta istirahat sejenak sebelum ke tempat acara pada siang harinya.

Sesampainya di venue yang bernama Serayu Coffee & Space, semua barang dikeluarkan dari mobil dan kami bawa ke ruangan khusus yang disiapkan untuk band dan kru acara. Teman-teman dari Insist Records yang mengorganisir gig malam itu sudah berada di lokasi mempersiapkan acara yang akan dimulai sekitar jam delapan malam.

Hari masih terang, dan kami tak lama di venue karena Fakhry dan Riza mengajak keluar makan siang. Dengan tempat yang tak jauh dari lokasi acara, target makan siang kali ini adalah rumah makan yang menghidangkan menu khas Mandailing spesifik dari Padangsidempuan. Menu yang dihidangkan beragam dari sayur daun ubi yang ditumbuk hingga gulai ikan salai yang menggugah selera. Bagi saya Padangsidempuan juga bukan tempat yang asing karena sempat bermukim di Tapanuli Selatan ketika saya masih TK. Di meja makan, Fakhry bercerita bahwa ibu dari Imam jatuh sakit dan harus dirawat sehingga rekan satu bandnya itu kemungkinan tidak bisa datang di gig malam itu. Mendengar kabar itu, saya dan rekan-rekan Critical Issues juga berharap agar kondisi kesehatan Ibu dari Imam bisa ditangani dengan baik.

Setelah makan kami langsung kembali ke Serayu Coffee & Space. Sementara Ken, Måm, dan Mär santai dan ngopi di situ, saya meminta tolong Riza untuk diantarkan naik motor ke makam Roni Harahap. Selagi di Medan, saya menyempatkan berziarah ke makam sahabat saya yang juga vokalis dari SPR yang meninggal dunia karena serangan jantung ketika sedang manggung dengan bandnya itu pada pertengahan bulan April 2025 lalu. Lokasi makamnya berada di TPU Sei Batu Gingging.

Ketika saya kembali ke venue, sound system sudah menyala dan meja lapakan juga mulai disiapkan. Di ruang belakang kami membongkar tas, dan mengeluarkannya merchandise dan rilisan yang kami bawa untuk disusun di meja lapakan. Di antara kami berempat, Måm adalah yang bertanggung jawab untuk urusan merchs dan lapakan tur termasuk pencatatan stok dan penjualan. Selain Critical Issues meja lapakan juga diisi oleh merchs dari teman-teman Insist Records, Madafaka Records, dan juga Suplex Souvenir, merchandiser lokal Medan.

Selepas maghrib, satu demi satu gig goers mulai datang, mengantri membeli tiket dan juga menukarkan bukti pembelian dengan tiket yang juga dijual sebelum acara. Cukup ramai juga yang datang ke gig dari yang muda hingga scenester lama, lintas generasi scene di Medan hadir malam itu. Seru karena berkesempatan melepas rindu dengan kawan-kawan lama, dan berkenalan dengan kawan-kawan baru. Sembari menunggu acara dimulai yang datang juga mulai mengerumuni meja lapakan.

Waktu menunjukkan hampir jam delapan malam ketika band pertama yaitu Caveman memulai acara. Menggempur dengan dengan agresi powerviolence yang ganas membuat crowd langsung memanas. Fakhry tidak turun panggung lagi ketika sesudahnya giliran Social Fact karena dia juga bermain gitar di band yang melebur hardcore dengan citarasa punk rock ala Oi! itu. Dilanjutkan dengan Chämber, band hardcore punk roster Insist Records yang bermain intens dan agresif.

Setelah penampilan tiga band awal yang memukau, tiba giliran Critical Issues yang menjajal repertoar empat belas lagu. Senang sekali kami bermain malam itu karena teman- teman di Medan menerima dan merespon set malam itu dengan baik. Dan itu jelas memberi energi lebih kepada saya, Ken, Måm, dan Mär. Rasa senang dan syukur kami pun bertambah karena sehabis turun panggung, lapakan langsung diserbu teman-teman yang memberi support dengan membeli merchs yang kami bawa.

Sesudah Critical Issues masih ada tiga band lagi yang tidak kalah ganasnya. Andes dan lawan-kawan Vacation bermain gaspol dan kembali membuat moshpit pecah. Jahat tampil sesudahnya, dan Tulank cs dengan tanpa ampun menghajar dengan distorsi crust/stenchcore yang kasar. Senang bisa berjumpa dan melihat Jahat lagi setelah sebelumnya mereka sempat bertandang ke Palembang ketika main di DWF FEST 2025. Mantan vokalisnya, Anes yang malam itu hadir juga sempat didaulat naik panggung dan bermain satu lagu. Penampil terakhir adalah band hardcore punk lawas EmpatBelas, band yang tepat menutup acara karena walau mereka main terakhir band ini berhasil mengembalikan crowd ke tengah moshpit.

Seusai acara, saya dan rekan-rekan Critical Issues santai bercengkrama dan berbincang dengan teman-teman band dan kawan-kawan yang masih nongkrong di venue. Obrolan serius hingga canda yang memecah tawa menghiasi malam itu. Masih banyak waktu untuk santai sebelum bersiap-siap berangkat ke Lhokseumawe bersama Social Fact dan Caveman. Pengelola Serayu Coffee & Space pun memperkenankan kami dan kawan-kawan untuk bersih-bersih diri dan mandi di kamar mandi yang ada di venue. Dengan badan dan pakaian yang basah berpeluh paling tidak kami bisa menyegarkan diri sebelum berangkat. Kalau tidak, bayangkan, sebuah van ber-AC yang berisi serombongan lelaki lelah, lusuh, berpeluh dengan baju mengering di badan dan jeans yang basah luar dalam. We’ve been there, and we’ve done that, so, minimal mandi agar sedikit lebih segar.  

Untuk keberangkatan ke Lhokseumawe dari hasil rembug dengan kawan-kawan di Medan, rombongan akan menumpangi mobil van berkapasitas lima belas bangku. Mobil yang disewa patungan oleh Caveman, Social Fact, dan Caveman itu rencananya akan datang menjemput ke Serayu Coffee & Space sekitar jam dua dini hari. Kami semua pun bersiap dengan mengemasi barang-barang dan bergantian mandi agar semua sudah siap ketika mobil datang. 

Mendekati jam keberangkatan, rombongan sudah siap sedia. Mobil van yang disewa pun datang tepat waktu. Semua barang dimuat dan disusun rapi di bagian belakang kabin, menyisakan bangku yang pas untuk dua belas orang yang akan berangkat dari Medan malam itu. Setelah berpamitan dengan kawan-kawan, kami semua memasuki mobil, dan perjalanan ke Lhokseumawe pun dimulai. Dengan durasi perjalanan yang sekitar enam jam, sudah terbayang kami akan sampai di sana pagi, waktu yang tepat untuk sarapan di warung kopi ditemani kopi sanger. Sementara itu di dalam mobil, obrolan yang tadinya sahut menyahut tak lama berubah menjadi hening diselingi suara dengkuran.

Lhokseumawe Dimulai di Kedai Kopi

Sabtu, 15 November 2025. Sesuai perhitungan, mobil yang kami tumpangi memasuki kota Lhokseumawe pada pagi hari. Ini adalah pengalaman pertama saya, dan rekan- rekan di Critical Issues datang ke sana. Setelah berkontak dengan Edi dan kawan-kawan Ranoeppheet Crew, rombongan diarahkan ke lokasi yang akan menjadi tempat beristirahat. Sebuah rumah di daerah Cunda atau simpang Selat Malaka dekat tugu penanda kota Lhokseumawe. Di sana kami disambut oleh Dimas dan Yudi. Saya pikir itu rumah pribadi tapi ternyata losmen, yang satu petak paviliun bagian depannya disewa sebagai penginapan rombongan Critical Issues, Caveman, dan Social Fact. Paviliun dengan dua ruangan yang cukup luas untuk akomodasi rombongan yang berjumlah dua belas orang, dan lengkap dengan kamar mandi. Paling tidak itu menunjukkan rekan-rekan Ranoeppheet Crew memang memperhatikan betul kami yang datang seramai itu. Dan, kami pun berterima kasih kepada rekan- rekan Ranoeppheet Crew yang menyambut kami pagi itu. 

Setelah kami menurunkan semua barang dari mobil dan menyusunnya ke dalam kamar paviliun, Dimas dan Yudi mengajak rombongan ke kedai kopi yang tak jauh dari losmen. Selain untuk sarapan juga biar lebih santai menyambung obrolan dari pertemuan pertama kami dengan rekan- rekan di Lhokseumawe. Menjadi sebuah kebiasaan apabila di Aceh ajakan untuk minum kopi memang tidak bisa ditolak.

Bicara soal kedai kopi di Aceh memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakatnya. Selain untuk minum kopi, kedai kopi adalah ruang sosial bagi orang Aceh. Secara ekonomi, masyarakat Aceh bukan hanya sebagai konsumen sebab beberapa daerah di Aceh adalah produsen kopi yang berkualitas tinggi. Umumnya kedai di Aceh membuat dan menyajikan kopi saring, gaya klasik yang untuk itu biji kopinya disangrai bersama resep bahan tambahan dengan cara tersendiri. Sebuah kebiasaan lama yang belum ditinggalkan walau sekarang tren kedai kopi modern dengan mesin espresso juga berkembang di Aceh.

Kembali ke sesi nongkrong di kedai kopi, obrolan pagi itu ditemani gelas-gelas kopi dan minuman hangat yang dipesan, dan kue-kue yang disajikan. Meja-meja disusun panjang agar kami yang seramai itu bisa duduk bersama. Edi yang belum terlihat sejak tadi kemudian datang menyusul ke kedai kopi yang kami tongkrongi. Dia tadi tak bisa datang menyambut karena sedang menunggu sound system datang dan disiapkan di tempat acara. Setelah gelas-gelas kopi kosong baru kemudian kami bubar, rombongan Critical Issues, Social Fact, dan Caveman kembali ke penginapan sementara kawan-kawan Ranoeppheet Crew ke venue untuk mempersiapkan acara yang akan berlangsung siangnya.

Di penginapan, setelah sejenak istirahat baru rombongan tur mempersiapkan diri dan juga barang-barang yang akan dibawa ke venue. Menjelang siang, setelah semua siap, kami menuju venue Lido Graha yang berlokasi di dekat Uten Kot dengan menaiki mobil van yang disewa sejak dari Medan. Sesampainya di tempat acara, kami melihat di ruangan bagian depan gedung baru saja selesai acara Partai Aceh. Edi bilang gig hari itu semestinya di tempat itu tapi mereka harus mengalah dan pindah ke ruangan di bagian belakang. Dia juga bercerita gig hari itu memang sengaja dibuat dari siang hingga sore hari dengan lokasi acara yang tidak dipublikasikan. Alasannya adalah untuk menghindari direpotkan oleh otoritas setempat yang sebelumnya sempat heboh karena mencoba menghentikan gig yang diorganisir oleh Ranoeppheet Crew. Edi juga bilang ada bagusnya juga Partai Aceh membuat acara di bagian depan gedung tempat gig karena bisa menjadi pengalih perhatian; dan melihat situasi di venue hari itu sepertinya acara akan berlangsung dengan kondusif.

Dimulai dari jam setengah satu siang, acara yang bertajuk “Acid Room” hari itu menampilkan sepuluh band. Tapi sayangnya kami kelewatan dua band yang bermain awal yaitu Gasp, dan HowYoung. Tadinya memang hendak datang tepat waktu tapi tidak memungkinkan karena miskalkulasi dari waktu yang dibutuhkan untuk dua belas orang anggota rombongan untuk bergiliran mandi. Sempat melihat band hardcore punk, Jaw, walau hanya kebagian akhir dari penampilannya. Yang kemudian dilanjut oleh Gong yang memainkan heavy rock. Mereka memainkan lagu mereka sendiri dengan beberapa nomer cover yang diantaranya lagu dari High on Fire. 

Dua band selanjutnya adalah rekan tur kami dari Medan yaitu Social Fact yang bermain back to back dengan Caveman setelahnya. Seperti ketika di Medan, Fakhry yang hanya berganti baju juga tak turun lagi dari panggung karena dia bermain gitar di dua band itu. Setelahnya kembali band dari Lhokseumawe mengisi panggung yaitu band hardcore punk, Kronk, yang bermain ganas hari itu. Critical Issues menyusul sesudahnya, dan sempat ada gangguan di amplifier gitar sehingga sempat beberapa kali harus diutak-atik. Tapi walau sedikit kurang maksimal, kendala itu tidak mengurangi keseruan gig hari itu. Setelah kami, giliran AduMekanik yang vokalisnya Omen tampil begitu lincah; dan terlepas hari itu dia tampil sebagai punk dalam kesehariannya profesinya adalah seorang guru kesenian di sebuah sekolah di Lhokseumawe. Gig ditutup dengan penampilan mantap dari band yang datang dari Banda Aceh, To Fused and Fuzzed. Bukan kali pertama saya melihat mereka sebab sebelumnya mereka sempat tur dan menyinggahi Palembang.

Hari itu ada satu band yang tidak jadi main yaitu Jaevel. Personilnya semua dari Lhokseumawe kecuali Dana, pemain drumnya yang tidak bisa datang dari Banda Aceh. Tapi bisa dipahami karena Dana dan kawan-kawan Manivest Records juga sedang mempersiapkan gig untuk jadwal tur Critical Issues di Banda Aceh. Urung main bareng di dua gig, Jaevel jadinya hanya main dengan Critical Issues di Banda Aceh.

Acara yang berjalan dengan lancar tanpa gangguan dan kendala adalah hal yang menggembirakan bagi teman-teman Ranoeppheet Crew. Semua terlihat sumringah ketika acara selesai sebelum jam enam sore, apalagi ditambah dengan cukup ramai anak-anak yang datang ke gig hari itu walau lokasi acara tidak dipublikasikan. Dengan kompleksitas sosial yang harus dihadapi di Aceh khususnya Lhokseumawe, sepertinya eksperimen Ranoeppheet Crew kali ini menghasilkan opsi metode yang bisa diaplikasikan untuk gigs yang akan mereka organisir di kemudian hari.

Setelah beramah tamah dan venue mulai dibereskan, Edi mengajak rombongan kami untuk malamnya nongkrong ngopi. Kami sepakat, dan kembali ke penginapan untuk drop barang lapakan, dan berganti pakaian. Sesampainya di losmen ternyata jaringan listrik padam, dan sepertinya pemadamannya masal. Sementara itu, pompa air pun mati karena listrik padam, dan bak di kamar mandi dalam keadaan kosong. Zonk! Untuk urusan kamar mandi kami diberitahu oleh orang yang di losmen ada kamar mandi yang juga bisa dipakai di lantai dak atas di samping rumah, aman. Untuk urusan cas ponsel yang rumit, apalagi sebagian besar ponsel kami menjelang habis baterai termasuk punya saya. Listrik padam tidak hanya merepotkan kami, tapi begitu pula teman-teman Ranoeppheet Crew dan sebagian besar warga Lhokseumawe.

Cukup lama kami baru dapat kabar dari Edi, hingga kemudain dia datang menjemput ke losmen bersama saudaranya, Wahyu, vokalis dari Jaevel yang seharian juga bersama kami. Di tengah listrik yang masih padam, Edi juga menunggu kabar dari Vani soal dimana akan ngopi malam itu. Dimas dan Yudi juga datang ke losmen, dan diputuskan untuk bergerak ke kedai kopi yang disepakati. Sesampainya di sana ternyata listriknya juga padam, dan tidak ada generator listrik cadangan. Semua bingung mau pindah kemana karena tempat itu sudah dipesan untuk dua puluhan orang lebih. Akhirnya, Vani memutuskan untuk berburu lokasi. Masalahnya adalah termasuk kawan-kawan Lhokseumawe, rombongan kami banyak, dan kalau pun ada kedai kopi yang listriknya menyala belum tentu cukup untuk menampung kami semua. Buah Simalakama.

Akhirnya ada kedai kopi yang tak jauh dari pantai, walau ketika tiba di sana kami harus seperti bermain Tetris, mengakali meja dan bangku untuk diambil dan disusun hingga cukup untuk rombongan. Ketika semua sudah duduk, dan kabel terminal mengular di meja, semua ponsel diisi daya, baru kopi dan makanan mulai dipesan. Tidak ada menu makanan berat di kedai kopi itu sehingga harus beli nasi bungkus dari luar, dan bagusnya diperbolehkan untuk makan di kedai kopinya; sungguh kedai kopi yang baik.

Kami mendapat kabar Fuad dan teman- teman To Fused and Fuzzed yang bermalam di Lhokseumawe juga bingung mencari tempat nongkrong karena listrik padam, sementara personilnya semua lengkap membawa keluarganya masing-masing. Akhirnya, rekan- rekan To Fused and Fuzzed menyusul bergabung bersama dengan rombongan kami yang akan pindah nongkrong di pantai, pinggir laut.

Pantai Jagu berlokasi tak jauh dari kedai kopi tempat kami nongkrong sehingga kami semua bisa berjalan kaki ke sana. Melihat rumah dan warung yang terang, serta lampu jalan menyala sepertinya listrik di daerah dekat pantai bukanlah jalur yang mengalami pemadaman. Mendekati laut, angin terasa tidak bertiup kencang malam itu, pas untuk duduk bersantai di pinggir garis pantai. Di tepinya baris berjajar warung yang menjual minuman dan makanan kecil dengan meja-meja dan kursi plastik yang ditata di depannya. Bibir pantainya dipenuhi batu-batu besar yang sepertinya juga berfungsi sebagai pemecah ombak. Tidak banyak yang bisa saya perhatikan karena kala itu malam, dan gelap dari pinggir pantai hingga batas kaki langit. Hanya pendar lampu-lampu pemancing ikan dari kapal nelayan yang bisa terlihat di laut malam itu.

Bermodal kacang rebus, cemilan, dan minuman ringan, cukup lama kami nongkrong dan mengobrol di tepi laut. Walau lautnya tidak kelihatan, suasananya pas untuk bersantai. Saya juga sempat minta tolong kepada Fuad untuk menitip beberapa barang Critical Issues di mobilnya apabila memungkinkan. Dan, Fuad mengiyakan karena hanya dia dan istrinya di mobil, ruang bagasinya juga masih bisa memuat beberapa barang Critical Issues untuk dibawa bersama mereka berdua ke Banda Aceh. Dengan itu, kami bisa menghindari kemungkinan harus membayar lebih karena barang yang dibawa terlalu banyak ketika kami nanti naik mobil travel dari Lhokseumawe ke Banda Aceh. 

Angin mulai kencang ketika akhirnya kami semua memutuskan untuk bergeser ke penginapan dari pantai. Kami kembali berjalan ke arah kami datang, dan menuju parkiran kedai kopi tempat kami nongkrong sebelumnya karena kendaraan kami dan teman yang lain ditinggal di sana ketika jalan kaki ke pantai. Edi dan kawan-kawan akan bersama kami ke losmen, sementara Fuad dan rombongan To Fused and Fuzzed kembali ke hotel mereka menginap. Fuad bilang besok pagi dia akan ke losmen mengambil barang yang kami titipkan untuk dibawa. Untuk urusan mobil travel ke Aceh pun sudah dipesan dan dibereskan oleh teman kami Vani – gitaris dari Gong, Jaevel, dan Jaw – ke agen langganannya. Ketika kami pikir semuanya sudah aman dibereskan, sewaktu kami sampai di losmen ternyata listrik masih padam.

Kami pun akhirnya nongkrong dalam gelap di teras paviliun losmen tempat menginap bersama Edi, Wahyu, Dimas, Vani, Yudi dan teman-teman Ranoeppheet Crew. Obrolan berlanjut ditemani helaan asap yang mengepul. Banyak hal dibincangkan malam itu dari soal band sampai urusan scene dan beragam tantangan yang dihadapi oleh kawan-kawan dalam scene lokal di Lhokseumawe. Dalam hal ini saya juga sempat memberi opini soal formula pengorganisiran acara yang mereka pakai hari itu mungkin bisa menjadi cara yang cukup efektif, acara diadakan siang dengan lokasi yang tidak dipublikasikan. Wahyu, Edi dan rekan-rekan juga menanggapinya dengan positif, apalagi melihat gig yang mereka organisir berjalan dengan lancar. 

Malam merayap pelan ketika kami tenggelam dalam obrolan hingga tak sadar sudah lewat dini hari. Akhirnya Edi dan kawan-kawan pun hendak pulang, berpamitan dan mempersilakan kami untuk istirahat karena siangnya Critical Issues akan melanjutkan perjalanan ke Banda Aceh.

Hari Minggu, tanggal 16 November 2025, sekitar jam sepuluh pagi Fuad memenuhi janjinya untuk datang ke losmen dan mengambil barang Critical Issues yang akan dititipkan di mobilnya. Dia bilang akan berangkat lebih sore dari Lhokseumawe, sementara saya, Ken, Måm, dan Mär berangkat lebih cepat karena mobil travel akan menjemput kami siang dari losmen. Setelahnya saya dan rekan- rekan Critical Issues pun bersiap-siap. Rombongan Social Fact dan Cavemen juga bersiap karena mereka juga akan bergerak ke Medan siang itu.

Mobil travel yang dipesankan oleh Vani datang menjemput ke losmen jam dua belas siang. Semua barang bawaan Critical Issues yang tersisa pun dimuat di kabin bagian belakang, kemudian saya, Ken, Måm, dan Mär berpamitan dengan kawan-kawan Lhokseumawe dan Medan yang masih di losmen. Kami tak berlama-lama karena mobil travel masih akan menjemput penumpang lain yang juga akan berangkat ke Banda Aceh dari Lhokseumawe. Kendaraan kemudian meluncur menuju batas kota Lhokseumawe, membawa kami ke destinasi selanjutnya dari “Poison and Spell Tour 2025”.

Berlama-lama di Banda Aceh

Perjalanan darat dari Lhokseumawe ke Banda Aceh memakan waktu lebih kurang enam jam. Dalam mobil travel yang saya, Ken, Måm, dan Mär tumpangi ada beberapa penumpang lain walau masih ada beberapa bangku yang kosong. Ketika melewati batas kota Lhokseumawe, mobil sempat berhenti di sebuah rumah makan, dan pengemudi mempersilakan kami turun untuk istirahat, salat, dan makan.

Saya dan rekan-rekan Critical Issues turun untuk merokok dan minum, dan Måm memesan martabak telur. Måm sempat kaget ketika martabak yang dipesannya datang sebab martabak khas Aceh memang berbeda dengan martabak yang dikenalnya seperti martabak Mesir, martabak Bangka, atau martabak HAR di Palembang. Martabak khas Aceh terlihat seperti omelet atau telur yang didadar. Kalau martabak biasanya semacam terbungkus oleh adonan tepung, martabak Aceh terbalik, adukan campuran sayuran, daging, dan telur yang membungkus adonan tepung yang biasanya juga dipakai untuk membuat roti canai. Itu menunjukkan dalam hal martabak saja negeri ini punya banyak variasi.

Setelahnya mobil travel pun melanjutkan perjalanan ke Banda Aceh, dan kami yang terbiasa memanfaatkan waktu perjalanan sebagai waktu istirahat pun tak lama langsung tertidur. Saya sendiri sesekali terbangun dan melihat keluar jendela mobil yang melalui ruas jalan tol. Mobil travel juga melalui jalur dengan daerah perbukitan di kiri kanan jalan. Hari menjelang maghrib ketika kendaraan yang kami tumpangi keluar di pintu tol Indrapuri, dan menuju Terminal Lueng Bata. 

Beberapa penumpang turun di situ, tapi kami tetap di dalam mobil karena akan lanjut diantarkan ke rumah Dana, rekan kami dari Manivest Records, yang berlokasi di aren Ajun, Lam Hasan. Sampai ke lokasi, mobil sempat berhenti di lokasi yang salah dan pengemudi pun menghubungi Dana untuk memberi petunjuk lokasi. Tiba di lokasi yang benar, Dana menyambut kami di depan rumahnya dan kami pun turun dari mobil bersama barang-barang yang dibawa. Kami masuk ke rumah bersama barang-barang yang dibawa ke kamar Dana di lantai dua yang akan menjadi tempat Critical Issues menginap selama di Banda Aceh. Dana mempersilakan kami untuk bersih-bersih sebelum nanti dia akan mengajak kami keluar ke kedai kopi langganannya. Mulky rekan Dana juga datang ke rumahnya malam itu.

Dana sempat cerita dia tak sempat untuk datang ke Lhokseumawe karena selain cukup tersita kerja pengorganisiran acara juga tengah menyelesaikan pekerjaan penyuntingan audio untuk sebuah proyek film dokumenter. Saya juga bilang sebagian barang Critical Issues kami titipkan di mobil Fuad yang akan diantarkannya ke rumah Dana setibanya Fuad di Banda Aceh malam hari itu, dan Dana memberi tahu rumah Fuad ternyata tidak jauh dari rumahnya. 

Bagi saya Banda Aceh bukan kota yang asing karena sebelumnya sempat beberapa kali bertandang ke sana, dan Dana juga sempat bertandang ke Palembang ketika tur bersama Colony Musuh dan Total Galau pada tahun 2017 silam. Pertemuan kembali kami dengan Dana dalam kesempatan tur Critical Issues kali ini jadi semacam kembali menyambung tali silaturahmi. Dan kami mengobrol cukup lama di rumah Dana setelah kemudian rekannya Mero datang baru kami bergerak ke kedai kopi dengan naik motor. Kedai kopi yang biasa mereka tongkrongi itu bernama Seuramoe Kupi di Lampuot dekat area Mibo, dan disana telah menunggu beberapa kawan lain termasuk juga Klart dari Tremorrage yang memang kerap nongkrong di situ juga. Saya, Ken, Måm, dan Mär pun langsung memesan kopi dan makanan karena kebetulan perut sudah lapar. Waktu memang menunjukkan sekitar jam delapan malam memang sudah saatnya makan malam. 

Kami nongkrong santai di kedai kopi sembari menghabiskan waktu sambil menunggu rombongan To Fused and Fuzzed khususnya Fuad tiba di Banda Aceh. Bicara soal menu kopi, Måm suka sekali kopi Sanger, kopi saring yang dicampur susu kental manis yang tidak terlalu pekat, yang menurut pendapatnya rasanya legit dan ringan. Obrolan pun mengalir bersama kopi yang kami reguk di Seuramoe Kupi. Di tengah obrolan dan gelas-gelas kopi kami sudah kosong, Fuad memberi kabar dia sudah hampir keluar tol dan masuk Banda Aceh. Setelah membayar pesanan, kami bergerak dari kedai kopi dan kembali ke rumah Dana. 

Fuad datang ke rumah Dana sekitar jam sepuluh malam, dan kami turun dari kamar untuk mengambil barang Critical Issues yang dititipkan di mobilnya. Setelahnya Fuad pulang ke rumahnya yang tak jauh dari rumah Dana, dan membuat janji untuk menjemput kami untuk jalan-jalan ke pantai besoknya. Tapi setelah naik kembali ke kamar Dana dan menyusun semua barang-barag ternyata kurang satu tas yang sepertinya belum turun dari mobil Fuad. Setelah mengabarkan Fuad alhasil dia kembali lagi ke rumah Dana membawa tas yang menyempil diantara barang lain di bagasi mobilnya, dan kami minta maaf karena silap hingga merepotkannya. Sesudah Fuad pulang, sesi ngobrol pun berlanjut di kamar Dana hingga kami mulai mengantuk dan mulai mengambil posisi di atas kasur-kasur yang disiapkan Dana untuk kami tidur.

Bicara soal rencana tur, ketika proses komunikasi untuk jadwal tur, ada beberapa perubahan terkait jadwal di Banda Aceh, rencana awal gig di sana seharusnya pada hari Minggu ketika kami tiba di sana karena kami pikir akhir pekan adalah waktu yang tepat. Dana berpendapat lain dan mengajukan hari Selasa tanggal 18 November 2025 sebagai hari H gig yang diorganisir oleh Manivest Records, dan di hari Senin tanggal 17 November 2025 ditambahkan jadwal sesi diskusi yang digagas oleh Perpustakaan Jalanan Aceh. 

Dengan perencanaan itu, jadi ada beberapa hal yang mesti dilakukan di hari Senin tanggal 17 November 2025 yang juga jadwal day-off di Banda Aceh. Sesi diskusi Perpustakaan Jalanan Aceh baru akan berlangsung malamnya, dan kami bangun cukup pagi hari itu karena saya, Ken, Måm, dan Mär akan memulai hari dengan mengeluarkan pakaian kotor dan mencucinya dengan mesin cuci di rumah Dana. Walau sempat kebingungan karena sistem mesin cuci yang otomatis, semua pakaian tercuci bersih dan beres dijemur hingga bisa ditinggalkan. Kami bersiap menunggu Fuad dan beberapa kawan lain yang datang menjemput kami untuk jalan- jalan ke pantai. Dan kabarnya kawan-kawan dari Lhokseumawe yang sedang dalam perjalanan ke Banda Aceh juga akan menyusul ke sana. 

Berbekal nasi bungkus untuk makan siang, rombongan bergerak ke pantai Lhoknga. Setibanya di sana, matahari masih terlalu terik untuk kami bermain air karena bukannya segar malah badan gosong karena terbakar matahari. Alhasil kami hanya nongkrong saja di gubuk-gubuk yang berada di pinggir pantai, melahap makan siang, minum kopi, dan menghela asap. Kawan-kawan Ranoeppheet Crew yang sempat salah jalan karena mengikuti peta GPS datang juga menyusul kami yang sudah tiba lebih dahulu. Dan sepertinya momen yang semestinya santai itu juga tidak sepenuhnya asyik karena Måm mengalami sakit gigi sehingga harus keluar area pantai naik motor bersama Mulky untuk mencari apotek dan membeli obat penawar nyeri. Tak lama mereka kembali, Måm menenggak obat yang berdosis cukup tinggi hingga dia tertidur di bangku kayu. Sakit giginya sementara aman terkendali. Menjelang sore kami semua baru keluar dari area pantai karena harus bersiap untuk acara diskusi malam itu.

Sesampainya kembali di rumah Dana, kami pun langsung bersiap-siap. Dana berangkat terlebih dahulu karena harus mempersiapkan acara diskusi bersama kawan-kawan Perpustakaan Jalanan Aceh sementara kami masih menunggu Fuad untuk datang menjemput. Måm memutuskan untuk tidak ikut karena nyeri giginya, dan kami pun bilang kalau ada apa-apa hubungi saya dan rekan lain, dan apabila lapar coba cari di dekat rumah. Saya, Ken, dan Mär pun bergerak menuju lokasi acara diskusi di Redinesh Coffee bersama Fuad yang datang sesudah maghrib.

Redinesh Coffee adalah sebuah kedai kopi modern milik Rommel, pemain drum dari To Fused and Fuzzed. Kegiatan malam itu mengambil tempat di lantai dua kedai kopi itu. Sebuah ruang multi fungsi yang malam itu menjadi ruang pertemuan untuk acara diskusi Perpustakaan Jalanan Aceh. Kami tiba di waktu yang masih cukup aman untuk memesan kopi dan makan malam sebelum acara dimulai. Ada waktu pula untuk sempat mengobrol dengan kawan-kawan yang sudah datang awal untuk mengikuti diskusi malam itu. Dalam kesepatan itu teman kami Reza di Palembang bilang ada rekan perempuannya di Banda Aceh datang dan hendak memberi buah tangan. Ken, dan Mär menemuinya dan menerima kantung plastik besar yang penuh berisi beragam jenis cemilan. Kami berterima kasih, dan sungguh rezeki musafir. Selesai adzan waktu isya, sesi nongkrong pindah ke lantai dua Redinesh Coffee karena acara diskusi sudah dimulai. 

Dana menjadi moderator dari sesi diskusi yang diadakan oleh Perpustakaan Jalanan Aceh malam itu. Dia membuka dengan menjelaskan topik diskusi malam itu adalah membahas dinamika scene hardcore punk lokal dalam membuka kemungkinan untuk menciptakan ruang kreasi dan ekspresi dengan segala tantangan dan problematika yang harus dihadapi di tiap-tiap kota. Untuk itu ada dua narasumber yaitu saya sebagai yang mungkin merepresentasikan Palembang, dan Wahyu sebagai pelaku scene di Lhokseumawe khususnya Ranoeppheet Crew. Kami bertiga berbagi cerita dan perspektif dari apa yang dilakukan di ekosistem masing-masing. Selain saya membagikan apa yang terjadi dan dilakukan di Palembang, yang paling jelas adalah apa yang ada di Palembang menjadi semacam privilese apabila dibandingkan dengan apa yang harus dihadapi scene musik alternatif atau subkultur paramuda di Aceh dengan kompleksitas tatanan sosial dan juga birokrasinya. Itu pun termasuk biaya perizinan acara musik yang tidak murah. Selain datang ke Aceh untuk tur, kami juga mendapat pencerahan sedikit banyak untuk tidak menyianyiakan apa yang bisa dilakukan dengan mudah di scene Palembang; karena tidak begitu halnya di Aceh.

Selesai sesi diskusi bersama kawan-kawan masih nongkrong di pelataran luar Redinesh Coffee, dan Måm menghubungi di minta tolong dijemput karena mau menyusul kami ke luar. Akhirnya Mulky kembali turun tangan untuk menjemputnya di rumah Dana. Rencananya setelah mereka berdua datang, kami akan keluar mencari makan. Fuad yang akan membawa kami makan dan mengantar kami pulang ke rumah Dana setelahnya. Ada beberapa barang untuk gig besok juga yang dititipkan Dana di mobil Fuad untuk bisa dibawa ke rumahnya bersama kami.

Tak lama Mulky datang dengan motornya dengan membonceng Måm. Dia turun dari motor dengan cengengesan bilang sakit giginya sudah mulai mereda dan alasannya minta jemput karena bosan dan lapar. Malam itu bingung mau makan apa dan dimana akhirnya Fuad membawa kami ke sebuah kedai mie Aceh yang masih buka malam itu. Menemani Måm yang lapar, maka kami semua juga sekalian memesan makan. Mie Aceh bukan sesuatu yang asing tapi untuk bisa memakannya langsung di Banda Aceh adalah pengalaman dengan citarasa tersendiri. Setelahnya kami pulang ke rumah Dana, dan sudah ada jemuran pakaian yang sudah kering menunggu untuk diangkat. Fuad berpamitan pulang karena besoknya masih akan menemani kami lagi untuk beberapa hal. Kami masuk rumah dan naik ke kamar Dana membawa pakaian yang sudah bersih dan kering. Dana belum pulang karena malam itu masih ada jadwal latihan dengan Jaevel. Agak kikuk juga menyelonong masuk ke rumah orang tanpa ada tuan rumahnya, tapi Dana bilang untuk santai saja karena sudah izin dengan orang tuanya soal itu.

Malam itu kami tidur tidak terlalu larut, tak lama setelah melipat dan membereskan pakaian, dan ngobrol sejenak langsung kami membaringkan diri. Hari yang panjang dan istirahat cepat mungkin tepat untuk padatnya rencana harian yang menunggu besok. Dana sepertinya pulang cukup larut, dan ketika saya terbangun, dia sedang di depan komputer fokus mengerjakan proyek film dokumenter yang sepertinya dikejar tenggat waktu. Saya kembali memejamkan mata dan sayup perlahan suara yang keluar dari speaker komputer Dana pun hilang bersama earplugs di telinga dan benak yang kembali terlelap di atas bentangan matras yoga.

Hari Selasa tanggal 18 November 2025, kami bangun cukup pagi karena cukup banyak agenda yang mesti dilakukan hari itu sebelum jadwal gig yang akan berlangsung malamnya. Fuad menjemput kami sekitar jam sepuluh pagi, kami membangunkan Dana untuk pamit keluar. Agenda yang pertama adalah mencari sarapan, dan Fuad membawa kami ke kedai Nasi Gurih Faisal yang tak jauh dari Mesjid Raya Baiturrahman. Nasi gurih ini kalau secara umumnya mirip dengan nasi uduk hanya mungkin dimasak dengan rempah yang berbeda, dan pagi itu saya memesan dengan lauk khasnya yaitu dendeng sapi.

Dengan perut terisi maka kami siap memulai hari karena selanjutnya kami mengunjungi Museum Tsunami Aceh. Bagi saya itu bukan kali pertama ke sana, dan mendatanginya kembali banyak hal yang menjadi catatan pribadi dari fasilitas yang tidak begitu terawat hingga makna museum yang sebagai komemorasi bencana dahsyat yang menimpa Aceh hanya jadi semacam obyek wisata. Setelah berkeliling dan menyempatkan menonton film dokumenter singkat tentang bencana Tsunami di Aceh pada tahun 2004, kami menyeberang ke sebelah museum untuk mendatangi Kerkhof Keucut. Tempat itu adalah tapak pemakaman serdadu KNIL Belanda yang tewas dalam Perang Aceh (1872 – 1904). Di situ kami berjumpa dengan Jal Brahim, teman yang juga musisi elektronik yang meramu musik Dub dengan pengaruh musik Aceh dan Arab. Setelah berjalan-jalan melihat makam, Jal mengajak kami nongkrong minum kopi. Sementara Ken, Måm, dan Mär di mobil Fuad, saya menumpang di mobil Jal karena hendak melanjutkan obrolan soal musik yang dimainkannya dan mini albumnya yang berjudul “Sharia”.

Kami mendatangi kedai Kubra yang merupakan singkatan dari Kupi Beurawe, dan di sana juga sudah ada beberapa teman salah satunya Dopan, gitaris dari To Fused and Fuzzed dan juga Cloath. Fuad, Jal, saya dan rekan-rekan Critical Issues pun duduk bergabung di meja mereka. Kue-kue pun dihidangkan dan kami memesan kopi. Banyak hal yang dibincangkan pagi itu dari soal band, musik dan scene hingga tur yang akan dilakoni oleh Jal dan juga Cloath. Kami juga bertanya kepada Jal yang sebelumnya sempat tur ke Malaysia untuk rekomendasi tempat penukaran uang yang nilai tukarnya bagus di Banda Aceh. Setelah kopi habis dan rekan-rekan yang lain juga ada kesibukan lain maka kami pun bubar.

Agenda hari itu belum selesai karena bersama Fuad kami hendak ke ATM menarik uang yang akan kami tukarkan menjadi Ringgit Malaysia. Jasa perbankan di Aceh secara umum adalah bank dengan sistem syariah. Bank yang kami cari ATM-nya tersedia di Aceh hanya uniknya karena bukan bank syariah maka hanya ATM-nya saja yang ada sementara kantor pelayanannya berada di Medan. Selesai menarik uang, destinasi selanjutnya adalah money changer atau tempat penukaran uang yang dari rekomendasi Jal berlokasi di area Peunayong. Di situ kami menukarkan uang yang akan menjadi kas perjalanan Critical Issues untuk jadwal tur di Malaysia, begitu pula uang pegangan personal dari saya, Ken, Måm, dan Mär. 

Setelah membereskan urusan keuangan, Fuad mengajak kami makan siang dengan menu ayam tangkap khas Aceh. Tempatnya bernama Rumah Makan Ayam Pramugari yang berlokasi di Blang Bintang. Menurut cerita nama ayam pramugari muncul karena paha ayam kampung goreng yang menjadi menu khas bentuknya panjang sehingga seperti tungkai jenjang dari pramugari. Menu yang dihidangkan bukan hanya ayam goreng tapi banyak menu lainnya juga seperti Sie Reboh dan pecel khas Aceh, namun sayang Kuah Beulangong yang saya incar habis. Hujan turun bersama dengan kami yang menikmati hidangan makan siang. Cukup syahdu juga jadi nuansa siang itu dengan bukit dan sawah yang menjadi pemandangan di sekeliling rumah makan yang berdiri sejak tahun 1970-an itu. Selain suasana yang pasti adalah d engan perut yang kenyang, hati pun tenang.


Misi kami siang itu tinggal satu lagi yaitu ke toko fotokopi untuk memperbanyak lembar repertoar yang sudah habis. Tapi sebelumnya Fuad hendak membeli titipan istrinya yaitu gorengan di Blang BIntang yang katanya istimewa. Ketika tiba di sana saya melihat ternyata bukan sekedar kedai gorengan biasa karena di pinggir jalan sekitarnya banyak meja dan bangku yang juga tempat nongkrong sambil jajan gorengan. Sembari jalan pulang ke rumah Dana kami singgah ke toko fotokopi. Kami diantarkan ke rumah Dana, dan Fuad akan menjemput kami untuk menuju venue acara sesudah maghrib. Dia juga harus bersiap-siap karena To Fused and Fuzzed juga akan main di gig malam itu.

Cukup melelahkan juga ternyata aktivitas dari pagi hingga sore hari itu sehingga kami sejenak power nap alias tidur siang atau siesta kalau dalam istilah Spanyol. Walau singkat tapi cukup untuk mengembalikan energi dan semangat. Sembari menunggu Fuad kami pun bersiap dengan bergiliran mandi, dan mempersiapkan merchs yang akan dibawa ke venue sesudahnya. Hiburan kami di rumah Dana adalah kucingnya yang bernama Kemeng, peliharaan Dana yang bulunya digunduli karena tengah menjalani perawatan kutu sehingga terlihat seperti pudel. Dana sendiri sedang tidak berada di rumah karena tengah mempersiapkan gig malam itu yang diorganisir Manivest Records dengan dibantu rekan-rekannya. 

Fuad datang sekitar jam tujuh malam dari rumahnya yang memang tak jauh dari rumah Dana. Kami memasukkan barang yang kami bawa ke bagasi mobilnya, dan langsung meluncur ke tempat acara. Gig malam itu bertempat di TB Kuffie yang berlokasi dalam area Taman Budaya Banda Aceh. Ketika kami tiba sudah cukup ramai yang datang baik dari para personil band yang main, dan juga gig goers yang cukup antusias dengan acara malam itu. Dana bercerita hanya untuk mengurus izin acara berskala kecil seperti malam itu saja, dia dan teman-teman Manivest Records harus merogoh kas kolektif mereka sebesar tiga juta rupiah, nominal yang tidak sedikit. Hal yang kembali membuat saya dan rekan- rekan Critical Issues berpikir betapa tantangan yang dihadapi paramuda scene di Aceh tidak semudah di Palembang.

Setelah beres mempersiapkan lapakan sembari menunggu acara dimulai tadinya saya, Ken, Måm, dan Mär hendak makan dan ngopi di venue yang juga kedai kopi tapi karena menu makanan beratnya terbatas Fuad menyarankan untuk ke kedai kopi yang lebih besar di depan. Wahyu, Yudi dan kawan-kawan dari Lhokseumawe juga kabarnya sedang nongkrong di sana.

Kami berempat pun berjalan ke depan, dan betul sekali kedai yang bernama Gunongan Kopi itu ternyata semacam aula terbuka yang besar dengan beragam kios makanan seperti pusat jajanan serba ada. Soal namanya, kedai kopi itu berlokasi tak jauh dari Kompleks Taman Sari Gunongan. Situs cagar budaya dari era Sultan Iskandar Muda (1607–1636 M) berupa taman kesultanan, kompleks yang berisi bangunan berbentuk miniatur gunung atau gunongan dan beberapa bangunan lain termasuk tempat pemandian yang dikhususkan untuk permaisuri yang berasal dari Pahang, Putroe Phang. Simbol cinta semacam Taj Mahal kalau di India sana.

Ramai juga orang yang nongkrong dan jajan di Gunongan Kopi, sempat celingak- celinguk mencari meja teman-teman Ranoeppheet Crew. Mereka duduk di bagian dalam, dan kami bergabung di meja panjang mereka. Sudah dari sore ternyata mereka nongkrong di situ, Soal berlama-lama nongkrong di kedai kopi – seperti yang sebelumnya saya sempat bahas – adalah suatu hal kultural yang mungkin hanya bisa dipahami oleh orang Aceh. Mengobrol di sana, Wahyu bilang cukup malam juga dia latihan dengan Jaevel bersama Dimas, Vani, dan Dana sebab sudah lama juga sejak terakhir bandnya latihan. Selagi di Banda Aceh, rombongan kawan-kawan Lhokseumawe menginap di rumah kontrakan teman mereka di sana. 

Waktu sudah hampir jam delapan malam, dan kami semua membayar pesanan termasuk jebakan kacang rebus yang dihidangkan di meja yang kami pikir bonus tapi ternyata ikut dihitung. Kami beredar dari kedai kopi menuju venue sambil tertawa membahas jebakan kacang rebus. Di TB Kuffie area acara sudah dibuka untuk teman-teman yang sudah membeli tiket, dan band pertama juga tengah bersiap-siap. 

Teman-teman dari Rencong Punk Collective, Sickboy, membuka acara malam itu yang bertajuk Collapse the State. Dengan nama band yang mungkin mengambil dari judul lagu GBH, Sickboy memainkan nomer-nomer punk rock baik lagu mereka sendiri dan juga nomer cover. Selanjutnya adalah Krupt yang di dalamnya Dana bermain gitar dan Mero bermain bass, bermain kedua di gig malam itu mereka menaikkan tensi dengan gempuran atmospheric crust yang politikal. Agresi diteruskan dengan penampilan band rookie dari scene hardcore Banda Aceh, Blind29, yang melepas demo mereka pada akhir Oktober 2025 tak lama sebelum gig malam itu.  

Bermain keempat dalam rundown, panggung kemudian diambil alih oleh Fleck yang menyuguhkan hardcore intensitas tinggi yang sukses memecah moshpit. Sesudahnya adalah Jaevel, band hybrid Banda Aceh/Lhokseumawe, dan Dana , Wahyu, Dimas, dan Vani pun menyiapkan set mereka yang menunjukkan musik berpondasi hardcore punk tapi bereksperimen dengan elemen post-metal dan nuansa atmosferik dalam musiknya. Critical Issues tampil sesudahnya, dan seperti biasa dengan repertoar kombo materi dari album rekaman dan album rekaman “Poison and Spell”. Serunya acara yang berjalan membuat kami bermain lepas malam itu.

Seusai acara seperti biasa kami khususnya Måm cukup sibuk di meja lapak malam itu melayani kawan- kawan yang bertanya dan memberi support dengan membeli merchandise dan rilisan fisik Critical Issues. Diwarnai juga dengan obrolan hangat bersama teman-teman yang datang dan masih kongkow di TB Kuffie malam itu. Diantara teman-teman yang baru saya temui, datang juga kawan lama antara lain Teuke Meem, Odjie, dan Teuku Fariza.

Yang luar biasa ada kawan bernama Rapip yang dengan niat mencetak foto grup Critical Issues menjadi poster dan meminta saya, Ken, Måm, dan Mär untuk membubuhinya dengan otograf kami berempat; sebuah momen yang membuat kami terharu. Sewaktu saya melepas keffiyeh dan cervical collar yang membalut leher saya seusai main, ada rekan yang bertanya mengapa saya memakai kedua benda itu di leher saya; saya pun menjelaskan untuk membatasi gerakan leher karena ada komplikasi di tiga ruas bagian cervical tulang belakang.

Sementara kawan-kawan masih bercengkrama di TB Kuffie, Dana dan rekan- rekan Manivest Records membereskan urusan acara. Dari informasinya acara malam itu termasuk lancar dan hitungan dari penjualan tiket juga lumayan. Setelah beres baru kemudian Dana mengajak kami dan kawan-kawan untuk bergeser dan melanjutkan nongkrong ke Seuramoe Kupi. 

Rombongan yang cukup ramai membuat Seuramoe Kupi malam itu menjadi meriah. Gelas- gelas kopi pun beruntun mengisi meja kami, dan obrolan pun berlanjut. Tak terasa kami nongkrong hingga lewat tengah malam, dan karena esok paginya saya, Ken, Måm, dan Mär harus mengejar penerbangan ke Kuala Lumpur dan mengemasi kembali semua barang bawaan maka kami izin untuk pulang duluan. Kami pun berpamitan dengan kawan-kawan di sana termasuk rekan-rekan dari Lhokseumawe berharap pertemuan kali itu akan belanjut ke pertemuan lainnya di kesempatan lain. 

Diantarkan Fuad ke rumah Dana, kami langsung mengemasi barang-barang. Rencananya ada beberapa barang yang ditinggalkan di Banda Aceh untuk mengurangi muatan bagasi yang akan dibawa terbang ke Kuala Lumpur. Tujuannya adalah agar tidak melampaui batasan berat bagasi yang ditetapkan oleh maskapai penerbangan. Kargo yang kami tinggalkan itu nantinya akan dibantu oleh Dana untuk dikirimkan ke Palembang. Sembari mengemasi barang kami juga mengobrol dengan Dana soal acara tadi, dan usahanya untuk ketelibatan lintas komunitas seperti tim dokumentasi yang dari komunitas sineas lokal Banda Aceh. Tak lama sesudahnya kami istirahat karena paginya Fuad akan menjemput kami untuk ke bandara.

Pagi itu hari Rabu tanggal 19 November 2025, kami hanya perlu menyiapkan diri karena semua barang bawaan sudah dibereskan semalam. Dana masih tidur sementara kami menunggu Fuad yang akan mengantarkan kami ke bandara Sultan Iskandar Muda. Semua barang kami turunkan ke teras depan rumah, dan kami berpamitan dengan Dana untuk menunggu di teras dan membiarkannya melanjutkan tidur. Fuad datang sekitar jam tujuh pagi, dan kami langsung memuat barang ke mobilnya serta meluncur ke bandara.

Jadwal keberangkatan penerbangan ke Kuala Lumpur dari Banda Aceh pada jam sebelas siang tapi kami sengaja berangkat lebih pagi agar tidak tergesa-gesa ketika mengurus bagasi. Kami tiba di bandara Sultan Iskandar Muda sekitar jam delapan pagi. Sementara Fuad bersama Ken, Måm, dan Mär ke toko serba untuk jajan cemilan dan kopi, saya ke dalam bandara untuk memeriksa konter check-in penerbangan dan kios pengemasan bagasi yang ternyata belum ada orang. Sedikit kecewa karena niatnya adalah agar bisa segera mengurus bagasi dan tiket sehingga bisa santai nongkrong di area luar bersama Fuad dan Odjie yang pagi itu juga datang ke bandara. Dana juga mengabarkan dia akan datang menyusul kami. 

Beberapa kali saya masuk untuk memeriksa kios pengemasan bagasi dan konter check-in sudah buka atau belum tapi hasilnya nihil. Sekitar hampir jam sembilan baru pegawainya datang, sementara Dana juga belum tiba di bandara. Dikarenakan pagi itu juga ternyata ada rombongan umroh, biar tidak terjebak keramaian ketika check-in maka kami berpamitan dengan Fuad dan Odjie, berterimakasih atas semua bantuan selama di Banda Aceh dan semoga berjodoh untuk berjumpa lagi di lain kesempatan.

Kami berempat kemudian masuk ke area keberangkatan untuk membungkus barang bawaan, dan membawanya ke konter check-in penerbangan. Terlepas dari usaha kami untuk mengurangi bobot barang dengan meninggalkan beberapa tas yang kosong dan bawaan yang tidak esensial, bagasi kami tetap kelebihan berat yang tidak sedikit yaitu dua puluh lima kilogram. Sial! Saya menggaruk kepala karena berarti harus ada penyesuaian rencana keuangan tur dengan adanya pengeluaran ekstra untuk bagasi. Sementara saya mengurus biaya bagasi yang kelebihan berat, Dana ternyata baru datang sehingga saya tidak sempat menemuinya untuk berpamitan dan berterima kasih. Panggilan untuk masuk ruang tunggu penerbangan diumumkan tak lama sesudahnya, dan kami segera naik agar bisa tetap lebih duluan dari rombongan umroh karena penerbangan internasional harus melewati konter imigrasi untuk pemeriksaan paspor dan dokumen perjalanan. Tapi kembali kami harus menunggu, dan kali ini karena pegawai imigrasinya belum datang.

Setelah hampir tiga puluh menit menunggu baru pegawai imigrasi muncul, kami mulai mengantri untuk pemeriksaan barang yang dibawa ke kabin dan dokumen perjalanan. Tak ada masalah kami pun masuk ruang tunggu penerbangan untuk menunggu jadwal naik pesawat yang akan kami tumpangi. Tidak ada perubahan jadwal untuk penerbangan kami siang itu, dan kami masuk pesawat dengan lega. Rombongan umroh juga masuk pesawat tanpa masalah yang berarti hanya mungkin anggota yang sudah tua saja dibantu diarahkan ke bangkunya oleh kru kabin. Saya sudah mulai memejamkan mata menunggu pesawat lepas landas, tapi ternyata masih ada masalah yang muncul. Kru kabin mengumumkan lewat pengeras suara bahwa penerbangan kami ditunda karena ada catatan imigrasi yang tidak sesuai dengan jumlah penumpang. Catatan paspor imigrasi kurang satu orang sehingga seluruh paspor penumpang harus diperiksa ulang. Selagi proses pemeriksaan penumoang tidak diperkenankan untuk turun, dan ada kemungkinan penerbangan siang itu itu bisa diundur atau dibatalkan apabila pemeriksaan ulang tidak sesuai. Sial! 

Kurang lebih empat puluh menit kru kabin pesawat dan tim administrasi dari maskapai penerbangan melakukan pemeriksaan, dan ternyata kesalahannya ada pada petugas imigrasi yang luput untuk menstempel paspor satu orang penumpang dari rombongan umroh. Sudah pegawai

imigrasinya datang telat, masih juga merepotkan penerbangan hari itu. Setelah semua beres baru akhirnya pesawat yang kami tumpangi lepas landas bersama iringan doa keselamatan yang dirapalkan oleh penumpang anggota rombongan umroh. Kuala Lumpur kami datang! 

BAGIAN 3

Tagged

#disaster records #hardcore punk #poison and spell #poison and spell tour 2025 #ciritical issues