X

Mirza Pahlevi Wardhana: Popkid Ulung Asal Tanjungsari

by Prabu Pramayougha / 2 years ago / 670 Views / 0 Comments /

“Di luhur we Prab, meh enakeun ngobrolna,” sahut Mirza ketika saya datang ke kantor tempat pemain bass unit post-punk partisan bernama Leipzig tersebut. Saya pun mengiyakan ajakannya dan kami pun duduk di sebuah ruangan kosong di kantornya yang kerap kali digunakan untuk sesi foto brand pakaian yang ia kerjakan sekarang.

Mirza dan saya telah mengenal satu sama lain lumayan cukup lama. Kami pun sempat intens nongkrong beberapa tahun ke belakang sebelum akhirnya dia hengkang untuk bekerja di tempat barunya kini. Salah satu aspek yang membuat saya dan Mirza lumayan klik di tongkrongan adalah luasnya referensi musik dan artistik yang ia miliki. Di ranah musik, Mirza pernah mempunggawai beberapa band seperti Sadford Lads Club, Soft Blood, Toy Tambourine, Graphic Latin, Ausklang, Mondial Express dan kini yang termutakhir, Leipzig. Hampir seluruh proyek musik yang ia prakarsai mendapatkan penerimaan yang baik dari kancah musiknya masing-masing – mengingat beberapa proyek musiknya memiliki nuansa musik yang berbeda-beda.

“Sebenernya referensi musik beragam itu awalnya mah emang karena tertarik sama indie myuzik dulu waktu masih tinggal di Tanjungsari,” jelas Mirza. Ia pun menambahkan, “Jadi waktu lagi SMP itu ada tukang majalah bekas emperan di Jatinangor, seberang toko Sabar Subur, jualan banyak majalah Ripple. Banyak edisi lama. Nah waktu itu teh urang tertarik sama cover sama visualnya”.

Dari majalah Ripple, Mirza mengaku bahwa ia menemukan banyak band dan visual-visual yang belum pernah ia dengar juga lihat sebelumnya. “Tapi yang paling bodor mah, dulu pertama kali nemuin Belle And Sebastian di Ripple juga. Karena penasaran sama musiknya, urang browsing lah di internet. Kebetulan saya teh ada privilege udah pake internet di rumah waktu itu. Waktu itu iseng nge-search lagu “Another Sunny Day”, eh yang muncul malah band Another Sunny Day yang indiepop. Ternyata enak juga lagunya dan malah akhirnya lebih suka sama musik yang kayak gitu sampai hari ini,” tukasnya sambil terkekeh.

Layaknya manusia-berketertarikan-musik yang mengalami era awal ledakan internet, Mirza pun mulai menggali lebih banyak referensi musik lewat berbagai platform. “Download MP3 gratisan mah udah jelas. Tapi yang beneran membantu pisan waktu itu mah Myspace dan Bandcamp era awal,” tuturnya. “Kayaknya hampir semua musik ‘aneh’ yang jadi referensi musik dan artistik saya teh emang hasil ulikan dari sana. Tapi jujur, Bandcamp yang lebih pol buat urusan musik mah. Kayak klik satu tag genre musik, muncul tah ribuan band dari seluruh dunia. Tinggal dikulik aja mana yang cocok,” tambahnya yang diselingi hembusan asap rokok dari mulutnya.

Arsip Leipzig

Tak lama dari penjelasannya itu, saya pun bertanya bagaimana rasanya mendapatkan referensi musik seaneh itu di umurnya yang terbilang belia dan berdomisili di Tanjungsari. Mirza pun tertawa mendengarkan celotehan pertanyaan saya dan menjawab: “Lumayan sedih sih karena enggak ada yang bisa diajak ngobrol soal musik. Tahun itu temen-temen lingkungan rumah masih mentok sama pop punk, emo atau rock ‘n roll. Tipikal musik pensi dan yang bisa diakses di TV aja.” Dia pun melanjutkan: “Tapi ya pada akhirnya mah saya mulai ngobrol sama temen-temen soal musik yang saya temuin. Ada yang cocok. Ada yang enggak. Akhirnya mah ya asyik sendiri aja.”

 

Nama Mirza sebelum tergabung dengan Leipzig memang lebih dikenal sebagai salah satu sosok signifikan di kancah indiepop lokal – lewat kiprahnya bersama Softblood dan Toy Tambourine. Kelakarnya akan menemukan Another Sunny Day di usia yang terbilang belia membuat saya tertawa di tengah perbincangan. Saya pun penasaran akan referensi musik ‘aneh’ apa lagi yang ia temukan di kala itu. “Ini geuleuh sih, bukan sombong atau gimana, tapi sebelum musik-musik jangly pop musim di sini di pertengahan 2010-an, urang teh udah sempet dengerin Beach Fossils atau DIIV di tahun 2010-an awal. Dulu sebelum kenal Mac Demarco juga udah dengerin duluan Makeout Videotape. Tapi kalau urang ngomongin referensi musik kayak gitu teh, kadang suka geuleuh sendiri. Kesannya paling bener aja,” ucapnya.

Mirza pun mengakui bahwa dia lebih aktif berkorespondensi dengan kawan-kawan indiepop di luar Bandung perihal kesamaan frekuensi dan juga referensi. “Awalnya emang lebih banyak ngobrol sama orang-orang Jakarta, kayak Daffa (Kolibri Rekords) dan Ratta (Bedchamber). Beberapa tahun kemudian baru mulai nongkrong sama temen-temen Hearing Goodness. Mungkin itu kali ya kenapa saya lebih identik dengan lingkup indiepop.” Saya pun iseng menanyakan kenapa dia lebih memilih berjejaring dengan orang luar Bandung. “Kebetulan aja we itu mah. Pas gaul di last.fm, kebanyakan yang super ternyata orang-orang luar kota,” ucapnya.

Ucapan Mirza tentu saja saya tampik mengingat pada kenyataannya referensi musiknya memang beragam dan masif. Saya pun iseng bertanya kepadanya perihal tendensinya yang kerap kali membentuk/menggarap proyek musik baru dan tidak melanjutkannya. “Bosenan urang teh. Jadi kadang karena terlalu banyak masuknya musik ke kuping teh suka pengen coba ini itu. Misal kayak waktu bikin Softblood, awalnya ya seru aja. Tapi lama-lama rasanya stagnan. Makanya urang respon pake musik yang ala Ausklang yang ritme lurus-lurus aja. Mondial (Express)  juga sama sebenernya. Itu cuma respon urang buat bikin musik baru yang di luar selera aja,” jawabnya.

Mendengar respon itu, saya pun langsung menanyakan perihal eksistensi Leipzig – apakah band yang baru saja merilis EP Garbage Disposal Communique (2022) itu hanya sebatas eksplorasi temporari saja. Dia pun menyanggah ucapan saya dan menukaskan, “Beda Leipzig mah. Geuleuh sih, tapi yang urang rasain di Leipzig teh orang-orang di dalemnya punya visi dan frekuensi yang sama. Mungkin itu yang bikin urang mengklaim kalau Leipzig adalah band utama urang sekarang dan bakal fokusin di situ.”

Mirza pun menambahkan, “Sebenernya Leipzig teh pengen urang seriusin karena dipikir-pikir semua band ata proyek musik yang urang bikin enggak ada yang gede atau terkenal haha! Kayaknya kalau sama Leipzig, ada dorongan ke situ lah sedikit. Makanya effort-nya juga lumayan all out urang di band itu.” Mendengar celotehannya tersebut, saya mengernyitkan dahi. Ternyata seorang Mirza yang paham betul akan etos dan menggemari Sarah Records segenap hatinya mempunyai pikiran untuk menjadi lebih ‘besar’ bersama band-nya kini. Saya pun mengutarakan pikiran saya tersebut dan Mirza pun langsung tertawa sembari merespon: “Ya kenapa enggak gitu? Urang mah pengen si Leipzig bisa jadi headliner di sebuah festival musik lah minimal. Enggak muluk kan?”

Lalu saya pun bertanya kembali padanya tentang keabsahan musik indiepop di hidupnya hari ini. Dia pun dengan entengnya menjawab, “Da akhirna mah ketika urang balik ke kosan, musik yang urang setel mah tetep indiepop. The Field Mice, Talulah Gosh, yang gitu-gitu lah. Deep inside mah, urang tetep popkid.”

Oleh Prabu Pramayougha

Tagged

#music #interview #leipzig #proportion #mirza

Leave a Reply