X

Mengenalkan Dynamic Duo Hardcore dari Banda Aceh, Neutral of Dope

by Ilham Fadhilah / 3 weeks ago / 118 Views / 0 Comments /

Mari berkenalan dengan Neutral of Dope – band hardcore asal Banda Aceh yang tak butuh pemain gitar.

Meskipun mungkin bukan hal yang aneh di kancah musik global, band hardcore dengan format tanpa gitar cukup jarang dijumpai di Indonesia. Walaupun kemunculan band hardcore saat ini terbilang sporadis bak maraknya coffee shop hadir di tiap sudut-sudut perkotaan, tentunya kehadiran unit semisal dengan format tak umum – didukung kualitas musik yang nggak kacangan – jadi salah satu penarik perhatian lebih. 

Kali ini, saya bermaksud mengenalkan salah satu unit hardcore punk anyar dari Banda Aceh, Neutral of Dope atau N.O.D. Mereka merupakan nama baru yang mulai menghembuskan nafasnya di akhir tahun 2022 dan satu tahun berselang mereka menelurkan satu EP utuh bertajuk self-titled yang bisa didengarkan di laman Bandcamp mereka (nodforthreat.bandcamp.com).

EP Neutral of Dope (2023)

Mengambil sejumput energi dari grup semacam Spy, Impalers, Gulch, SS Decontrol bahkan Fugazi, unit besutan duo Aden Naufal (bas/vokal) dan Farras Hidayatullah (drum) ini memainkan hardcore punk dengan format instrumen hanya bas dan drum yang punya intensitas energi tinggi serta nuansa sonik yang terlampau mentah. EP debutnya tersebut buat saya cukup memberikan suatu diferensiasi di tengah kebanyakan band hardcore yang muncul dengan style atau sound hampir serupa. 

Dengan pembeda format personil macam itu, saya pun lumayan penasaran untuk menggali lebih dalam persona mereka. Maka beberapa waktu lalu saya putuskan untuk mencoba menggapai mereka lewat DM Instagram dan bertanya akan beberapa hal seputar kekaryaan musik mereka. Selamat membaca!

Buat yang belum tau kalian, boleh dijabarkan nggak kalian ini siapa?

Thanks sebelumnya Consumed Magazine. Kami Neutral Of Dope atau N.O.D. Band dengan format dynamic duo (bass & drum) dari Banda Aceh.

Kenapa memilih format musik hardcore dengan dua instrumen saja? (bas/drum)

Sebenernya nggak ada alasan spesifik dan ini juga bisa dibilang nggak disengaja. Awalnya kami berdua ingin membuat band dengan format pada umumnya. Kebetulan agak lama untuk nemu tandeman yang seleranya sama. Pada akhirnya kami coba mulai langsung berdua aja.

Bagaimana ceritanya kalian berdua bertemu, memutuskan buat band, serta format musik hardcore semacam ini?

Jujur agak lucu, malah nggak ada niatan awal untuk ngebentuk band. Kebetulan aku (Farras/drum) waktu itu mau buat event dan (Aden/bas) itu muralis. Ketemu mau bahas kolaborasi di event itu. Ngobrolin musik dan ternyata satu selera dan coba-coba nge-jam bareng aja, sampe malah kejadian buat materi haha. Malah awalnya kami mau mainin musik yang garis besarnya ada di post-punk, tapi justru ketemunya malah di hardcore, hehe.

Ada tantangan tersendiri nggak ketika live dengan tanpa adanya instrumen gitar?

Mungkin lebih ke penyesuaian frekuensi karena cuma dua instrumen yang digunakan. Jadi, terkadang ada frekuensi yang kosong dan jadi peer kami untuk ngakalin itu.

Ada pengaruhnya nggak dari band kayak World Peace yang menginspirasi kalian buat bikin band dengan format demikian? Atau ada band lain yang kalian look up banget?

Ada, tapi justru kami tau World Peace belakangan. Malah sebelumnya juga kami sempat kebingungan untuk referensi dengan format yang sama. Akhirnya kami coba mencari referensi yang cocok dengan musiknya aja. Kami justru banyak terpengaruh dan dengerin band-band yang full instrument seperti Spy, Faze, SS Decontrol, Russian Circles sampai Fugazi.

Dengan lahirnya band hardcore berformat nggak umum macam kalian ini, bagaimana respon khalayak hardcore sejauh ini? Khusunya di kota kalian.

Sejauh ini kita dapat respon positif dari teman-teman di komunitas. Dari respon itu kami berharap bakal lebih banyak lagi band-band yang berani untuk bereksperimen atau keluar membuat terobosan terbaru layaknya yang dilakukan kayak nama-nama macam Turnstile atau Zulu di luar sana. 

Bicara soal EP debut kalian, apa yang sebenarnya ingin kalian sampaikan di sana?

Sebenarnya tidak ada pesan khusus yang ingin kami sampaikan di EP ini. Kami hanya menceritakan hal-hal yang meresahkan menurut kami dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal tersebut coba kami bungkus dan luapkan dengan gambaran keadaan di ruang moshpit.

Apa hal menjengkelkan yang kalian temuin di ranah hardcore? Dan apa hal yang kalian suka dari ranah hardcore?

Hal yang menjengkelkan mungkin ada beberapa elemen di ruang lingkup kami yang banyak berbicara tentang bermain musik itu harus begini dan begitu, yang terkesan seperti mengotak-ngotakkan. Kami coba menepis stigma itu, dengan bermain musik secara lepas. 

Tanpa bisa dipungkiri juga kalau skena musik di Aceh lebih cenderung dengan metal-oriented. Alangkah lebih menyenangkan mungkin jika kita bisa menikmati musik yang lebih beragam. Baik itu dark-hardcore, noise, powerviolence, dll misal. 

Yang kami senang justru suasana pertemanan dan keluarga dalam skena hardcore itu sendiri. Beruntungnya belakangan ini sudah mulai tumbuh band-band baru yang tidak terpaku dengan stigma yang kami paparkan sebelumnya.

Apa yang sedang kalian siapkan ke depan pasca rilisnya album ini?

Untuk sekarang kami coba untuk lebih konsisten dan tetap bermain di beberapa gigs. Kami juga sedang menyiapkan release party dari EP kemarin bareng temen-temen komunitas. Ada juga beberapa obrolan rencana tur di luar kota yang kemungkinan bakal kita lakuin di beberapa bulan ke depan.

Sebutin alasan kenapa orang harus dengerin rilisan/nonton live kalian!

“Karena sesungguhnya orang-orang yang merugi tidak melihat penampilan kami.” – al NOD 100:131


Dengarkan EP Neutral of Dope di sini!

Tagged

#hardcore #interview #punk #aceh #neutral of dope