X

TRACK TALK: Wicigo Shawty – MR BANYAK SWAG (PreachJa, 2025)

by Freykarensa Ersaddy / 8 months ago / 804 Views / 0 Comments /

Album sophomore dari serpihan PORIS, Wicigo Shawty bawa attitude sompral yang sama, menarik di beberapa titik namun tak luput dari cacat.


Memasuki album kedua, tantangannya jelas berbeda. Jika debut sering menjadi ajang pembuktian identitas, album lanjutan justru menuntut keberanian untuk melawan tekanan dari bayang-bayang album pertama. Wicigo Shawty mengambil risiko itu. Lewat album MR. BANYAK SWAG, ia tidak lagi bertumpu pada estetika emo-rap yang sebelumnya melekat, melainkan menghadirkan spektrum karakter yang lebih luas. Dua puluh lagu dilepas sekaligus dalam satu tarikan napas, seolah menjadi pernyataan tegas bahwa fase barunya tidak datang setengah-setengah. Album ini dirilis di bawah Preachja, label asal Jakarta Selatan yang konsisten merawat ekosistem hip hop dengan pendekatan agresif dan dinamis. 

Jumlah dua puluh lagu jelas bukan pilihan aman untuk album kedua. Saat banyak rapper memilih merapikan formula agar lebih fokus, Wicigo justru membiarkan dirinya bergerak liar. Ia memamerkan spektrum identitas yang terbentuk dari lingkar Poris, kolektif yang dikenal dengan energi cuek, produktivitas cepat, dan sikap anak kampung lifestyle rockstar-nya. Kepercayaan diri merupakan modal utamanya, bukan hanya dalam pilihan sound yang makin menjauh dari sebelumnya, tetapi juga dalam sikap cuek Wicigo terhadap aturan dan ekspektasi apa pun yang biasa mengekang album kedua.

Deretan kolaborator yang hadir juga memperjelas bagaimana Wicigo membangun proyek ini sebagai kerja lintas circle yang solid. Ada Abim si ‘dewa Jaksel’, Gard perwakilan dari Malaysia, serta para personel Poris sendiri: Db Mandala, Azuraa, Obyrins, dan Gace. Mereka hadir sebagai bagian dari dinamika yang membentuk karakter album. Kolaborasi ini terasa organik karena semuanya berada dalam gelombang musik yang serupa, rap dengan estetika raw, digital, dan penuh humor internal.

Dari keseluruhan album, ada sejumlah trek yang membetot perhatian sejak awal, diantaranya “URUSAN GA PENTING”. Flow dan melodinya menyala meski sedikit pemanasan. Hook yang mengulang kalimat “Gak usah sok tau soal gua” terasa seperti potret paling ringkas dari persona Wicigo. ia marah sedikit, santai sedikit. Energinya muncul tanpa hiasan, seolah ia ingin memastikan pendengar paham bahwa ini album yang lahir tanpa ragu sedikitpun.

“ITU GUA” lalu muncul sebagai semacam pilar identitas. Ada bar yang langsung mencuri perhatian, “Pakai aja gua punya flow, pakai aja gua punya cara, pakai aja gua punya gaya, pakai aja baju yang sama, lo tetep bukan gua”. Ini semacam deklarasi bahwa Wicigo paham betul posisinya di lanskap hiphop lokal. Ia tidak menutup diri dari pengaruh luar, namun tidak memberi ruang bagi siapapun untuk meminimalkan keunikan gaya rap dan persona yang sudah ia bangun sejak awal. Ada sikap tidak ambil pusing yang memang menjadi kekuatan Poris sejak kemunculan mereka, dan Wicigo menempatkannya sebagai bagian penting dari album.

Dan yang paling menonjol adalah “ROCKSTARRR” bersama Abim. Kehadiran Abim hampir selalu mengubah dinamika lagu menjadi lebih teatrikal. Di ranah hiphop saat ini, nama seperti Obyrins, Bhanz, atau Riski Inrahim sudah merasakan hal yang sama. Ketika Abim masuk, ada aura besar yang tiba-tiba memenuhi ruang. Ia membawa ego rockstar yang sengaja ia pelihara. Di sini, ia melempar satu bar yang terdengar jenaka sekaligus ikonik,

“Rockstar masa depan gak main gitar, rockstar masa depan pake bling-bling”. – ROCKSTARRR

Ada lapisan komentar pop culture yang menarik di sana, karena kalimat ini mengingatkan pada pergeseran yang dulu diungkapkan Kanye West. Rockstar modern adalah rapper, bukan gitaris dengan ampli raksasa. Wicigo memfasilitasi momen itu dengan cukup cerdas, memberi ruang bagi Abim untuk mencuri sorotan tanpa membuat lagunya tenggelam.

“BANYAK SMOKE”, single yang muncul lebih dulu, bekerja seperti penanda arah album ini. Pilihan tepat, karena trek ini merangkum warna musik Wicigo, mulai dari beat yang padat sampai cara ia memainkan repetisi. Lagu ini berfungsi sebagai pengantar yang memberi gambaran bahwa album ini tidak ingin terdengar rumit, tetapi ingin membuat pendengar berada dalam suasana tertentu sejak lagu pertama.

Lalu di tengah album, ada “BANDUNG LAUTAN OMBAK” bersama Db Mandala yang menangkap energi panggung Poris dengan sangat hidup. Sudah beberapa kali mereka tampil di Bandung dan selalu ada cerita tentang crowd yang menyambut mereka seperti ombak pasang di lautan lepas. Lagu ini merangkum keriuhan itu dengan jelas. Beat keos buatan Vhanz memberi dorongan yang membuatnya terasa seperti dokumentasi momen panggung yang keotik. Rasanya tidak sulit membayangkan lagu ini meledak jika dibawakan di depan penonton kota Bandung yang penuh adrenalin.

Namun ada satu momen yang justru stand out karena ketenangannya. “BERSYUKUR” menjadi jadi yang menyentuh hati. Setelah beberapa lagu yang memuja gaya hidup rockstar dan ego sebesar gedung pencakar langit, Wicigo tiba tiba menurunkan intensitas dan memberi ruang bagi rasa syukur. Mood-nya mengingatkan saya pada intro “Die Lit” milik Playboi Carti, sama-sama punya aura rap yang melayang seperti doa tetapi tetap dibalut dengan flex yang keren. Kalimat “Makasih Tuhan gua bilang brodie” mungkin terdengar sederhana, tetapi justru menjadi bar paling keras sepanjang album buat saya pribadi. Ada semacam kejujuran spiritual yang dibentuk dengan estetika swag, inilah yang membuatnya terasa memukul lebih dalam. Konteksnya penting, karena track ini menunjukkan bahwa di balik persona liar dan bercanda internal, Wicigo masih terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Selain itu ada “SIANG MALAM” yang menyisipkan sample “Online” milik Saykoji. Pilihan ini menarik karena Saykoji adalah salah satu figur yang membentuk gelombang awal hiphop internet Indonesia. Mengambil sample dari musisi yang pernah membuka jalan bagi generasi digital adalah gestur yang sederhana tetapi signifikan. Tidak banyak rapper new wave yang berani merapatkan jarak antara era MySpace dan TikTok, sehingga keputusan ini terasa seperti bentuk penghormatan kecil yang menyenangkan.

Di samping segala kekuatannya, beberapa poin minus masih terdeteksi. Kuantitas jadi hal yang paling jelas. Dua puluh trek terlalu banyak untuk debut yang seharusnya tampil padat dan fokus. Ada beberapa momen ketika kualitas tidak merata sehingga lagu tertentu lewat begitu saja tanpa meninggalkan kesan.

Masalah lain terletak pada repetisi frasa. Wicigo memang dikenal dengan penggunaan kata-kata seperti “melorot” atau “berat” dalam liriknya atau hanya sekadar ad-lib. Kata-kata tersebut memang keren dan ikonik, namun jika keseringan muncul justru meredam efeknya. Alih-alih tampil swaggy, saya malah cepat dilanda bosan.

Itu juga mengingatkan saya akan statement Abim di salah satu konten YouTube Onar circa 2017-2018. Perumpaan yang tepat keluar dari moncong abang-abangannya, tujuh atau delapan tahun yang lalu. Dalam video tersebut beliau berceloteh:

“Gue suka makan sushi, tapi kalau setiap hari gue disuguhin sushi, lama-kelamaan gue bakal bosan juga.”

Tepat sasaran. Satu catatan penting lagi yaitu di “TOPI MIRING GUCCI”. Ada lirik “ngomongin di belakang kayak banci” yang punya kesan queerphobic. Penggunaan kata “banci” dengan konotasi negatif rasanya tidak lagi relevan sekarang, terlebih dalam skena yang secara perlahan sedang bergerak ke arah yang baik menuju inklusivitas yang lebih luas. Rap tetap punya ruang untuk provokasi, tetapi tetap ada batas yang menurut saya tidak bisa diabaikan.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, MR. BANYAK SWAG tetap terasa sebagai langkah penting bagi Wicigo. Album ini memiliki banyak momen yang segar dan berani. Energi Poris yang sedang naik juga tentunya membantu mendorong jenis musik ini ke ruang-ruang yang sebelumnya sulit ditembus. Dengan viralitas yang terus muncul, ada potensi besar bagi kolektif ini untuk bergerak ke panggung yang lebih luas di tahun depan. Jika Wicigo terus mempertajam narasi dan lebih cermat dalam memilih langkah kedepannya, ia bisa berkembang menjadi salah satu figur penting dalam gelombang musik Indonesia generasi baru.

Untuk sekarang, album ini sudah menjadi potret lengkap dari seorang rapper muda yang tidak takut menampilkan semuanya sekaligus. Pilihan berani yang membuat album ini layak buat disebut menarik.

Tagged

#ichigo shawty #opium #mr banyak swag #poris