Lilitan Resonansi yang Selalu Memercik: Catatan Ringkas Tahun 2025

Sebuah catatan singkat yang lumayan personal di tahun ular kali ini. Most likely ngedumel kemuakan, stagnasi, merefleksi kelayapan dan of course.. myuzik.
Tahun 2025 akan menyusur menuju garis finis dengan langkah terseok-seok namun memaksa. Negara tampak seperti orang dewasa yang gagal mengelola emosinya sendiri. Sila tengok saja; kebijakan berubah tanpa arah jelas, ekonomi makin tipis di kantong banyak orang dan keadilan terdengar seperti istilah mahal yang lebih sering hidup di seminar ketimbang di kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, pembungkaman a la fasis, kekerasan dan konflik horizontal terus bermunculan dengan wajah baru—kadang terang-terangan, lalu dibungkus prosedur—hingga makin sulit membedakan mana kegagalan sistemik dan mana kebusukan yang sengaja dipelihara. Babik!
Beberapa bulan terakhir terlalu penuh dengan kabar memilukan. Kekuasaan terasa semakin budeg bukan main, respons lamban, empati selektif dan keberpihakan sering kali jatuh ke arah yang paling kuat, bukan yang paling terluka. Linimasa ribut, kepala penuh hampir meledak dan banyak orang akhirnya terjebak pada dua pilihan yang sama-sama melelahkan. Berteriak tanpa arah atau diam sambil menahan geram.
Di tengah kondisi seperti itu, tentu saja musik tetap bertelur. Bukan sebagai pahlawan, bukan pula sebagai pelarian romantis yang menjanjikan keselamatan. Rilisan tetap hadir lewat jalur-jalur yang teramat minim. Ratusan bahkan ribuan lagu yang dilepas tanpa harus mengandalkan pengumuman besar, EP yang muncul diam-diam, album yang mungkin hanya beredar di lingkaran terbatas. Bunyi-bunyi ini tidak datang untuk membenahi negara, tetapi juga tidak sepenuhnya menutup mata dari kenyataan. Hari ini, acapkali si musik-musik ini apapun itu spektrumnya berdampingan dengan kabar buruk, notifikasi cepat ina inu dan rasa cemas kolektif yang terus berulang tanpa merasa perlu berpura-pura netral.
Sepanjang tahun ini, rilisan musik di kancah lokal terasa seperti hujan rintik yang jatuh tidak serempak. Sebagian cepat menguap di algoritma, sebagian lain justru menempel lama di ingatan banyak orang karena keberanian produksi dan sikap yang tidak kompromistis. Ada band dan solois yang terdengar nyebrang, bahkan sinting—baik secara konsep, lirik, maupun cara mempresentasikan diri—dan justru di situ letak kekuatannya. Bukan karena keinginan tampil beda demi beda, melainkan karena sudah terlalu muak untuk terdengar rapi dan patuh di tengah sistem yang gemar menuntut kepatuhan tanpa tanggung jawab. Indon pisan ini!
Namun ruang musik, seperti ruang hidup lain, tidak steril dari kebusukan dunia luar. Kasus pelecehan, kekerasan, adu kuasa dan konflik kepentingan menyelinap ke gigs, ke backstage, (even though) ke festival mega, ke obrolan yang sebelumnya dianggap aman. Ribut-ribut di scene hardcore, pergulatan violence dance menyasar crowd-killing, midwest emo is dead bla bla bla serta perdebatan tentang batas antara ekspresi dan kekerasan kembali membuka fakta lama bahwasanya genre kencang tidak otomatis melahirkan kedewasaan. Yang dipertaruhkan bukan seberapa ekstrem bunyi, melainkan seberapa jauh manusia di dalamnya mau bertanggung jawab atas tubuh, ruang dan sesama.
Secara gamblang, musik juga tidak bisa menghindar dari sikap dan keberpihakan. Solidaritas terhadap Palestina, isu sosial dan political stance tertentu muncul di pelbagai panggung dan rilisan—entah itu lantang menggenggam, kadang ada setengah hati. Bahkan tidak sedikit untuk memutuskan diam tetap merupakan keputusan politis. Resonansi tidak harus lahir dari ruang hampa. Setiap lagu membawa konteks dan si gelo 2025 ini terlalu gaduh, terlalu ‘berdarah’ dan terlanjur jujur untuk diabaikan begitu saja.
Sementara itu, teknologi terus memaksa ritme yang makin tidak manusiawi. Festival dan pertunjukan musik bermunculan di berbagai kota, berjalan beriringan dengan potongan video 30-60an detik di laman TikTok, perdebatan singkat namun kusir binti tidak jelas di X dan logika kecepatan yang mengubah pengalaman mendengar menjadi soal angka, jangkauan dan retensi. Seperti kita tahu musik dipaksa menjadi konten musisi dipaksa menjadi pengelola akun, nge-vlog receh dan pendengar perlahan kehilangan waktu untuk benar-benar tenggelam. Banyak lagu berhenti di hook, kemudian mengorbankan potongan paling ‘menjual’, lantas dilupakan sebelum sempat diberi ruang bernapas. Ah, come on!
Di tengah rasa eneg kolektif itu, rilisan fisik justru bertahan dengan cara yang nyaris menantang logika. Kaset, CD dan piringan hitam diproduksi bukan karena efisiensi, melainkan karena kebutuhan memberi bobot. Proses membeli, membuka, menyimpan dan memutar menjadi gestur kecil untuk memperlambat dunia yang keburu tergesa-gesa. Alih-alih merayakan nostalgia kosong, malah upaya demi mempertahankan pengalaman mendengar sebagai sesuatu yang intim, personal dan tentu bernilai—sebuah sikap penolakan halus terhadap dunia yang terlalu cepat menggerogoti segalanya.
Lalu, kehadiran demit kecerdasan artifisial ikut masuk ke obrolan tangkringan (jelas banget lagi). Mesin kini sudah bisa menulis rapi, merekomendasikan apapun dan menganalisis musik dengan kecepatan yang mencengangkan. Sebagian orang merasa terancam, sebagian lain ada pula yang antusias dan tidak sedikit yang memilih bersikap sinis. “Apa sih?”
Namun sejauh apa pun teknologi melesat bak apollo, masih ada celah yang tidak bisa disimulasikan sepenuhnya: pengalaman being human yang super berantakan. Seperti do the mosh hard di sebuah gig death metal maupun hardcore punk, kesengsem mengetahui keberadaan eksponen segar seperti Tamaak, Morvoid, Waffle, Spitrage, Flyzad, Morbius atau Guu dan Daily Breeze karena kantung kancah tiap penjuru yang terus menerus merekah, merasakan kegagalan yang tidak terukur oleh grafik dan secuil kebahagiaan absurd ketika satu lagu akhirnya menemukan pendengarnya seperti fenomena Kalé atau Alkateri belakangan. Ya, semua itu lahir dari tubuh, bukan dari server.
Optimisme, jika ada, tidak datang sebagai janji besar. Optimisme muncul sebagai ketahanan. Band dan kolektif kecil tetap bergerak meski tahu tidak akan dikenal luas alias viral. Rilisan dilepas meski sadar angka streaming plays tidak akan menyelamatkan hidup. Gigs akan tetap digelar either itu di sebelah bak sampah atau di toko sandang feat selektor slash disjoki, toko buku indie juga di garasi bau pesing, sesi live sederhana pun tetap direkam biar menciptakan arsip untuk kemudian hari, kanal-kanal pertemanan yang niche juga tetap dijaga. Para fans musik masih membeli rilisan fisik, beli merchandise, lalu datang ke pertunjukannya meski skalanya mini, dan memilih mendengar utuh—bukan karena romantisme, melainkan karena kebutuhan menjaga kewarasan.
Negara boleh terus tolol. Sistem boleh terus cacat. Para bajingan di gedung Dewan Perwakilan Rakyat boleh terus memperkosa ruang hidup kita. Namun selama masih ada orang yang menulis lagu, memukul drum, menyanyi sumeng, mencetak kaset, menulis buku atau zine, menangkap momen dengan kamera, membangun otonomi mandiri, bersuara lantang akan keadilan, bersolidaritas guna rangkul kanan-kiri dan datang ke show kecil tanpa janji apa-apa selain kebersamaan, api itu tidak pernah benar-benar padam. Di tahun yang brengsek ini, bunyi-bunyi tersebut menjadi pengingat sederhana: kita mungkin terus dilindas, tapi belum sepenuhnya kalah. Dance tonight, revolution tomorrow!
Rest in peace Ricky Siahaan, Erwin Elora, Affan Kurniawan, Moegmoeg. Sir Dikie dan semua teman-teman yang berpulang. We already missed you guys!
Tentunya, bebaskan para tahanan politik! All eyes on Aceh, Papua, Sukahaji, Pakel etc. May the force be with you! Free Palestine!
1 3 1 2!