X

Kaleidoskop (Personal) Momen Musik 2023

by webadmin / 2 months ago / 187 Views / 0 Comments /

Rangkuman personal redaksi kami dalam melihat momentum-momentum berkesan di tahun 2023 dalam kancah musik lokal.


Apa yang membedakan tahun 2023 dengan tahun-tahun yang lain? Tentunya setiap orang punya momen berkesan dan persepsinya masing-masing akan apa yang terjadi di dalam hidup mereka selama tahun ini. Kami pun serupa. Ada beberapa momen personal – terutama di ranah musik – yang rasanya akan memberikan tahun 2023 lebih sedikit bermakna dibanding tahun-tahun lainnya. Yaaa, karena ini hanya sekedar kaleidoskop personal, kami tentu tak akan terlalu banyak pikir akan beberapa momen yang kamu anggap tak termasukan ke sini. Namanya juga personal.

Berikut beberapa momen di tahun 2023 yang lumayan menorehkan memori di benak tim redaksi kami.


Ilham Fadhilah

  • Acara musik gagal

Entah memang sering terjadi di tahun-tahun sebelumnya atau tidak, namun saya rasa tahun ini cukup banyak acara musik yang gagal, entah ‘rusak’ di tengah jalan maupun tak sempat terselenggara sama sekali meskipun sudah mengeluarkan announce harga tiket, venue, bahkan line-up

Setidaknya beberapa acara ini jadi highlight kami; Punkspark yang dikabarkan bakal menghadirkan Totalfat pada Maret lalu mesti diundur. Summer Lime Festival yang sudah mengumumkan line-up utama Integrity juga urung terjadi. Hingga yang ultra bikin heran, Greenlane Festival yang dana 1,5 M-nya ludes dipakai penyelenggara buat minum-minum, pijet plus-plus, hingga judi online. What a shame.

Untungnya, saya tak peduli dengan urungnya konser The 1975 dan Morrissey, namun konser Bring Me The Horizon yang sekian lagu dalam set-nya gagal disaksikan para pengunjung saat itu masih layak masuk recap ‘kegagalan’ acara musik tahun ini. Selain itu harusnya jadi salah satu konser termasif tahun ini, acaranya juga ditangani oleh Ravel Entertainment, penyelenggara yang bisa dibilang sering ‘sompral’ soal bikin acara musik skala besar di berbagai interview. Di luar ke-katrok-an penonton yang rusuh malam itu, konser itu tetap bikin malu sejak set Oliver Sykes dkk. terhenti.

  • Satu hari satu masalah (genre)

Berangkat ke lingkup yang lebih kecil – atau orang sekarang lebih mudah paham dengan istilah ‘skena’ – beberapa bulan terakhir, kancah X dipadati kabar polah para pelaku musik arus pinggir yang tidak menyenangkan. Mulai dari kekerasan terhadap pasangan, revenge porn, penggelapan royalti dan lain sebagainya. Setidaknya tiga nama dari tiga genre berbeda jadi pihak yang bermasalah di sini.

Mulai dari shoegaze, hardcore hingga hiphop, ketiga genre ini apes masuk template meme bulan-bulanan warga X. Rantai ini dimulai oleh Cal dengan ragam problemnya dalam urusan uang dan (yang paling hina) kekerasan pada pasangan. Disusul vokalis band hardcore Surabaya (yang saya sendiri tak tahu apa namanya) soal revenge porn, hingga yang terakhir kasus rumit ala perceraian selebriti yang dialami Rand Slam soal carut marut romansanya hingga ketimpangan pembagian royalti. Entah, tuduhannya sudah tak terarah. Ah saya lupa menyebut satu genre lagi, anomali black metal pakai Dickies dan Vans. Hal yang bikin mengernyitkan dahi sambil berpikir “Zaman sekarang masih ada ya pola pikir kayak gitu?”.

  • Consumed Magazine merilis edisi debutnya


Kesampingkan dua kabar buruk barusan, kali ini saatnya kita (sedikit) merayakan kembalinya media cetak yang sudah lama mati suri. Consumed Magazine akhirnya merilis edisi perdananya di tahun ini, tepatnya di awal bulan September ini. Dengan merangkum fenomena tentang konsumsi musik secara general, namun tentunya dalam kacamata pelaku/penikmat musik arus pinggir – karena tak satupun dari kami bersinggungan langsung di industri musik arus utama.

Menghadirkan majalah dengan 116 halaman yang bakal memuat beberapa butir essay panjang soal isu konsumsi musik, ulasan, interview hingga rekomendasi film, tempat makan, dll. Bukan bermaksud bias karena saya sendiri salah satu penulisnya, namun bisa jadi movement sederhana (dengan biaya yang tidak sederhana) ini adalah pembuka tahun-tahun cerah ke depannya untuk produk bacaan seperti majalah. Maka dari itu, diberkatilah tahun 2023.

Sendhi Anshari Rasyid

  • New Jeans Effect

Tak berlebihan rasanya untuk mengatakan kalau 2023 ini sebagai tahunnya New Jeans. Kuintet idolgroup tersebut berhasil membuat impact besar terhadap banyak hal. Beberapa di antaranya seperti kembali mempopulerkan estetika fesyen Y2K, penggunaan filter halftone ala cover album mereka, hingga – yang paling menarik perhatian saya adalah – menarik para hardcore kids untuk memalingkan kupingnya dari kebiasaan dan meng-embrace sisi lembut nan menggemaskan yang mereka miliki. Tak terhitung banyaknya teman seperskenaan yang seakan tak ada habisnya memuja-muji segala kekaryaan New Jeans pada sosial medianya. Meskipun entah hanya berapa persen di antaranya berakhir terjun sebagai full-time k-popers dan mengoleksi segala berhalanya. Sedangkan selebihnya sebenarnya (mungkin) hanya FOMO dan latah pada tren semata.

Tapi satu hal yang pasti, kini mendengarkan k-pop sudah menjadi sesuatu yang tabu ‘tuk diakui lagi. Membuktikan kalau stigma negatif terhadap pendengar dan pelakunya yang sempat dirasakan sekian tahun lalu kini sudah perlahan memudar di kalangan pendengar musik umum. Sudah tak ada lagi (atau setidaknya hanya minoritas) yang berpikir kalau penggemar K-Pop dinilai alay dan terlalu obsessed terhadap idolanya, ataupun para idol dianggap tak berbakat dalam musik karena dianggap cuma modal visual yang menarik saja. Justru sebaliknya, kini mendengarkan K-Pop – khususnya New Jeans – mungkin dianggap sebagai salah satu indikator ‘kekerenan’ seseorang atau setidaknya jadi salah satu topik ampuh untuk mencairkan suasana dalam sebuah pembicaraan.

Jadi, sudahkah kamu mendengarkan Super Shy hari ini?

  • Barefood’s Last Dance

Jika ada momen yang paling memorable bagi para penikmat musik arus pinggir tanah air di tahun ini, maka last show Barefood saya yakin jadi salah satu di antaranya. Absen dari peredaran panggung selama kurang lebih empat tahun, duo Mamet-Ditto tersebut muncul secara tetiba dengan mengumumkan panggung terakhirnya bertajuk Left Untold: A Final Performance by Barefood. Seketika menimbulkan mixed feelings bagi para penggemarnya, termasuk saya sendiri yang menjadikan lelagu Barefood sebagai soundtrack harian semasa kuliah dulu.

Terbentuk sejak 2009, Barefood telah meninggalkan legacy dalam bentuk kekaryaan dan juga pergerakan. Rasanya tak akan ada wacana 90s alternative revival di awal/pertengahan tahun 2010an jika Sullen EP tak dirilis pada era itu. Sebuah pergerakan yang bahkan masih terasa denyutnya hingga saat ini. Maka, sebuah dosa besar rasanya jika di kemudian hari tak ada sebuah album ataupun helatan yang secara khusus dipersembahkan untuk mereka.

Tak peduli apakah kamu pendengar yang memulai perkenalannya pada era Milkbox, era Sullen, atau bahkan sejak Demo pertamanya keluar, eksistensi Barefood akan selalu jadi memori kolektif yang menyenangkan untuk dikenang. Baik di saat masih aktif berkarya, ataupun pada momen kepergiannya. Semuanya terasa manis dan berkesan.

Thank you for always being there for me us through the thick and thin. And don’t worry, cause we will (always) be there for you too. Barefood forever.

  • Jepang sebagai destinasi tur favorit baru

Menjalankan tur merupakan salah satu rukun wajib yang harus ditunaikan oleh sebuah band, tak terkecuali untuk band lokal. Jika dihitung sejak awal tahun, entah ada puluhan atau bahkan lebih flyer promo tur yang hilir-mudik pada sosial media. Sesuatu yang sudah biasa dijalankan dan tak begitu istimewa sebenarnya. Tapi ada sedikit yang berbeda – atau peningkatan (?) – dalam menjalankan ibadah tersebut di tahun ini, yaitu memilih Jepang sebagai salah satu destinasi utamanya.

Entah karena dirasa sirkuit lokal sudah terlalu khatam dijalani atau sirkuit SEA sudah dirasa terlalu biasa, tahun ini cukup banyak band lokal dari berbagai ranah yang menjalankan agenda jelajah skena ke negeri sakura tersebut. Sebut saja beberapa di antaranya adalah Saturday Night Karaoke, ZIP, Kuntari, Masakre, Grrl Gang, hingga Shaggy Dog. Kalau boleh sok tau dari perspektif pribadi sih, alasannya mungkin karena Jepang dianggap sebagai salah satu negara yang dijadikan barometer musik di region Asia. Sehingga pengalaman dan koneksi yang dihasilkan di sana, akan jadi modal berharga untuk menginvasi skena musik di region lain. Atau ada alasan lainnya, entahlah.

Satu hal yang pasti, saya harap para band tersebut bisa memanfaatkan kunjungannya dengan baik untuk berjejaring. Bukan hanya sekedar untuk hunting foto agar feeds Instagram band-nya terlihat (((aesthetics))) tanpa ada tindak lanjut setelahnya. Sehingga akan semakin banyak band-band Jepang yang berkunjung ke Indonesia pada beberapa tahun ke depan. Semoga.

Prabu Pramayougha

Hardcore/punk (import) di (hampir) setiap akhir pekan

Tahun 2023 sepertinya seakan menjawab pertanyaan saya kepada diri sendiri yang muncul satu dekade lalu. Kala itu saya berpikir kira-kira kapan Indonesia akan menjadi salah satu destinasi tur bagi band-band punk rock atau hardcore punk internasional – ternyata jawabannya baru saya dapatkan di tahun ini.

Dan ya, saya rasa kini Indonesia sudah masuk menjadi negara yang pasti akan dikunjungi tur oleh band-band luar negeri – meski dari tahun ke tahun sebetulnya selalu ada band luar negeri bermain di sini dengan skala beragam. Namun saya rasa intensitas kedatangan band-band luar negeri ke sini di tahun ini lumayan dahsyat. Hampir setiap bulan ada band luar negeri yang tur ke sini – dan lucunya, rata-rata dari band-band yang datang ke sini memang punya pamor yang bagus juga.

Momen ini menjadi salah satu yang berkesan bagi saya pribadi karena akhirnya kini Indonesia punya kesempatan yang lebih besar untuk menjadi bagian nyata dari kancah hardcore punk secara realistis. Dalam artian, ketika band-band luar negeri yang sempat bermain di sini akan merasakan pengalaman, interaksi dan intensitas yang mungkin belum pernah mereka temui di negara lain – dan kelak pengalaman itu akan memulai riak cerita mereka kepada kawan-kawannya tentang bagaimana menariknya scene hardcore punk di negeri ini secara lebih nyata.

The new shape of punk to come

Silahkan nyinyir karena saya dengan seenaknya menggunakan referensi dari Refused untuk menjelaskan fenomena yang lumayan mendapatkan mixed reaction di scene arus pinggir mau pun di beberapa tongkrongan sporadik yang berarsiran dengan arus pinggirnya sendiri. Tapi so fucking what, hal ini benar-benar terjadi (lagi) di tahun ini.

Tahun lalu mungkin ada The Jansen yang membombardir selera musik pendengar normies dan juga mayoritas anak-anak sekolah tanggung yang sempat krisis identitas untuk memilih jadi anggota geng motor atau anak skena. Kini saya akan lemparkan tiga nama band yang mewakili punk lebih absah di arus pinggir: Leipzig, Dongker dan Lips!!

Terserah mau sepakat atau tidak. Tapi reputasi dan jadwal panggung mereka tak bisa membohongi mata juga kupingmu yang kamu lem supaya berlagak gila dan tak pernah sadar bahwa fenomena ini benar-benar terjadi di tahun 2023. Sepertinya punk rock (dalam format dan latar demografis apa pun) benar-benar akan kembali menjadi ancaman konkret untuk para normies di luar sana di tahun depan. Waspadalah.

Diskusi musik yang makin luas dan liar

Momen ini bak menjadi tamparan berulang bagi kami yang konon bekerja untuk sebuah ‘media musik’. Tentu kamu ingat momen ketika seorang warganet-sekaligus-kritikus-musik-lepas di Twitter yang mempertanyakan nalar para penikmat juga penggiat musik lokal berkat ulasannya akan sebuah karya dari Reality Club yang komprehensif nan penuh akan reference-dropping?

Berkat kejadian itu, banyak warga-musik-net yang akhirnya mempertanyakan kembali akan relevansi dari sebuah ulasan musik – apa memang betul dibutuhkan guna memberikan alternatif sudut pandang akan sebuah karya musik dan bisa dijadikan sebagai penyetir selera? Atau pada akhirnya ulasan musik menjadi tak terlalu penting karena pada akhirnya semua dinilai terlalu personal. Tentu semua itu tak bisa saya jawab karena kembali lagi semua akan kembali ke pemahaman personal haha! Ya ya sebuah solusi pemalas.

Tapi jujur, momen tersebut seakan menjadi wake up call nyata bagi saya yang memang sehari-hari bekerja di bidang ini – bahwasanya kegiatan menulis (dan mempublikasikannya) memang bukan hal yang main-main. Saya pun jadi terpacu untuk tetap menjaga integritas tulisan saya tanpa harus membabi buta atas nama kejujuran dan solidifikasi opini guna mencekoki para pembaca untuk yakin akan manifesto yang saya tulis. Karena saya sendiri menjadi semakin yakin akan pendirian saya bertahun-tahun ini selama bekerja di bidang tekstual ini: apa pun yang kita publikasikan, semua orang berhak untuk mengetahui dan memahaminya tanpa harus merasa kebingungan akan ketidakpahaman konteks.

Tagged

#kaleidoskop 2023 #2023