TRACK TALK: WAFAQ – Di Bawah Langit, Pusara Masa Kecil (Self Released, 2026)

Jika hardcore punk dipenuhi fungsinya sebagai monumen sonikal betapa bejat dan lacurnya penindas terekam gamblang, maka rilisan ini adalah wujudnya.
Saya sudah sangat percaya pada WAFAQ sejak awal kemunculannya. Di Bawah Langit, Pusara Masa Kecil bukan EP yang bisa kalian putar sambil santai memasak menggunakan alat masak mahal sambil bikin video soal mindfulness seperti Maudy Ayunda. Taik! Ini enam trek hardcore punk untuk menghadapi sesuatu yang selama ini terlalu mudah direduksi jadi angka statistik di headline berita yang lewat begitu saja di linimasa sebelum kalian scroll ke video-video kucing atau orang sedang melucu berikutnya. Anjing. Tidak ada band lokal yang berani ambil beban seberat dan sepersonal ini, dan lebih sedikit lagi yang mampu membawanya tanpa jatuh ke eksploitasi murahan atau sebatas tempelan isu untuk terdengar sadar sosial di caption Instagram.
Dibuka oleh “Kitab Penghancuran: Jangan Pernah Kau Tangisi Hancurnya Dunia Ini sebagai Kiamat // Gaung Amuk”, judul yang panjangnya sendiri sudah jadi pernyataan sebelum satu nada pun dimainkan seakan jadi sebuah manifesto yang merongrong paksa masuk ke ruang yang biasanya cuma diisi judul-judul generik. Empat menit peta-peta jahanam dilukis dengan darah yang membusuk.
Bukan pula metafora yang dicari-cari untuk terdengar sok puitis atau menjadi pretensius. Sebuah bahasa yang lahir dari kemarahan yang sudah tidak sanggup lagi punya nafas lalu melewati fase diplomasi dan sopan santun karena diplomasi dan sopan santun sudah terbukti tidak menyelamatkan apapun dan siapapun. Ditambah keterlibatan Anongoli dan Mesin Buatan dalam komposisinya memberikan nuansa keputusasaan yang masih ada setitik api harapan di dalamnya.Jika hardcore punk dipenuhi fungsinya sebagai monumen sonikal potret betapa bejat dan lacurnya penindas ini terekam gamblang, maka rilisan ini adalah wujudnya
‘Peta-peta jahanam itu dilukis dengan darah yang membusuk dalam sumsum.
Di setiap goresan perbatasan, rahim para ibu dikosongkan, bahasa mereka diperkosa
menjadi bisu yang abadi.
Palestina adalah cermin yang retak.
Papua adalah gema dari liang kubur.
Besok, giliran tanahmu yang dikunyah raksasa itu’ — “Kitab Penghancuran: Jangan Pernah Kau Tangisi Hancurnya Dunia Ini sebagai Kiamat // Gaung Amuk”
Baris lirik pembuka yang menolak membiarkan penderitaan jadi eksotisme jarak jauh yang bisa dinikmati dari kamar kost atau unit apartemen mewah sambil bilang; “kasihan ya” lalu lanjut scroll. Cih! Nirempati anjing! Di sini seakan ada pengingat bahwa mesin yang sama sedang (atau akan) mengunyah tanah kita sendiri kalau kita cukup naif untuk merasa aman di balik jarak geografis. Sebuah manifesto yang bukan cuma ancaman dengkul kopong. Ada observasi dari orang yang sudah cukup lama memperhatikan pola yang berulang seperti uroborus, bagaimana kekuasaan bekerja dengan cara yang sama. Di manapun ia menemukan tanah yang bisa direbut dan manusia yang bisa dibungkam, caplok dan rampas adalah pilihan utama.
Bagian yang paling menghantam dari trek pembuka ini bukan di riff-nya, meski riff-nya cukup berat untuk membuat dada berdenyut. Ini di caranya membedah kemunafikan geopolitik dengan bahasa yang tidak butuh gelar diplomasi untuk dipahami. Mereka meludah “ini cahaya” katanya, tapi yang ditatap justru tungku kremasi. Mereka berkhotbah ini kemajuan dan yang tercium malah bau daging terpanggang di balik parfum diplomasi meja makan yang busuk. Itu satu kalimat yang lebih tajam dari ribuan kata yang ditulis analis politik berdasi yang tidak pernah mencium bau mesiu dari dekat.
Yang membuat EP ini berbeda dari sebatas propaganda politik ecek-ecek berbalut distorsi adalah caranya menaruh nama. Bukan cuma angka. Bukan cuma statistik yang bisa dilupakan begitu artikel berikutnya muncul.
“Seranah Malapetaka” adalah personifikasi Faris Odeh, empat belas tahun, anak dari Zeitoun, Gaza. Hidupnya berubah setelah sepupunya tewas. Ayahnya melarang, memukul, bahkan mengurungnya di rumah demi keselamatannya sendiri, tapi Faris tetap nekat keluar. Ia tewas tertembak oleh militer Israel di perbatasan Karni pada 8 November 2000. Empat belas tahun. Seumuran anak SMP yang seharusnya sedang pusing berpikir bagaimana menyelesaikan PR matematika untuk besok disetor ke guru yang galaknya naudzubillah, bukan peluru yang menembus lehernya sendiri.
Muhammad al-Durrah, dua belas tahun, tinggal di Kamp Pengungsi Bureij. Diajak ayahnya ke pasar mobil bekas. Momen sesederhana dan sedomestik itu, hal yang mungkin kalian lakukan bersama ayah kalian sendiri tanpa berpikir dua kali. Dalam perjalanan pulang mereka terjebak baku tembak di persimpangan Netzarim. Muhammad tertembak di pangkuan ayahnya sendiri. Coba bayangkan itu! Bukan di medan perang yang jauh dari rumah. Di pangkuan ayahnya.
Trek “Dekapan Akhir” yang mengangkat kisahnya bergerak dengan hardcore punk stomping boots injak balik tentara IDF malah terasa seperti detak jantung yang melambat. Langkah remuk. Asa padam. Cuma sisakan sesak, sisakan tangis. Tidak ada kata yang berlebihan di sana. Semuanya presisi seperti luka yang sudah tahu persis di mana harus menyayat.
Ahmed Manasra mungkin yang paling menghantui dari semuanya, karena ia masih hidup dan itu tidak selalu berarti selamat. Tiga belas tahun saat ditangkap, berjalan bersama sepupunya yang masih berusia lima belas tahun kemudian dituduh melakukan penusukan. Sepupunya tewas ditembak di lokasi. Ahmed sendiri ditabrak mobil, dikeroyok massa, ditangkap, diinterogasi tanpa pendamping orang tua atau pengacara, dipenjara bertahun-tahun sampai mengalami isolasi dan gangguan mental berat.
Kutipannya sendiri terekam dalam liriknya, bertanya apakah dirinya sudah gila, meminta seseorang membuka tengkoraknya sendiri untuk membuktikan bahwa ingatannya memang sudah hilang. Tragis! Itu bukan lirik yang dikarang untuk efek dramatis. Melainkan suara seorang remaja yang sistem fisik dan mentalnya dilucuti habis sampai tidak lagi yakin dengan realitasnya sendiri. Interogatornya menyuruhnya diam dan menyiksanya dengan gelang listrik selama berjam-jam. Trek “Dalam Dasar Lara” yang membawa kisah ini bahkan menyelipkan bahasa Arab;
‘مش متذكر
مش فاكر’ — “Dalam Dasar Lara”
Artinya adalah tidak ingat! tidak ingat! Berulang-ulang seperti rapalan mantra yang sudah kehilangan makna karena terlalu sering dipaksakan keluar dari mulut yang tidak lagi percaya pada kata-katanya sendiri.
Fawzi al-Junaidi, enam belas tahun, dari Hebron, Tepi Barat. Terpaksa putus sekolah jadi tulang punggung keluarga karena ayahnya patah tulang belakang dan ibunya sakit parah beban yang sudah cukup berat untuk siapapun di usia berapapun, apalagi remaja yang seharusnya masih punya ruang untuk jadi anak-anak. Desember 2017, ia ditangkap, matanya ditutup, mengalami patah tulang bahu akibat kekerasan saat berada di area unjuk rasa.
Trek “Kekal Dalam Gulita” yang mengangkat kisahnya bergerak dengan kegelapan yang tidak melahirkan ketakutan, hanya kemurkaan penuh muntah dengan sumpah serapah. Itu poin penting dari keseluruhan EP ini. Bukan tentang membuat pendengar merasa kasihan dan berhenti di sana. WAFAQ punya kredibilitas mereduksi duka jadi amarah yang punya arah.
Secara musikal, hardcore punk yang dimainkan di sini ada kerumitan teknis untuk menyampaikan kemarahannya. Namun, pesan yang disampaikan membuat kita mengenyampingkan itu semua. “Seranah Malapetaka” dan “Dalam Dasar Lara” bergerak dengan tempo yang menghantam tapi tidak pernah kehilangan kendali, death metal punk bak amarah mengendap di dalam diri. Artinya… ada sebuah ledakan, bukan cuma terjadi secara sesaat lalu mereda begitu lagu selesai. Kedisiplinan di balik kemarahan ini adalah spektrum yang membuatnya lebih berbahaya. Amarah yang terkontrol selalu lebih angker dari amarah ledakan sekali keluar lalu lesap begitu saja.
Cover version Discharge “Protest and Survive” ditaruh di trek kelima, pilihan tidak sembarangan sama sekali. Ini mengikat erat EP ini dengan tali simpul mati ke garis keturunan punk protes yang sudah berpuluh tahun menolak diam di hadapan kekerasan negara menuju tradisi pemahaman bahwa musik keras bukan cuma soal distorsi dan tempo kebut. Tapi soal jadi saksi ketika sistem berusaha membuat kalian amnesia pada betapa bejat dan lacurnya para pemegang kendali ini.
Global Intifada yang disebut dalam catatan di tengah EP merupakan kesadaran kolektif yang menembus batas negara, ras, dan dogma. Bukan cuma rangkuman peristiwa lokal atau geografis yang terlihat kosong seperti serigala ompong. Ini kebangkitan! Selama perampasan atas hak, tanah, dan masa kecil masih terus terjadi, api itu tidak akan pernah padam. Dan itu yang coba direkam WAFAQ secara menyeluruh. Bukan secemen dokumentasi kesedihan. Ada penolakan untuk pasrah di sini.
Ini bukan EP yang saya nilai berdasarkan seberapa catchy riff-nya atau seberapa teknis drumnya, meski secara teknis pun band ini tidak main-main. Di Bawah Langit, Pusara Masa Kecil adalah monumen sonikal, penghormatan bagi anak-anak yang masa kecilnya direnggut paksa oleh sesuatu yang tidak pernah mereka pilih, bayangkan, bahkan tidak pernah mereka mengerti sepenuhnya kenapa harus terjadi pada mereka. Jika musik ekstrem masih punya fungsi selain hiburan dan validasi ego di atas panggung, maka ini adalah bukti valid paling telanjang dari kancah lokal. Bangsat. Putar ini, lalu diam sejenak setelahnya. Renungi Jangan buru-buru pindah melompat ke lagu atau album lain.
