Basajan: Bersahaja pada Nama, Tidak Sesederhana itu Bagi Kiprah

Dari bunyi kontemporer dan gempita sarat tradisi, Basajan melingkar di keduanya. Wajar jika satu tahun belakang karir mereka meroket ke skala internasional.
Dalam bahasa Sunda, “basajan” secara literal berarti sederhana, bersahaja maupun apa adanya. Nama yang cocok untuk komplotan remaja yang manggung di acara 17 an dalam suatu desa yang begitu asri, diapit bentangan sawah dan tegaknya surau mungil. Justru terdengar kurang cocok untuk kuartet yang sedang menyeret arsip lisan Sunda ke panggung internasional laga demi laga, tanpa sesekali pun tampak kehabisan napas. Atau begini. Coba bayangkan seekor anak kalong (kelelawar) kriwil yang biasanya cuma numpang lewat di teka-teki pelajaran bahasa Sunda, tiba-tiba menyasar ke tirai belakang panggung festival musik internasional, meminta izin colok dan injak Big Muff, lantas ikut melakukan jam session sampai gema adzan awal. Absurd? Memang. Tapi kira-kira begitulah cara paling tepat mencitrakan apa yang sedang dikerjakan Basajan belakangan ini, bersahaja hanya di embel nama semata.
Kelompok afro-rock kearifan lokal menjanjikan asal Soreang, Kabupaten Bandung ini diperkuat Adhitama Putra Prakarsa (gitar), Reyhan Gyanie (gitar), Dinan Indrayana (bas) dan Dandy Rizkiawan (drum). Kadang terlanjur sering, keempatnya kerap mendapat keluwesan permainan perkusi atau conga lenggak-lenggok tango dari seorang Rezki Delian (Hockey Hook, The Panturas).
Semuanya bermukadimah dari rangkaian live session Pagelaran Basajan paruh 2024, yang di mana melahirkan “Uleman,” “Ageman,” “1971,” dan “Talaah” yang dirilis mingguan, masing-masing mengangkat satu potongan kehidupan sosial-spiritual Sunda. Ada alasan konkret di balik keputusan itu. Pemetik gitar Reyhan Gyanie, akrab disapa Gebew, menjelaskan duduk perkaranya pada chatting-an WhatsApp, pada pertengahan September 2026, sepekan setelah mereka melakoni penutupan tur mini promosi Béwara bertajuk “Ritus V” di Loco Cafe, Bandung.
“Nyebur ke bebunyian Sunda sebenarnya diawali dari banyaknya referensi di sekitar yang mulai banyak menyorot budaya luar, contohnya Timur Tengah, India, dan sebagainya,” repetnya. “Terus kami sepakat, kenapa nggak coba bikin hal serupa, tapi dari budaya yang melekat sama kita sendiri, alias Sunda.”
Pondasi tersebut akhirnya berwujud debut Béwara, yang rilis 10 April 2026 silam di bawah payung Bahasa Ibu Records, label butik yang memiliki rekam jejak mengangkat idiom kedaerahan Nusantara ke panggung lebih luas. Riwayat rilisan sebelumnya bisa dijumpai pada rocker berbahasa Madura Lhorju’ dan proyek Candei yang lekat tradisi Muara Enim.
Perihal tajuk albumnya sendiri, kata Gebew lahir bukan dari hasil rapat panjang, melainkan kehendak yang pas. “‘Béwara merupakan ide Made alias Dinan, bassis kami. Entah dari mana datangnya, namun pas terdengar sebagai judul album. Layaknya arti béwara—pengumuman dalam bahasa Indonesia—kami secara resmi ‘mengumumkan’ hadir di kancah musik ini,” ketik pria berkacamata itu.
Béwara disusun sebagai perjalanan konseptual berdasarkan kosmologi Tri Tangtu, membagi materi ke tiga alam yang saling terhubung: spiritual, dunia manusia dan refleksi menuju akhir kehidupan. Konsep besar ini, Gebew menambahkan sekilas, tidak dirancang dari atas ke bawah, melainkan ditemukan di tengah jalan. “Untuk konsep ‘Tri Tangtu di Buana’, itu buah dari judul lagu yang kami ciptakan. Setelah kami tilik, ternyata sepadan dengan konsep manusia untuk menjaga keselarasan hidup dengan Sang Pencipta, sesama manusia dan alam sekitar,” jelas secara singkat.
Ada kelindan yang tanpa sengaja membuat perjalanan Basajan semakin menarik disimak yakni bagaimana pentas internasional itu diraih dalam kurun waktu yang lumayan singkat, terutama vakansi berkedok “ngamen” ke Bangkok juga Tokyo. “Kami, terutama Adhit, aktif mengirimkan email introduction kepada music stakeholders di luar negeri, seperti record label, music festival, sampai music showcase,” imbuh pemain gitar Erratic Moody ini. “Wonderfruit (Bangkok) sendiri hasil dari surel dan faktor keberuntungan, karena saat itu ternyata email yang kami kirimkan sampai ke kurator Molam Stage. Kurator ini pun DM kami di Instagram, dan akhirnya kami tampil di sana.”
Selanjutnya kisah Basajan tampil di Negeri Sakura tak kalah menggelitik. “Untuk Jepang, kami mendaftar music showcase bernama CUEW, itu pun ceritanya lucu. Baru kemarin, Adhit sempat ngobrol dengan founder CUEW, ternyata si Basajan itu daftar di H plus 1 penutupan. Mereka lupa menutup pendaftaran, tapi akhirnya karena Basajan satu-satunya yang mendaftar di H+1 tersebut, mereka pun mendengar materi kami dan langsung cocok juga ha ha ha,” katanya. “Sisanya, di Jepang, kami secara mandiri mengontak venue dan kolektif di sana.”
Namun hal tersebut, bukan kebetulan datang begitu saja, melainkan nyampang yang dijemput melalui kerja keras yang tak kenal lelah mengetuk pintu satu per satu. Suatu pola kerja kolektif yang sedang membangun karir jangka panjang, bukan sekadar menikmati momen menjadi buah bibir sekejap yang kadang gampang menguap.
Bila mengupas pondasi melodi Basajan, mereka sebenarnya bersandar pada logika yang lebih dalam dari sepatutnya embel-embel “etnik” di kemasan musikalitas. Kerangka nadanya kerap mengacu pada sistem pentatonik karawitan Sunda yang dikenal sebagai daminatila—da, mi, na, ti, la—notasi yang dirumuskan komposer sekaligus inohong Raden Machjar Angga Kusumadinata pendiri Konservatori Karawitan asal Bandung dengan varian laras seperti salendro, pelog, degung dan madenda yang masing-masing membawa nuansa emosional berbeda.
Mengawinkan pentatonik Sunda berbarengan bunyi yang lebih keras bukan barang baru. Terhitung sejak dekade 1970-an, Harry Roesli bersama gitaris Albert Warnerin sudah lebih dulu menyelaraskan gamelan pentatonik Sunda dengan rock, disko elektronik sampai funk desahan James Brown, sejalan dengan grup macam One Dee Group yang membesut album Pop Sunda dengan gebyar world music campur pop sebilah psikadelia di era yang sama. Benang itu terus tersambung lewat generasi berikutnya seperti Samba Sunda yang membawa gamelan degung ke panggung dunia, hingga sampai ke album ikonik Tigapagi, Roekmana’s Repertoire (2013), yang menyelami irama pentatonik Sunda dalam balutan folk kontemporer. Basajan meneruskan pohon keturunan itu, hanya dengan kendaraan yang berbeda, taburan psikedelia dan juggling groove.
Fenomena ini pun tengah ramai secara global. Ranah neo-psikedelik dan desert blues hari ini banyak berpendar pada tangga nada mikrotonal, interval nada yang lebih halus dari sistem diatonik Barat, laiknya yang terdengar di musik Anatolia lewat Altin Gun atau musik gurun Sahara melalui lakon Tinariwen dan Mdou Moctar serta duo polkadot paling panas nan eklektik kiwari ini, Angine de Poitrine. Logika daminatila, dengan lompatan interval pentatoniknya yang khas, ternyata punya “rasa” yang sejalan dengan tren mikrotonal itu, meski akarnya sama sekali membelah benua.
Menurut Gebew lagi, keputusan meleburkan pilar Sunda dengan vitamin psikedelia bukan tanpa rujukan semata. “Crossing dengan psyche karena banyak referensi band instrumental yang menggabungkan hal itu, seperti Glass Beams, Yin Yin, Altin Gun, Sababa 5 dan sebagainya,” jelasnya mantap. “Bahkan pendahulu di Indonesia seperti Yanti Bersaudara, kalau didengar secara saksama, sebenarnya ada sentuhan psikedelia dan rock and roll a la ‘60-an,”.
Di titik pertemuan itulah “Priangan Psychedelic Groove” istilah yang mereka sematkan sendiri akhirnya bertaji. Bukan psikedelia generik ala revival rock ‘70an, melainkan trance yang akarnya tetap menjejak tanah Priangan se-someah itu.
Lambat laun perjalanan musikal Basajan mendapat respon sana-sini dan spiritnya sedikit demi sedikit menyeruak meski tidak deras. Selepas Bewara ibadah tur regional maupun Bangkok juga mengitari Tokyo, sudah waktunya melepas rilisan anyar yang lebih menyegarkan, Alhasil, “Budak Leutik Bisa Ngapung,” bertelur pada 20 Agustus 2026 lalu.
Dalam kasus ini sebaiknya tidak dibaca sebagai rilisan berdiri sendiri. Ia lebih tepat dibaca sebagai bukti bahwa jangkauan riset Basajan terus melebar. Kalau Béwara menjarah arsip silat, doa dan filosofi kosmologi, single ini menjangkau laci yang justru paling remeh dan personal yaitu pupuh Kinanti. Suatu penggalan teka-teki anak-anak tentang kalong atau kelelawar, makhluk ambang malam yang terbang di kegelapan mencari buah-buahan.
Ada proses menarik di balik single ini yang tidak banyak diketahui banyak orang. Gebew membeberkan bahwa lagu ini semula punya lirik, sebelum akhirnya dipangkas karena tenggat produksi super mepet.
“Untuk judulnya, sebenarnya kami mencoba meredefinisi pupuh tersebut dengan pemahaman baru. Sebenarnya ada liriknya, cuma karena timeline proses rekaman yang ketat dari salah satu brand rokok, akhirnya kami meniadakan liriknya,” gurat Gebew dengan emoticon tawa. “Dalam proyek ini kami di-support brand (rokok) tersebut, tapi semesta seperti menyambut komentar Viki (Vikranta– drummer Kelompok Penerbang Roket) tentang lagu Basajan dan akhirnya menyatukan kami dalam satu proyek. Beliau lumayan membantu dari segi aransemen dan sound sebagai produser,”.
Yang menarik dari pengakuan ini, versi instrumental yang akhirnya terbit bukan kompromi yang mengurangi, melainkan justru memperkuat kekuatan aslinya. Tanpa lirik, kalong dalam pupuh ini jadi lebih murni sebagai imaji bunyi, dibiarkan berbicara lewat tekstur dan groove alih-alih kata-kata. Sungguh sedap!
Ihwal posisi mereka di antara musisi Sunda lain, Gebew mengetik dengan kesan rendah hati. Ia tidak menempatkan Basajan sebagai pelopor atau yang paling terdepan, apalagi satu-satunya pembeda dalam mengangkat kesusastraan Sunda ke panggung musik. Belum sejauh itu bahkan dirinya mengaku.
“Sebenarnya kami memulai dengan rasa senang bermusik serta bangga menjadi masyarakat dan lahir di tanah Sunda. Tidak pernah sekalipun berpikir untuk menjadi pembeda, apalagi mengangkat kesusastraan Sunda, mengingat banyak band sudah lebih dahulu lahir dengan membawa kesenian tersebut secara lebih baik daripada kami, contohnya Jasad, Karinding Attack, Tarawangsawelas atau mungkin The Panturas,” petik Gebew bijak.
Nah ini yang patut mendapatkan guratan spidol tebal, “Mungkin kami berada di momentum yang tepat. Munculnya Ali, The Panturas dengan album EP Sundanya (Galura Tropikalia-RED), Nusantara Beat dengan liukan Sunda yang kental, menjadikan kami berada di gelombang yang sama dengan karakteristik tersendiri.”
Membaca dari kacamata sederhana tersebut, Ali bukan berarti menjadi semacam rival yang harus digeser posisinya, melainkan kolega seperjalanan dalam wave yang sama, masing-masing membawa karakteristiknya sendiri. Konsistensi rilisan sejak 2024, konsep album yang matang secara filosofis, dukungan label dengan visi ekspor bunyi Nusantara yang jelas, hingga kalender tur internasional yang semakin padat. Keseluruhan indikator ini menempatkan Basajan telah mendapati fase “band potensial yang layak dipantau sesekali.” Mereka masuk fase yang lebih menjerumuskan perhatian penuh, nama yang sebaiknya sudah masuk daftar putar tetap, bukan hanya rekomendasi algoritma yang lewat lalu basi.
Namun kerendahhatian tidak lantas berarti mereka tanpa ambisi sama sekali. Tatkala mendapat pertanyaan mengenai tantangan yang masih membayangi, Gebew punya jawaban yang jujur. “Tantangannya untuk saat ini bisa lepas dari semua bayang-bayang referensi kita terdahulu, sehingga Basajan bisa dikenal punya ciri khas yang unik. Selain dari ke-Sundaannya, mungkin suatu saat ada satu hal yang bisa buat orang bilang kalimat, ‘Oh, ini mah Basajan banget!'” pikir Gebew. “Tapi nggak terlalu muluk-muluk lah, bertahap kalau itu. Yang penting eksplorasi dan pengkaryaan dari kami berempat tidak pernah padam,”
Ambisi menembus panggung dunia, rupanya, tidak pernah dimaksudkan untuk memutus keriangan paling dasar dari bermusik itu sendiri, atau kejujuran untuk mengakui bahwa jati diri yang benar-benar khas masih dalam proses pencarian. (Empat anak) kalong dalam pupuh Kinanti itu memang baru belajar terbang. Namun, jikalau melihat kecepatan dan kematangan lintasannya sejauh ini, sekumpulan ini sepertinya sudah tahu persis ke arah mana ia hendak mendarat.
Upami atos ngapung dugi awang-awang, ulah hilap napak ka lemah deui nya, jang!









