TRACK TALK: Temarram – Antara Angkara (Self Released, 2026)

Debut album yang merekonstruksi sebuah lorong tempat tubuh terpaksa bertekuk lutut, menyerah pada hidup seraya meratapi setiap serpih yang tertinggal.
Republik ini memiliki kebiasaan buruk yang kepalang tolol bukan main. Mereka menormalkan bencana alam. Sinting. Gunung meletus, pemerintah hanya mengeluarkan himbauan standar, lantas melupakannya begitu media beralih ke isu lain. Gempa mengguncang Nusa Tenggara Timur, korban menunggu bantuan berhari-hari di tenda darurat dan anjingnya banyak yang akhirnya berpulang karena kelaparan, sementara pejabat sibuk berpose di depan kamera dengan seragam lapangan yang masih licin, belum pernah basah oleh keringat sungguhan. Pler! Kabut asap dari karhutla Kalimantan menyelimuti langit belakangan, belum lagi kawasan Sumatera yang terdampak karena penanaman sawit, anak-anak sekolah diliburkan dan tahun depan siklus itu berulang tanpa evaluasi yang berarti. Penggusuran lahan terus terjadi di berbagai daerah, warga kehilangan rumah demi proyek yang jarang mereka nikmati hasilnya, dan negara menjawabnya dengan jargon pembangunan yang kian hambar didengar. Album debut Antara Angkara milik Temarram, yang beredar 11 September 2026, lahir dari iklim batin semacam ini. Lubang menganga yang memaksa siapapun memasukinya hendak berlutut—bukan sebagai lagu protes yang mesti berteriak lantang, melainkan sebagai catatan seseorang yang sudah kehabisan tenaga untuk marah pada sistem dan memilih menoleh ke dalam dirinya sendiri, memunguti kontemplasi yang tersisa satu demi satu.
Temarram menyusun album ini sebagai unit yang terbilang solid. Regga Prakarso memegang gitar sekaligus synthesizer terprogram, Sherina Redjo mengisi vokal utama dan M.A. Tanthowi menggarap bass sekaligus menulis lirik bersama Sherina. Ketiganya membangun kerangka musik yang dingin namun rapi, sebuah pondasi yang kemudian mereka perluas lewat sejumlah kolaborasi penting. Gerry Lainil Fauzi—Tangerang guy yang malang melintang di Hong, Dirty Ass, The Regards, Protense hingga Dirty Dogs Aggression—menyumbang energi vokal di “Aksioma”. Julius Aryo Verdijantoro, yang mana publik mengenalnya sebagai Otong, penyanyi merdu Koil, mengisi “Afeksi dan Mati” dengan warna sonik yang mencekam dan berat. Pandu Fuzztoni sosok yang aktif di Morfem, ex-The Porno, Zzuf, dan FARRT!, memegang peran paling sentral di balik layar. Pandu memproduseri, mencampur dan menata suara seluruh album, sekaligus turun tangan sebagai musisi tambahan. Dirinya mengisi gitar di “Pusara” dan “Aksioma”, drum untuk “Aksioma” dan “Semesta Semesta”, serta vokal latar di “Pusara”. Sejumlah nama lain turut memperkaya tekstur album ini: Arya Ditiar mengisi drum di “Dan Kau Terlunta”, “Reruntuh”, dan “Afeksi dan Mati”; John Tampubolon menyumbang gitar di “Reruntuh”; sementara Lingga Mughni ikut menata aransemen “Tak Tergenggam”. Jejaring personel dan kolaborator ini penting dicatat, karena ia menunjukkan Temarram tidak berdiri sendiri. Mereka menarik benang dari berbagai simpul scene independen lokal, dari punk hingga hardcore, menggontai rock alternatif sampai eksperimental dan meramunya menjadi satu suara yang koheren.
Empat serpih yang disebut dalam catatan resmi album ini yaitu hidup, ketiadaan, afeksi, dan penyesalan ini bukan sekadar tempelan puitis. Keempatnya membentuk kerangka narasi yang bisa ditelusuri lagu demi lagu. “Dan Kau Terlunta” dan “Reruntuh” mewakili fragmen hidup yang mengalir apa adanya: yang pertama menetes pelan seperti proyek infrastruktur yang mangkrak bertahun-tahun, penyesalan yang sudah kehilangan panasnya, mirip kemarahan publik yang cepat padam begitu isu baru muncul di linimasa dan realita; yang kedua menyentuh titik paling menohok di album ini, kematian mimpi yang tidak terjadi lewat ledakan, melainkan lewat rutinitas yang perlahan mencekik tanpa disadari korbannya sendiri. Selayang pandang dengan realitas pekerja kreatif dan buruh negeri ini yang kehilangan arah bukan karena lay off mendadak, melainkan karena dibiarkan tidak relevan pelan-pelan, tanpa kompensasi naratif apa pun.
Di titik inilah kelemahan album mulai terasa, dan songwriter memilih membicarakannya bukan di ujung tulisan, melainkan tepat di tengah alurnya, karena kelemahan ini justru lahir dari kekuatan utamanya. Temarram mengunci diri dalam satu suasana hati sepanjang delapan lagu, hampir tanpa jeda dinamika yang mengejutkan. Beberapa transisi antar-lagu terasa terlalu mulus, nyaris tidak memberi ruang kontras yang bisa membuat pendengar awam bertahan hingga nomor terakhir. Tapi bukan berarti nahas. Namun kekakuan ini, alih-alih menjadi cacat produksi, malah berfungsi sebagai pernyataan sikap. Laiknya serupa krisis yang terus berulang di negeri ini tanpa jeda pemulihan yang layak. Duka yang digambarkan Temarram memang tidak dirancang untuk memberi kelegaan. Album ini menolak logika hiburan yang menuntut variasi demi kenyamanan pendengar, dan justru di situlah letak beraninya bukan menjadi ceroboh yang fatal.
Fragmen ketiadaan hadir lewat “Tak Tergenggam” dan “Semesta Semesta”, dua lagu yang bicara tentang kehidupan sebagai sesuatu yang hanya bisa dimiliki sebagian orang, sementara yang lain hanya menyaksikan dari jarak yang tak pernah bisa dijembatani. Fragmen afeksi datang lewat “Aksioma” dan “Afeksi dan Mati”.
Gerry L. Fauzi membawa abrasivitas yang sebelumnya absen di trek “Aksioma”, namun amarah khas hardcore/punk ini datang agak terlambat persis seperti gelombang protes yang baru muncul setelah kebijakan kontroversial disahkan diam-diam di tengah malam. Ironi ini memperkuat kejujuran album, karena kemarahan warga Indonesia memang jarang tepat waktu.
Di “Afeksi dan Mati”, Otong membawa kekuatan mencekam khas Koil, sementara Sherina mempertahankan kendali dan kedinginan vokalnya sendiri. Situasi kontras yang menciptakan ketegangan dramatis, seolah dua orang berbagi ruang duka yang sama namun mengalaminya dengan cara yang sepenuhnya berbeda.
Puzzle terakhir yaitu mengenai penyesalan, dengan menutupnya melalui “Pusara” dan “Pengakhiran Permulaan”. Lagu terakhir ini istimewa karena menjadi satu-satunya yang ditulis bersama oleh Regga Prakarso dan M Tanthowi, seolah dua kepala kreatif utama sengaja turun tangan bersama untuk menutup lorong yang mereka bangun sejak lagu pembuka. Di “Pusara”, Tanthowi berhenti menyalahkan pihak luar dan mengakui dirinya sendiri sebagai penyebab keruntuhannya. Sebuah sikap yang berbeda dari kecenderungan umum musik protes lokal yang gemar menuding oligarki atau pemerintah tanpa pernah menoleh ke dalam. Temarram melangkah lebih jauh. Mereka coba menempatkan tanggung jawab pada individu, pilihan naratif yang jarang muncul di ceruk serupa. Di “Pengakhiran Permulaan”, Pandu Fuzztoni menghadirkan noise gitar yang kasar dan mengganggu, menutup lorong yang dibuka di awal album dengan ironi tajam. Kata “permulaan” justru terdengar seperti reruntuhan, bukan harapan baru melainkan gambaran yang relevan dengan negara ini, yang selalu menjanjikan era baru di setiap pergantian rezim, padahal siklusnya nyaris tidak pernah berubah alias eek kucing.
Temarram, secara generik, meneruskan garis post-punk klasik yang dirintis Joy Division dan Killing Joke, lalu menyerap warna synth dingin ala New Order dan Erasure. Nuansa goth-rock hadir lewat tekstur gitar yang mengingatkan pada Bauhaus dan The Sisters of Mercy, sementara elemen darkwave-nya menggemakan Clan of Xymox dan serbuk Dead Can Dance. Produksi synthwave-nya—drum machine yang mengingatkan mesin ritmik Roland MC-4, bassline yang berjalan seperti detak jantung yang dipaksa tetap statis. Menempatkan Temarram bermodalkan taji untuk bisa berkiprah lebih langgeng layaknya coldwave kontemporer produk pabrikan Funeral Party, Dais atau Sacred Bones semacam Molchat Doma, Drab Majesty dan Boy Harsher. Perbedaannya jelas, mereka tidak meminjam kosakata sonik ’80-an untuk nostalgia semata, melainkan untuk mengartikulasikan kehampaan yang sangat kekinian.
Justru karena keberanian menolak kenyamanan itulah Antara Angkara layak disebut sebagai salah satu rilisan post-punk/goth/darkwave cukup definitif bin contending tahun ini. Meskipun, terlalu dini untuk bisa menggeser betapa kalibernya tindak tanduk Peranjakan (2023) bahkan Tadius (2017) yang cenderung kraut. Album ini tidak mencari validasi lewat variasi yang menyenangkan telinga, tidak pula bersembunyi di balik estetika eighties sebagai gimmick kosong. Justru berdiri di atas konsistensi emosional yang keras kepala, ditopang jejaring kolaborator lintas generasi sirkuit gorong-gorong serta berani menempatkan tanggung jawab pada individu di tengah budaya yang gemar mencari kambing hitam eksternal. Lorong yang dibuka di awal album akhirnya tidak pernah benar-benar tertutup, hanya berhenti sejenak. Menyisakan empat serpih yang sama; hidup, ketiadaan, afeksi dan penyesalan yang berotasi dalam siklus yang sama seperti negeri yang membesarkannya, yang terus berdarah tanpa pernah benar-benar sembuh.
