X

Scott Russo, The Craziest Poway Kids

by Rio Tantomo / 13 hours ago / 5 Views / 0 Comments /

Vokalis Unwritten Law bicara tentang dirinya, selamat dari kehancuran ekses usia 30-an, tren melodic punk yang menjengkelkan, sesi rekaman yang kacau balau, ditendang keluar dari festival, dan kisah pesta gila-gilaan yang membuat kita sulit percaya kalau kini ia mengaku sober.    


“A Punk Rock Band Gets Kicked Off a Punk Tour For Being Too Punk.”

Kala dicekal oleh CBGB pada November 2004, Unwritten Law tengah berada di ambang keretakan. Punya single nomor satu di chart tapi baru saja memecat dramer karena masalah narkotika, album mereka terjual 400 ribu kopi tapi menghabiskan $15.000 untuk biaya sampah kenakalan. Semua orang yang pernah berurusan dengan Unwritten Law pasti tahu reputasi mereka: self-destruct skate punkers dengan prestasi platinum, dan di balik setiap kerusuhan yang terjadi terdapat sesosok pangeran keparat, vokalis Scott Russo yang hampir selalu mengambil peran dalam menciptakan friksi internal. Ia minum serakus Shane MacGowan, berlidah fatal seperti setan cilik, sebagai seekor pemimpin yang gegabah ia ribut melawan seluruh anggota band orisinal dan tentu saja, diakhirinya dengan melakukan pemecatan. Di CBGB Scott berulah, melanggar aturan merokok di dalam ruangan kota New York. Sebatang pertama sound monitornya padam. Ia menolak diperingatkan, bukannya insyaf malah mengejek balik dengan membakar sebatang lagi. Giliran lampu panggung dimatikan. Show pun diselesaikan gelap-gelapan. Lima bulan kemudian gitaris Rob Brewer keluar dari formasi setelah terlibat bentrok fisik dengan Scott, yang kehilangan gigi akibat ditinju di atas panggung, padahal Here’s to the Mourning (Lava, 2005) album kelima mereka belum lama terbit. Puncaknya meletus di ujung tur Swans (Suburban Noize, 2011), seusai manggung Scott memukul gitaris Steve Morris yang marah karena bosan telah menunggunya lebih dari satu jam di bus tur agar bisa pulang. Bassis Pat Kim menyaksikan kejadian itu, merasa muak bandnya selalu berada dalam kondisi volatile. Lalu keduanya memutuskan cabut, meninggalkan Scott sendirian dengan sebuah krusial momen. Setiap album yang dirilis harus mengorbankan perpecahan, Unwritten Law berjalan merunduk untuk sementara waktu.

Tepat sebelum Covid-19 melanda, Scott pindah dari Poway, San Diego ke Tijuana, Meksiko di mana ia telah membeli rumah seharga $800 di pinggir pantai yang ditemukannya saat sedang tur bersama The Offspring. “Aku ‘gak tahan dengan semua hal tentang (Donald) Trump, aku ingin menjauh dan membersihkan diri darinya, aku bahkan malu mengaku berasal dari USA,” katanya. Kehidupannya sepanjang Unwritten Law menempuh masa buram diisi dengan membentuk sejumlah proyek sampingan, salah satunya Super Groupie—ia, produser Cisco Adler dan rapper Mickey Avalon. “Kamu pasti belum pernah denger,” katanya, “kami cuma sempat bikin enam lagu, lalu Mickey dikontrak Interscope, mau ‘gak mau kami harus menguburnya.” Dilanjutkan Scott, “Tapi kamu masih bisa melacaknya, Mickey memasukkan satu lagu kami, “Girlfriend” ke albumnya, Loaded (Suburban Noize, 2012). Kamu akan denger suaraku bernyanyi di situ, it’s pretty bad.”

Lewat lingkaran itulah ia bersinggungan dengan Made J, gitaris Mickey Avalon & The Fu*k Boys sekaligus pemilik bar Gimme Shelter yang telah berulang kali mencoba mendatangkannya ke Bali. ‘Scott Russo Live at Gimme Shelter’ adalah agenda yang telah tertunda selama empat tahun, hingga suatu hari ponsel Scott menerima sebuah pesan dari J:

“Yo, can you send me a setlist? Kau mau mewujudkannya sekarang? Aku bisa sediakan kamu band yang keren, dan kalian akan bermain di 10th Anniversarry Gimmie Shelter.”

“Okay, fuck it!” seru Scott yang tadinya berniat main dengan set akustik, “aku selalu lebih suka konser live yang keras, yang brutal, and the band is sick, that’ll be fucking bad as shit.”

Formasi bandnya solid, kesatuan emo-punk-hardcore: dua gitaris Agraless (Devildice, Nevach, Strikes) dan Agusto (Bad Boys Undercover), bassis Fajar Marta (Snickcoaster), dramer D’Goez VanReva (Nevach). “Those are my fucking boys!” ujar Scott bangga.

Entah habis keselek vodka atau beneran terpukau, Scott punya rencana mempertahankan bandnya untuk dibawa keliling tur Asia Tenggara kali berikutnya ia datang lagi ke Bali. Apa itu artinya juga terpetik idenya ingin tinggal di Bali, beli tanah murah, naik skuter, siang yoga – malam kobam, sebagaimana mimpi semua bule yang kesengsem rayuan eksotisme adab ketimuran? Scott bilang ia suka iklimnya yang tropis, hampir setiap negara di kawasan Polynesia sudah pernah disinggahinya. Selama ini destinasi kota pantai favoritnya adalah Hawaii. “Tapi itu dulu sebelum aku datang dan menemukan tempat ini. Aku suka makanannya, arsitekturnya, candi-candinya, I like everything that’s great,” sebutnya.

Kami mengobrol tepat pada pukul 12:06 siang di sebuah kamar White Room berukuran 4×4 di Corduroy Hotel, Pererenan. Pemandangan dari arah kasurnya menghadap ke aliran tenang sebuah tukad berwarna hijau yang bermuara di Echo Beach. Tampak sempak bekas tergeletak di lantai, kondisi kamarnya cukup slebor untuk ukuran seekor pria setengah abad yang pergi travelling dengan pacarnya. Pintu kamar mandi dibiarkan terbelalak, sebuah koper terbuka menyembulkan gombalan pakaian kotor. Pacar Scott, seekor perempuan hot blonde, sedang pergi brunch. Ia sendiri baru bangun tidur sekitar sejam lalu, rambut pirangnya lepek, bersendal jepit dan duduk di bangku meja rias, mengenakan celana panjang hitam Dickies dengan tali pinggangnya yang menjuntai keluar di bawah kaus kutung berlogo grup ska Tijuana No!. Ia berusaha bersikap ramah dengan menawarkan sekaleng bir. What a sunny day. . . mari kita todong dan rekam.

Jadi apa rencanamu malam ini?

Aku ‘gak punya rencana apa pun, apa maksudmu?

Maksudku, apa saja isi setlistnya, mungkinkah ada lagu kover?

Oh, okay terima kasih telah menjernihkan. Uhm, terus terang, aku ‘gak tau. . . karena aku jauh, you know, aku ‘gak tau banyak informasi tentang Bali, apa kami punya penggemar di sini. Tapi seperti yang ‘ku dengar, ada banyak orang Australia di sini. Dan kami cukup besar di Australia. Jadi aku mengurasi setlist yang menjadi favorit penggemar Australia. Mungkin bukan lagu-lagu yang biasa kami mainkan di US. Misalnya kami ‘gak bakal mainin “Holiday” di US, tapi lagu itu berhasil jadi single di Australia. Ada banyak orang Australia yang menyapaku, “Kamu serius main di Bali?” So, yeah, man. . . aku memilih lagu-lagu berdasarkan apa yang disukai basis penggemar kami di Australia.

Menarik tadi kamu bilang, ‘gak yakin akan ada banyak penggemar Unwritten Law di Bali—

Uh, no, no. . . aku bilang, aku ‘gak tau. . .

Ya, ya tapi aku juga berpikiran seperti itu. Ada kecenderungan kalau Unwritten Law mulai dilupakan di sini. Kalian besar di era melodic punk pada akhir 90-an, lalu seperti ‘gak bergaung lagi paska Elva (Interscope, 2002). Bahkan aku sudah lama ‘gak menyimak musik kalian sejak. . . fuck, mungkin terakhir pas SMA. Kemudian karena wawancara ini, aku coba mendengarkan The Hum (Cleopatra, 2022)—

Thank you.  

Kamu menyukai album itu?

I love The Hum.

Oh, yeah?

Yeah, I love it.

Kamu puas dengan album itu?

Aku 100% puas dengan album itu.

Buatku album itu cukup asing. Maksudnya kalau dalam pandanganku, yang menyimak dua album awal kalian. Bisa aku menyebutnya, modern rock?

Yeah, yeah well. . . Okay biar aku beritahu alasannya, karena pas kami memulai karir. . . kamu tahu, kami adalah band punk sejati. Tapi kemudian Epitaph (label rekaman milik Brett Gurewitz, gitaris Bad Religion) menjadi semakin besar. ‘Gak ada masalah sebenarnya. Kita jadi punya Pennywise, NOFX, Bad Religion, dan The Offspring, lalu muncul kami dan Blink (-182). Masalah mulai tampak ketika Fat Wreck Chords (label rekaman milik Fat Mike, vokalis/bassis NOFX) keluar, dan tiba-tiba semua band punk jadi terdengar serupa.

Aku cukup setuju, karena aku mengalaminya di dekade 2000-an ketika melodic punk menjamur, untuk pertama kalinya aku menemukan Me First and the Gimmie Gimmies, No Use For a Name, Millencolin dan band-band sejenis lainnya.

Yeah, yeah. . . ketika semua band punk terdengar seragam aku ‘gak bisa mengikuti mereka, tren itu ‘gak bikin hatiku bahagia lagi. Akhirnya aku mengubah seteman gitarku menjadi D tuning dan mulai menulis musik yang berbeda, yang mana uhm. . . (terbatuk) masih tetap punk rock bagiku. Tentu saja itu bukan gaya punk rock Epitaph atau Fat Wreck. Aku benar-benar ‘gak mampu melakukannya lagi, man. Aku lelah dengan tren. Cukup sudah, musik-musik itu ‘gak punya jiwa. Dan buatku itu bukan punk rock. Itu cuma musik microwave, dengan satu atau dua beat di dalamnya.

Microwave? (Tertawa) Maksudmu musik fabrikasi, seperti makanan lama yang dihangatkan, ‘gak segar, ‘gitu?

Yeah, seragam. Aku ‘gak bisa menemukan perbedaan selera di antara mereka, setiap band meleleh menjadi sesuatu yang terdengar sama.

Tapi setelah meninggalkan punk rock yang bisa dibilang ortodoks, lebih mentah dan kebut, kalian malah menggapai sukses lewat Elva. . .

Yeah, lagu kami “Seein’ Red” berhasil masuk radio chart, dan besar di wilayah Amerika Utara.

Ada yang mengolok-olok, ‘gak? Merendahkan keputusan kalian mengubah arah musik, “You guys fuckin’ sell-out, you’re not punk rock anymore!”.

Oh, I don’t give a fuck. No, ‘gak ada yang berani bilang ‘gitu ke kami, atau aku tonjok muka mereka! (terkekeh dengan nada mengenyek). Mereka akan lihat seberapa punk rock diriku! (kembali terkekeh). Y’know ‘am sayin’? Tapi sejujurnya, kalau ada orang yang mengatakan hal itu, aku ‘gak bakal tersinggung karena aku tahu mereka bicara dari sudut pandang yang buta. Ya memang betul Fat Wreck dan Epitaph sangat punk rock. . . ketika aku tumbuh bersama punk rock di era 90-an, aku berada di lingkungan melodic punk, tapi sebelumnya aku telah mendengarkan Bad Brains, The Misfits, yeah. . . 7 Seconds dan Youth Brigade dan Descendents. Merekalah punk rock bagiku. Dan di saat itu pula Bad Religion baru mulai, kami mendengarkan Agaisnt the Grain (Epitaph, 1990), lalu Suffer (Epitaph, 1988) – look at this. . . (menyingkap bagian gelambir lengan kirinya dan menunjukkan tato sampul album Suffer yang telah pudar) – aku terpana, “What the fuck is this? Fuck yeah! This is the greatest band in the world!” Tapi sayangnya semua band punk rock ingin menjadi Bad Religion. Aku menulis musik bukan ditujukan untuk para punk rockers atau bagi penggemar atau sebuah genre. Motivasiku menulis musik. . . okay, sejujurnya untuk anak-anakku supaya mereka tidak merasa malu. Y’know ‘am sayin’?

Uhm. . .

Aku selalu menulis lagu sebagus mungkin supaya anak-anakku ‘gak bilang, “Dad, that’s corny.” Dan bagiku, itu termasuk punk rock. Aku kira setiap orang punya gagasan masing-masing terhadap apa itu punk rock, dan aku datang dari generasi old school ketika punk rock bukanlah sebuah fashion. Punk rock adalah emosi. Y’know ‘am sayin’? Sikap anti kemapanan. Dan aku menjalani hidupku dengan cara begitu, terutama sewaktu masih muda. So, yeah. . . ‘gak ada orang yang berani menghina, kami band yang cukup ganas—

Yeah, khususnya kamu dan dramermu. Aku baca banyak cerita antik tentang kalian pukul-pukulan di panggung, kena cekal di CBGB, ditendang dari Warped Tour, tapi kita akan ngobrolin itu nanti. Tadi kamu bilang, “‘gak mau bikin anak-anakmu malu,” aku penasaran apa reaksi anak perempuanmu Cailin, ketika dia tahu kamu menjuduli lagumu dengan namanya?

Well, dia berusia empat tahun sewaktu aku menulis lagu itu. Tapi satu cerita keren tentang lagu itu adalah. . . kami dikontrak Interscope kala itu, dan kami baru saja menyelesaikan rekaman yang akan menjadi “the black record”. A&R kami merasa belum ada lagu yang pantas untuk bisa dijadikan single. Okay. Lalu kami menulis beberapa lagu baru lagi, dan masih ‘gak ada satu pun yang dianggap pantas. Mereka bertanya sekali lagi, “Do you have anything else?”. Akhirnya aku bilang, “ada lagu yang kutulis sebagai hadiah untuk anak perempuanku, yang akan kumainkan hanya untuk dia.” Bahkan aku ‘gak pernah kasih dengar lagu itu ke bandku karena saat itu kami sebuah band punk totok. Aku mainkan lagu itu ke A&R dan dia bilang, “Nah, ini dia!”. Aku kaget. Maksudku, “Dude, my band’s not gonna let me play this fucking song! There’s no fucking way!” Dan ketika aku beri tahu ke anak-anak dan memperdengarkan “Cailin”, respons mereka juga membuatku kaget, “That song is fucking great!” Mereka suka dengan lagunya. “What! Fuck. All right, ayo kita rilis.” Tapi sekarang aku berpikir, thank god aku menulis lagu itu. Itu lagu pertama yang benar-benar aku tulis dengan sangat, sangat jujur. Mungkin karena itu juga lagunya mampu menjalin koneksi dengan orang lain. Aku tidak berpikir itu lagu paling bagus yang pernah kutulis, y’know ‘am sayin’? Tapi aku betul-betul tulus. Yeah. . . itu lagu pertama kami yang mencapai Chart Top 20 Singles, awal dari semua perjalanan baru kami. Seandainya aku ‘gak punya Cailin, aku ‘gak bakal menulis lagu itu. Seandainya aku ‘gak pernah menulis lagu itu, Interscope akan memecat kami dan kita ‘gak akan mengobrol di sini sekarang. Uhm, yeah. . .

Sekarang Cailin punya karir sebagai musisi seperti ayahnya, tapi gaya musiknya sangat berbeda jauh denganmu.  

Oh, yeah. Dia seekor binatang dalam versinya sendiri. Dia seekor monster. Dia, uhm. . . terus terang penilaian ini rada bias karena aku ayahnya, tapi juga. . . aku pun seorang Capricorn, jadi aku termasuk orang yang. . . (ia memetikkan jempolnya ke jari tengah coba membahasakan secara non verbal sifat Capricorn yang seolah punya sifat tegas) melihat sesuatu dengan pandangan hitam-putih, ngerti, kan? Yeah, agak kaku. Aku beri tahu kamu, lirik miliknya tepat sasaran. Dia lirikus yang 10 kali lebih hebat dariku. Suaranya berlian, dan kau lihat, dia mengagumkan. Aku ‘gak bisa lebih bangga lagi dengan Cailin. Dia baru saja dikontrak Atlantic Records, yang mana gila! Dia punya lagu yang viral setelah dijadikan penutup adegan final sebuah TV show terlaku di Amerika Utara, judulnya Heated Rivalry. Dia masuk ke dalam peta industri. Ada satu lagu lainnya lagi yang viral, “Triple It”. Cailin sangar, dude! Buatku, Cailin adalah punk rock, absolut.

Meski ‘gak mainin punk rock sama sekali.

Yeah, dia berasal dari. . . dia menyanyikan musik yang dia sukai. Dia ‘gak menyanyikannya buat orang lain, ngerti, kan? Kemampuan bernyanyinya datang dari naluri seekor penulis lagu. Karena aku tahu seberapa bagusnya dia, aku pernah bilang padanya, “I wanna hear Amy Winehouse’s Back to Black, I want 10 fucking hits in a row.” Dan dia jawab, “Dad, I just wanna make music.” Buatku saat dia menjelaskan keinginannya dan aku mendengarkan lagu-lagu barunya, “Ini bukan punk yang seperti ‘(tangannya membuat ketukan dram cepat classic 2/4 di paha), bahkan juga bukan rock—

Lebih ke electro pop masa kini, dengan autotune dan beat trap.

Well, dia punya lagu seperti itu, dan juga punya lagu bergaya lain. Dia berada di segala spektrum musik. Uh-huh. Secara lirik, kalau kamu mendalaminya, apa yang ditulisnya cukup agresif. Dan buatku, sekali lagi, itu punk rock. Sesuatu yang mengusik dirimu, yang benar-benar menggugah perasaanmu, mungkin tidak beresonansi secara massal, tapi beresonansi secara personal. Buatku, yang seperti itu, dalam tingkatan tertentu dapat dianggap punk rock.

Thanks for your DNA, I guess.

Uh, boy. Sudah seharusnya (terkekeh bangga). Sejujurnya dia versi diriku yang lebih baik. Yeah. She’s the cooler version of me.

Ceritakan lagi tentang The Hum. Aku ingin tahu bagaimana Unwritten Law mengeksplorasi sisi kreatif setelah lama sekali ‘gak bikin album baru. 

Uhm, yeah. The Hum memakan waktu yang panjang untuk dikerjakan, dan sebagai sebuah rekaman diselesaikan dengan melalui banyak rintangan. Kami tinggal di kota yang berbeda-beda. Aku tinggal di Meksiko, dan harus pulang ke Amerika untuk menyelesaikannya. Yang sebetulnya tidak terlalu jauh secara jarak. Tijuana dan San Diego, kota tempat kami melakukan rekaman adalah sister cities, yang dipisahkan oleh perbatasan negara di tengahnya. Memang tidak mustahil tapi tidak juga mudah melakukannya. Itu salah satu perbatasan negara paling sibuk di dunia. Oleh karena itu sesi rekaman menjadi sebuah proses yang cukup sulit, sebab aku harus mengagendakan diri sehari sebelumnya untuk menyeberang lautan supaya bisa sampai tepat waktu di studio keesokan harinya. Mm-hmm. Kami benar-benar mendedikasikan diri untuk album itu, sekitar lima tahun. Maksudnya, setelah 10 tahun ‘gak pernah bikin album baru, kami ‘gak rela. . . (nada bicaranya berubah seolah ingin menekankan sesuatu) Okay, baiklah, begini. . . aku sangat menyukai The Hum. Aku ‘gak yakin kamu menyukainya. Tapi setelah 10 tahun, kami ‘gak rela menulis sesuatu yang terdengar seperti kotoran anjing. Jadi, setiap elemennya harus bagus. Saat kami menyelesaikannya, aku bangga dengan hasilnya. Tapi sayangnya album itu selesai di tengah puncak Covid. Kami merilisnya di tahun. . . (ia tampak mengingat-ingat).

2022, aku yakin.

Ah, kamu lebih hafal dariku (tertawa). Kami merekamnya di sepanjang Covid, sehingga kami ‘gak bisa berkumpul lengkap di studio. Pada dasarnya hanya aku dan Chris Lewis (gitaris Unwritten Law sejak 2014) yang mengerjakan semuanya. Ketika akhirnya selesai kami ‘gak bisa langsung merilisnya. Label rekaman kami menolak melakukannya karena mustahil menyelenggarakan tur promo. Jadi kami mesti menundanya selama 1,5 tahun sampai Covid reda baru bisa pergi tur. Begitu albumnya terbit, kami telah menyimpannya selama dua tahun, sehingga euforianya berbeda, ‘gak hip seperti normalnya album yang baru keluar. Y’know ‘am sayin’? Dan aku sadar satu hal, kamu pasti menyetujuinya, para penggemar ‘gak suka mendengarkan lagu-lagu baru. Jadi kami berkorban waktu selama itu, maksudku, brengsek. . . aku menghabiskan lima tahun untuk menyelesaikan album ini, right? Lima tahun jiwaku. Dan saat aku memainkannya di atas panggung, aku ‘gak bisa bener-bener memainkannya karena kami sudah punya banyak lagu, kami harus merangkumnya dari delapan atau sembilan album ke dalam sebuah setlist. Untuk pertunjukan berdurasi 1,5 jam. Bangsat, memang. Lalu kamu punya penggemar old school, mid school, atau penggemar baru. Setiap orang pasti kecewa, sebagian lagi puas. Y’know ‘am sayin’? Di atas panggung kami harus membawakan lagu-lagu lama untuk kalian. Baiklah, tapi aku ‘gak merasakan gairah yang sebegitu besarnya seperti saat aku membawakan lagu-lagu baru. Aku seperti. . . (ia berpikir mencari ungkapan yang tepat).

Terperkosa secara jiwa?

Well, fuck yeah. Jiwaku, khususnya. Kamu menulis lagu untuk jiwamu, bukan untuk penggemar, kan? Yeah, well. . . apa yang seharusnya terjadi, terjadilah. Aku harus menyenangkan diriku, dan aku harus menyenangkan penggemar. Y’know ‘am sayin’? Kamu tahu, kalau aku harus membawakan Blue Room (Red Eye, 1994) setiap malam, brengsek. . . aku ‘gak mau melakukannya. . . atau Oz Factor (Epic, 1996). Itu ‘gak berdampak bagiku, ngerti, kan? Aku lebih menikmati “The Black Record”. Aku lebih senang Elva atau bahkan The Hum.

Tapi kami semua menyukai Oz Factor (terkekeh). Album dengan Greg Graffin (vokalis Bad Religion) sebagai produser.

Uhm, aku belum tahu caranya bernyanyi dengan benar di album itu. Kalau kamu dengar Blue Room dan Oz Factor, aku seperti ‘gak punya jiwa. Aku cuma, “oh, la, la – oh, la, la” (berdendang, menjelaskan betapa pragmatis melodi vokalnya di dua album itu). Semua intonasi di sana ‘gak punya jiwa, susah buatku untuk kembali mendengarkannya sekarang. Tapi saat itu aku memang sedang belajar bagaimana caranya bernyanyi dan menulis lagu. Aku bukannya. . . (ia mengubah arah pembicaraan). Cinta pertamaku adalah skateboarding. Cuma skateboarding yang aku pikirkan setiap hari. Musik bukan, kamu tahu. . . awalnya aku ‘gak punya minat terhadapnya. Tiba-tiba saja aku sudah berada di atas panggung saat aku baru mau mulai belajar bernyanyi dan menulis lagu. Y’know ‘am sayin’? Dua album awal itulah proses belajarku. Aku baru bisa menemukan jati diriku di “The Black Record”, tapi di saat yang bersamaan punk rock telah berubah menjadi. . .

Too overrated, uh?

It’s just corny. Bukan overrated. Isinya cuma orang-orang dengan celana pendek tolol dan kerjaan mereka cuma nongkrong-nongkrong doang. Yeah! Get the fuck out of here, bro! Ayolah! Sebut satu nama punk rocker dari The Misfits atau Black Flag. Yeah. Whatever the fuck you have! Kamu tahu siapa yang kumaksud. . . Aku masih bisa mendengarkan “The Black Record”, tapi rasanya seperti menggarukkan kuku di papan tulis ketika harus berhadapan dengan dua album awal kami. Y’know ‘am sayin’? Aku sadar orang-orang menyukainya, album-album itu menjadi potret kehidupan mereka, aku menghargainya. Aku masih sering memainkan “C.P.K.”, “Shallow”, etc. Malam ini kami akan memainkan “Coffin Text”. . . (ia mengubah arah pembicaraan kembali ke topik “sell-out”). Dengan orang-orang mengejek kami sell-out, aku justru percaya hal itulah yang membuat kami berusia panjang. Kalau kami terus menyenangkan orang lain, mungkin kami sudah bubar sekarang. Karena sebagai penulis lagu, kami tumbuh dan, sejujurnya sebagai seniman kami mendewasakan diri. Aku selalu menjadi seekor punk dalam semangatku karena ‘gak ada satu hal pun yang bisa mencerabutnya. Punk ada di dalam DNA. Membentuk pola pikirku, menuntun caraku bereaksi terhadap suatu permasalahan, dan sebagainya. Inilah punk, kebebalan punk. Tapi pertumbuhanku sebagai seniman dan sebagai penggemar musik membuatku menyerap, dan lebih banyak menyerap dari berbagai macam pengaruh yang berguna demi mewujudkan evolusi musikalku. Setiap rekaman, setiap album memiliki pengaruh yang berbeda-beda. Sewaktu mengerjakan The Hum, aku menyimak berbagai jenis musik lain. . . misalnya, Beach Goth, kamu pernah dengar mereka?

Nope.  

It’s a cool, cool shit!

Bagaimana dengan Acoustic (Cyber Tracks, 2016)? Judulnya mengecoh musik yang sebenarnya kalian sajikan.

Uhm, aku. . . secara pribadi ‘gak bisa menikmati albumnya. Maksudnya, yeah. . . aku ‘gak menyukainya. Tentu saja, itu adalah sebuah pekerjaan. Aku harus melakukannya. Tapi di luar itu proses pengerjaan Acoustic sangat seru. Komposisi lagu-lagunya ditulis dalam rangka mengisi waktu jeda di antara album terakhir dan persiapan menuju album kami selanjutnya. Label kami menginginkan album itu. Mereka bilang, “Hey, kami sudah booking studio. Kami ingin kalian menulis 10 lagu dengan gitar akustik. Kita akan merilisnya.” Okay, cool. Aku ‘gak keberatan. ‘Gak ada yang perlu dikhawatirkan. Dan mereka memberi kami produser, tapi aku ‘gak cocok kerja dengannya. Mereka menggantinya dengan temanku, Jim Perkins (Dirty Heads, Kottonmouth Kings). Dan selanjutnya yang terjadi adalah magis. Cukup gila karena awalnya kami bermaksud menulis musik akustik seperti yang label inginkan—kami menggunakan metronom, ngerti, kan? Aku mengisi dua lapisan gitar untuk menambahkan overdub lalu merekam vokal, dan selesai. Itu yang akan kami rilis. Tapi pada suatu malam kami semua teler berat, benar-benar teler, dude. Kami pesta gila-gilaan, kami mengonsumsi semua narkotika yang bisa kami dapatkan, lalu berakhir dengan malam itu kami semua pulang ke studio dan mulai bereksperimen melakukan hal-hal gila. Tiba-tiba saja suasananya berkembang menjadi: “Oh, kamu tahu kita harus menambahkan apa biar lagu-lagu ini jadi kece?” A sick fucking bass line. Dan kami memasukkan bass di sana. “Terus apa lagi?” Beberapa beat gila. “Tapi ‘gimana caranya?” Aku ambil theremin (ia bersiul menirukan bunyi frekuensi theremin, menggerakkan tangannya lentik). Bisa dibilang kami membedah ulang lagu-lagunya layaknya mainan, melepaskan gaya lama Unwritten Law dari status punk rock-nya.

Pantas ‘gak terdengar sama sekali seperti Unwritten Law.

Yeah, yeah. Kalau kamu dengerin “Nevermind”, aku mengubah nadanya jadi minor, dan memasukkan unsur dub reggae, ngerti, kan? Hasilnya, benar-benar menjadi lagu yang berbeda. Uh, that’s fucking sick! Bahkan kalau aku menempatkan diri sebagai penggemar, itu tetap sangat keren. Sangat punk. Dan kalaupun albumnya membuat para punk rocker keparat itu jengkel, bagus. . . fuck you! Mungkin memang itu tujuannya. Itulah punk buat kami. Itulah cara berpikir kami, dan ‘gak bakal aku merilis sesuatu yang ‘gak aku yakini. Seperti saat kami mengerjakan album Swan (Suburban Noize, 2011)—

Aku ‘gak mengerti dengan album itu. . . (terkekeh).

Swan adalah album yang dikerjakan dengan konsep, masing-masing dari kami mendapat porsi tugas untuk dapat menyelesaikan setiap lagunya. Setiap orang punya bagiannya sendiri. Ketika demonya rampung dan aku memeriksanya, aku berpikir, “Oh, man. . .” Aku ‘gak sudi, demi karirku. . . aku ‘gak mau namaku dicantumkan di lagu-lagu yang aku sendiri ‘gak meyakininya. Aku memaksa kami untuk mengulang semuanya dari awal lagi, and believe me. . . dampaknya sangat buruk. Kami terluka, band pecah, orang-orang pada pergi. Tapi kembali ke studio ketika kami sedang berkutat, aku ‘gak punya pilihan selain menekan mereka, “Oh, man kita ‘gak bisa pake bagian ini, kedengerannya ‘gak masuk akal, ‘gak cukup kuat mewakilkan.” Aku beneran membedah, memotong demo-demo itu dan mengomposisi ulang lagu-lagunya, menciptakan rekaman yang sama sekali baru dengan menjahitnya, mengambil dari apa yang sudah mereka mainkan. Itulah yang sebenarnya terjadi dengan rekaman Swan. Kami ingin menjudulinya “Swan Song”, artinya sebuah penghabisan. Mm-hmm. Tapi anehnya setelah albumnya selesai, aku cukup menyukainya. Yeah. Aku jadi urung mengakhirinya. Kamu tahu swan song, kan. . . a familiar saying in English for last hurrah.

Salah satu bagian paling seru dari pencapaian The Hum adalah, Wade Youman (dramer orisinal Unwritten Law) comeback. Mengingat hubungan love and hate di antara kalian berdua, kamu punya cerita ancur-ancuran tentang dia?

Pasti punyalah! Aku menyimpan jutaan cerita tentang dia. Uhm, dude, dia itu jagoan sejati. Dia bukan bahan bercandaan. Kamu ingin punk rock? That guy’s a fucking punk rock!

Pertama kali aku terkesima olehnya, uhm. . . di klip “Lonesome”, Wade memukuli semua orang yang melintas di depan kalian. Brengsek banget orang ini! Impresi itu ‘gak terlupakan.

Uh, kamu tahu. . . dia seekor superstar. He’s a fucking Hercules. Tapi, yah. . . dia juga punya sisi gelap di mana dirinya adalah seekor pemadat. Y’know ‘am sayin’?

Yeah, junkie keparat. Tapi bukankah saat itu kalian semua juga sama-sama pemadat?

Eh (terkekeh). Aku bolak-balik keluar masuk rehab. Pada dasarnya aku dan Wade, we’re like fucking Liam and Noel Gallagher. Aku menyayanginya tapi kami dua orang dengan kepribadian berbeda, dan kamu tahu, apalagi pada masa dulu, kami berdua mengonsumsi banyak narkotik—

Biar aku tebak, kalian berdua punya selera narkotika yang bertolak belakang. Kamu lebih bertipe downer, sedangkan Wade suka upper.

Kurang lebih begitu (tertawa). Jadi untuk mengimbangi spektrum semacam itu adalah dengan cara bertindak secara berkelas. Tapi aku beri tahu sekali lagi, aku menyayangi orang itu. Aku akan ceritakan rahasia tentang The Hum. Kami mengerjakannya, bikin demo bareng Wade dan terjadilah situasi gila dengan si keparat satu ini. Ketika saatnya kami telah punya shift di studio, dan telah hadir di sana bersama seekor produser, Wade sialan menghilang selama dua minggu. Keparat brengsek itu, aku datang jauh-jauh dari Meksiko, kami telah membayar studio, produser, dan dia kabur ditelan bumi. Off the fucking grid! Kami ‘gak bisa melacaknya. Tiba-tiba datang kabar kalau dia sedang mengungsi ke gurun. “Ngentot!” aku bilang ke produser kami, Joe Marlett (Fenix TX, Transit War, Last Tuesday), “kita harus cari dramer lain.” Kami lalu mengontak RJ (Shankle), kayaknya dia sedang main dengan Strung Out saat itu, dan kami sekalian menjadikannya dramer tur karena Wade punya banyak catatan kriminal, dia dilarang masuk Kanada dan negara-negara Commonwealth. Sebenarnya kami ‘gak terlalu cocok dengan gaya main RJ, tapi kamu tahu, kami harus tampil, menunaikan pekerjaan. Apa boleh buat, kami pun mengerjakan demo dengan RJ. Dan di sini titik brengseknya, kami merekam semua bagian demo untuk dram tanpa Wade yang hilang, kan. . . RJ menyelesaikan tugasnya dengan cepat, he’s a fucking technically really good drummer—

Better than Wade?

‘Gak menurut opiniku. Di sinilah bagian paling gila dari cerita tentang si brengsek Wade, mate. Kami merekam demo di sebuah studio facial yang murah di San Diego. Demo itu jelek banget. Dram, gitar, bass, vokal sudah lengkap, bahkan sudah coba dimiksing, tapi tetap ‘gak kedengeran enak. Pada waktu kami akhirnya merekamnya dengan serius, dengan BPM yang sama seperti di demo, dan lalu aku mendengarkan hasilnya. . . “Jelek,” aku bilang ke Chris (Lewis) dan berseloroh, “Berapa harga yang harus dibayar kalau kita hapus semuanya dan memulai lagi dari nol?” Fuck Joe Marlette! Aku ‘gak peduli dia akan marah atau mungkin mengundurkan diri, yang jelas aku ‘gak sudi merilisnya. Pilihannya antara rombak total atau gagal terbit. . . “Begini saja,” aku bilang ke mereka, “ambil satu lagu, bodo amat yang mana, cabut isian RJ dan lapis dengan demo punya Wade lalu miksing ulang.” Joe setuju melakukannya dan ketika aku mendengarkannya, “Motherfucker, memang beginilah seharusnya.” Wade memiliki penjiwaan untuk menjadi dramer Unwritten Law, ‘gak akan bisa digantikan, menurutku.

Hampir sama kasusnya dengan Josh Freese (Vandals, Devo, NIN, Foo Fighters, Suicidal Tendencies, GN’R, A Perfect Circle, Magnapop, dll) ketika kalian mengajaknya untuk menggantikan Wade yang hilang di tengah rekaman Elva.

Dia menghilang hanya untuk teler-teleran, dan saat itu Tom Whalley, Presiden Interscope menginginkan salah satu lagu kami, “Up All Night” dirilis sebagai single dalam tiga hari ke depan. Kami ‘gak tahu di mana Wade berada. Aku kontak Josh Freese, dia datang dan mendengarkannya dengan tenang sambil duduk. Dia memegang pulpen dan mencatat lagunya not per not. Lalu dia merekam pukulan dramnya dengan sempurna dan singkat, tiga kali take hanya dalam jangka 45 menit tanpa pernah mempelajarinya terlebih dulu.

Sekarang ‘gimana kabar Unwritten Law, apa kalian masih sering manggung?

Kami masih aktif. Yeah, kami akan manggung di Session Surf Festival pada 12 September, sepulangku dari sini. Mungkin aku bukan musisi yang baik, entahlah. . . tapi aku sudah melakukannya seumur hidupku, sejak usiaku 18 . Jadi aku ‘gak tahu kehidupan yang lain. Bisa dibilang, aku ‘gak punya rencana lain, sejujurnya. Di Meksiko pun aku punya bandku sendiri.

Yeah, el Funeral. Aku sempat mendengarkannya pagi tadi.

Aku mendirikannya bersama beberapa musisi Meksiko yang cukup terkenal. Masing-masing berasal dari band yang berbeda. So, aku punya el Funeral di Tijuana, Unwritten Law di Amerika, dan seperti rencana yang aku bilang tadi, aku dan Fajar (Marta) dan Agraless tampaknya akan bikin band sebagai langkah awalku pindah ke Bali (tertawa).

Aku menunggu band itu terwujud. Tapi aku penasaran tentang el Funeral. 

Itu proyek yang cukup menyenangkan. Kami mulai mungkin sekitar empat tahun lalu saat aku pindah ke Meksiko dan berteman dengan beberapa orang di kotaku yang sama-sama punya hobi koleksi skuter Vespa vintage, seperti anak-anak mod. Dua orang di antara mereka seekor bintang rock Meksiko yang bermain di sebuah band ska besar, let me tell you. . . mereka masif. Dramerku main di band bernama Tijuana No! punya lagu “Pobre de Ti”, dalam Inggris artinya ‘poor you’, di YouTube sudah mencapai 370 juta views. Aku seperti, “Whoa, bro! You guys are some shit!”. Yeah, anyway. . . 20 tahun lalu aku mendapat sejenis bisikan dari Tuhan yang memintaku memainkan musik spesifik, reggae tradisional, semacam reagge 60-an. Aku bikin beat dope, aku masukin bebunyian mistis dari theremin, sekilas mencampur Dr. Dre dan Portishead—

Trip hop, maksudmu?

Uhm. . . lebih ke (kembali bersiul menirukan bunyi frekuensi theremin). Gangster shit spooky sound. Yeah. Seperti yang kubilang, 20 tahun lalu di antara jatuh-bangun bersama Unwritten Law, aku mulai mendapat ilham untuk menulis lagu-lagu soloku sendiri dan membentuk sebuah proyek, Scott Russo and the Big Big Bang. Aku ingin melakukan hal semacam itu lagi. Beberapa lagu el Funeral merupakan inkarnasi awal dari Scott Russo and the Big Big Bang. Aku menyuntikkan reverb di mana-mana di el Funeral, sampai semuanya terpoles basah sehingga kami bisa mendapatkan sound vintage yang creepy. Di panggung perdana kami, aku main dengan Fender Twin Reverbs dan seketika suasananya berubah jadi merinding. Oh fuck, this is nasty! Dan kami mulai jadi hype. Tapi kami ‘gak mau menonjolkan persona sebagai Scott Russo dari Unwritten Law atau Alex Zúñiga dari Tijuana No! atau Tarek Limas dari Los Kung Fu Monkeys atau Moises Casillas dari The Untouchables, yeah. . . band ini supergrup pada titik tertentu. Kami hanya ingin menyebutnya sebagai sebuah band dari Tijuana. Karena aku ingin orang-orang merasakan sensasi yang sama seperti saat aku pertama kali menemukan Green Day atau Sublime, saat masih bocah dan belum ada orang yang dengerin musik mereka. Dulu aku meramal dua band itu pasti bakal jadi besar dan terbukti. Aku mau el Funeral mengalami hal itu. Orang-orang menemukan kami secara organik, menyukai kami dan menyadari potensi yang ‘gak dimiliki oleh band lain. Bagiku, itulah hal paling seru dari musik, ketika aku masih bocah dan menemukan sesuatu yang belum pernah didengar oleh orang banyak lalu membagikannya ke teman-temanku. 

Lalu melihat ekspresi terkejut dari teman-temanmu. . .

Bukan cuma itu. Aku dan teman-temanku dulu saling memamerkan band-band baru yang kami temukan. Pada dasarnya berbagi musik. That was cool, that’s really punk rock. Kayak pas The Offspring era Ignition (Epitaph, 1992) keluar, aku mengetahuinya dari temanku, “Fuck, this is better than Pennywise!” Aku ingin el Funeral berjalan di jalur seperti itu. Aku ingin orang-orang menemukannya sendiri dan menikmatinya tanpa ada embel-embel Unwritten Law. Dua band itu makhluk yang berbeda.

Dengan kehidupan gila-gilaan yang dijalani Unwritten Law, ‘gimana cara kamu bisa selamat melewati usia 30-an?

Man, kamu tahu zaman dulu. . . kami sangat kacau, kami banyak mengejek – menghina orang lain, mencoba menjadi punk sejati, band tukang pesta. Seandainya aku bisa kembali ke zaman itu, aku ‘gak akan pesta dan minum sebanyak itu sehingga ‘gak akan menyebabkan kekacauan parah yang menimbulkan baku hantam di mana-mana. Dan brengseknya kami menganggapnya sebagai suatu anugerah karena hal semacam itu ternyata mampu memberi daya pikat. Tapi jika mau berpikir panjang, hal itu sama sekali ‘gak membantu kami. Kami ditendang dari Warped Tour, dicekal di sini, dicoret di sana karena kami terlalu beringas, terlalu berbahaya. Jadi kalau kamu mau selamat dari usia 30-an, man. . . kurangi alkoholmu, jangan kebanyakan pakai kokain, hormati karya senimu dan talentamu dan tubuhmu juga. Usiaku 53 sekarang, dan aku seekor pribadi yang jauh berbeda dari ketika diriku berusia 30-an. Dalam 10 tahun terakhir aku mencoba menemukan jalan spiritualku; jangan tersesat. . . jangan sakiti orang lain. . . jadilah manusia yang baik. Itu pula alasan aku mempelajari Buddha dan Hindu, dan ketika datang ke Bali aku semakin menemukan kesamaannya dengan cara berpikirku.

Koneksi apa yang kamu rasakan dengan Buddha dan Hindu di Bali?

Aku menyukai Bali lebih dari apa pun. Kemurahan hati dan kehangatan yang dimiliki orang-orang Bali membuatku terkesima. Mungkin karena di Amerika Utara, kami terbiasa hidup dalam struktur Kekristenan. . . uhm, yang kupikir sedikit agak gelap dan egois. Di Bali kalian hidup dengan Hindu dan Buddha, menurutku hal itulah yang mendasari kenapa orang-orang lebih punya hati di sini. Maksudnya bukan seperti sebuah resort di mana orang-orang memang dibayar untuk bersikap ramah padamu, di sini orang-orang bersikap tulus padamu. Aku tinggal di Tijuana, kota yang lumayan bahaya. Berada di Bali rasanya menakjubkan, you know. . . aku ‘gak cocok dengan ajaran Kristen, agak dangkal. Di Bali aku lihat orang-orang hidup dengan cara berkomunitas, mereka merawat diri secara rohani dan menjaga komunitas mereka. Komunitas adalah hal yang sangat penting. Jadi jaga teman-teman bandmu, jangan bertindak egois. Dulu aku adalah seekor vokalis yang sangat egois—

Vokalis egois dari sebuah band punk rock yang brutal, ironisnya kedengaran keren.

Aku ‘gak tahu. Egois adalah sifat seekor bajingan. Punk rock itu soal anti kemapanan, anti kekuasaan, itulah basis pengertianku terhadap punk rock. “Siapa kau berani memerintahku?!” Tapi sekarang aku berjalan di lintasan yang berbeda, aku ‘gak lagi berantem di jalanan, aku makan sehat, aku agak meredakan tensi, aku ‘gak lagi banyak berpesta karena liverku mulai memberi sinyal buruk. . .

Kamu masih minum alkohol, kan?

Ya saat ini. Aku sempat stop minum sejak awal tahun ini, tapi di Bali aku minum beberapa gelas dengan pacarku. Secepatnya aku pulang dari sini, aku akan kembali stop alkohol.

Kokain?

No more cocaine.

Ganja?

Fuck, aku mengisap ganja seharian penuh setiap hari!

Aku sempat googling namamu, dan yang keluar adalah berita tentang penangkapanmu di Tampa, Florida akibat kepemilikan ganja. Sekitar dua-tiga tahun lalu.

Pertama kali aku ketangkep di Tampa itu 20 tahun lalu, dan aku ketangkep lagi tiga tahun lalu. Aku masuk bui karena ngisep ganja, 17 tahun sebelum ganja legal di Florida. Jadi aku masuk bui karena sesuatu yang sekarang telah legal. Dalam perjalanan menuju ruang pengadilan aku melewati sebuah dispenser ganja. . . Bullshit, man! Are you fucking kiddin’ me, man? What the fuck is this?

Dan kamu harus membayar $50.0000 supaya bisa bebas.

Aku ‘gak tahu berapa jumlah tepatnya karena bukan aku yang membayarnya. Aku ‘gak punya $50.000. Orang lain yang membayarnya. Well, semua itu terjadi akibat statusku sebagai flight risk (istilah hukum untuk terdakwa yang dicurigai berpotensi melarikan diri) karena aku berasal dari San Diego tapi tinggal di Meksiko. Mereka berpikir, kalau aku membayar biaya penangguhan, orang ini pasti kabur. Aku dikurung selama 21 hari sembari menunggu hakim mempersiapkan sidang. Hal tersebut fatal buat Unwritten Law karena kami baru saja memulai tur The Hum. Efeknya bisa membuat semua jadwal sisa di tur itu dibatalkan. Kami sudah melunasi biaya akomodasi, kami juga sudah mencairkan cek untuk menutupi ongkos produksi. Unwritten Law bangkrut kalau tur kami sampai gagal. Thank god, kami punya satu penggemar fanatik di Florida. Dia bersedia menjadi bail bondsman (penjamin terdakwa) di saat ‘gak ada orang yang berani mempertaruhkannya karena statusku sebagai flight risk. Aku ‘gak akan pernah melupakan namanya. . . Chad, uhm. . . Goldsmith. Yeah, he’s a superfan, a fucking superfan—

Uhm, Goldsmith. . . terdengar seperti Yahudi.

Psstttt. . . (jari telunjuknya ditempelkan ke bibirnya seolah mengisyaratkan top secret). Chad mengurus semuanya. Dia membebaskanku, man. Aku ‘gak bisa minta bantuan ke bandku karena mereka juga tengah pontang-panting, you know. . . Satu-satunya hal yang dimintanya sebagai balas budi adalah oleh-oleh didgeridoo kalau kami tur ke Australia. Dan yeah. . . aku bebas dari bui, kami berhasil merampungkan tur dan mampu menjual t-shirt cukup banyak. Sebegitu berharganyalah arti penggemar buatku.

 Ceritakan memorimu tentang Warped Tour.

Saat kami muda itu rangkaian tur terbaik di dunia. Kamu bepergian dengan teman-temanmu, semua band saling berteman satu sama lain, you know. . . Awalnya tur itu benar-benar punk rock, ‘gak ada headliners yang sama, jadwalnya diacak setiap malam. Sangat berbasis komunitas. Di beberapa kota kami tampil brutal dan ada masa ketika main di Australia, panitianya menempatkan kami bermalam di tenda. Oh, my God! Aku bukan tukang kemping, aku harus mandi di kamar mandi, man. Sepanjang Warped Tour di Australia kami bertemu sebuah band lokal, Grinspoon—band rock Australia paling keren menurutku, albumnya diganjar enam platinum. Mereka band besar di sana. Jadi festival memberi mereka resort sementara band-band lainnya cuma dapet tenda. Aku berteman akrab dengan vokalisnya dan dia mengajakku pindah ke resort mereka, kami selalu bersama seperti sepasang ho—

Tahun berapa itu? (pada detik ini saya menyesali hobi terkutuk menyela orang bicara)

(dan tampaknya Scott juga kesal ceritanya dipotong, sambil batuk ia langsung mengambil ponselnya dan melontarkan pertanyaan kepada ChatGPT – “what was the year of the Australian Warped Tour?” Suara robot perempuan menjawabnya: “The only Australian Warped Tour took place in 2013 that was from—”, tiba-tiba dimatikan Scott)

‘Gak mungkin 2013, salah. . . itu terjadi di era awal kami masih merintis, dan kamu tahu era itu cukup brutal. Ingatanku retak. . . kami pesta gila-gilaan. ‘Gak ada berhentinya di era itu. Memoriku blur sekarang, ‘gak bisa inget apa-apa. . .

Okay, lupakan. Biar aku Google nanti.

Di Australia itulah kami akhirnya ditendang dari Warped Tour. Yeah. Suatu hari kami kebagian jadi band terakhir yang main, dan di belakang sana di area crowd sedang terjadi perang lempar makanan. . . aku sebenarnya ‘gak berniat memprovokasi kerusuhan, aku cuma berseru, “Food Fight!!!” sebagaimana halnya frase yang normal di States, you know. . .  aku ‘gak mau juga mereka merusak tempat itu. Tapi akhirnya hancur sudah. . . mereka melempar setiap makanan dan sampah yang ada di depan mata mereka ke arah panggung. Mereka juga mencabuti rumput dari lapangan rugbi, venue tempat kami bermain dan melemparkannya ke atas panggung. Pokoknya berantakan banget. Lalu orang manajemen panggungnya menghampiri kami dan ‘gak sengaja merusak tuner milik Rob(Brewer). Rob punya tubuh yang besar, you know. . . dan dia tonjok orang itu. Detik berikutnya kami sudah terlibat baku hantam di atas panggung. Yeah, kami memang mengacaukan festivalnya saat itu, tapi kalau menilik lagi ke belakang, kejadian itu memberi dampak yang sangat baik. Beberapa hari kemudian kami masuk koran nasional, dari Sydney dengan tajuk utama: “Sebuah Band Punk Rock Ditendang dari Sebuah Festival Punk Karena Bertindak Terlalu Punk.”

 Nice headline!

Yeah, right! Dan seminggu kemudian album kami diganjar plakat emas di sana. Kami mendapat publikasi yang sangat besar, itu zaman sebelum media sosial. Setelah itu setiap kali kami tur ke sana, publik Australia selalu menyambut dengan baik. Mereka menjadi pasar terbesar kami dan salah satu negara favoritku buat manggung—

(Pembicaraan terpotong, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar hotelnya diketuk. Ketika Scott membukanya tampak petugas medis perempuan muncul di muka. Tadi malam ia melahap ikan bakar dengan bumbu pedas khas lokal, akibatnya siang ini terserang Bali Belly, gejala keracunan makanan yang legendaris di kalangan para turis bule, sehingga mesti disuntik vitamin supaya fit untuk manggung nanti. Setelah kami berdua ikut membantu menyediakan ruang bagi petugas medis tersebut, wawancara dilanjutkan)

Sampai di mana tadi kita?

Ditendang dari Australia. Tapi ‘gak apa-apa, aku akan lanjut ke pertanyaan terakhir saja. Aku penasaran dengan apa yang kamu bicarakan di “California Sky”. . .

Ada masanya kami benar-benar mengulik tentang keberadaan alien. Sejujurnya, kamilah yang membuat Tom (DeLonge, gitaris/vokalis Blink-182, Angels & Airwaves) tergila-gila dengan alien. Aku ingat kami sedang nongkrong di rumahku saat aku menyetel sebuah video tape tentang program alien milik pemerintah, Tom menontonnya dan tercengang. Yeah, lagu itu bercerita tentang alien dan tetek bengeknya.

Beri alasan kenapa aku harus percaya dengan alien, karena aku ‘gak percaya mereka eksis.

Fuck, what are you talkin’ about! Secara matematis mustahil buat kita untuk ‘gak percaya. Kita menyaksikan ada miliaran bintang di langit. . . miliaran bintang itu menunjukkan potensi akan adanya sistem planet lain di luar planet-planet yang mengedari matahari kita. Miliaran bintang itulah miliaran probabilitas akan adanya zona habitat dari bentuk kehidupan yang lain, entah mereka berada cukup dekat atau jauh sekali dari matahari. Kalau kamu masih ‘gak percaya juga, mungkin kamu seorang Kristen yang ignoran.

(Tertawa keras berdua).

Tagged

#punk #scott russo #unwritten law #punk rock