TRACK TALK: Noni – PISSED ME OFF / BORED ME TO DEATH (Self-released, 2026)

Terdengar penuh muak, PISSED ME OFF/BORED ME TO DEATH dari Noni masih belum cukup buat mencerminkannya, meski bukan langkah buruk buat album penuh pertama.
Di tengah lanskap R&B Indonesia yang masih sering berkutat pada tema romansa yang aman, Noni memilih jalur yang sedikit berbeda. Album debutnya, PISSED ME OFF / BORED ME TO DEATH tidak datang dengan narasi cinta yang manis, melainkan emosi yang lebih mentah, marah, jengkel, frustrasi, tapi tetap disampaikan dengan kontrol yang terdengar rapih.
Sejak awal, album ini sudah terasa sebagai ruang personal. Judulnya sendiri seperti pernyataan langsung, tanpa basa-basi, sebuah ekspresi dari emosi yang selama ini mungkin lebih sering dipendam. Noni mencoba memposisikan album ini sebagai teman bagi mereka yang sedang tidak baik-baik saja secara emosional, bukan untuk menenangkan melainkan untuk merasakan semua perasaannya bersamaan.
Album ini dibuka dengan trek “WRITTENINTHESTARS” yang langsung menempatkan pendengar di lanskap sonik yang akan dibawa sepanjang album. Beat yang minimal, vokal yang intimate, dan nuansa melankolis yang dingin jadi fondasi utama. Kehadiran Basboi di trek ini seharusnya memperkaya dinamika, tapi justru di sini lah salah satu masalah pertama muncul. Verse Basboi terasa terlalu dominan, sampai-sampai Noni terdorong ke belakang di dalam bayangan Basboi meskipun ini lagunya sendiri. Untuk sebuah pembuka, ini terasa seperti keputusan yang kurang menguntungkan.
Deretan single yang sudah lebih dulu dirilis seperti “FALL AGAIN”, “MIDORI”, dan “RECKLESS” bersama Rai Anvio berfungsi sebagai jembatan yang cukup mulus menuju lagu-lagu baru. Transisi antar nomor terasa halus, memperkuat kesan bahwa album ini memang dirancang sebagai satu kesatuan.
Secara musikal, Noni bermain di wilayah yang sudah cukup ia kuasai. R&B yang ia bawa terasa sangat dipengaruhi oleh warna K-R&B, dengan pendekatan yang minimalis, atmosferik, dan fokus pada emosi yang subtle. Referensi seperti Yerin Baek, DEAN, hingga Colde terasa cukup kental, baik dari segi produksi maupun cara membangun mood.
Konsistensi ini jadi salah satu kekuatan utama album. Tidak ada trek yang terasa benar-benar keluar jalur, semuanya berada dalam spektrum yang sama, membangun suasana yang kohesif dari awal hingga akhir. Apalagi dengan fakta bahwa Noni juga bertindak sebagai produser di seluruh nomor, album ini terasa sangat personal, seperti perpanjangan langsung dari apa yang ia rasakan.
Namun, di saat yang sama, konsistensi ini juga menjadi pedang bermata dua. Setelah beberapa kali didengarkan ulang, pola yang dibangun mulai terasa repetitif. Banyak trek berjalan dengan tempo, mood, dan pendekatan yang serupa, tanpa ada momen yang benar-benar memecah dinamika atau memberikan kejutan signifikan. Pada first listen, atmosfer yang dibangun terasa kuat dan imersif. Tapi setelah dua atau tiga kali putaran, daya tarik itu perlahan memudar, menyisakan kesan bahwa album ini lebih mengandalkan “vibe” daripada eksplorasi yang lebih jauh.
Pilihan untuk menggunakan bahasa Inggris di seluruh album juga menghadirkan dilema tersendiri. Di satu sisi, ini memperkuat positioning Noni dalam lanskap R&B global, membuatnya terasa lebih aligned dengan referensi yang ia bawa. Tapi di sisi lain, ada jarak yang tercipta dengan pendengar lokal. Di tengah skena hiphop dan R&B lokal yang mulai semakin percaya diri dengan penggunaan bahasa Indonesia, keputusan ini terasa seperti melewatkan peluang untuk membangun koneksi yang lebih dekat dan relevan.
Tema besar “rage” yang diusung juga menarik untuk dibahas. Alih-alih mengekspresikan kemarahan secara eksplosif, Noni justru memilih pendekatan yang lebih tertahan. Amarah di sini tidak meledak, tapi pelan-pelan mengendap hadir dalam bentuk dingin dan pasif-agresif. Pendekatan ini memang memberi karakter yang berbeda, tapi di beberapa titik terasa kurang mencapai klimaks yang diharapkan dari sebuah konsep “rage” itu sendiri.
Visual baseball bat yang diusung sebagai simbol kemarahan sebenarnya sudah memberi petunjuk akan arah yang lebih agresif. Namun secara musikal, energi itu tidak sepenuhnya diterjemahkan. Kedengarannya justru amarah yang sudah dipoles, dikontrol, dan mungkin sedikit bermain di wilayah yang terlalu aman.
Di luar impresi tersebut, penting untuk melihat album ini sebagai langkah awal. Noni jelas bukan musisi yang datang tanpa arah. Ia punya identitas yang cukup jelas, punya referensi yang kuat, dan yang paling penting, punya kontrol penuh atas karya yang ia buat. Tidak banyak musisi debut yang langsung mengambil peran sebagai produser di seluruh albumnya, dan ini menunjukkan keseriusan serta visi jangka panjang. PISSED ME OFF / BORED ME TO DEATH mungkin belum menawarkan sesuatu yang benar-benar baru dalam lanskap R&B Indonesia. Ia masih berdiri cukup dekat dengan bayang-bayang referensinya, dan belum sepenuhnya menemukan suara yang benar-benar unik. Tapi di saat yang sama, album ini berhasil membangun fondasi yang solid.
Ke depannya, tantangan terbesar bagi Noni bukan lagi soal konsistensi, tapi keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Untuk mengambil risiko, mendorong batas sound yang ia punya, dan mungkin, membiarkan emosinya benar-benar lepas tanpa terlalu banyak kontrol. Karena jika album ini berbicara tentang amarah, maka langkah berikutnya adalah membiarkan amarah itu benar-benar terdengar, bukan sebatas terasa.
