X

TRACK TALK: Tekateky & Fanatik Kinetik — Ethernet (Kinetik Records, 2026)

by Freykarensa Ersaddy / 2 months ago / 183 Views / 0 Comments /

Nostalgia tak melulu  berlabuh pada romantisasi, EP Ethernet membiarkannya jadi fragmen memori yang kadang utuh kadang buyar, namun tetap membekas–tak sempurna.



Ada kecenderungan menarik dalam musik elektronik independen beberapa tahun terakhir. Banyak musisi mencoba membayangkan masa depan lewat suara yang semakin digital, semakin kompleks, dan semakin steril. Ethernet, EP kolaborasi antara Tekateky dan Fanatik Kinetik, justru bergerak ke arah yang berbeda. Judulnya memang terdengar seperti sesuatu yang lahir dari ruang server atau forum internet jadul, tetapi isi di dalamnya lebih dekat dengan upaya mengarsipkan kenangan yang perlahan mulai pudar.

Proyek ini berangkat dari pengalaman personal Panglima Madani alias Tekateky yang tumbuh dalam lingkungan Sekolah Alam, asrama, hingga homeschooling sebelum akhirnya menjalani kehidupan urban yang sangat berbeda. Perpindahan itu menjadi fondasi utama Ethernet. Bukan dalam bentuk cerita yang disampaikan secara eksplisit, melainkan melalui suasana yang terus muncul sepanjang EP. Hutan berganti gedung, suara burung berganti notifikasi, dan ruang-ruang yang dulu terasa luas kini hanya hadir sebagai fragmen memori.

Kalau banyak rilisan bertema nostalgia memilih pendekatan yang hangat dan romantis, Ethernet terasa sedikit lebih aneh dari itu. Kenangan di sini tidak muncul sebagai sesuatu yang utuh. Mereka datang dalam potongan-potongan kecil yang kadang sulit dikenali bentuk aslinya. Rasanya seperti membuka folder lama di laptop dan menemukan foto-foto yang masih familiar, tetapi kamu sudah lupa kapan dan mengapa foto itu pernah diambil.

Di atas fondasi tersebut, Fanatik Kinetik berperan penting dalam membentuk bahasa musikal EP ini. Ia menerjemahkan berbagai citra dan ingatan yang dibawa Tekateky menjadi susunan synth, MIDI, gitar, dan elemen elektronik lain yang bergerak secara organik. Hasilnya bukan ambient murni, bukan pula elektronik yang berorientasi dancefloor. Musiknya berada di wilayah tengah yang nyaman, cukup melankolis untuk dinikmati sendirian, tetapi tetap memiliki denyut yang membuatnya terus bergerak.

Dari trek pembuka, atmosfer menjadi elemen yang paling dominan. Tidak ada usaha untuk langsung menarik perhatian lewat hook besar atau momen dramatis. Sebaliknya, EP ini mengajak pendengar masuk secara perlahan. Semakin lama didengarkan, semakin banyak detail kecil yang muncul dari balik lapisan suara. Pendekatan seperti ini mengingatkan pada beberapa rilisan elektronik kontemplatif yang lebih tertarik membangun ruang dibanding membangun klimaks.

Di titik tertentu, Ethernet juga terasa seperti hasil pertemuan antara sensibilitas folk dan elektronik. Bukan karena ada banyak instrumen akustik yang dimainkan secara menonjol, melainkan karena cara kedua musisinya memperlakukan suara. Bahkan ketika synth mengambil alih ruang, masih ada nuansa manusiawi yang membuat musik ini terasa dekat. Tidak dingin, tidak mekanis, dan tidak terjebak dalam obsesi terhadap teknologi itu sendiri.

Referensi yang terlintas mungkin datang dari berbagai arah. Ada sedikit bayangan karya-karya awal Boards of Canada dalam cara mereka memperlakukan nostalgia sebagai tekstur, sementara beberapa bagian lain mengingatkan pada pendekatan ambient-pop yang sering muncul dalam katalog Four Tet atau eksplorasi elektronik organik ala Caribou. Meski begitu, Ethernet tidak terdengar seperti kumpulan referensi yang dipaksa bertemu dalam satu ruangan. Semua pengaruh tersebut hadir sebagai percikan kecil yang membantu membentuk identitasnya sendiri, bukan sebagai cetak biru yang harus diikuti.

Salah satu aspek yang menarik adalah keberanian mereka membiarkan ruang kosong tetap menjadi ruang kosong. Di era ketika banyak musik elektronik dipenuhi detail tanpa henti, Ethernet justru memahami pentingnya jeda. Beberapa bagian terasa seperti sengaja membiarkan pendengar mengisi maknanya sendiri. Pilihan ini membuat pengalaman mendengarkan terasa lebih personal dari satu orang ke orang lain.

Ketika lagu “ETHERNET” muncul sebagai satu-satunya trek yang menghadirkan vokal Tyrelle Amaru dan lirik yang ditulis bersama Lutfi Dana, dinamika EP ini berubah sejenak. Kehadiran suara manusia menjadi semacam penanda arah setelah sebelumnya pendengar diajak berkeliaran dalam rangkaian komposisi instrumental. Menariknya, lagu ini tidak mengambil peran sebagai pusat perhatian yang dominan. Ia justru menyatu dengan keseluruhan narasi yang sudah dibangun sejak awal.

Konsep belalang sembah atau cangcorang yang berulang kali muncul dalam proses kreatif Tekateky juga memberikan lapisan visual yang menarik. Simbol tersebut terasa selaras dengan karakter EP ini secara keseluruhan. Kecil, sunyi, sedikit misterius, tetapi terus muncul di sudut kesadaran. Ia menjadi representasi dari bagaimana memori sering bekerja, tidak hadir secara langsung, melainkan muncul dalam bentuk citra-citra sederhana yang sulit dijelaskan.

Yang membuat Ethernet terasa relevan adalah caranya memandang nostalgia tanpa terjebak dalam romantisasi. Masa lalu tidak digambarkan sebagai tempat yang lebih baik dari masa kini. Ia hanya hadir sebagai sesuatu yang terus mengikuti dari belakang. Kadang samar, kadang jelas, tetapi tidak pernah benar-benar hilang. Pendekatan ini membuat EP tersebut terasa lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari dibanding banyak karya bertema nostalgia yang sering kali terlalu sibuk memoles kenangan menjadi sesuatu yang sempurna.

Pada akhirnya, Ethernet terdengar seperti percakapan antara dua musisi yang sedang mencoba memahami bagaimana ingatan bekerja. Bukan lewat cerita yang linear, melainkan melalui bunyi, suasana, dan asosiasi-asosiasi kecil yang muncul tanpa peringatan. Tekateky dan Fanatik Kinetik berhasil menemukan titik temu yang menarik antara akustik dan elektronik, antara alam dan kota, antara masa lalu dan masa kini. Hasilnya adalah EP yang terasa ringan untuk dinikmati, tetapi menyimpan cukup banyak detail untuk terus kembali dikunjungi beberapa waktu kemudian.

Tagged

#Ethernet #kinetikrecords #tekateky #fanatikkinetik