X

Mengenalkan: Indigo Moiré

by Sendhi Anshari Rasyid / 1 year ago / 611 Views / 0 Comments /

Di antara semua band yang membawakan style sound Run For Cover-core, Indigo Moiré masih menjadi favorit kami.


Saya yakin, di antara kamu yang membaca tulisan ini sempat mengalami fase gatekeeping. Dalam konteks musik, gatekeeping merupakan sebuah fase di mana seseorang sangat melindungi akses dan pengetahuan mengenai band atau musisi tertentu agar tidak banyak didengarkan oleh kalangan yang lebih luas. Motif melakukan gatekeeping tersebut pun beragam. Ada yang pengin keliatan hipster nan edgy, ada yang bertujuan melindungi basis massa sang idola supaya yang ada di dalamnya itu cuma yang “ngerti-ngerti” aja, atau sesederhana nggak pengin sang idola pada akhirnya mengikuti selera pasar karena sudah punya pendengar yang bejibun. Tergantung orangnya masing-masing.

Saya pun sempat mengalami fase tersebut. Namun beruntungnya, sudah terlewat jauh. Sekarang, ketika ada band yang saya sukai, saya justru ingin banyak orang mengetahuinya. Nggak ada tujuan khusus, sih, ya itu sebagai bentuk terkecil yang bisa saya lakukan dalam melakukan support terhadap band tersebut aja. Di antara sekian banyak band yang saya sukai, salah satu band yang menurut saya masih berstatus criminally underrated hingga saat ini adalah Indigo Moiré.

Trio asal Bekasi yang terbentuk sejak tahun 2014 tersebut merupakan salah satu early adopter dari band lokal yang membawakan musik dengan style indie-rock mengawang ala Turnover, Basement, Citizen, dan beberapa nama familiar lainnya. Beberapa saat sebelum pada akhirnya gelombang tersebut pergerakannya terasa masif di Indonesia. Namun ironisnya, nama mereka tidak terlalu ramai diperbincangkan ketika terlibat dalam obrolan mengenai band serupa di Indonesia. Padahal, dalam kurun waktu 2015-2016 mereka sudah merilis 6 single pada laman Soundcloud-nya. Lalu kini ditambah oleh sebuah EP berjudul ‘Minestone’ (2019), juga beberapa single baru, yaitu ‘Footjam Whip’ (2020), ‘Whole, Again’ (2022), dan ‘The Taste of It’ (2022). Produktif banget, kan?

Selain bisa dikatakan sebagai salah satu gegedug yang membawakan sound tersebut, secara materi juga masing-masing terasa menyegarkan. Pada setiap rilisan barunya, mereka selalu menginjeksi sesuatu yang baru. Sehingga walaupun masih bisa dikategorikan dalam ranah serupa dengan band-band yang menjadi referensinya, tapi dalam waktu yang sama juga terdengar berbeda. Salah satu contoh bentuk eksperimen tersebut bisa terasa pada single terbarunya, ‘The Taste of It’, yang disisipi breakdown ala hardcore tipis-tipis di tengah nuansa mengawang sepanjang 4 menit, 34 detik. Sebuah kejutan yang tak disangka dan menyenangkan. Coba aja kamu dengarkan sendiri, dan kamu bakalan ngeh hal yang saya maksud.

Walaupun mayoritas membawakan narasi klise mengenai percintaan, Samuel Wullur sebagai penanggung jawab di departemen lirik berhasil membawakannya tanpa terasa cheesy. Penggalan lirik, “Throw me, sink me into void. Right into the point, where there’s no point” dari single ‘Bloom’ akan selalu menjadi favorit bagi saya.

Menurut saya, di antara semua band lokal yang mencoba untuk membawakan style sound serupa, Indigo Moiré masih jadi yang terbaik. Sejak awal kemunculannya, mereka berhasil mengadopsi dan mengeksekusi formula tersebut dengan cemerlang. Tanpa terasa generik dan monoton. Bagi kamu yang masih awam dengan eksistensi mereka, saya sangat merekomendasikan kamu untuk coba mendengarkan Indigo Moiré. Terlebih jika memang kamu pemuja dari para roster rilisan Run For Cover, keseluruhan diskografi Indigo Moiré akan jadi sebuah asupan lezat nan bergizi bagi telingamu.

Tagged

#emo #indie rock #music #indonesia #indigo moire

Leave a Reply