TRACK TALK: Black Horses – Jahanam (Firefly Records, 2026)

Polesan paten heavy rock, psikedelik, blues membuat album Jahanam sukses menjambret perhatian, dan yang paling penting ada di bawah satu terminlogi: indo rock.
Saya tidak pernah suka dengan Black Horses. Bukan karena tidak mencoba. Sudah, dan hasilnya selalu sama: setengah jalan lalu skip. Tapi kemudian ada yang melempar nama album ini di tengah algoritma. Lalu sesuatu di kepala bilang, “coba sekali lagi”. Saya tidak tahu apakah itu keputusan yang bagus atau sebatas momen getir di hari yang salah. Yang jelas saya tidak skip. Dan itu sendiri sudah cukup mencurigakan.
Dari sebuah grup rock yang selama ini selalu berhasil membuat saya kehilangan kesabaran sebelum lagu ketiga di albumnya kelar. Apakah ini artinya mereka berubah? Atau malahan saya yang berubah? Masih belum yakin. Dan ketidakyakinan itu yang akhirnya membuat duduk pasang kuping. Sebenarnya saya tahu ada siasat dari mereka perkara tiba-tiba terpampang Jahanam sebagai titel album ini.
Bahasa Indonesia ya? Hm… menarik. Indo rock. Itu satu-satunya keputusan yang benar dari semuanya. Bukan karena nasionalisme murahan yang biasa dijual di kaos konser. Kata-kata ini hanya bisa bekerja dalam bahasa yang tumbuh dari tanah yang sama dengan orangnya. Tidak bisa diterjemahkan pun tidak perlu juga.
Komposisinya lain cerita. Bass berjalan seperti orang yang tau kemana pergi tanpa perlu grasak-grusuk. Persis Jack Bruce waktu masih waras dan belum capek untuk hidup. Riff-nya gemuk, lambat, melingkar seperti asap yang tidak buru-buru pergi ke luar ruangan. Budgie di sini. Cream di sana. Pula spirit Owsley “Bear” Stanley III yang mendanai Grateful Dead era awal dari bisnis ‘masak’ acid.
Dan di celah antaranya ada sesuatu yang lebih tepat melempar ingatan pada kompilasi penting Those Shocking Shaking Days. Era ketika beberapa golongan narkotika masih bisa bebas pakai dan indo rock tumbuh persis seperti itu. Subur. Tidak minta izin. Tidak akan bisa direplikasi dengan sengaja oleh orang yang cuma baca Wikipedia tentangnya.
Bajingan. Ini yang selama ini tidak pernah ada di materi mereka sebelumnya. Masalahnya, semua itu hanya bertahan satu trek. Pembuka. “Manusia Setengah Kuda” yang setelahnya terasa layaknya sesuatu yang mulai kendor. Seperti trip yang puncaknya datang terlalu cepat dan sisanya cuma kalian duduk menunggu sesuatu yang tidak kembali. Dan prasangka lama itu mulai merayap balik pelan-pelan. Bajingan.
Liukan vokal yang saya merasa bisa sangat-sangat kompromi dan melupakan semua aib Black Horses di katalog-katalog mereka sebelumnya. Setelah coba terus putar ulang. Ulang lagi. Dan ulang lagi. Secercah pencerahan itu datang, lumayan petenteng dan mampu kasih jari tengah ke opini tukang bual yang seperti orang kebotian dan merasa seleranya paling bagus. Bassline mengendap dari “Makan Tuan” terasa patuh membuka gerbang tamasya menuju jalan setapak transendental ke medio ’70-an saat Ucok Harahap masih setengah sinting. Ya, ia suka debus dan atraksi di masa itu. Tak waras sepenuhnya.
‘Kukejar lagi surgamu
Sakit yang ku cari
Merusak semua saraf ku
Ku harap kau mati’ — “Jahanam”
Nomor yang sama dengan judul album, “Jahanam” masih sama. Lagi-lagi yang menarik perhatian adalah penulisan lirik, pattern vokal, hingga ujaran sonik rock lumat perangko. Semuanya berkat campur tangan J.P. Patton sebagai produser, Kelompok Penerbang Roket sempat jadi fenomena di awal kemunculannya.
Coba pikir berulang kali sebelum akhirnya ketok palu untuk meminggirkan “Mawar Api” setelah. Biarpun menggiurkan, saya bosan ketika dikit-dikit meromantisasi diksi neraka seolah sesuatu yang paling indah. Ingat, Komunal pernah bilang; “Jangan kau main api, kuberi kau neraka, kuatkah kau menahannya?”
Jika lihat lagi kondisi sekitar, memang ada lagi analogi yang plek-ketiplek mewakili hidup kita detik ini selain neraka? Telek! Entahlah… Intro psikedelia awur-awuran “Berkuda Di Neraka” main selonong tak sopan lebih menarik. Dihantam riff medioker namun gagahnya bukan kepalang. Tak segila itu juga, tapi tone gitar semi-fuzzy bikin candu? Saya yakin isinya opioid kelas kacang goreng dengan nafas heavy rock ala Climbing! (1970) milik trio Mountain. Sisanya pun begitu, heavy rock penggetar biji selangkang. Sialnya ini adalah indo rock.
Dua trek lanjutannya masih tak punya bius kuat, “Peduli Setan” dan “Tirani Tua” benar-benar mampu bikin kuping ini peduli setan secara literal dengan apa yang sedang Black Horses mainkan sambil jumpalitan main bass banjir groove, jadi virtuoso blues di tiap solo gitarnya, gebuk drum jumpalitan penuh bak Keith Moon dan sebutkan hiperbola ngawur lainnya. Hanya satu yang menggugah. Ya, sentilan harmonika bagian akhir lagu.
Taraf ketidakpeduliannya sama persis untuk dengar materi baru Sleep yang rilis tempo hari. Tanpa Pike telanjang dada dengan perut gentong birnya, akhirnya muncul selintas halusinasi jika Al Cisneros sampai detik ini masih ‘tidur’ panjang dan saya ‘bangun’ seketika menyadari yang dilakukan trio ini puluhan tahun lalu hanya mimpi. Hasilnya? Barang pasti butut dan Al masih terjebak di dalamnya. Dan… membuat saya tak peduli langsung pasang dengar. Taik lah! Kejauhan! Lupakan saja!
Ketertarikan muncul di “Jejak Waktu”. Menyodorkan balada rock ala Godbless era Semut Hitam (1988). Dan saya selalu suka itu. Balada rock adalah sisi rapuh sekaligus macho para rockstar yang biasa slengekan tak karuan. Saya baru sadar, sensasi dengar Jahanam hampir sebelas dua belas saat dengar Semut Hitam. Ditutup paten dengan repertoar minum miras murah sambil angkat tinggi gelas atas nama rock “Distorsi Menggema”—puji Hoffman serta temuan di laboratoriumnya.
Bedanya Ini lebih organik. Sesuatu yang tumbuh sendiri dari sesi jamming panjang yang membosankan sampai akhirnya mampu curi perhatian. Tempat yang sama tak pula menghasilkan rasa tidak peduli yang sama seperti pada rilisan mereka sebelumnya. Setidaknya Jahanam mampu melayang di atas semua itu. Dalam bahasa yang tidak perlu dijelaskan ke siapapun yang memang hidup di dalamnya. Hanya satu terminologi: indo rock!
