TRACK TALK: Maio – Cursed Path (Disaster Records, 2026)

Daya ugal kuat Maio di album ketiga menandakan mereka bukan tipikal unit musik yang regresif, sekedar progresif? Tidak, ini lebih ngawur!
Kapan terakhir kali sebuah album terasa seperti milik kalian padahal baru pertama dengar? Saya tidak yakin itu benar-benar bisa terjadi. Mungkin itu cuma ilusi yang kita ciptakan sendiri supaya ada alasan untuk terus pasang kuping di tengah tumpukan rilis yang sebagian besarnya tidak layak diingat besok pagi. Mungkin kita terlalu doyan jatuh cinta pada sesuatu yang belum tentu layak dicintai. Tapi kemudian Cursed Path diputar. Dan saya belum sepenuhnya yakin apa yang terjadi setelahnya. Yang jelas sesuatu bergerak di tempat yang tidak bisa dijelaskan dengan kalimat yang masih terdengar waras. Entah itu tanda bagus atau tidak, saya belum memutuskan.
Pertama, lupakan alur progresif. Alur regresif? Cih! Tai anjing! Ini alur ngawur. Saya coba analepsis singkat ke maxi-single yang dirilis beberapa waktu silam. Di situ awal keraguan muncul. “B4DTR1PP” mampu menyemai gairah impresif. Malangnya, cuma ada dua hal di “Black Cinderella” yang bikin penasaran. Pertama, berhasil menggemik Dannvs (Ancient) untuk meninggalkan altarnya di Sungai Nil demi menyumbang maut bentuk vokal lengkingan setajam pisau cukur. Kedua, isian solo heavy metal totok. Komposisi musikalnya membuat saya jadi ingat Maio selayaknya Maio. Untuk mempertahankan karakter grup yang sudah tiga album dan tahan banting setengah dekade, hal itu jadi poin plus. Karakter. Kita berandai jika niat mereka adalah eksperimentasi? Baru di titik cukup untuk diberi apresiasi. Cukup. Sampai situ saja. Saya lebih membiarkan impresi nongkrong di suguhan mimiti.
Album ketiga selalu jadi ujian. Terlalu banyak band yang di titik ini mulai mencari aman, menimbang mana yang bisa dijual, mana yang patut ditinggal kabur, dan mana yang harus dikubur. Maio memilih tak sehura-hura dulu. Dan mungkin bukan kebetulan, karena mereka tumbuh dari suramnya Bandung. Kota yang konfliknya kerap meledak di permukaan. Level bangsatnya tetap konstan mengendap, menghitam, dan merayap pelan di bawah tanah hingga aspal basahnya gara-gara si hujan badai yang sedang hobi plesir ke sana beberapa waktu ke belakang. Tata kota semrawut. Wali kota yang lebih sibuk mendompleng gelar daripada mendengar. Lahan-lahan yang dirampas dari Taman Sari, Dago Elos, hingga Sukahaji. Nama-nama yang seharusnya jadi pengingat tapi lebih sering jadi catatan kaki yang dilupakan sebelum tinta kering. Cursed Path tumbuh dari tanah yang sama. Dan itulah bentuk soniknya.
Gamang di awal paragraf hilang saat trek metal punk yang didapuk jadi pembuka, “Fiery Mother”. Saya suka sentuhan riff di bagian tengah ala “Crionics”, nomor underrated mahakarya Slayerhuakbar di Show No Mercy (1983). Baik, ini todongan janaan berikut muram jahanam di awal. Untuk lanjutannya tak perlu repot main tebak-tebakan, sebenarnya sudah terbaca arah mereka kini ada di titik mana. Gaya stompy, lurus menghajar ke ulu hati. Hardcore yang masih ingat akar punk-nya. Meledak seperti potekan amfetamin kelas buruk yang beredar dari tangan ke tangan di gang sempit Pulau Para Dewa. Selain menawarkan sensasi baru, tersemat aroma klasik yang membuat para veteran mengangguk sambil menyulut sigaret batang terakhir. Masalahnya, jalur ini sudah terlalu sering dilalui.
Dalam lima tahun lebih terakhir, begitu banyak band melintasi jalan yang sama hingga bekas roda kuda besinya menggilas aspal sampai mengubahnya jadi kubangan berlumpur. Ketika jarum ditancapkan lagi ledakannya masih terasa. Namun, euforianya tak lagi seasing pertama kali kena tembak. Personifikasi tepat adalah junkie-junkie dosmon. Tetap memabukkan. Hanya saja sekarang semua orang sudah hafal resepnya. Tinggal minta disandera di sebuah klinik yang punya kharisma kuat penuh petantang-petenteng. Jika si klinik ini adalah sebuah trinitas dan ada hierarki di dalamnya, kita malah kena jerat di farma yang ketiga. Paling bawah. Bangsat.
Mungkin ini takdir penuh kutuk yang dibawa Maio jadi tema opus ketiganya. Lalu jadi sekuel dari episode bubarnya beberapa grup yang sedang digandrungi; Gel yang bubar tepat seminggu sebelum tampil di Coachella atau Gulch yang memilih membunuh dirinya sendiri karena tak siap dengan respons yang begitu masif. Untuk kasus kedua, apakah itu hanya alibi demi punya legacy abadi layaknya Cobain dengan Nirvana? Black Flack era Keith Morris? Entahlah…Lupakan saja.
“Black Bloc” adalah anthem para terduga aksi teror yang puncaknya ada di Agustus tahun lalu. Menurut media dan rezim tengik ini sih begitu. Anarko si hantu baru. Kontol Jenderal Drs. PISSMIXER…tyo S.H.I.T. Git, M.Si. alias Manusia setengah Siluman! Riff sahut-sahutan feedback yang kemudian digandakan, dirantai rapat ke karat di studs pada rompi dan jaket kulit para crusties yang berjalan gagah seperti preman terminal menendang pintu warung nasi tengah malam, sekitar pukul dua pagi lewat lima belas menit. Sambil pasang nyali sekaligus pasang “The Final Goodbye” milik From Ashes Rises.
Yang barusan cuma imajiner. Ada situasi di mana pendoa dan pendosa kompak berharap pos polisi—yang cuma sebatas dekorasi tak penting di pinggir jalan—jadi sasaran kena dobrak massa, seharusnya pun dibakar habis sampai perlahan jadi abu seperti breakdown bengis di nomor ini. Puji Tuhan, setan dan diri sendiri, hal ini sudah benar-benar terjadi.
Puji sinareng sukur kasanggakeun ka Sang Hyang Kersa,
Nu murbéng alam, nu ngayuga sagala eusi Buana Panca Tengah.
Saya hampir tak menemukan senilai kegilaan selain pecutan riff pada bagian intro di trek “Hate Forever” yang terasa merupakan ubah haluan bernuansa stenchcore. Kenapa? Cuma satu jawaban. Ini adalah keberhasilan menuju “Hamba Neraka”. Menggaet Yusuf, si pentolan bajingan unit motör-charged speed metal maniak, Brigade of Crow. Kegirangan itu muncul kembali seperti menunggu belasan menit pasca mendengus ‘riffmeister menthol’ empat miligram lewat naris.
‘Fantasi, adiksi poros etos mitos
Menghayati, meresapi nikmat jagat kosmos
Kacau-balau, kocar-kacir semua
Babak-belur, hancur-lebur rasa’ — Hamba Neraka
Gaya vokalnya mengolok pasak kunci negeri kotor sekaligus menjijikan ini. MBG? Cuih! MBG yang saya percaya hanyalah kultus “Mabok Bareng Gratis” yang ketiga penghuninya menginfiltrasi salah satu kanal dengan pseudo-literasi padahal aslinya cuma doyan ngoceh. Lupakan lagi soal ini. Dibawa tergusur dengan komposisi yang semakin heavy menuju ujung lorong hitam seakan jadi hal yang ingin Maio suguhkan. Habis keluar lorong hasilnya tetap gelap. Dingin menusuk tulang pula!
Titel trek penutup pun memberi saya kemudahan untuk menutup bacotan keruh ini, “A Bitter Pill to Swallow”. Huh… Opus ketiga yang entah bagaimana untuk menutup dan diberi ponten. Lima puluh-lima puluh. Sebagian berhasil total, sebagian hambar bikin mental. Ya, itulah pil pahit yang perlu ditelan. Tapi tenang dulu, seorang kawan pernah bilang jika semakin ruah pil yang dilumat maka semakin punya marwah untuk memberi reaksi pada neuron di saraf pusat. Bangsatnya, yang ia lumat adalah anti-ansietas dan stimulan. Tak mau yang lain. Dasar anjing!
