X

TRACK TALK: Rrag – Langit (Kolibri Rekords, 2025)

by webadmin / 12 months ago / 1125 Views / 0 Comments /

Di balik judulnya yang luas dan universal, Langit justru berbicara intim, menyuguhkan ruang aman menghadapi kehilangan sekaligus cermin kecil bagi rock Bogor hari ini.


Album penuh pertama memang selalu membawa beban simbolis. Ia harus jadi pernyataan identitas sekaligus tonggak kedewasaan. Setelah hampir enam tahun berkutat dengan EP Eter (2019) dan beberapa single lepas, Rrag yang beranggotakan Acil (vokal, gitar), Damas (gitar, vokal), Adjeng (vokal, bas), Dwika (gitar), dan Wili (drum) akhirnya merilis Langit pada 8 Agustus 2025. Band asal Bogor ini menghasilkan sebuah album berisi 12 trek yang menyatukan fragmen personal, kehilangan, humor harian, hingga mimpi-mimpi kecil, dalam balutan indie rock yang atmosferik, kadang murung, kadang berpendar cerah.

Di balik judulnya yang luas dan universal, Langit justru berbicara intim. Trek pembuka “Empat Pagi” memberi atmosfer sunyi yang perlahan membangun, lalu ada “Kemarau Panjang” yang menyinggung rasa kehilangan orang terdekat. Dilanjut dengan “Landai dan Rona” di mana mereka menampilkan dinamika band yang cair dan mengalir dari lembut ke pecah tanpa terasa dipaksakan. 

“Sebentar” menjadi salah satu trek yang paling menonjol menurut saya pribadi, melankolis tapi jujur dalam menggambarkan waktu yang terasa kian singkat di tengah rutinitas yang berulang. Album ini pun kemudian diakhiri dengan “Kristal”, sebuah lagu yang lebih metaforis namun tetap menyimpan kerentanan emosional, memberi penutup yang tenang dan reflektif. Di sela-selanya, Rrag bahkan menyelipkan detail jenaka seperti menambal gigi di puskesmas, momen kecil yang membuat album ini terasa manusiawi. Dengan kemasan yang sedikit nyeleneh, Langit seakan merangkum keseharian kelas menengah urban, sebuah potret yang dekat dengan mayoritas dari kita.

Secara sonik, Langit bisa diletakkan di garis keturunan indie rock/shoegaze Indonesia yang mengingatkan saya pada warna melankolis Grrrl Gang era Spunky di sisi pop, atau Vague dan Barefood (rest in peace) di sisi yang lebih abrasif. Namun Rrag punya pendekatan lebih seimbang, gitar-gitar mereka mengisi ruang dengan lapisan delay dan reverb, tapi tidak pernah mengubur vokal yang jadi pusat emosi. Produksian Afiandi D. Lacborra dan sentuhan Kolibri Rekords juga menjaga koherensinya sehingga tidak ada satu pun lagu yang terdengar “asing” dari ekosistem album.

Meski rapi dan konsisten, Langit kadang justru terlalu berhati-hati. Beberapa trek di pertengahan album terdengar nyaman tapi tidak meninggalkan hook yang tajam. Eksplorasi gitar yang familiar membuat album ini sedikit kehilangan kejutan, terutama bagi pendengar yang terbiasa dengan dentuman rock lokal yang lebih liar. Album ini solid, tapi di sisi lain juga memperlihatkan bahwa Rrag masih punya ruang untuk berani lebih nekat, baik dalam komposisi maupun eksplorasi produksi.

Lebih jauh, Langit terasa seperti merangkum lanskap musik rock Bogor hari ini. Di dalamnya kita bisa menangkap kejujuran puitis yang lugas yang mengingatkan pada energi lirik The Jansen dan juga kesederhanaan produksi yang hangat ala Swellow. Perpaduan itu membuat album ini sekaligus personal dan representatif, seolah menjadi arsip kecil tentang bagaimana musik rock Bogor tumbuh di dekade ini.

Langit memang bukan sebuah album yang revolusioner, tapi menurut saya pribadi ia telah berhasil menjadi dokumen emosional yang utuh. Rrag tidak berusaha menjadi band paling eksperimental malahan mereka lebih memilih untuk jujur, menuturkan cerita yang dekat dengan pendengarnya. Dalam lanskap indie rock Indonesia, Langit bisa dilihat sebagai salah satu rilisan penting tahun 2025. Album debut yang solid, tulus, meski masih menyisakan ruang untuk bermain lebih berani.

Teks: Freykarensa

Dengarkan Langit di sini!