X

Memperkenalkan Kembali: Zoo

by Sendhi Anshari Rasyid / 11 months ago / 538 Views / 0 Comments /

Perkenalkan Zoo – proyek musik/kesenian besutan Rully Shabara yang memiliki sebuah visi untuk membangun ulang sebuah peradaban.

Perkenalan kebanyakan orang belakangan ini terhadap sosok Rully Shabara kemungkinan terbesar adalah melalui kolaborasinya bersama Wukir Suryadi, dengan moniker Senyawa. Tapi, taukah kamu kalau sebenarnya dirinya telah lebih dulu memiliki proyek musik dengan konsep yang tak kalah eksperimental dalam berbagai konteks? Proyek musik yang saya maksud adalah Zoo.

Kuartet asal Yogyakarta beranggotakan Rully Shabara, Ramberto Agozali, Bhakti Prasetyo, dan Dimas Budi Satya yang bermain di ranah musik eksperimental. Secara personal, perkenalan pertama saya dengan Zoo adalah melalui trek “Manekin Bermesin”. Suguhan berupa hentakan perkusif ala tribal, lirik repetitif yang dibawakan melalui lengkingan, erangan dan lolongan sehingga membuatnya terdengar primitif. Seketika membuat saya tertegun kagum.

Secara sepintas, musik yang mereka bawakan mengingatkan saya kepada Melt Banana dan juga Hella yang bermain di ranah math-rock/eksperimental namun dengan tambahan elemen tradisional. Tapi ternyata, apa yang ditawarkan Zoo bukan sebatas jenis musik yang out-of-the-box saja, karena mereka memiliki hal lain dalam wujud lain yang lebih besar, yaitu sebuah konsep.

Ketika berbicara mengenai band yang mengusung konsep besar, pada ranah musik populis, kamu pasti mengenal .Feast. Sejak perilisan debut EP-nya, Multiverses (2017), mereka mempresentasikan karya-karyanya melalui sebuah konsep multi-semesta. Zoo pun melakukan pendekatan serupa, namun dengan jauh lebih ambisius. Konsep tersebut adalah peradaban. Atau untuk konteks lebih jelasnya, Zoo memiliki misi untuk membangun ulang sebuah peradaban baru versi mereka. Kacau!

Zugrafi, Aksara Buatan Zoo

Ketika banyak band menggunakan rilisannya untuk menyampaikan keluh-kesah pribadi atau kritik terhadap keadaan di lingkungan sekitar, Zoo tidak berfokus pada hal tersebut – walaupun mungkin beberapa di antaranya akan secara otomatis tercapai juga. Misi ambisius tersebut bukan hanya disampaikan melalui satu atau dua rilisan saja, tapi sepanjang eksistensi Zoo yang memang diabdikan untuk merumuskannya. Mereka telah memiliki grand design dan memetakan elemen apa saja yang dibutuhkan untuk membangun sebuah peradaban melalui setiap album yang dirilis merepresentasikan elemen-elemen tersebut. Bahkan mereka telah mengetahui pada titik apa peradaban tersebut akan terbangun dan kapan Zoo sebagai sebuah proyek akan berakhir.

Album Trilogi Peradaban (2009) bertemakan peradaban modern dan kemundurannya; album Prasasti (2012) mengenai bahasa, sekaligus memperkenalkan aksara primitif buatan Zoo bernama Zugrafi; album Samastamartha (2015) mengenai arsitektur dan mitologi kota; dan rilisan teranyarnya, Khawagaka (2019) mengenai bahasa tutur bernama Zufrasi dan sistem kepercayaan lengkap dengan kitabnya. Hal-hal tersebut pun mempengaruhi bagaimana setiap albumnya terdengar, baik dari penggunaan instrumen ataupun nuansa lagu yang diberikan. Definisi sebuah totalitas.

Beberapa rilisan tersebut pun hadir dalam kemasan sesuai dengan tema yang dibawakan. Salah satu yang paling memorable adalah album Prasasti yang dijual dengan kemasan berupa batu granit seberat ±2kg, layaknya sebuah prasasti. Lalu Khawagaka yang dijual lengkap beserta kitabnya yang berisi ayat-ayat dalam aksara Zugrafi. Sebuah konsep packaging yang membuat rilisan exclusive box set dari musisi K-Pop kesukaanmu akan terasa biasa saja.

Album Prasasti (2012) dalam kemasan batu granit

Selain itu, untuk memenuhi misi membangun peradaban ini, Zoo bahkan menggelar sebuah sesi khusus dalam bentuk workshop untuk memperkenalkan Zufrasi dan juga Zugrafi ke kalangan yang lebih luas. Khususnya mengenai bagaimana cara membaca naskah Zufrasi dan juga menulis aksara Zugrafi. Lalu membuat rancangan arsitektur dari kota imajiner Samastamartha yang bekerja sama dengan sebuah konsultan arsitek. Niat banget.

Untuk lebih jelasnya dan juga biar kamu lebih kebayang, langsung aja melipir ke halaman internet yesnowave.com di mana kamu bisa mengunduh seluruh rilisan Zoo secara gratis. Walaupun gratis, pada setiap unduhan rilisannya kamu akan mendapatkan “pernak-pernik” tambahan berupa dokumen pendukung untuk lebih memahami apa yang ingin Zoo capai. Mulai dari file font Zugrafi yang bisa kamu gunakan, peta arsitektur kota Samastamartha, hingga lini masa dari apa yang akan mereka lakukan pada rilisan selanjutnya.

Akhir kata, Zoo merupakan sebuah proyek musik yang one of a kind dan belum tentu akan muncul unit musik yang serupa dengan mereka ke depannya. Bahkan terasa terlalu sederhana untuk disebut sebagai sebuah proyek musik, mengingat mereka memiliki konsep dan misi sangat ambisius yang ingin dicapai dari proyek ini. Menurut saya, agar bisa menikmati karya Zoo secara maksimal, rasanya mendalami ataupun sekedar mengetahui mengenai lore yang mereka buat adalah sebuah kewajiban. Meskipun menikmatinya sebagai sebuah rilisan musik pun sebenarnya akan tetap terasa menyenangkan.


Dengarkan Zoo di sini:

Tagged

#zoo #yogyakarta #experimental #rully shabara #music

Leave a Reply