X

TRACK TALK: Jason Ranti & Dongker – I Don’t Know and I Dongker (Greedy Dust, 2025)

by webadmin / 1 year ago / 1337 Views / 0 Comments /

Dominan Dongker atau Jason Ranti? Peduli setan. Masih tak cukup impresif, meski isinya masih ada butiran yang sayang buat langsung dibuang.


Oke, bayangkan: seorang solois yang dulu hidupnya seperti tanpa aturan dan tendensi apapun jalan begitu saja lalu dilempar ke kerumunan yang salah (penuh aturan sosial super kaku). Kolot. Selalu gontai, selalu basah kuyup oleh anggur murah dan peluh penonton, setiap petikan gitar kopongnya terdengar seperti pisau karatan yang mengerat membran timpani. Nyanyiannya seperti lantunan Remy Sylado dalam pengaruh tramadol. Dulu, dia sosok kecil di sudut-sudut venue gig bobrok yang penuh asap rokok dan alkohol hingga panggung skala besar. Sekarang ia sober. Bersih. Lalu menjinakkan beruk layaknya ledhek ketek, memberinya kostum lalu disuruh menari mengikuti musik topeng monyet. Hilang sudah kepatenannya, roh setan cilik yang selalu surup-menyurup hingga membuatnya petik dawai sambil merenjeng lidah awur-awuran berceloteh; “Potong bebek angsa masak di kuali / Campur kuah ganja rakyat senang sekali / Oper ke kiri / Oper ke kanan,” tanpa sangsi lalu bertanya kepada Dongker:

“Kamu mau nggak saya bebaskan dari ‘tirani’ musik punk?”

Entah karena karma, iseng, atau sekadar keputusasaan, ia memilih berkolaborasi dengan komplotan punk rock parodi tiga akor yang diputar di radio jam dua pagi ketika tidak ada orang bangun dan peduli. Mereka bukan Ramones, bukan Dead Boys, bukan pula Iggy Pop zaman teler mentok di wawancara TV. Mereka hanyalah satu rim hasil fotokopi burik dari mesin fotokopi usang yang kertasnya sudah koyak dimakan rayap dengan judul debut album yang sampai detik ini saya tidak mengerti kerennya–atau lucunya–di mana? Kolaborasi ini agak mending, ber-titel I Don’t Know and I Dongker. Wordplay tingkat MF DOOM. Walau masih terdengar kayak status Facebook orang yang baru diputusin pacar lalu sok eksperimental.

Mengundi nasib melalui enam trek andalan, kita mulai dengan “salah display” dan “aku bosan”.  Yang pertama adalah nomor pembuka kencang, kedua merupakan balada hidup enggan mati tak mampus modern berbalut synthesizer yang benar membuat saya bosan. ”disarankan di bandung”, balada gombal kota yang rasanya kayak kutipan Pidi Baiq dipajang di tengah kota–bikin mual tiap kali mata kesasar. Polusi visual! Disuruh dengar dua kali lagi, versi full band dan akustik. “kabur dari rumah” lumayan bluesy, mungkin satu-satunya alasan kenapa nggak langsung buang album ini ke got. Ah, iya ketika masuk bagian gitar dan vokal terbit pemikiran; jika ini hanyalah nostalgia Jeje yang rindu Stairway To Zinna dengan nebeng.. atau lebih kasar lagi, membajak nama Dongker.

Lalu ada dua trek “tang ting tung” yang cuma jadi skit. Terasa indie rock. Sama dengan “selamat tidur”, semacam bayi kudis bernama Rolling Blackout Coastal Fever dilempar ke pesta penuh muntahan pemadat, berusaha tampil manis dengan gitar jangly dan vokal selembut obat bius apotek pinggir jalan, dan akhirnya cuma jadi musik latar buat para keparat sok melankolis di kafe redup. Menyeruput kopi dingin seharga botol kecil AO sambil ngetik puisi setengah mati lalu menyumpal telinga dengan rotasi album pertama Mildlife. Atas nama seni. PREK! Bebas dari “tirani punk”. Apa anjing itu maksudnya? Saya coba DM Delphi, Arno, bahkan Jeje. Jawabannya? Nihil. Dilirik pun tidak, apalagi untuk nama yang terakhir disebut.

Baiklah, akan saya terjemahkan sendiri. Maksud tawaran Jeje adalah bikin album ini dan arti “pembebasan” di sini ialah agar tidak lagi ada Ceriwis Necis jilid dua. Bahkan, hingga trek penutup “konservasi konflik dan hal-hal yang lain (reprise)” dengan durasi seperti rata-rata orang giting main doom metal pun, Dongker masih memberi estafet tongkat juru selamat kepada sosok yang berhasil menciptakan stage dive di sebuah pertunjukan live lagu dengan komposisi hanya gitar kopong dan vokal, kadang selipan harmonika. Penutup ini berhasil membuat saya kompromi, unsur psikedelia eksperimentalnya menggugah.

Jika mereka bilang ini “kecelakaan artistik” maka saya akan sangat setuju. Namun, kecelakaan dengan ujung “gantung diri artistik”. Bundir. Mokat. Seekor bajingan kepala empat yang masih doyan denger Noothgrush di sebelah meja berkelakar, “Jangan percaya sama orang sober”. Menurutnya pertama, karena kurang impresif. Kedua, mudah kompromi. Ketiga, kurang imajinatif. Slank pasca sober jadi lemah syahwat cenderung impoten. Flowers? Masih adu gelas, masih bisa bikin album sepadat Roda-Roda Gila. Lalu siapa yang memilih jadi sober dan masih dapat kita percaya? Reznor. Kurang relevan? Baiklah. Keith Morris. Lupakan.

Album kolaborasi dengan porsi Jeje yang lebih dominan ketimbang Dongker. Jangan buruk sangka dulu, mari anggap saja inisiasi album ini bukan dari Dongker. Sialnya, bangkai Nick Drake pun yakin Jason Ranti mampu membuat bunyi-bunyi semacam ini dan ia benar-benar pernah melakukannya. Sialnya lagi, saya selalu memberi kesempatan kepada setiap rilisan. Menaruh harapan terdengar melankolis dan menjijikan. Mungkin berbaik sangka akan lebih tepat. Apapun hasilnya, antara sumringah layaknya koruptor inisial AU yang bisa bebas dari kelakarnya sendiri atau seperti orang-orang yang penuh kecewa karena siluman tikus got itu tidak jadi digantung di Monas. Lagipula, siapa yang masih percaya pada bacotan politisi? Ah, taik!

*)Rating: Okupasi bajak laut Somalia / 10

Teks Dimas Dritt

Dengarkan I Don’t Know and I Dongker di sini!