X

TRACK TALK: Pelteras – Krisan (self-released, 2025)

by webadmin / 11 months ago / 712 Views / 0 Comments /

Di sekuntum mungil Krisan, Pelteras tumbuh lebih personal, dominan menghasilkan kegetiran, namun tetap setia pada gelap yang jadi rumah mereka.


Ada kalanya suatu bunyi menjalar untuk bergelora penuh hentak, ada juga yang hadir untuk menyalakan luka, menaruhnya di depan kita dan berbisik pelan: ini bagian dari hidup lho, jangan pura-pura lupa. Krisan—EP terbaru Pelteras—jatuh ke kategori kedua. Memuat lima lagu yang bukan sekadar suguhan post-punk/goth/whatever semata, namun menyisipkan catatan rindu, surat-surat pendek untuk orang yang tak lagi dekat bahkan sudah lenyap, gema dari jarak yang terlalu panjang untuk dijangkau.

Pelteras kini dihuni lima sosok dengan latar musikal yang bukan kaleng-kaleng di kancah arus pinggir lokal terutama Jakarta. Techa Aurellia di vokal—juga dikenal sebagai haunted fairy di Amerta—adalah inti emosional band, suara yang bisa melompat dari lirih ke parau hanya dalam hitungan detik. Adam Pribadi menjaga gitar ritme yang pekat, sementara Adam Bagaskara menancapkan bas yang berat (dirinya juga sempat membantu Avhath dan Denisa, dua proyek yang sama-sama intens tapi beda arah). Di belakang, Achmad Raditya alias Beje—kini menggebuk drum pula di Vague—jadi jantung rhythm section, permainan drumnya tegas sekaligus atmosferik. Formasi dilengkapi Haecal Benarivo alias Rivo (Morgensoll) di gitar, yang bikin Pelteras kini punya ruang berlapis-lapis merujuk tekstur ambient hingga ledakan melodius.

Tajuk Krisan jelas bukan pilihan main-main. “Krisan” merupakan bunga yang sering dikaitkan dengan kematian dan kenangan. Tapi Pelteras tidak memakainya sebagai simbol murahan. Di sini, krisan adalah metafora tentang kehilangan yang masih indah, rapuh tapi layak dikenang. Sejak intro “Lintasan”, atmosfer itu langsung terasa menguntai bukan sekadar gelap, tapi juga hangat bin getir. Seperti menyalakan lilin di tengah ruangan kosong tanpa ditemani seseorang pun.

Masuknya Rivo menghadirkan komposisi baru yang menggugah. Peran meracik dari duet Adam dan Rivo saling silang—satu jadi menopang alunan ritme, satunya melayang dengan delay dan reverb. Alhasil, ruang dengar menjadi luas, bahkan bila menggunakan headphone sekalipun terdengar seperti berdiri memancang di ruangan kosong dengan suara berdenting dari dinding. Di bawahnya, bas Adam Bagaskara berjalan berat tapi tetap melodius, sementara drum Beje konsisten menjaga tensi dengan ketukan mid-tempo, sesekali menyelipkan fill yang bikin dada berdebar. Cakep.

Produksi Krisan rapi tapi tetap mengandung atmosfer yang hangat. Vokal tidak tertelan instrumen sama sekali, alih-alih dominan justru instrumentasinya tidak saling menenggelamkan. Ada kompresi yang menahan supaya energi  tak terpecah berlebihan, tapi dinding echo tetap dijaga. Kalian tahu apa? Ya tentu menjadi sungguh jelas, pekat dan berlapis.

Peran Techa di sini benar-benar menjadi pusat emosi untuk nyawa Pelteras. Dirinya tidak sekadar menyanyi, tapi laiknya membacakan isi relung hati. Ada bagian lirih yang nyaris bisik, lantas mendadak parau dan nyaring—selalu dengan reverb yang bikin vokalnya seperti datang dari jauh. Di nomor “Krisan” sebagai lagu penutup, terutama di bagian chorus, suara Techa terasa seperti jeritan yang ditahan, penuh rindu tapi sayangnya tidak pernah sampai.

Berikut saya coba tinjau secara singkat trek demi trek di Krisan:

“Lintasan”
Lagu pembuka, begitu atmosferik. Introduksi pelan dengan gitar delay membangun suasana, lalu instrumen masuk bertahap. Vokal masih menahan, seakan ajakan untuk ikut masuk ke ruang sunyi Pelteras. Di akhir, klimaks pelan sekaligus menghantam.

“Pengar”
Lebih lugas dan terasa gagah untuk ukuran goth-rock song. Bas dan drum mendominasi, gitar jadi lebih ringkas. Techa terdengar lebih mendesak, bernyanyi dengan nada hampir marah, seperti pesan penting yang harus lekas disampaikan. Belum terlambat, masih bisa diraih.

“Ekses”
Nomor ini melaju dengan eksperimentasi yang dinamis. Ada rancangan perlahan di verse yang dibuat tenang, kemudian gitar seketika meledak di chorus. Rasanya seperti kelebihan emosi yang susah untuk ditahan.

“Terrazzo”
Nomor paling singkat, tapi justru paling langsung bisa menempel. Chorusnya padat dan repetitif, mudah diingat, dengan permainan gitar yang sedikit lebih terang dibanding nomor lain. Seperti lampu neon yang menyala di lorong gelap—menarik perhatian, meski tetap dingin.

“Krisan”
Judul EP sekaligus klimaks emosional. Lagu ini punya keseimbangan sempurna: gitar berlapis, drum menggedor, bas menghentak, vokal Techa meronta. Bagian chorus berulang seperti mantra, makin lama makin dalam. Begitu lagu berakhir, hanya gema yang tersisa.

Kekuatan Krisan ada di keberaniannya menjadi personal. Pelteras bukan hanya membuat musik ethereal nan sunyi, tapi juga menanamkan narasi manusia tentang jarak, rindu dan kehilangan. Formasi baru dengan dua gitar menghasilkan aransemen lebih dalam dan durasi EP yang singkat (17 menit) bikin tiap lagu padat, tanpa menanggalkan ruang kosong.

Risikonya jelas: pendengar lama mungkin merindukan sisi lebih keras atau agresif serupa Grave Pleasures atau GGGOLDDD. Tapi arah baru ini bukan kelemahan—justru bukti bahwa Pelteras tumbuh, mencari bentuk baru tanpa kehilangan identitas utuhnya. Mereka telah membangun pivotalnya tersendiri. Tantangan terbesar justru ada di luar ranah musikal: bagaimana karya sejujur ini bisa menembus ceruk maupun kolam yang sering bising oleh rilisan cepat konsumsi—entering the hype.

EP Krisan adalah bukti bahwa Pelteras bukan sekadar unit bermusik, tapi kumpulan manusia dengan kisah yang mereka tentang namanya hidup. Lantas melebur di sini menghasilkan karya yang padat, jujur bahkan getir. Lima lagu ini bukan gemuruh hingar-bingar, melainkan deru untuk malam panjang, untuk layar gawai yang kian sepi, untuk perjalanan pulang di kota yang terasa asing.

Krisan bukan jawaban, melainkan pengingat bagi kita semua. Ada banyak kehilangan yang tidak dapat disembuhkan, hanya bisa tertanam di kepala. Dan justru di sana lah hal tersebut akan menjadi indah di momen yang tak terduga. 

Teks oleh Karel

Dengarkan Krisan di sini!