X

Home-listening Plaza: Musik Sebagai Ruang Sunyi di Tengah Riuh Kota

by webadmin / 11 months ago / 618 Views / 0 Comments /

Bincang-bincang singkat bareng Arick Ahong soal rilisan Home-listening Plaza, sebuah kompilasi musik yang menangkap sunyi, riuh dan emosionalnya kota Medan lewat musik analog-digital.


Di balik hiruk-pikuk Medan yang kerap diasosiasikan dengan energi riuh dan padat, muncul sebuah upaya musikal yang justru menawarkan ruang hening untuk merenung. Arick Ahong, salah satu sosok di balik Pesona Experience sekaligus inisiator kompilasi Home-listening Plaza, mencoba menghadirkan sebuah lanskap suara yang lahir dari persilangan antara analog dan digital. Dari kebiasaan saling memutar lagu dan proyek musik masing-masing, terkumpul enam trek yang ternyata punya benang merah meski lahir dari musisi yang berbeda. Kini, lewat obrolan bersama Arick Ahong, kita bisa menelusuri lebih jauh bagaimana Home-listening Plaza lahir, tumbuh, dan dibayangkan sebagai ruang musik yang hidup.

Apa yang pertama kali menginspirasi lahirnya ide Home-listening Plaza?

Bisa dibilang Home-listening Plaza lahir dari kebiasaan nongkrong di rumah Ais (Love as Punishment). Biasanya kami gantian nyambungin lagu atau playlist ke speaker, lalu saling tanya, “Ini lagu  siapa ya?” Dari situ lama-lama terkumpul koleksi lagu yang jadi semacam soundtrack rutin setiap kali nongkrong. Kebetulan masing-masing juga lagi punya proyek musik sendiri. Walaupun beda-beda, ternyata ada benang merah yang bisa nyambung. Akhirnya kami coba bikin tracklist dari lagu-lagu itu, dan dari situlah idenya muncul, haha. Kalau soal merespons kontradiksi kota, sebenarnya kami nggak kepikiran ke arah situ. Ini lebih organik aja, karena interest-nya mirip-mirip.

Dalam press release disebutkan tentang “era transisi milenial” antara analog dan digital. Bagaimana Anda melihat transisi itu masih relevan dengan musik saat ini?

Buat kami, poin transisi analog-digital itu relevan banget. Dalam prosesnya, kami pakai apa yang ada saja untuk bikin sesuatu yang sesuai keinginan. Kalau ada kekosongan, kami cari alternatif lain. Intinya, yang memudahkan dan tepat guna. Hampir semua lagu di track list, misalnya, drumnya dibuat dengan elektronik atau sample karena memang nggak ada drummernya, hahaha. Balik lagi tergantung tujuan mau ke mana.

Medan digambarkan penuh kontradiksi. Kota yang bising tetapi melahirkan musik melankolis dan introspektif. Menurut Anda, kenapa fenomena itu bisa muncul?

Kami sangat suka rilisan dari label seperti Little Darla, Morr, DFA, Shibuya-kei, sampai movement Copenhagen+. Itu yang jadi heavy rotation saat lagi di studio. Kalau ditarik ke belakang, mungkin dari situlah “batu pertama” Home-listening Plaza diletakkan, lalu kami arsipkan secara digital dan fisik. Rasanya seru kalau mengeluarkan itu bersama-sama lewat kompilasi ini.

Bagaimana Anda melihat kaitan antara energi kota Medan dengan kecenderungan musik dingin, shadowed, atau introvert dari band-bandnya?

Di kota mana pun pasti rasanya beragam. Pelabelan biasanya lahir dari apa yang paling menonjol. Tapi justru kalau bisa menambah warna baru, hasilnya bisa lebih seru, kan?

Bisa diceritakan bagaimana proses kurasi enam kontributor di kompilasi ini?

Semua kontributor kebetulan nongkrong dan rekaman di satu studio yang sama, di rumah Ais. Yang paling disyukuri, semua trek sebenarnya sudah ada. Jadi kami hanya menyusun jadi track list, lalu mendengarkannya bareng-bareng. Besoknya, kami ceritain ke Ernest (Loide Records) dan langsung ditawari untuk rilis. Karena prosesnya sesederhana itu, kadang kami sendiri suka bingung kalau harus menceritakannya, hahaha.

Apakah ada benang merah tertentu yang Anda cari ketika memilih musisi untuk Home-listening Plaza?

Benang merahnya ada di “rasa.” Dari karakter, attitude, sound, sampai visual, walaupun variatif tetap terasa khas saat didengar dan dilihat. Ada rasa tertentu yang menyatukan.

Press release bilang kalau musik di kompilasi ini seperti “plaza sunyi” di mana orang-orang datang bukan untuk bicara, tapi untuk mendengarkan. Bagaimana Anda memaknai ruang ini secara personal?

Press release itu sebenarnya diambil dari tulisan Merdi (Diskoria/Showbiz). Itu respon yang dia tulis setelah kami presentasiin kompilasi ini. Tulisan itu jadi semacam konfirmasi bahwa apa yang dia rasakan ternyata sama dengan visi kami. Rasanya senang banget waktu baca pertama kali, sampai sekarang pun masih relevan. Memang sesuai dengan apa yang kami rasakan.

Dalam kompilasi ini setiap musisi membawa pendekatan berbeda, tapi tetap ada kesadaran soal “space in music”. Menurut Anda, seberapa penting konsep ruang (baik teknis maupun emosional) dalam musik?

Buat kami, ruang dalam musik itu semacam “escape button” dari keriuhan sehari-hari. Ibarat kalau lagi bosan, ada yang suka kabur ke mal: ada yang cuma jalan-jalan, ada yang belanja, ada juga yang bisa berjam-jam nongkrong sampai mood balik lagi. Musik juga bisa jadi pelarian semacam itu.

Apakah Anda merasa kompilasi ini adalah semacam dokumentasi generasi, mengingat adanya statement tentang “generasi yang tumbuh dengan pergeseran konstan”?

Harapannya sih seperti itu, hahaha.

Ke depan, apakah Home-listening Plaza hanya akan berhenti di rilisan ini, atau ada rencana untuk menjadikannya seri berkelanjutan atau bahkan ruang kolektif baru?

Plaza pada umumnya dibangun dengan desain. Mulai dari pintu masuk, lantai-lantai, toko, etalase, katalog, sampai atribut lain seperti developer, security, pengunjung, dan penjual. Visi kami ingin mengamplifikasi kata “plaza” seperti itu. Kalau sesuai rencana, setiap kontributor akan merilis karya masing-masing tiap bulan sampai April 2026. Mulai dari single, maxi, EP, album, sampai remixes, plus produk-produk lain yang bisa dikoleksi. Semua akan dirilis di bawah satu ruang: Home-listening Plaza.

Home-listening Plaza menghadirkan semacam titik temu. Berawal dari kebiasaan sederhana lalu berkembang jadi ruang kolektif yang terencana. Dari enam lagu yang lahir organik di ruang nongkrong, kini ia menjelma menjadi plaza imajiner dengan etalase, katalog, dan rencana rilisan panjang. Bagi Arick Ahong dan para kontributor, proyek ini adalah cara menjaga rasa-rasa yang lahir dari musik yang memberi ruang untuk bernapas, dan mungkin juga ruang untuk kita menemukan diri sendiri di tengah kebisingan kota.

Teks dan interview oleh: Freykarensa