X

Xhabarabot Voice Machine: Gagasan Rully Shabara Tentang Musik di Era Post-AI

by Ismail Noer Surendra / 4 months ago / 650 Views / 0 Comments /

Lewat Xhabarabot Voice Machine, Rully Shabara berbagi gagasan soal Post-AI dalam berkarya, di mana manusia mengontrol kecerdasan buatan, bukan sebaliknya.


Rully Shabara tak hanya sekadar membuat musik. Lewat Xhabarabot Voice Machine (XVM), ia membuat sebuah gerakan antisipatif pada sebuah zaman yang saat ini memang sedang dikuasai Artificial Inteligence atau AI. Setengah dari Senyawa ini menyebut XVM sebagai gagasan mengenai apa yang dimaksud dengan Post-AI. Sebuah sikap menggunakan AI dengan memperkuat peran manusia untuk menghadapi masa depan yang nantinya bakal dipenuhi kecerdasan buatan tersebut.

Saya menemui Rully di tengah hari bulan Ramadhan, 22 Februari 2026. Saya mewawancarainya di kediamannya di Balai Arsip Khawagaka. Rumah yang berisi banyak artefak Khawagaka tersebut merupakan project Rully dengan bandnya yaitu Wusa. Cerita tentang Khawagaka ini bisa ditonton di kanal YouTube Rully Shabara berjudul, Legenda Khawagaka: Riwayat Wusa.

Rully menjelaskan bahwa Xhabarabot Voice Machine adalah serangkaian antarmuka (interface) berbasis web yang diciptakannya di tengah lockdown pandemi 2020. Awalnya, proyek ini lahir dari ide Rully untuk mengeksplorasi cara memperluas potensi suara manusia dengan mengubahnya menjadi data. Seiring waktu, antarmuka ini berkembang menjadi alat digital yang mudah digunakan siapa saja, termasuk oleh mereka yang bukan musisi dan sama sekali tidak punya pengalaman dalam produksi musik elektronik.

Pada awal pembuatan XVM, Rully menjelaskan bahwa ia ingin membuat AI yang bisa membantu manusia untuk menciptakan musik yang orisinal. Namun seiring berjalannya waktu, seiring dampak buruk AI bagi manusia, proyek ini pun menjadi dibangun untuk memberi kesadaran tentang pentingnya peran manusia (human agency). Dalam kerangka besar ini, XVM menempati posisi penting sebagai salah satu komponen utama: sebuah rangkaian antarmuka berbasis web yang dijalankan oleh berbagai jenis algoritma, bukan AI.

“Saya ingin membuat sesuatu yang bisa menjadikan AI menjadi tidak lagi diperlukan. XVM itu tidak akan ada tanpa AI, tapi tidak ada AI-nya. Kita mengembalikan human agency di dalam membuat suatu karya,” kata Rully membuka obrolan.

Dijelaskan oleh Rully tentang apa itu pemaknaan dari AI yang menurutnya merupakan mesin learning yang dibuat berdasar algoritma. AI pada dasarnya adalah kumpulan pengetahuan. Namun, pengetahuan-pengetahuan yang telah tersusun ini telah dikapitalisasi oleh perusahaan-perusahaan besar untuk kepentingan tertentu. 

Lalu apa bahaya AI? Menurut Rully, AI memuntahkan terlalu banyak informasi. Kebanyakan mengonsumsi informasi tersebut yang ditakutkan adalah berlebihan makan sampah. Rully mengibaratkan seperti kita men-capture foto lalu mengunggahnya berulang-ulang. Kualitas foto tersebut nantinya akan turun, turun, hingga akhirnya pecah. Pola konsumsi informasi seperti ini lah yang nantinya memunculkan teori yang dinamakan dead internet. Sesuatu yang bisa jadi berdampak bagi otak yang dapat mempengaruhi perilaku manusia.

“Sekarang sudah terjadi, banyaknya pengetahuan yang selama ini telah dibuat untuk men-training AI, sekarang data yang sudah dihasilkan itu AI itu sudah lebih banyak dari itu. Berapa banyak orang yang nanya ChatGPT dalam sehari? Berapa banyak yang dia muntahkan? Itu yang menghasilkan teori yang namanya dead internet. Intinya dead internet itu informasi yang sampah semua. Hasil dari muntahan-muntahan itu,” ujarnya.

Atas dasar itu, Rully pun mencoba mengembangkan suatu pemaknaannya tentang apa yang disebut dengan Post-AI. Post-AI adalah bayangannya tentang musik di masa depan yang nantinya akan fair untuk semua orang. Fair dalam hal ini termasuk diantaranya tentang hak cipta, royalti, termasuk dalam hal pemikiran. Oleh karena itu, musisi yang berkarya harus menjadi benar-benar tahu tentang apa yang akan mesti dibikin. Kesadaran mengenai apa yang akan dibuat menjadi sesuatu yang lebih utama. 

Post-AI, disampaikan oleh Rully, adalah masa di mana masa depan yang dipenuhi dengan AI tapi manusia sendirilah yang mengontrol AI tersebut. Bukan justru manusia yang menjadi dikendalikan oleh AI. XVM dalam hal ini dibuat agar penggunanya untuk ikut memikirkan karya apa yang akan dibuat. Seorang musisi menjadi tidak terpaku dengan suatu genre tertentu, namun turut mengembangkan genre itu ke taraf yang selanjutnya.

“Xhabarabot berfungsi sebagai sebuah username sekaligus persona kreatif di ranah digital yang mengeksplorasi potensi teknologi digital dalam berbagai bidang—mulai dari manipulasi data suara, antarmuka digital, citra digital, hingga algoritma dan kecerdasan buatan,” ujar Rully.

Rully melihat di era sekarang, banyak seniman yang menjadi gandrung dan ketergantungan dengan AI. Hal tersebut tentu baginya sangat menggelisahkan. Seniman tidak lagi bisa mandiri atas karya yang akan dibuatnya. Keotentikan manusia sekarang ini pun seolah bisa digantikan dengan mesin. Ketidakmandirian seorang manusia semacam ini tentu nantinya bisa dimanfaatkan oleh kepentingan tertentu terhadap manusia itu sendiri.

***

Sebagai musisi yang bergerak di bidang kontemporer, Rully mencoba membuat mesin yang dirancang untuk mempermudah proses pembuatan musik digital. Mesin tersebut juga sekaligus akan menghadirkan metode dan pendekatan beragam yang tidak mengikuti pakem instrumen digital pada umumnya. 

Lewat XVM, Rully berupaya menjawab krisis yang saling berkelindan dalam penciptaan musik digital: dilema etis yang muncul dari generative AI yang ekstraktif dan eksploitatif, serta keterbatasan kreatif dari Digital Audio Workstation (DAW) konvensional yang kerap mengekang eksplorasi yang cair dan intuitif. XVM dikembangkan melalui metodologi Practice-as-Research (PaR). XVM dibangun di atas kerangka “Post-AI”, sebuah posisi kritis yang merebut kembali agensi manusia dengan menekankan algoritma yang transparan, improvisasi yang berakar pada tubuh, serta praktik data berbasis consent dan mengutamakan aksesibilitas.

XVM dalam hal ini dibangun melalui studi multi-kasus yang melibatkan pengguna pemula, amatir, dan musisi profesional. XVM sebagai proses riset, juga mengamati bagaimana interaksi dapat terjadi dalam sistem yang dirancang untuk mendorong unsur ‘bermain’ dan ‘coba-coba’, alih-alih komposisi yang berorientasi pada hasil/produk musik. “Manusia kembali menjadi aktor utama yang mengoperasikan alat secara aktif, bukan sekadar memberikan perintah (prompt) lalu menerima hasil jadi,” ujarnya.

Rully menjelaskan bahwa XVM ini lebih mengedepankan improvisasi ketimbang komposisi, mesin-mesin ini membuka peluang munculnya pola dan bentuk musik yang unik dan tak terduga, termasuk juga cara memainkannya. Lebih dari itu, proyek ini juga mengajak pengguna untuk berinteraksi secara etis dengan aset bunyi, memperlakukannya sebagai instrumen digital dan aset bunyi yang personal, baik sumber maupun metodenya. 

Rully Shabara memperkenalkan konsep Post-AI lewat XVM sebagai masa depan di mana kecerdasan buatan (AI) tidak lagi menjadi pusat yang diperlukan. Bukan berarti AI hilang, namun manusia menciptakan sesuatu sedemikian rupa sehingga ketergantungan pada AI menjadi tidak relevan. Bagi Rully, definisi Post-AI harus segera dibentuk oleh para praktisi dan seniman. Jika tidak, definisi tersebut akan dimonopoli oleh korporasi. Ia membedakan antara AI sebagai “robot pembantu” dengan realitas AI saat ini yang sebenarnya adalah algoritma machine learning—kumpulan pengetahuan manusia yang distrukturkan oleh korporasi agar bisa diakses melalui antarmuka tertentu.

“Xhabarabot bukan semata-mata proyek AI. Ia pada dasarnya adalah penyelidikan terhadap apa yang bisa dicapai oleh teknologi digital termasuk, tapi tidak terbatas pada AI”.

Melalui XVM, Rully mencoba melakukan Dekolonisasi Personal. Baginya, dekolonial bukan sekadar pertentangan Barat dan Timur, melainkan bagaimana seseorang mengeksplorasi sumber bunyi dan desain alat secara mandiri dan personal, bukan sekadar mengadopsi apa yang disediakan pasar.

“Desain musik sekarang sudah seringkali ditentukan oleh desain musik yang dibuat oleh korporasi, bukan oleh musisi itu sendiri. Padahal di era kita sebelumnya di Nusantara, kita juga sudah punya musik dengan bermacam-macam bentuknya. Kita seperti mengalami kemunduran sekarang,” ujarnya.

Ditanya mengenai bentuk ideal musik di masa depan, Rully menekankan bahwa AI harus bisa menjadi alat untuk demokratisasi seni, di mana semua orang bisa berkarya. Namun, ia memperingatkan agar tidak terjebak dalam hype. Bagi Rully, berkesenian di era sekarang tidak lagi butuh galeri fisik, melainkan kemandirian dalam membuat “aturan main” (personal rules) sendiri melalui proses eksperimen yang terus-menerus, meskipun harus melalui banyak kegagalan teknis.

“Tugas seniman bukan cuma menggunakan AI, tapi mempertanyakan apa itu AI. Jika kamu merasa terancam oleh AI, mungkin itu karena kamu tidak mengeksplorasi dirimu sendiri,” kata Rully.

Diketahui bahwa XVM hanyalah satu bagian dari proyek Xhabarabot yang lebih besar. Nama “Xhabarabot” sengaja digunakan Rully untuk memisahkan eksplorasi digitalnya dari praktik kreatif personal di dunia nyata, dengan menegaskan pentingnya batas yang jelas antara keduanya. Pemisahan ini menjaga agar nilai-nilai kreatif Rully di dunia fisik tetap utuh, tanpa tergerus atau tergantikan oleh dominasi ranah digital. Jika XVM adalah web yang bisa diakses segala kalangan, maka Xhabarabot adalah project milik Rully Shabara seorang.

Sore itu di Balai Arsip Khawagaka, Rully seperti tidak sedang menawarkan teknologi baru, melainkan sebuah solusi alternatif tentang banyaknya pertanyaan modern tentang AI. Di tengah riuh rendah mesin yang mencoba meniru otak manusia, XVM menjadi pengingat akan seni bukan tentang seberapa cepat sebuah perintah (prompt) dipenuhi, melainkan tentang jejak-jejak kesalahan, keringat, dan otoritas manusia yang menolak punah. Pada akhirnya, di era Post-AI nanti, yang tersisa hanya lah mereka yang berani mengenali suaranya sendiri di tengah tumpukan sampah informasi dunia digital.

Obrolan kami pun berakhir seiring persiapan memasak untuk buka puasa. Di antara artefak Khawagaka yang bisu, gagasan Rully tentang Post-AI terasa kian nyata. Ia memang tidak sedang memusuhi masa depan; ia hanya sedang mempersiapkan diri agar saat masa depan itu tiba, manusia tidak datang dengan tangan kosong. Dalam perjalanan pulang turun dari Gunung Sempu itu saya menjadi tersadar: tantangan terbesar manusia hari ini bukan lah bagaimana cara mengalahkan AI, melainkan bagaimana cara agar tidak menjadi robot sebelum waktunya.

Tagged

#experimental #xhaborot voice machine #rully shabara #post AI