TRACK TALK: ASHN – Waves In Two (Outtasight Records, 2025)

Fokus menjadi muram, Waves In Two malah lupa bagaimana caranya untuk menjadi album impresif.
Satu lagi replika Whirr setelah satu dekade namanya anyep secara eksistensial. ASHN kenalkan Waves In Two, album debutnya yang seakan mengajak pendengar untuk meratapi kesedihan tak berkesudahan, larut dalam kemalangan, atau bahkan hasutan cari “pelarian”.
Entah kemuraman macam yang apa yang mengacaukan isi hati mereka sehingga betah berkubang dalam penulisan lagu-lagu suram macam ini. Mengapa tidak? Mereka seakan menutup segala bentuk harapan lewat bisingnya distorsi berkabut yang meski begitu tebal, terdengar sangat rapuh.
Tanpa sentimen apapun pada Whirr dan lusinan duplikatnya, jujur saja dari lubuk hati terdalam, Sway (2012) tak akan bisa lepas dari daftar album emo/shoegaze favorit pribadi sepanjang masa, namun saya selalu berharap nama-nama baru bisa melakukan lebih dari itu. Whirr sudah usang, saatnya menengok ke arah lain.
Tapi sepertinya tak semudah itu bisa menghapus Whirr dalam peta kiblat musik shoegaze/emo era internet. Saat kesedihan bisa diekspos habis-habisan, suara-suara mereka justru terdengar makin relevan sehingga kesedihan kolektif yang tercecer menemukan wadahnya. Band-band baru yang mungkin personilnya masih duduk di bangku sekolah saat mereka bermasalah dengan G.L.O.S.S dan komunitas queer muncul sebagai penanda zaman sekaligus melanjutkan nafas melankolia mereka, yang paling stand out hari ini mungkin wisp.
ASHN tak luput dari cecerannya yang berhasil berkumpul jadi satu. Sejak “Falling, Fading/In Circles”, saya sudah mengira kalau mereka akan ke arah sana. Mungkin, kemunculan wajah-wajah baru (salah tiganya dari SUB dan Puremoon) di badan band bagus buat menentukan arah musikal dan artistik mereka, namun sayangnya tidak buat ekspektasi saya.
Impresi pertama yang membuat saya mengangguk setuju dengan keputusan mereka di Waves In Two mungkin adalah penentuan sampul. Seluruh albumnya berkabut, persis sebagaimana cover-nya ditampilkan. Distorsi tebal, vokal samar yang hampir hilang (bahkan benar-benar hilang saat live) juga melodi-melodi ringkih adalah nafas dari album ini. Mereka seakan tengah mewakilkan desahan emosi ketika dibelai, namun sayangnya hanya itu esensi yang saya tangkap.

Dari “Farewell” sampai “Whirlwind” (“Endless” tak masuk hitungan karena outro), hook yang bisa membedakan antara satu nomor dan lainnya seakan ikut kabur di balik pekatnya kabut distorsi dan awangan lead gitar yang memaksa telinga meletek peka, meskipun ini adalah kelemahan (jika tak bisa disebut kesalahan) umum dari pengusung musik jenis ini. Saya merasa mereka lebih fokus membuat suaranya mengawang ketimbang menciptakan melodi-melodi yang impresif.
Kemudian, faktor yang mendukung anggapan di atas adalah alur yang monoton. Dari nomor ke nomor, pendengar disuguhkan formula yang (sekilas) begitu-begitu lagi. Diferensiasi hanya selipan, badan lagunya masih sebelas dua belas. Resikonya, saat menghabiskan satu album penuh, rasa kantuk bisa saja melanda saat album baru bergulir setengahnya. Namun beruntungnya, kebiasaan pendengar musik hari ini untuk menyimak album secara runut sudah memudar.
Yah, setidaknya mereka memberikan usaha berbeda ketika “Whirlwind” menyambar, nomor kedua terakhir dengan spirit punk-ish–kencang namun tetap bising dan (pastinya) melankolis. Cukup punya impresi berbeda saat saya mulai menurunkan antusias di “In Circles” atau “Falling, Fading”… entah lah saya juga tak bisa mengingat di lagu mana tepatnya saya berhenti. Namun sayang, itu adalah penghujung album sebelum outro melambaikan tangannya.
Buat saya, Waves In Two sudah selesu itu. Seharusnya mereka tak lagi kepikiran untuk menyisipkan nomor macam “Weak” yang hanya menghabiskan durasi, terlebih posisinya yang ada di tengah-tengah longgarnya intensitas album. Bukannya memberikan sentuhan lembut, ini sih sentuhan lemas yang membuat dampak emosional menurun. Dan setelah itu, mereka masih ingin membuang-buang durasi lewat “Outro” yang perannya penting-nggak penting.
Kabut distorsi pun akhirnya berhasil saya lewati dengan antusias naik turun serta beberapa kali menguap. Meski masih kesulitan buat saya ‘nyangkut’ pada satu lagu pun, namun secara keseluruhan saya dimanjakan oleh polesan suara yang menambal banyaknya titik monoton di Waves In Two. Mungkin, pengalaman akan lain jika seserpih boti ditelan sebelum album ini ditenggak, sayangnya saya sudah terlanjur sober untuk mencobanya.
Intinya, buat saya album semacam ini bukan soal tampil paling gelap atau semelankolis mungkin, perlu pendekatan, sentuhan dan formula lain yang keluar dari template atau influens yang diacu. Kecuali jika hanya ingin terdengar rata-rata, mungkin demikian sudah bisa dibilang cukup. Dan satu hal yang perlu digarisbawahi, saya sedang tidak berbicara soal benar dan salah.
Teks: Ilham Fadhilah
Dengarkan Waves In Two di sini!