X

Partying In Nature: Ketika Bersenang-Senang Tidak Lagi Membutuhkan Club

by Freykarensa Ersaddy / 3 months ago / 529 Views / 0 Comments /

Kami berbincang dengan kolektif Far Far Away dan Black O. Society soal bagaimana partying in nature yang tanpa terfasilitasi justru terasa lebih intim. 


Tanggal 27 dan 28 Maret lalu sekelompok orang memilih untuk blusukan masuk ke dalam hutan, bukan untuk kabur, bukan juga sekadar camping, tapi untuk menghadiri sebuah acara yang digagas entitas bernama Far Far Away.

Acara ini berlangsung selama dua malam di salah satu daerah atas kota Bandung, berisi musik hingga tenant makanan, dengan lebih dari 20 DJ dari berbagai kolektif. Crowd yang datang pun campuran, ada yang memang mencari musik, ada juga yang sekadar ingin merasakan suasana yang tidak bisa mereka dapatkan di kota.

Yang menarik bukan cuma acaranya, tapi kenapa format seperti ini semakin sering muncul. Bukan hanya Far Far Away, tapi juga lingkaran yang kurang lebih sama seperti Black O. Society atau Dawn Gong di Yogyakarta, yang dalam beberapa tahun terakhir cukup konsisten membuat event di ruang yang tidak seperti biasanya.

Kalau dipikir-pikir, club di kota tidak pernah benar-benar kurang. Sound bagus, lighting proper, bar atau club lengkap, semua sudah tersedia. Tapi mungkin justru di situ masalahnya, semuanya terasa terlalu jadi paket, terlalu rapi, terlalu mudah ditebak.

Party di tengah hutan, atau di ruang terbuka, rasanya seperti mengembalikan sesuatu yang sempat hilang. Tidak ada batas yang jelas antara DJ dan crowd, tidak ada timeline yang harus selalu presisi, dan yang paling terasa, tidak ada distraksi khas kota. Yang tersisa hanya suara, badan, dan ruang yang terbuka lebar.

Tapi romantisasi itu selalu datang dengan konsekuensi. Membuat acara di tengah alam berarti harus berhadapan dengan hal-hal yang tidak bisa dikontrol. Cuaca yang berubah-ubah, akses yang tidak selalu mudah, risiko alat bermasalah, hingga tanggung jawab terhadap lingkungan. Hal-hal yang di club sudah “beres”, di sini harus dipikirkan ulang dari awal.

Di titik ini, pertanyaannya jadi sederhana, tapi penting, sebenarnya apa yang sedang dicari?

Untuk menjawab itu, saya mencoba ngobrol langsung dengan dua kolektif yang cukup dekat dengan format ini, B.O.S. dan Far Far Away!

Q: Awalnya gimana kepikiran bikin party di alam, bukan di venue konvensional?

FFA: Kita ke-trigger waktu datang ke Wonder Joy punya Humblezing. Sebenarnya ide ini sudah ada dari 2019, sempat kepikiran bikin di tempat aneh kayak gorong-gorong atau hutan, tapi waktu itu mungkin ilmu acaranya masih minim.

BOS: Kami nggak bikin party, kami cuma pindah ‘nongkrong’ aja.

Q: Apa yang kalian rasa kurang dari suasana club di kota?

FFA: Venue di kota kayaknya udah terlalu sering, dan kalau di Bandung kan tempat yang nyediain untuk musik kayak kita paling di Basement Artotel. Terus ya biasanya juga kalau di tengah kota tuh party sampai jam 3 subuh terus pulang aja, beres. Kalau di tengah hutan, orang pulang juga mager jadi ada moment banyak yang nongkrong, santai dulu sambil nunggu sunrise.

Kalau spesifik ke club juga di Bandung kayaknya nggak ada. Udah gitu buat bawa orang ke club susah. Durasinya juga lebih bentar, karena orang-orang (biasanya) baru pada datang jam 11 malam.

BOS: Kami rasa, suasananya nggak ada yang kurang, hanya saja secara musik mungkin memang berseberangan seleranya dengan musik yang kami bawakan. Jadi jarang banget kami main di club.

 

Q: Seberapa besar pengaruh kultur global ke konsep kalian?

FFA: Besar banget, mengambil referensi kita dari luar juga banyak. Dari segi design untuk poster contohnya, kita kan temanya memilih alam yang harsh dan natural, jadinya kita nge-refer poster-poster dari luar juga, contohnya Gramicci atau ACG.

Kalau festival di luar kita melihat juga ke Houghton Festival di UK dan Sustain Release di Amerika Serikat. Banyak sih, karena di luar udah banyak banget nggak bisa kita sebutin satu-satu, hahaha.

BOS: Nggak terlalu besar, mungkin yang lebih mempengaruhi kami malahan dari scene lokal seperti yang dilakukan sama Pyrate Punx dengan Libertad Fest dan Festival Chaos Non Musica di Bali, hingga Jatim Power.

Q: Apa yang ingin kalian bangun dari experience ini?

FFA: Tiris (dingin), hahaha. Hari kedua juga hujan kan walau gerimis. Kepingin crowd lebih guyub juga karena di satu tempat itu, orang nggak bisa ke mana-mana.

B.O.S.: Aman dan nyaman. Tapi sekali lagi, perlu dijelaskan kembali bahwa kami belum pernah berdiri sendiri ketika bikin party di pinggiran, terakhir yang bener-bener kami handle yaitu barengan Rvang Bavr untuk hajatan turnya temen-temen Perspex dan Night Spacer.

Q: Seberapa penting faktor alam dibanding musik?

FFA: Penting banget sih kalau buat Far Far Away. Nggak alam doang bahkan, kayaknya semua party memang tergantung sama environment-nya. Di ruang kerja kita ini sama di bar juga beda. Jadi faktor alamnya penting banget. Ngaruh ke mood yang datang kan pasti.

BOS: Musik dan alam kemungkinan beda konteks, atau seenggaknya yang kami rasa tidak seperti itu. Tapi ketika ada speaker di waktu bersamaan dengan adanya udara segar dan suasana yang tidak bisa kami dapatkan di kota, nongkrong jadi lebih nyaman

Q: Ini bentuk escapism atau ada nilai lain?

FFA: Sebenarnya karena bosan nongkrong di kota aja, jadi nyari kegiatan yang beda dari rutinitas sehari-hari. Makannya kita ingin nih rutin bikin acara dengan konsep kayak gini, hahaha.

BOS: Tidak ada, kami hanya gemar nongkrong saja.

Q: Tantangan terbesar bikin event di alam?

FFA: Banyak tegangnya sih karena ini acara pertama. Lalu kita develop acara ini saat bulan puasa juga, perihal sponsor jadi lumayan susah karena brand-brand hampir semuanya mau THR-an jadi lagi menjaga pengeluaran.

BOS: Sejauh ini belum ada.

Q: Gimana handle teknis kayak listrik, sound system, cuaca?

FFA: Soal teknis aman, karena kita dibantu sama vendor juga. Yang repot mungkin kita ditinggal sama vendor genset, jadi kita ke bawah (pemukiman) dulu buat ngisi bensin.

BOS: Sama seperti di kota, hanya saja kebutuhannya yang lebih disesuaikan.

Q: Perbedaan paling terasa antara club dan outdoor?

FFA: Mungkin kalau club kita tinggal bawa flashdisk doang. Kalau di alam jadinya kita set-up semuanya dari stage, lighting. Belum lagi mikirin kayak talent ini tidur gimana, nyewa tenda. Udah kepikiran kita aja yang bangun tendanya, tapi tim kami masang 1 tenda aja hampir sejam, apalagi harus bikin 18 tenda, haha.

BOS: Yang akan berbeda adalah keinginan pribadi, sangat signifikan. Jika di kota bisa begitu, di pinggir nggak bisa. Balik lagi ke jawaban di pertanyaan sebelumnya.

Q: Soal sound system di alam?

FFA: Nggak ada sih, kita pasang trash bag di speaker aja supaya aman.

BOS: Speaker dengan spek mid atau high end dan mengundang sound engineer yang paham (dengan medannya).

Q: Gimana protect equipment dari kondisi ekstrem?

FFA: Ya itu tadi, trash bag.

BOS: Kalau ada shelter, pindahin semua alat ke sana, kalau nggak ada ya harusnya langsung loading out.

Q: Target crowd kalian siapa?

FFA: Kita-kita hahaha, kepingin senang-senang aja. Dari awal juga kepikiran kalau sponsor nggak tembus, kita tetap bikin walaupun anak-anak doang yang datang.

B.O.S.: BOSLICIOUS!

Q: Gimana narik orang ke lokasi yang aksesnya lebih sulit?

FFA: Tempatnya sebenarnya aksesibel karena di pinggir Jalan Raya Lembang banget. Jadi sebenarnya nggak gimana-gimana.

B.O.S.: Nggak ada.

Q: Ada perbedaan kebiasaan crowd?

FFA: Beda sih. Karena DIY party, mindset orang yang datang juga beda kayaknya sama yang datang di club.

BOS: Lumayan sulit membedakan karena kami jarang nongkrong di club. Tapi lumayan sulit juga kami menelaah kebiasaan setiap orang yang datang, mau di pinggir atau tengah kota. Palingan yang kami perhatikan adalah orang dengan attitude yang tidak sesuai dengan visi dan misi kami untuk menciptakan ruang aman dan nyaman buat joget.

Q: Concern soal lingkungan?

FFA: Soal sampah sih paling, cuman dari awal udah deal-deal-an sama pihak venue bahwa sampah itu ditanggung mereka.

BOS: Buang sampah pada tempatnya dan tidak merusak yang sudah ada di tempat tersebut.

Q: Ada rules khusus ke audiens?

FFA: House rules aja sih kayak biasa, contohnya jangan membawa senjata tajam.

BOS.: Masih sama kayak jawaban di pertanyaan sebelumnya.

Q: Apakah konsep ini sustainable?

FFA: Sustain sih kalau mungkin konsepnya lebih matang. Kita juga rencananya ke sana sih, mau jadi the next Foresthra, hahaha.

BOS: Bisa iya atau tidak, tergantung tujuannya, mau dikomersilkan atau tidak.

Q: Ini jangka panjang atau sporadis?

FFA: Jangka panjang sih.
BOS.: Balik lagi, bagi kami ini hanyalah tongkrongan.

Q: Next step?

FFA: Mau bikin yang kedua sih, mungkin eksplor venue dan lebih banyak tenant makanan.

BOS: Sejauh ini belum ada.

***

Dari percakapan bareng dua kolektif ini, kelihatan kalau yang sedang terjadi bukan hanya sekadar tren lokasi. Far Far Away melihat ini sebagai sesuatu yang bisa dibangun, dirapikan, dan diulang. Ada keinginan untuk menjadikannya lebih dari sekadar event sekali lewat.

Sementara Black O. Society justru seperti menolak untuk terlalu jauh memikirkan itu. Mereka menjaga semuanya tetap sederhana, tetap sebagai tongkrongan, tanpa beban harus jadi “movement”. Di tengah dua pendekatan itu, ada satu hal yang sama. Bahwa mungkin, yang dicari bukan hutan, bukan juga alternatif dari club. Tapi cara lain untuk berkumpul. Cara yang lebih pelan, lebih panjang, dan mungkin lebih dekat. Dengan musik, dengan orang lain, dan dengan diri sendiri.

Tagged

#party #black o. society #nighlife #far far away