X

TRACK TALK: GUTZ – Fearmonger (Disaster Records / Tampui Records, 2026)

by Karel / 1 month ago / 185 Views / 0 Comments /

GUTZ membalur tema sosio-politik dengan pendekatan kisah fiksi, narasi folklor, bahkan tokoh permainan konsol dengan gertakan death-punk/crust penuh teror


Frontman Gilang Adi Widasara berkata sesuatu yang lebih menakutkan dari lirik manapun dalam album satu ini. “Tanpa disadari, apa yang kami imajinasikan dalam ‘Fearmonger’ malah akhirnya satu per satu terjadi.”  Waduh!

Gilang ini tidak sedang curcol. Bukan sedang bertetek-bengek promosi atau analogi bohong. Malah yang ada yaitu sebuah kesaksian dari seseorang yang duduk di depan hasil rekamannya sendiri dan menyadari bahwa guratan fiksi sudah kalah telak dari realitas dengan akumulasi yang memalukan.

Nah, di situlah Fearmonger menancap. Bukan sebagai debut yang ingin terdengar berbahaya, tapi sebagai album yang lahir dari dua kota yang memang sedang krisis—Bandung yang setengah dekade ini rutin dihujani gas air mata, kosmetik metropolis dan gesekan horizontal yang tidak urung berhenti, kemudian dari kaki pegunungan Cipanas (plus Cianjur) yang menggigil dan menusuk tulang hingga serbuan konflik agraria yang telah hafal cerukan bulldozer dan pengecutnya para cecunguk mafia tanah. 

FYI, GUTZ yang merupakan abreviasi dari Grinder Ultra Teror Zealotic—nama yang sangat keren, gagah dan ciamik—berisikan dua gitaris Baron dan Ipung, Ude (bas), Osmon (drum) dan Gilfang (vokal). Latar belakang kelimanya mencakup eksponen liga d-beat/hardcore/crust lokal; Fatalist, Grasp of Dynamite, Durga dan Konstigt. 

GUTZ beroperasi di wilayah yang punya silsilah panjang dan kotor. Discharge for sure, Amebix dan Antisect yang menarik punk ke dalam kegelapan proto metallic-crust. Thanks a lot, fucking stenchcore! Jangan remehkan Axegrinder, Deviated Instinct, Sacrilege—para jagoan yang beroperasi di persimpangan tersebut. Lusuh, kasar, compang-camping, bengis, kebut tapi tetap intelek. Sesederhana membayangkan Crass, Crisis bahkan Rudimentary Peni dengan sound metalik galak menderu. Hembusan Bolt Thrower menggilas bergerak seperti tank perang yang bergemuruh. Pengaruh komplet Autopsy, OSDM bermain ‘nyetun’ dan lebih menakutkan dari siapapun yang bermain geber. G.I.S.M. dari Tokyo yang membuktikan bahwa kegilaan bisa metodologis. Yang membedakan GUTZ dari band yang menghafal silsilah itu. Mereka tidak memakainya sebagai kujuran kostum,  melainkan meresap ke dalam cara mereka menyusun riff sebagai sikap.

 

 

Kalian akan mendapat sergahan “Gate of Chaos” yang tidak memberi waktu untuk berleha-leha. Riff pertamanya turun langsung ke frekuensi yang sungguh kotor. Ada sesuatu yang terasa seperti tanah basah setelah kebakaran dan Gilang merangsek bukan untuk menyanyikan sesuatu tapi untuk melaporkan sesuatu dari dalam medan. Tebing Citatah metal/punk rules!

Tapi justru “Remaining Bullet” yang mengunci album ini sebagai sesuatu yang layak diikuti sampai akhir. Riff-nya berputar dengan kedigdayaan Benediction dan poros chainsaw yang mengerik. Sementara di bawahnya ada teror punk melonglong penuh ancam. 

Life and death soon will be answered / one shot that decides it all. 

Layaknya ultimatum yang sudah lama terkubur.

Melaju ke “Mysterious Sermon” yang  membelot tanpa peringatan. Liriknya mengenai sekte tertentu. 

“Committed mass suicide / so you can get on that spaceship / to the heaven gates,” 

Heaven’s Gate sebagai referensi historis, tapi ditulis seperti menyaksikan sesuatu yang sedang terjadi di sekitar dalam bentuk yang hari ini terlihat secara kasat mata. Kumpulan pesohor memakai pakaian rapi yang banyak pengikutnya, lebih banyak likuiditas dan jauh lebih sulit dilawan. Gertakan musikalnya bergerak dengan logikanya sendiri, berganti jalur beberapa kali dan GUTZ membiarkannya mencari bentuknya di tengah jalan.

Kemudian “March of Death Uniform” masuk dan album ini sepenuhnya menyatakan posisinya. “Against the regime of power / blood drenches earth beneath our wrath / annihilate the damned of system.” 

Dentuman drum Osmon berbaris dengan kepastian sesuatu yang tidak bisa dihentikan, pengaruh crust punk paling kasat—Disrupt melanggeng ke Extreme Noise Terror—dan Gilang mengucapkan setiap kata seperti orang yang sudah muak berbisik. 

“Collapse of the Gallows” menarik napas sejenak sebelum menghantam lagi dengan narasi yang lebih eksplisit. Seorang pengkhianat mendapat kejaran, lalu menghantamnya sampai tulang hidung pecah dan rusuk remuk lantas digantung di tiang yang sudah rapuh. 

Strangulation and death breath / then the gallow is fell and broke his necks.” 

Persetan dengan semua para pengkhianat zaman, cepu, tukang culas, koruptor, love cheater, pendompleng, tukang tipu, pedofil, inisiator makan bagong gretong, hakim palsu, ACAB, Mulyono dan Prabowie Susukano. MODAR SARIA  ANJING!

Leher sudah melentur. Genggaman keras merapal. Les Paul gigil meraung. Spike maupun belt peluru meradang. Rudapaksa Boss HM-2. Lanjut, bos! 

Satu muatan “Dying in Repetance” melakukan sesuatu yang tidak terduga. Kuintet satu ini memperlambat segalanya manusiawi dalam album yang kebanyakan isinya sedang mencoba menghancurkan sesuatu. Tubuh yang sekarat digambarkan dengan terperinci laporan medis—batuk darah, sesak menusuk, pucat pasi bak orang mokat—sebelum bergeser ke wilayah yang lebih metafisikal. 

Tomorrow will come, the day you will die / nothing to worry, you’ve done your best.” seperti penghiburan kemudian terngengah-engah dalam satu nafas panjang.

Geser lagi ke “Eternal Tones Whisper” yang senantiasa mengutuk. “Cursed! Cursed! Cursed! / razor blade through your veins from despair.” 

Musiknya sempat memberi kesan album akan bergerak ke tempat yang lebih atmosferik sebelum menarik diri kembali ke kegelapan yang lebih akrab dan penolakan yang disengaja. 

Setelahnya, “Rusty Revolver Operation” adalah momen berpendekatan cuplikan Django Unchained tapi masih kurang menguat secara aura. “Black smoke pierces the sky / a river full of corpse.”  Narasi pantang hukum seperti potongan dari sesuatu yang lebih panjang, karakter yang berlari dari sesuatu yang sudah tidak bisa diputar balik. “Partner become a victims / but there is no time to grieve.”

Sang gacoan di 2023, “Narcissistic Serial Killer” datang di trek sembilan dan dalam konteks album yang penuh rohnya terasa berbeda dari ketika pertama kali didengar sebagai single pertama kala itu. Setelah delapan lagu tentang busuknya sistem, sekte pembunuh dan tubuh yang sekarat, nomor tentang NPD keblenger ini menyebarkan teror dari panggung terang benderang terasa bukan sebagai klimaks tapi sebagai konfirmasi. Semua yang sudah dibicarakan album ini bermuara ke sini. Kepada wajah-wajah yang setiap hari muncul di layar dan tidak bisa disentuh hukum manapun. Pel*r kuda. Cuihhh!

“Gory Vision” menyusul dengan death metal yang terkesan …For Victory. Blast beat, dense tremolo picking, bleed, fear, suffer, die, pain, torment diucapkan seperti litani oleh seseorang yang sudah tidak mencari kata-kata lebih halus karena sudah tidak cukup. Akhirnya, “Do Not Seek Absolution” menutup album ini dengan ngos-ngosan. 

Debut ini harus dikatakan pedas, karena rilisan se-potensial ini justru harus diperlakukan lebih ketat dari yang biasa-biasa saja. Fearmonger punya masalah yang berakar dari kelebihan ide dan kurangnya kepercayaan terhadap ide-ide terbaiknya itu sendiri. Beberapa riff paling kuat, terutama di “Rusty Revolver Operation” dan “Eternal Tones Whisper” menghilang sebelum sempat menetap. GUTZ terlalu sering berpindah ke gagasan berikutnya seolah takut pendengar bosan, padahal belum tentu. Energinya sedikit menganga dan gantung.

Sebagai contoh pendek, Asphyx  tidak perlu mengubah riff mereka setiap dua bar untuk terdengar menghancurkan. Namun, GUTZ belum sepenuhnya memercayai asas itu. Repetisi dalam stenchcore dan death metal purba bukan kelemahan; melainkan cara sebuah riff mengubah dirinya dari pola menjadi mantra.

Paruh tengah album juga terlalu berdekatan dalam karakter dan intensitas. Beberapa lagu terasa saling memakan energi satu sama lain ketimbang saling membangun. Secara lirikal, tematiknya begitu kaya nan bernas. Mengkritisi narsisme kekuasaan, bunuh diri massal, pemberontakan bersenjata. Tetapi masih kadung menulis dengan framing yang belum memaksimalkan kekuatan gambarannya. Ada baris yang seharusnya menggiling serampang tapi melewati telinganya jadi melunak. Selesai begitu saja sebelum merasuk.

Fearmonger merupakan debut yang lumayan menjanjikan dalam pengertian yang paling literal. Isiannya menunjukkan entitas yang sudah punya karakter, tahu dari mana dirinya berdiri dan mengkonstruksi hal realis untuk dikatakan. Patut diingat belum sepenuhnya tahu seberapa keras mereka harus memercayai suaranya sendiri. Debut yang sebenarnya begitu mencengkram dan mengancam dalam satu waktu rotasi. Setidaknya GUTZ telah teguh menggamit senjata panas untuk mengarungi peta metal/punks gorong-gorong yang sudah menghadirkan predecessor macam Masakre, Haul, Exhumation, Incinerated, Demon Sacrifice, Morbius, Deathroned, Sworn dan nama-nama lainnya. Sebarkan teror magisnya, jangan berhenti di kamu!

Tagged

#fearmonger #disaster records #metalpunk #stenchcore #tampui records