X

TRACK TALK: Iron Head – Fundamental (Skullism Records, 2026)

by Rio Tantomo / 5 months ago / 1280 Views / 0 Comments /

Debut album yang terlalu dahsyat untuk di-skip meski dengan riff tergolong itu-itu saja, tapi masih layak buat digas terus, jika perlu sampai mampus.


Cimeng penting, tetapi menciptakan dengung lebah yang saking lebatnya sanggup mengepak kita floating in space-while-stoned, juga tak kalah penting. Berdesir langit kolong dibuatnya, menggigil dilumpuri reverb downtuned menggempur tabung ampli. Panas melimpah, fuh! melepeh keringat. 

Resensi ini sengaja dikerjakan dalam kahyangan lima album Mammatus, demi meminta sedikit netralisir sehabis on repeat semalaman menyetel Fundamental menembus dasar knop. Entah sudah berapa kali—fuck noise complaint, yang jelas sekarang setiap kali mengembus, hidung mengeluarkan sejenis ledakan sangit, menyebabkan beberapa upil hangus terlontar, bindeng overheat. Reaksi yang lumrah sebetulnya, maklum saja, ini stoner anak chopper, dan mengingat kebiasaan ganjil suka todes knalpot, dengan segala kerjap batuk saringan bensin yang menyertai, tak perlu heran apabila aroma sendawa pun mendesit api. Biarkan pembakaran terjadi, bercampur sekalian dengan sensasi love-bored-confusion dari sebuah band heavy stoned yang secara terus terang mencaplok intro desert-god Kyuss guna menstarter “Nafas”, single pertama mereka yang semakin sering diputar semakin badai angin berderu. Kencang.

Untung cuma awalnya doang, kalau tidak maka memalukan. Dan sialnya gigi dibuat meringis menyambut riff yang datang kemudian sebagai suatu keniscayaan yang terlambat dihindari, kleng. . . kita juluki saja itu tikungan dragonaut. Seekor bekas dramer Matiasu tahu betul keniscayaan macam begitu. Keindahan laknat ketika “upaya mengayun gravitasi dilakukan dengan meneteskan ghost note seraya terbius kuasa hand of doom” itu dipetik dari babad Holy Mountain (Earache, 1992). Ibarat psikoaktif, hampir semua band doom pasti melakukan. Di album ini pun nanti tikungan serupa masih akan muncul setidaknya dua kali lagi di lagu berbeda.

“Nafas” sendiri merupakan satu trek tajam membelah alun-alun kota. Sengaja dibikin lurus menerabas aturan speed limit, meluncur sekali tancap-langsung kelar tanpa perlu sarilagu, tukasan atau selingan bertele. Hanya dikasih titilagu pendek menjembatani bagian “blues for the red sun” sebelum bermanuver menjelajahi tikungan dragonaut, menebar ancaman ke arah titik tuju: bumi yang melalak di sisi jurang pemandangan. Jangan salahkan arak mengandung oktan. Berjilat-jilat gentrifikasi. Seratus-carat anus ikut membesi di atas sadel, terpanggang menghirup debu kebangkitan distopik berandal Armada Racun.

Namanya juga “fundamental”, garis besar komponen detonator. Judul itu sekaligus memberi maklumat bahwa tindakan modifikasi “Nafas” dilandasi oleh insting naluriah. Sangat bisa dipahami. Terlebih untuk dicetak menjadi pondasi sebuah debut album, dalam rangka menunjukkan marka darimana semua riff godam di sini mengalir. Time travelling blues.

Lebih lanjutnya mari cukupkan saja percakapan betapa kentara pengaruh sakral Sleep sang rasul Sabbathian terbaik. Serenteng bahan oplosan menabur progresi space rock ke sekujur materi, dan segera bisa dikenali sejak detik pertama drone pembuka “Fundamental” melancarkan tegangan. Rada bikin rep-repan sebenarnya, bahkan dinding-dinding bergidik ketakutan mendengar simtom megalitik mengaum dari kawah goa. Bagaimana tidak, sedang tajuk berkata perang, kita malah menggali terowongan menyongsongnya. And there were doomed. Setiap kali para pemimpin agresor mulai bicara perdamaian, di saat itulah pion tentara telah dimobilisasi—mereka cuma belagak, dan setiap kali para pemimpin agresor itu sibuk saling menuduh, di saat bersamaan ribuan manusia sudah telanjur jadi mayat, remuk berkubang di bawah reruntuhan teokrasi.

Maksudnya, mendengarkan gerung slo-burn “Fundamental” sembari menekuri puing ratapan akibat perintah rudal seekor pedofil suruhan seekor germo yang membantai ratusan anak kecil di negeri yang pemimpinnya pernah membunuh 30.000 tahanan politik, menerbitkan cabik pada dua sisi mata pedang. Ceceran darah melumuri tas-tas sekolah. Ya bani. . . apa kini Tuhan kalian terhibur dan menurunkan berkat atau Ia telah bersedih lalu mengganjar petaka? 

Drone generator mencekam itu—tampaknya dihasilkan didgeridoo—membuka lekat-lekat dimensi sipit Chinese eyes. Setengah terlelap kita dibawa menyusuri katastrofi merambati bayangan organ-organ yang terburai dalam brutalitas sludge akhir zaman. Potret mata copot, kaki putus, serpihan belulang, busuk-terpana Corrupted style. Sepuluh menit panjang durasi trek menjadikan “Fundamental” advaitik, meletup bersama kesadaran manunggaling penuh. Derak mantra sengaja dirapal bergaung, meronta, merintih, berkabut asap dupa memenuhi satu titik pusara atman dan jiva. Bersemayam getir di urat leher kita. Om. . . Shanti. . . mungkin ada baiknya take another bong hit. 

‘Menyatu dengan raga yang tenang. . .

Menyatu dalam jiwa yang tenang. . .’  — “Fundamental”

Harus diakui keunggulan Iron Head mengolah sound mereka. Bahana benar. Cukup punya tingkat kepekatan dus jangkauan lebar untuk memproduksi wall-of-riffs megah. Melangkah jauh sangar dibanding sebelumnya EP My Own War (rilis-sendiri, 2019). Pemeo di kalangan children of the grave mengatakan, kalau kau memang mau jadi band berat maka memberatlah sejadi-jadinya. Jangan kentang. Bikin sampai turun berok. Karena hanya dengan begitulah kau becus melelehkan lava congek dari kendang telinga. Senantiasa menggasak, senar-senar gitar bukan cuma dibengkokkan namun njengat oleh tendensi superberat Church of Misery menggapai acid rock. 

Seperti yang kita temui di sebuah genderang bertitel “War Has Begun”. Silakan berani diadu. Densitas padat memburu ke ujung jantung sewaktu introduksi riff mengambil ancang-ancang di awal lagu. Persis namanya—lupakan amalgasi anabel Iron Monkey dengan Motörhead—“ironhead” yang digadang adalah mesin silinder ganda Harley Davidson berdentum baling-baling helikopter. Semenggelegar itulah ampli lebah Iron Head berdengung lebat. Tebal dan gumpal. Setiap dari kita pasti tak kuasa memuji. Dan seolah menegaskan hobi satir orang Bali jual tanah-beli Harley, alih-alih memilih standar Riandy Karuniawanesque, seekor chopper ironhead XLCH 1000 ditampang sebagai sampul artwork bareng bu jero terhoki tahun kuda besi 2026. Mai ci jeg tuba nas be!

Ngidih pelih, jik. Tuang tangki isi purple haze. Baurkan diri. Faktor ekstra yang membuat album ini lengket menonjol dalam formula feedback, mandi feedback tepatnya. Superfuzz Bigmuff keresek-keresek. Banjir. Lembap. Dekil. Kotor. Bau oli. Kalau kalian suka gitar tinnitus modelan Dopesick (Century Media, 1996), nah makan dah tuh “Rock Stoned”, satu lagi trek-panjang-ngajak-teler mencengkeram niat memaki judul lagunya yang jujur rada kureng—kayak nama akun shitpost gele—tapi bukan masalah besar, raung feedback mencetak apa yang heavy music butuhkan untuk memekik rasa sakit. Dan duet gitaris Iron Head menghasut pekik itu dengan riff godam hipnotik. Turut dibercaki nuansa space ritual pedal flanger dan tentu saja jurus transenden kosmik synth, melesatkan kerikil-kerikil ke sekujur lintasan merkurial Earthless, kita bisa mendengarkan daun pintu mengetuk nada selidik.

“Sir, did you taking any illegal substances?”

“$*%@^;<!!!”

Bukan cuma berlaku di satu lagu, gelimang kosmik – noise – feedback – drone mencegah tujuh lagu Fundamental daripada menjadi rekaman stoner metal yang tawar. Album ini pantas digolongkan masuk kubangan swampdelica. “Raga” punya aura calon klasik setara “God Luck and Good Speed”-nya Weedeater atau “Greenthumb”-nya Bongzilla. Tiba-tiba vokalis mereka tahu cara melekukkan nyanyian enak. Derak suaranya terisap kabur oleh raung groove sludge yang gontai, jatuh ketukan lambat berakhir berserak layaknya debur muntah kuning.

Narkoba terbaik melahirkan imaji. . . sementara yang terburuk adalah manusia miskin fantasi. Penulis brilian berdosa karena ikut berjasa memunculkan segudang penulis butut. Begitu pula album musik. Pada 1966 Jimi Hendrix pernah menulis lagu tentang perang mitologi di Neptunus yang diilhami dari Night of Light, novel sci-fi karya Philip José Farmer. Barangkali itu bisa dianggap wahyu proto space rock pertama sebelum “Astronomy Domine”-nya Pink Floyd. Tatkala Hendrix linglung dirinya tengah melayang atau merangkak dan meracau kepada angkasa bolong, apakah hari ini adalah esok atau kiamat sudah tiba? anak-anak Iron Head memutuskan untuk menancap deras stang chopper mereka, full throttle – no brakes, meretas portal 420 juta tahun drone cahaya coba menghampiri. Apa daya tikungan dragonaut mengadang di perjalanan, bertahan mereka kemudian terjungkal. Meninggalkan debris feedback di sepanjang jejak kemenangan yang tertunda.    

‘Collapsed and fall,

from outer space.’ — “Ballad of the Thrills”

“Ballad of the Thrills” adalah nomor mencatut speedometer, pelindas jerawat aspal. The kickstart my heart type of thang. ‘Tndasbesi’ jika mengacu pada personifikasi yang ditetapkan Iron Head. Get high on speed, freaks. Telanjang dada, tancap chopper, gulung bule-bule belagu Raya Canggu. Lagu itu sempat dirilis Januari 2022 silam, versi lamanya terdengar lebih berangasan dan mentah. Dibubuhi lengkap dengan pemaknaan, parafrasa: “penggambaran sebuah proses perjalanan yang tertatih dan penuh rintang pada jejak namun tetap menjaga kesadaran, hanyut perlahan dalam ketenangan.” Garis-bawahi potongan “menjaga kesadaran.”

Masih di kalender 2022, pertengahan November giliran versi awal “Pitam” dilepas. Di bagian eksplanasi laman Bandcamp rilisan tersebut juga tercantum pemaknaan yang kurang lebih serupa mengenai perjalanan dan kesadaran, parafrasa: “sebagai perwakilan sisi gravitasi tak selaras dari sepenggal kisah perjalanan selama berada di dalam wadah spiritual di bawah satu atap di mana segala kotoran menyatu layaknya kata dan tulisan yang mengalir dengan nyata dan berhadap”—“ingat,” tulis Tndasbesi, “hadapi kenyataan secara sadar dan Kita Gerak Bersama.”

Bicara kesadaran lewat epistemik sebuah album stoner sedahsyat Fundamental agaknya hanya dapat berkembang efektif bila dipahami dengan cara menyelewengkan eksistensi radikal prinsip kapalan Descartes, supaya segala tetek bengek semesta psikedelia ini terhindar dari suatu logika falasi, serta lebih mampu merasuk nilai spiritual mind expanding ketimbang sekadar keluhuran aksi hippie in disguise alias teler-teleran belaka. Ebrius sum cogito ergo sum. ‘Aku madat oleh karenanya aku sadar aku ada dan berpikir’. Durasi panjang swampdelica lagu-lagu di album ini menjelaskan semuanya, tidak saja menunjukkan kelimpahan eksplorasi, tetapi juga bukti positif buaian repetisi berkah keenakan giting. Fuh! Stöned dead.

Perlu diketahui, judul “pitam” bukan berasal dari metafora “naik pitam”, Tndasbesi mengakui sasaran adjektivanya adalah “berkunang-kunang” atau “pusing berat” atau “hampir semaput” atau sila tafsir personal.

‘Terhapus asap,

dalam dunia.

Melintas rasa,

dan terkibar.’ — “Pitam”

Berselang empat tahun, wajah lagu itu mengalami pemutakhiran seiring voltase lebah abusif mendefinisikan heaviness sepengar 14 karton bourbon. Sarilagunya digelontorkan Gusten vokalis Jangar, kompatriot heavy stoned prominen indie scene kodya soto kreneng Denpasar—pita suara alpha-rocker paling macho tanah Bali sejak tragedi JRX jadi duta sober BNN. Hasil uji emisi melaporkan: kita akan mengingat “Pitam” karena bagian anthemik tersebut, atribusi kebesaran para motorcycle riding rebels. Bertandang mereka ke kota kalian, bising dan bergetah, menghadirkan polusi tak berperi bagi jiwa yang alim dan doyan mbungut. Bakar paru-paru pakai korek Säkerhets, tai kucing pesan moral.

Tahun 2023 Weedian, label rekaman pemburu band-band obskur dari daratan tak terjamah di seluruh dunia—Sublime Frequencies buat musik anak-anak keturunan Iommi—memasukkan “Rock Stoned” bersama 20-an nama seminal lain ke dalam seri pelesiran Trip to Indonesia. Kompilasi yang memperlihatkan citra pesat kancah heavy stoned nusantara sejak mulai mencuat circa 2010. Ada masanya ketika anak-anak gondrong raglan Dopesmoker bertebaran, keluyuran melacak kerumunan. Age of Winters (Kemado, 2006) membaptis mereka, ditambah dengan terkuaknya jejak musikal Josh Homme turut merintis khazanah penelusuran kembali jalur rock padang gurun sejumlah alumnus Kyuss yang tersebar di banyak grup esensial, dari The Obsessed, Unida, Fu Manchu, Unsound sampai Queen of the Stone Age.   

Saat itu film dokumenter Such Hawks Such Hounds belum lama tayang di YouTube, dengan talking head sederet tokoh kunci pergerakan macam Wino, Pike, O’Malley, Cisneros, Bjork menceritakan petualangan musik hard rock bawahtanah di Amerika. Itulah momen Pentagram ditemukan. Termasuk menonton NOLA: Life, Death and Heavy Blues from the Bayou, film dokumenter lain yang khusus mengekspos kancah sludge New Orleans. Puff puff pass. . . gerbang kancah terbuka. Ilmu diraup, tutur tinular. Menjelmalah gelombang metal “baru” yang tidak kebut bergerinda seperti lazimnya wawasan abang-abang Carcass kita terdahulu, namun lambat menyerupai air mata peziarah yang dipertuan agung kardinal Dylan Carlson.

Sudah pernah dengar Ganjil, Athman, Swars, Maoong, Cyclops, Color Theory, Mound, Endgate atau Shankar? 

Linting gendut, kawan.

Jelas kita percaya musik keren dari era mana pun pasti dibangun via kehebatan referensi majemuk para pendahulu, tetapi menilik konteks stoner metal, progresi kord subgenre itu tergolong terkotak dan cenderung terpaku, baik dari segi karakter sound ataupun dinamika riff sebagai “suatu keniscayaan yang telat dihindari”, padahal ada segudang siasat untuk setidaknya melahirkan pola divergen.   

Polemik ruang sempit yang mengakibatkan band-band berklasifikasi stoner-sludge-doom selalu mudah dituduh melakukan plagiasi, terdengar mirip kayak si monyet itu – menjiplak si anjing ini hingga akhirnya berujung membosankan. Kita sedang bicara tentang kemampuan mengolah sound kromatis gitar fuzz penggetar lambung, penuh rutukan batu, abrasif dan apokaliptik yang mahir. The slower the heavier. 

Ah langit terbentang luas, mengapa tidak dengan pilihan riffmu dan pula puritanismeku?

Tagged

#metal #skullism records #Doom metal #fundamental #stoner metal