TRACK TALK: eleventwelfth – 11 (Angular Momentum, 2026)

Hadir secara konseptual tak lantas membuat 11 sempurna, turbulensi selama perjalanan albumnya tak teratasi, melenyapkan antusias di galaksi antiklimaks.
Selepas dengar single untuk album terbaru mereka ini, saya tak berharap besar apa yang akan terjadi setelah SIMILAR (2023). Jika menyebutnya jelek adalah sesuatu tak sopan bagi para musisi, maka saya akan sebut ini kutukan album ketiga. Fenomena kebiasaan meraih hasil paten atau impoten bagi band yang sudah punya ciri khas sendiri lalu mengubah gaya musik — lebih tepatnya eksperimentasi tambah unsur ina-inu. Konklusinya kemonotonan terjadi sepanjang entah berapa durasi album ini karena saat masuk empat trek awal pun sudah bikin ingin putar saja diskografi mereka sebelumnya. Stagnan.
Padahal, twinkly guitar, Midwest emo, math rock yang emosional dan terukur. Formula yang terbukti mutlak dan sudah membawa mereka ke nominasi AMI (untuk hal ini saya tak peduli, persetan penghargaan musik) hingga ke playlist resmi platform streaming berbagi dengan nama-nama yang layak berdampingan dalam daftar bersama-sama dengan CHON. Saya suka CHON. Dan itu jadi layak puji, biarpun algoritma itu fana.
Juni 2026 datang dan mereka merilis 11—bagian pertama dari proyek album ganda naratif yang lebih berat, gelap, dan sintetis. Dibumbui post-hardcore kawin dengan IDM dan glitch. Gitar yang dulu twinkly sekarang punya gigitan kuat. Dan saya duduk di sini tidak yakin apakah ini keputusan yang brilian atau band yang sedang dalam proses kehilangan sesuatu yang tidak bisa dikembalikan. Mungkin keduanya. Mungkin itulah poinnya. Malangnya, hal itu sudah terjadi sejak awal lihat judul-judul treknya.
Baiklah saya coba putar pembuka, “aviate – OPENING CREDITS : The Prologue”, masih sama layaknya eleventwelfth yang dikenal. Mungkin hanya selipan elektronik dan glitch tipisnya yang masih mampu membuat diri bersemayam depan speaker dengan tabah. Masuk ke babak pertama. Dibagi tiga babak diajak terbang melalui “far away from here – ACT I : The Setup” lalu “ascending faster than before – ACT I : The Beginning” hingga “turbulence – ACT I : The Departure”.
Saya suka pattern vokal yang kedua. Vokal diproses dengan autotune yang tebal sebagai pilihan tekstural yang mengubah cara emosi bekerja di dalam lagu.
Dualitas vokal antara Rona dan Tir adalah keputusan paling cerdas di album ini. Rona pegang melodi sebagai suara protagonis, Tir berteriak sebagai representasi frustasi. Yang keduanya bukan sebatas variasi dinamik melainkan entitas dalam satu tubuh yang saling berbenturan. Sialnya, saya cuma ingat The Postal Service di Give Up (2003) yang hanya diberi olesan math rock dan post-hardcore yang tersamar.
Dan keberanian melompat antar genre dalam satu ruang album konseptual ini mengingatkan pada satu album debut bertajuk Tiger and the Duke (2005) milik supergrup dengan anggota terkini Anthony Green (Saosin, Circa Survive, L.S. Dunes), Rich Balling (eks-Rx Bandits, Pyramids, Hospital Gown), Matt Embree (Rx Bandits, Apotheke), dan Chris Tsagakis (Rx Bandits, Aphoteke, C-Gak). Diisi nama-nama experimental dan electronic junkie. Judul dan konsep plek-plekan. Ya mungkin cuma kebetulan. Tak ada hal baru di bawah matahari, apalagi soal musik.
Dalam konteks ini 11 punya kesamaan konseptual dengan The Sound of Animals Fighting, yang juga menggunakan beberapa karakter vokal sebagai perangkat naratif untuk menceritakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kumpulan lagu. Babak selanjutnya mulai membosankan. Kemonotonan itu datang. Di mana letak dinamisnya album konsep tiga babak? Entah saya yang tak ngerti musik atau kadung bagusnya jadi transisi terdengar samar. Saya yakin jawabannya adalah yang pertama.
Segi musikalnya kopong. Bikin jenuh sekaligus bikin angkuh. Kenapa? Karena berhasil membuat sigaret yang dibakar sambil dengar album ini terasa lama habis sebelum babak ini kelar utuh. Dari “fear of what’s beyond – ACT II : The Confrontation”, “navigate – ACT II : The Middle” yang menggaet Biru Baru sebagai kolaborator dan “the nocturnal white awaits – ACT II : The Initiation” hanya (lagi-lagi) yang kedua yang punya daya tarik. Selanjutnya hanya ampas avtur yang dipakai motor balap liar di Jembatan Layang Pasupati.
Tak mampu bawa kita melangit. Bahkan merinding karena ini jadi grup yang tak saya kenal seakan turbulensi tak kunjung teratasi hingga pendaratan. Metafora penerbangannya konsisten sepanjang album: aviate, ascending, turbulence, collision. Naratif yang bekerja secara struktural. Setiap terminologi penerbangan itu memetakan kondisi psikologis protagonisnya. Sialnya saya tak merasa kondisi psikologis itu. Dan di sini kemiripannya dengan Transatlanticism (2003) milik Death Cab for Cutie mulai terasa nyata. Bukan secara musikal.
Ben Gibbard di Transatlanticism menggunakan jarak geografis dan lautan sebagai metafora tunggal yang konsisten untuk menceritakan isolasi, kerinduan, dan tembok emosional. eleventwelfth melakukan hal serupa tapi dengan medium yang berbeda pula dengan fokus yang berbeda. Transatlanticism bicara tentang jarak antara dua manusia. 11 terasa seperti bicara tentang jarak antara ambisi masa depan sang protagonis dengan kedamaian mentalnya saat ini.
Saya punya tafsir album ini serasa intrapersonal, Transatlanticism sebaliknya. Dialog dengan diri sendiri. Persamaannya kedua album juga berbagi struktur dramaturgi yang sinematik — bukan kumpulan lagu acak. Lebih ke sekumpulan babak cerita yang bergerak kronologis dari pengingkaran menuju konfrontasi menuju sesuatu yang tidak bisa disebut resolusi tapi setidaknya penerimaan. Yang akhirnya ditutup dengan “collision – ACT III : The Resolution”, “to fathom the throes – ACT III : The End”, dan “last here all alone – ACT III : The Return”.
Ketiganya antiklimaks, saya bahkan tak ingat satu pun mana dari tiga ini yang punya gigi lalu mampu menggigit. Bahkan, sekedar menggugah pun tak hadir sama sekali. Penutupnya, “communicate – End Credits : The Cliffhanger” cuma pemanis belaka agar ada pengakhiran. Jika ini adalah eksperimentasi dan ada tendensi keluar dari spektrum “Midwest emo” dan “wong kalahan”, yang mana saya pun jijik dengan terminologi kedua, maka hasilnya belum mampu menggertak saya. Bahkan ciut pun tak sama sekali. Bunuh diri musikal paling absah.
Saya akan tetap putar SIMILAR. Perubahan besar seperti ini selalu punya dua kemungkinan, antara penemuan diri yang lebih jujur atau band sedang dalam proses kehilangan sesuatu yang tidak ingin diulang sekaligus tak bisa dikembalikan. 11 terdengar seperti keduanya sedang terjadi bersamaan. Dan 12 belum rilis. Babak kedua belum datang. Kalian sebaiknya pesan kursi disana. Saya masih coba untuk berpikir ulang jutaan kali.
