X

Femadat Gg. H. Nix Powell: Dalang Bayangan di Balik Fuzzy, I

by webadmin / 7 months ago / 478 Views / 0 Comments /

Temui Nix Powell, punggawa Fuzzy I dan juga salah satu otak di balik album Supercycle yang menawan.

Post-music for post-people

Supercycle adalah contoh yang menawan dan mendebarkan dari kemampuan berinovasi sebuah musik rock. Tampaknya album baru dari Fuzzy, I ini — tidak terlalu drastis — penuh dengan ide-ide segar sehingga terasa radikal. Ambisi Fuzzy, I dalam ketersediaan mereka untuk terus membuat pembaharuan dari setiap rilisan demi rilisan, dan berbagai celah keunikan yang memukau untuk diulik; berarti bahwa mereka berdiri tegak sebagai bukti masih banyak bentuk-bentuk baru yang aneh, menarik, dan menantang untuk ditindaklanjuti atau dikembangkan dari iklim musik hari ini.

Terdengar nobel memang, sementara mereka terlihat tidak terlalu memperdulikan urusan musik selain di lingkup Fuzzy, I sendiri. Tapi desas-desus itu akan tetap terendus di antara kita; mereka gemar melampaui diri dan kali ini menciptakan Supercycle, hal besar yang saya yakini sudah mereka antisipasi kedatangannya — berkaca dari kemampuan setiap sosok di dalamnya — bahkan sebelum album ini digarap mandiri oleh kelima avant-young: Egi, Sociomess, visual artist, menamengi diri dengan sosok Nix Powell; Dissa, komposer, produser, sound designer; Dawan, drummer Haul, pencipta spesies-spesies tanaman baru; Fatzky, He3x; Alyuadi, Heals, produser dari banyak rilisan yang salah satunya memenangkan penghargaan di AMI Awards. 

Supercycle berspiral dan kompleks, dikemas padat dan ringkas (semua lagu yang berjumlah delapan nomor berdurasi kurang dari lima menit), juga tidak bernafsu eksperimentasi far-out macam IONS II. Namun perubahan radikalnya adalah tampilan album yang lebih komoditi dan sederhana secara artistik, terutama pada aspek penting bagi grup ini: sound gitar. Unsur progresif selalu di sana, selalu menjadi bahan rebusan dalam setiap rilisan mereka, tabrakan sonik satu sama lain yang mereka sebut, kecelakaan; saling berdialog, mendorong spontanitas pikiran, mood, dan craftsmanship setiap personil; ‘psychotic-jam’, Alyuadi pernah menyebutnya. 

Tetapi bentuk keseluruhan petualangannya mereka serahkan balik; disebut post-punk silahkan, disebut free-jazz senyum — pelabelan term ‘post-music’ diamini oleh mereka, Alyuadi lagi, pencetus di balik penyebutan post-music. Dan sekarang rasanya berhamburan, Supercycle lepas dari bentuk-bentuk ‘total kesenian’ yang tertuang di album IONS II. Tetap mengusung spirit dekonstruksi, namun kali ini lebih berbentuk ‘produk’. Album prog aneh, humoris, banyak intrik; catatan rasa dalam perjalanan epik album, yang dapat membuktikan salah satu rilisan terbaik di awal dekade ini.

Faak, Black Midi.

NIX POWELL: Nah ini sama kayak dulu aing pernah denger, si Elang (Polyester Embassy) bilang, “jaman dulu anak-anak indies kalau ada yang musiknya anehan dikit, sama orang-orang di generalisir, ‘oh, maneh Radiohead-an nya.” Kayaknya sekarang teh karena orang-orang mungkin males juga mendetail ‘musik pusing’, jadinya diserempet ke Black Midi, padahal mah kuduna sih jauh.

Di luaran, satu-dua menyebut musik kalian nyerempet Black Midi.

NIX: Ya, wajar juga sih karena mungkin banget bisa terlihat menggunakan approach yang sama, Fuzzy, I dan Black Midi teh. Cuman kalo preferensi personal sih semakin jauh dikaitkan dengan Black Midi semakin alhamdulillah.

Aing menganggapnya malas.

NIX: Lumayan.

Sepakat.

NIX: Sumber ide, atau referensi Fuzzy, I adalah tabungan. Benar-benar tabungan dari perjalanan kami mendengarkan musik orang. Tapi kami yang pasti nggak mau seenteng mirip, mendekati, atau nge­-reach referensi tertentu juga sebenernya—

Oh.

NIX: Kami sepakat ingin mendorong kemurnian atau orisinalitas band sendiri. 

Ya.

NIX: Walaupun ketika berbicara orisinalitas, ya, tidak sebaru itu juga mungkin kalau di Barat. Mereka mendengar, tapi kami mengusahakan-tidak-mengusahakan untuk nggak merujuk ke budaya musik tertentu, misalkan. 

Bukannya setiap band juga mengarah pada tujuan itu? Seoriginal mungkin.

NIX: Nggak juga, kayaknya. Aing lihat masih banyak banget justru di lokal tingkat satisfaction-nya sebatas ketika musik mereka sudah sampai semirip mungkin dengan referensi mereka. Yang mana sah-sah aja juga sebenernya, cuman kalau kami preferensinya tidak begitu, bismillah.

Nah.

NIX: Kela, eta ditulis moal euy? [tertawa]

Modeled by Unmade Mad

Cara setiap orang mendengar musik sampai tahap terobsesi pada sebuah lagu berbeda-beda. Tergantung lagunya, Mark Richardson, kritikus musik, sampai merasa keanehan sendiri; dia menyukai lagu tanpa harus perlu tahu apa maksud lirik di dalamnya, atau bahkan sama sekali tidak menyelidiki ‘tentang apa’ sebenarnya lagu itu.

NIX: Ya.

Aing punya pengalaman yang sama saat mendengar Fuzzy, I. Vokal dan lirik bukan jadi aspek utama. Kadang, vokal sama fungsinya dengan instrumen-instrumen lain yang sedang dimainkan.

NIX: Kebanyakannya, aing dengerin lagu kayaknya nggak terlalu memperhatikan lirik, mayoritas seperti itu juga. Cuma ketika ada yang membal, mood lagunya menarik, entah ke sedih atau weird, itu baru, sampai ngebuka lirik. Tingkatannya harus benar-benar sampai fanatik buat aing mah sih, Jan.

Setuju.

NIX: Contoh band komersilnya misalkan Nine Inch Nails. Mereka kencang dengan menunjukkan imagenya sendiri. Baru, aing buka-buka, cek liriknya. Atau contoh lain David Bowie. Blackstar, momentum beliau rilis album itu teh berdekatan dengan kematiannya waktu itu, terus mood album itu jauh beda sama album-album dia sebelumnya, agak lebih gelap. Nah barulah aing tertarik buat baca-bacain liriknya kan tuh. Perlu momentum dan rasa penasaran sebegitunya sih untuk nge-check lirik dari karya lain mah.

Apakah sampai sekarang tetap seperti itu?

NIX: Ya. Selewat doang, apalagi musisi sekarang. Nggak terlalu peduli dia nulis apa, ideologi dia seperti apa, kepribadiannya, bagaimana concern dia. Kecuali kalau ada momentum atau hal yang mentrigger aing buat ngecek liriknya. itu tadi, kalau sudah sampai tingkat fanatik, baru.

Dan Fuzzy, I cerminan dari penjelasan-penjelasan tadi.

NIX: Bisa jadi, Fuzzy, I bisa dibilang seperti itu mungkin karena masih belum banyak merasa komplit saja sebagai musisi. Biasanya mindset aing pas bikin lirik teh pengen bikin lirik yang aing anggap keren, jadi kurang hadir tuh variabel ‘pendengar’ sebagai penentu keputusan gaya menulis lirik. Ditambah aing merasa tidak perlulah mengkomunikasikan lirik sebagai produk musiknya, atau memasarkan Fuzzy, I dengan kekuatan liriknya.

Ada kaitannya dengan kepribadian dan karakter vokal Egi sendiri?

NIX: Ada, karena memang karakternya tidak terlalu ekspresif mungkin ya? Jadi tidak terlalu secara aktif mempromosikan bagiannya, seperti lirik. Kayak lebih pasif. Aing banyak ketidakpedulian karakternya. Bahkan musiknya mau seperti apa, sok aja, diserahkan ke bagiannya masing-masing.

Bagaimana peran maneh saat menjadi pembuat lirik di Fuzzy, I?

NIX: Aing bagian lirik dikasih kebebasan, terserah, karena proses kreatif di Fuzzy, I memang berangkat dari masing-masing perannya. Nggak ada intervensi dari yang lain lirik harus bagaimana. Dari aing sendiri sebenernya pengen juga mencapai state di mana bisa mendeliver suatu hal yang kuat secara lirikal, mungkin sekarang juga sudah kuat, menurut ukuran ketua lirik sedunia misalkan. Tapi selanjutnya mungkin, nggak tahu kapan, pengen juga bikin lirik yang aing bisa dengan lantang lebih aktif mempromosikannya.

‘Tulang2 Menjadi Hitam’ mungkin salah satu lagu yang paling lantang dan clear di album ini. Ditambah penggunaan bahasa Indonesia di keseluruhan lirik.

NIX: Kalau ‘Tulang2 Menjadi Hitam’ mungkin intinya aing teh ada concern kecil mengenai ‘sampah’ sih sepertinya, Cuman ada concern kecil aja gitu. Dari dulu banget, tentang sampah dan bagaimana impactnya ke lingkungan yang kita hidupi ini. Tapi aing mencoba mengemasnya untuk nggak sekritikal itu juga. Tetap pengen dibikin curhat aja konteksnya. 

Jelas.

NIX: Nggak mau ada interaksi langsung sama orang-orang yang terlibat juga. Atau jadi pembahasan khusus. Dibawa santai, karena aing pun masih merokok sampai saat ini.

Nah.

NIX: Meminimalisir hipokrisi.

Metode seperti apa yang sering maneh pakai untuk membuat lirik?

NIX: Aing kalau lihat lagi lirik yang sudah dibuat, atau lagu yang sudah jadi, nggak bisa nge-breakdown juga maksudnya apa. Proses aing membuat lirik dari dulu kayak bikin clipping, seperti di zaman dulu, jadi seperti kolase yang mengarah ke satu tujuan lain jika beberapa tulisan itu digabungkan. Dan parahnya mungkin dari dulu setelah nulis nggak ada niatan atau waktu khusus membedah meaning dari liriknya itu. Benar-benar tulis, jadi kolase, satuin.

Nemu dari mana teknik kliping-klipingan ini?

NIX: Ada satu momen, aing baca liriknya David Bowie, judul lagunya ‘Girl Loves Me’, di situ dia nulis: You viddy at the Cheena / Choodesny with the red rot / Libbilubbing litso-fitso / Devotchka watch her garbles / Spatchko at the rozz-shop / Split a ded from his deng deng / Viddy viddy at the cheena.

Uh.

NIX: Pas baca itu teh aing suka dan penasaran “ini diksi apaan yang dia pakai?”. Ternyata dia pake slang dari film A Clockwork Orange, dan momen inilah yang menginspirasi keputusan aing ‘ngelirik’ sampai sekarang.

Temanya jadi ditentuin di akhir, gitu?

NIX: Dalam proses pemilihan kalimatnya secara alam bawah sadar ada, kenapa misalkan memilih baris itu. Ada tema yang ternyata concern aing juga kesana, baik yang terdengar kritikal atau apapun, directionnya pun secara nggak sadar mengikuti. Ingat, itu waktu aing lagi proses menulisnya, dengan state atau feeling yang berbeda. Tapi kalau dibaca lagi sekarang kondisinya kan sudah beda. aing sendiri pun kadang mengernyitkan dahi, “kira-kira waktu itu aing sedang merasakan apa ya?”

Itu terjadi di banyak lagu Fuzzy, I.

NIX: Banyak banget. Neonato. Single-single tahun 2020. IONS II, sampai Supercycle. Transit masih inget dulu aing sedang seperti apa ketika membuat liriknya. Ambiguity juga: terlalu cringe, coba-coba merespon jaman pandemi, dan sampai sekarang aing nggak suka banget sama lagu itu.

Walau jawabannya seperti itu, aing tetap masih ingin menanyakan siapa yang dimaksud ‘Femadat Online’.

NIX: Orang-orang bangkar.

Pemadat Gang Haji Nix Powell adalah masyarakat urban dengan ritme kehidupan cepat. Salah seorang diantaranya rutin secara oral menggunakan depresan jantung. Korban penumpukan sampah. Memprotes dengan bersuara: “Kami para triliuner di bawah matahari rutin berkumpul di aula amber yang terang penuh cahaya murni berharap kami dapat merasakan pengalaman sebanyak-banyaknya. Menjadi rakus, rakus akan kemampuan fana manusia untuk selalu salah atau memiliki opini buruk.” Itu interpretasi aing buat album ini.

NIX: ‘Gg. H. Nix Powell’ adalah tempat aing tinggal. Bercandaan anak-anak menyebutnya seperti itu karena aing berasal dari salah satu gang di Pagarsih. 

Nix Powell.

NIX: Nama itu muncul buat jadi tameng aing aja sebenernya. Tameng dari Egi Hisn yang awalnya tidak percaya diri untuk introduce himself sebagai visual artist.

Secara metaforik, ada apa saja di Gg. H Nix Powell selain ketidakpercayaan diri.

NIX: Yang pasti, produk komedi internal… karena aing tadi, backgroundnya dari gang.

Naha Supercycle bodor?

NIX: Karena Supercycle sepertinya banyak unsur jenakanya, koneksi sama pendengarnya jadi lebih kuat. Komedi ini yang jadi transportasi buat musik rumit ini mungkin ya.

Bagaimana experience kalian saat mengerjakan Supercycle?

NIX: Pengalaman Supercycle total berbeda dari IONS II, kalau di sana menurut aing Fuzzy, I bener-bener ‘total kesenian’. tanda kutip lagi, ‘tidak mempedulikan orang lain’. Supercycle lebih ‘produk’, dengan komposisinya, treatmentnya, mulai dari audio sampai ke narasinya, meskipun rancu juga sebenarnya kalau ditanya apakah ada narasi besar atau senaratif apa album ini. Kalau dibedah mungkin ada, cuma aing nggak sampai kesana, yang membutuhkan praktik khusus mengaitkan poin-poin yang ada pada album untuk menjadi kesatuan yang kohesif. Feel free untuk disusun seperti apapun juga. Karena sebenarnya semua murni kecelakaan: Tulis-publish-tulis-publish.

Oh.

NIX: Untuk produksi audio mungkin lebih detailnya Alyuadi yang lebih baik dalam menjelaskan karakter musik Fuzzy, I seperti apa. Semua lirik di Supercycle, aing yang buat. Workshop, kumpul-kumpul bikin musik kurang lebih seminggu di Rancaekek, tempat Dawan. Dari sana kami mulai oper-operan produksinya. Saya langsung dari Jakarta take vokalnya pake device sendiri, lalu di kirim filenya ke Al lanjut ke Dissa, Dawan, Fatszky di tempat masing-masing. Tapi memang singkat sih produksian album ini, sebulan-dua-bulan mungkin bikinnya. Kenapa serumit itu ya memang naturalnya seperti itu, nggak ada arahan Fuzzy, I mau dibawa kemana, atau ingin seperti apa, jadi memang saling merespon satu sama lain.

Aldead menyebutnya, psychotic-jam; Egi, transgressive-art; Dissa, over-processed & raw; Dawan, jamming more precisely; Fatzky, this is our work, welcome. 

NIX: Oh.

Dua ribu sembilan belas, ditulis oleh Speed of Sound Magazine.

NIX: Oke.

Transgressive-art?

NIX: Itu waktu ditanya interpretasi kami sendiri soal Nozzle. Karya pertama yang dirilis setelah Transit. Jadi kayanya di Nozzle kami baru nemu eksplorasi lagi, setelah Transit. Lebaynya, bisa dibilang pengen nge-violate basic-basic normal bermusik, gitu mungkin. Atau berkesenian secara umum. Tapi dilihat dari sekarang, ternyata si Nozzle belum seberapa dibanding IONS II kalau disebut transgressive-art. Kayaknya.

Jadi izinkan saya menjelaskannya begini: Fuzzy, I adalah band terbaik di tahun 2023, dan jika kalian tidak bisa menerimanya, itu masalah masing-masing dari kalian. Mereka belum pernah membuat rilisan buruk sejak band ini tuntas membelokan kehebohan METZ, dan beranjak menggarap Transit pada tahun 2019 — epitom perpindahan proyeksi musik Fuzzy, I setelahnya. Hingga 2023, mereka sudah mengeluarkan banyak rilisan eceran dan dua album dalam empat tahun terakhir. Itu termasuk produk terbaru mereka, Supercycle. Produk masa kini, tapi tidak untuk mayoritas orang sini, yang selalu terlambat dua puluh tahun akan kemajuan; album yang diciptakan belum pada waktunya, alias datang jauh dari beberapa tahun mendatang untuk menguliti seluruh genre dalam upaya mencoba dan memahami dari mana asalnya. 

Aing yakin juga, kalian tidak mempedulikan anggapan yang mengatakan Fuzzy, I musiknya terlalu serius, rumit, atau susah dicerna.

NIX: Kalau aing pribadi, nggak ada. Mungkin secara nggak sadar ada kepikiran waktu beres rekaman. rampung bikin karya kayak gini – kaya gitu, terus mempertanyakan diri sendiri persepsi orang nantinya bagaimana. Tapi cuma sebatas sampai pertanyaan aja, dan nggak mempengaruhi proses kreatif yang pasti.

Lalu dari mana musik yang kalian mainkan itu berasal? Khususnya ide-ide yang menggerakan Fuzzy, I dalam perjalanan musik kalian setelah EP Transit.

NIX: Tidak tahu juga. Referensi musik Fuzzy, I adalah semua musik yang pernah masing-masing personel konsumsi. Garis besarnya mungkin post punk, tapi pada praktiknya, kami mencurahkan musik-musik yang kami suka ke dalam bagian aransemen masing-masing. 

Contohnya seperti Dawan yang memainkan hyperblast di 30 detik terakhir ‘Matahari Default’.

NIX: Contoh lain, aing sangat memandang tinggi David Bowie. Begitu pun personil lainnya, dengan preferensi mereka masing-masing. Tapi, itu dulu. Sekarang, coba mencari karakter sendiri aja. Dari kecil sampai kuliah di mana fase lahap mendengarkan berbagai musik. Zach Hill dan David Bowie adalah beberapa nama yang mempengaruhi kreativitas musik aing, setidaknya itu nama-nama yang sedang lewat terpikiran.

Kenapa terjadi perpindahan proyeksi musik yang dimainkan Fuzzy, I dari sebelum dan sesudah Transit?

NIX: Karena waktu sebelum Transit, area musiknya terlalu sempit untuk di explore, dan energinya udah nggak cocok. Setelah Neonato tepatnya, lebih karena dari aingnya, sudah malas dan ingin mencoba lebih teknikal eksploratif mainnya. Sampai di Supercycle, dari proses kreatif sampai manggung kami merasa mulai bener-bener berprogres. Banyak oprekan-oprekan baru. Pengalaman baru juga buat orang-orang di dalam bandnya sendiri dalam menjalankannya.

Oke, kita akhiri sekarang. Aing pernah coba telepon +62-812-147-159-13.

NIX: Oke. Gas.


 

Wawancara oleh Fauzan Bakhdim

Tagged

#fuzzy i #nix powell #interview