X

TRACK TALK: Hallimun – Into The Death (self-released, 2026)

by Dimas Dritt / 2 months ago / 270 Views / 0 Comments /

Debut EP yang menjanjikan sekaligus mengganggu dalam takaran yang hampir sama.


Doom metal dari Sukabumi. Bukan Jakarta. Bukan Bandung. Namun belum sepenuhnya meyakinkan itu jadi keunggulan atau sebatas trivia geografis yang menarik di kalimat pertama lalu tidak ada juntrungan ke mana-mana. Bangsatnya, kabut itu nyata. Halimun. Bergerak dari pegunungan barat Jawa persis seperti asap mariyuana yang tidak buru-buru lesap ke udara, mengepul pelan dari teras rumah sambil menatap langit yang tidak punya janji apapun untuk malam ini.

Into the Death terdengar seperti itu, atau setidaknya mencoba. Lima komposisi stoner doom dengan fuzz tebal, vibrasi yang mengawang, ritme yang bergerak seperti orang yang sudah lama memutuskan bahwa konsep terburu-buru tidak relevan lagi untuk hidupnya. Tapi ada selipan black metal pekat di dalamnya. Jadi, ini adalah kelimbungan stadium empat atau skizofrenik tanpa akhir. Paradoks.

Hallimun tidak datang sambil menggandeng ledakan agresif. Tidak berusaha membuktikan apa-apa di detik pertama. Mereka membangun. Sangat pelan. Apakah itu kesabaran atau keterbatasan, saya belum mau ketok palu. Mungkin tidak ada bedanya kalau dengar ini dalam kondisi yang tepat. Dan kalau kalian sudah tau kondisi tepat yang dimaksud dan pasti tau sajen apa yang harus disiapkan sebelum menekan tombol putar.

Cik korek kadieukeun cenah mah ieu keaslian teh alus, cepel, batangna saeutik…

Tone bass biji getar membuka pintu menuju kepulan asap batang pertama, “In Satana Fiden Habemus”. Iman pada iblis. Dosis suntikan riff doom penuh gulita seangker benteng-benteng kerajaan Prabu Siliwangi. Angker nan gagah. Saya menyukai growl yang dipecut jadi transisi menuju blast beat kokoh tanpa tremolo picking. Masih Sabbathian semalas bagian awal. Sialnya semua sirna saat “Into The Otherside” masuk. Progresi chord-nya gagah, tidak ada yang bisa dibantah di sana. Tapi vokal Mastodon-esque itu mengiang. Mengganggu dengan cara yang kontraproduktif.

Bukan mengganggu karena intens atau karena terlalu banyak hal yang terjadi sekaligus, ini perkara mengganggu akibat terdengar seperti pilihan yang diambil tanpa cukup mempertanyakan apakah pilihan itu diambil karena tak ada opsi lain atau cuma pinjaman secara sadar dari referensi yang terlalu jelas kelihatan. Hallimun punya kabut. Punya fuzz. Punya kesabaran yang tidak banyak band doom berani pertahankan. Tapi, di trek ini kabut itu tersibak hampir sepanjang lagu. Kemudian yang muncul di baliknya adalah bayangan band lain yang lebih besar. Itu bukan dosa fatal. Tapi takarannya cukup untuk membuat ubah posisi duduk lebih tegak dan mulai ada rasa curiga.

Apa mungkin sajen yang salah? Penggila metal teler tak perlu juga doyan sayur Marley. Dua klona dan semua hal berakhiran zepam dan zolam sudah cukup. Bahkan, tanpa semua itu tetap afdol. Hanya saja ada noda pena setitik di kertas kosong melompong. Lagipula, vokal bukan nilai jual utama di jenis musik ini. Kami jual sound berat dan riff padat seperti lintingan gendut. Tapi… jika vokal malah merusak seluruh komposisi? Entahlah… Lagi-lagi otak kirim sinyal agar bibir meringis sinis. Di lain sisi, atraksi ubah-ubah tempo jadi sesuatu yang patut diberi puji.

Malangnya si otak obat, ekspektasinya kejauhan hingga mesat. Dapat hasil kurang tepat, dasar kualat! Ah! Siapa pula yang percaya ocehan junkie? Itu adalah hal patut dihindari di hidup ini. Kelakarnya untuk trek selanjutnya cuma; Halah, biji Cisneros egois tai kucing! Euronymous si pretensius dan performatif! Tapi, sialnya ini doom. Perlu disimak sampai habis. “Hitam Kelam” dibuka apik dengan riff ala jemaat ta’at gereja Sabbathian.

Kali ini diisi pekikan vokal ala black metal gelombang kedua Skadinavia. Sayangnya, pattern vokalnya (lagi-lagi) mengganggu perkara terlalu generik dan mudah tertebak. Tak ada daya kejut kuat. Hanya mengikuti instrumen yang pada akhirnya terkesan agar si vokalis ikut peran. Munculnya rasa curiga ini tak salah sepertinya. Akan lebih paten jika vokal hanya datang di bagian penutup spoken words menuju blast beat. Kesia-siaan yang diulang dua kali! 

“Arvakur” adalah puncak album ini dan tidak ada yang bisa mendekati posisinya di puncak Halimun penuh kabut. Disulut riff dan hawa ala “Funeralopolis” milik Electric Wizard asal Britania Raya yang reputasinya sudah setara obat penenang dosis tinggi dan kerap diresepkan dokter jiwa untuk pasien yang tidak lagi bisa dibujuk dengan cara biasa. Di sini kesempurnaan mulai nampak berwujud. Sound fuzzy gendut, tone bass kendor heavy nian seperti direndam lumpur hitam tiga hari lalu diangkat dan langsung dihantamkan ke dada.

Formula jitu. Aransemen apik, porsi clean vocal dan growl-nya tidak bikin mengernyitkan dahi seperti trek sebelumnya. Semuanya melingkar bakar di tempat yang seharusnya. Seperti valium yang kali ini dosisnya pas — tidak lebih, tidak kurang. Dan tubuh tidak perlu berdebat dengan otaknya sendiri soal apakah ini keputusan yang baik. Cukup rebah. Cukup diam. Biarkan “Arvakur” kerjakan sisanya. Tunggu sampai trek penutup menyambar.

Debut EP ini ditutup dengan “Harm on Isai”, sebuah trek instrumental hampir enam menit. Stoner doom psikidelia intens. Riff hantam tanpa kompromi. Kadang groove bikin reflek untuk menganggukkan kepala sambil kepal tangan sejajar dengan dada. Hanya beberapa bagian kadang terlalu menumpuk seperti orang kepatil speed yang semuanya ingin unjuk gigi. Kelebihan dosis.

Saya coba ambil contoh di bagian sebelum interlude tepat di menit ke empat lebih tiga puluh lima detik. Biarkan pattern bass groovy ala High on Fire itu berdiri sendiri tanpa perlu diberi pondasi tak jelas genjrengan rhythm gitar yang mengganggu. Ikuti saja riff si bass yang sepaten obat keluaran mersifarma. Begitu pula saat interlude sampai akhir, jangan lah terlalu banyak ina-inu jika itu bukan harmonisasi ala Baroness.

Persetan, lagian ini baru debut EP. Rilisan selanjutnya mungkin akan lebih paten. Jika masih ada unsur-unsur yang jatuhnya malah mengganggu komposisi, lebih baik pikir ulang sebelum rilis kata seorang kawan baik otak obat sebelah saya yang anteng menyimak rilisan ini bersama-sama. Ia berujar,

‘Doom metal or no metal at all
Wimps and posers, leave the hall’

Cih! Si Bangsat malah mengutip lirik Manowar sambil menyulut lintingan terakhirnya yang sudah seujung jari kelingking. Tapi saya langsung ajak jabat tangan tanda sepakat…

Tagged

#into the death #Doom metal #hallimun #stoner metal #BLACK METAL