X

Stage Invaders; Meresahkan atau Melanggengkan Kultur?

by Ilham Fadhilah / 1 year ago / 625 Views / 0 Comments /

Mengekspresikan atau mengakusisi panggung? Kurang lebih itu pertanyaan yang masih jadi tanda tanya soal keberadaan stage invaders.

Sebagai penikmat gigs yang cukup intens berada di kancah gorong-gorong/sidestream, saya pribadi sebenarnya bukan termasuk orang yang terganggu dengan adanya stage invaders. Mungkin, karena skala yang saya datangi ada di kelas underground, stage invaders justru terkadang dibutuhkan sebagai wujud dari intimasi (atau di beberapa kasus jadi apresiasi) dalam sebuah helatan musik, terutama jika show yang dimaksud spesifik di sirkuit hardcore/punk. 

Seiring dengan artis di kancah tersebut yang semakin melebarkan sayapnya ke kolam yang lebih luas, maka massa yang datang pun semakin beragam; mulai dari kultur gigs hingga festival terpantik untuk mengunjungi show dari band-band dalam kategori tersebut. Setidaknya dalam pengamatan kami, nama-nama yang berhasil mengambil langkah tersebut adalah semisal; Dongker, Bleach, Saturday Night Karaoke, dan The Jansen – oke, mungkin masih banyak lagi, namun yang selintas terpikir di benak saya hanya sekian. 

Dari beberapa nama yang kami sebut barusan, belakangan ini muncul fenomena keresahan dari penonton gigs band-band tersebut yang mengeluhkan soal keberadaan stage invaders dan ramai diperbincangkan di media sosial Twitter, salah satu platform yang memang jadi sarang untuk memantik diskusi publik soal ragam isu di kancah musik.. let’s say  sub-kultur. Dalam kasus ini, show dari The Jansen dan Dongker di Capital Crowd Surf dan Goblin Mode yang keduanya digelar di Jakarta beberapa waktu lalu jadi sorotan utama.

Saya mencoba mengamati ragam opini yang tertuang dalam linimasa Twitter yang dipantik oleh sebuah video padatnya stage invaders di show kedua band tersebut. Ditinjau dari video yang terlampir, memang padatnya penonton membuat player bahkan tak terdeteksi lagi dan membuat mereka yang menonton dari bawah layaknya sedang menonton paduan suara bersama dengan sahutan sing along yang riuh dan serempak dari atas sana. Di sisi lain, ini mungkin pencapaian tersendiri bagi band yang mampu memantik sekian banyak penonton sampai seantusias itu terhadap tembang bawaan atau karyanya. Namun dampak dari fenomena tersebut juga menimbulkan ‘kerugian’ sendiri, baik bagi player maupun yang hanya menonton dari bawah. 

Dalam sebuah postingan pasca berlalunya helatan Goblin Mode, Dongker menulis statement di media sosialnya jika  mereka cukup terkesima atas respon penonton di show-nya malam itu, namun mereka juga tak menyembunyikan fakta jika hal tersebut menyebabkan set up up wiring panggung terinjak dan sound stage monitor instrument pun hilang dan mengecil – sebagai salah satu kerugian yang disebabkan oleh stage invaders. Dari sini kita dapat mengetahui jika penampilan Dongker pun cukup terganggu karena hal tersebut. 

Oke, kembali ke opini yang berceceran di laman Twitter dalam menanggapi show Dongker tersebut. Saya menarik kesimpulan – dengan kapasitas daya tangkap seadanya – hanya ada dua kubu di sini; mereka yang resah dan mereka yang menganggapnya sebagai bentuk melanggengkan kultur. Sejauh ini, saya tak memihak pada siapapun karena dua-duanya punya landasan tersendiri.

Ada yang kontra dengan stage invaders karena dianggap ‘norak’ dan mencari spotlight, ada yang pro dengan landasan pelanggengan kultur yang tentunya mengambil preferensi dari masa lalu. Meskipun, di sini pun saya tak tahu apakah keduanya mementingkan ego masing-masing atau melihat dari sisi dampak – baik positif mau pun negatif yang ditimbulkan.

Saya mencoba berbicara dengan frontman dari Saturday Night Karaoke, Prabu Pramayougha  yang di salah satu show-nya sempat mengalami hal serupa – jauh-jauh hari sebelum bahasan ini ramai diperbincangkan. Saat itu, saya sendiri menjadi saksi dari show Saturday Night Karaoke di Yesterday Backyard, Jakarta yang dipadati stage invaders dengan segala polahnya – merebut mic hingga membabi buta panggung yang menyebabkan Andresa (ex-bassist SNK) sampai duduk di atas amplifier karena space-nya yang sudah termakan. 

“Mungkin karena saat itu show pasca pandemi, jadi setiap gigs pasti rame karena bendungan rasa jenuh (pandemi). Sebenernya nggak salah buat meluapkan ekspresi di gigs, tapi (dengan menginvasi panggung semasif itu) nggak semua band bisa enjoy dikerubungi seperti itu. Mungkin ada beberapa band yang seneng diperlakukan kayak gitu, tapi kalo yang nggak suka jatohnya jadi jengkel. Di sisi lain, penontonnya juga mungkin nggak mikirin aspek lain kaya kerugian materiil dari euforia buta tersebut.” 

Prabu menilai jika stage invaders agaknya punya tendensi lain dalam menginvasi panggung, tidak hanya ada dibatas melepas ekspresi, namun ingin menjadi ‘bagian’ dari penampilan bandnya tersebut, dan hal ini yang dinilainya salah.

“Karena mungkin etikanya. Nggak jadi masalah ketika itu jadi bentuk ekspresi, ambil alih mic untuk sekian menit dan lalu terjun bebas ke crowd, cuman ketika ada tendensi lain kayak ingin mengambil alih panggung itu untuk satu set (misal) itu yang salah, apalagi jika masif. Karena itu bukan hal yang membuat penonton di luar mereka ‘bayar’ untuk itu,” pungkasnya. 

Masuk akal. Saya sendiri mengakui jika ada dua poin dari Prabu yang kuat untuk dipertimbangkan kembali oleh para stage invaders; pertama, tendensi menduduki panggung sebagai ajang meluapkan ekspresi atau mengakusisi penampilan band. Kedua, kesadaran akan dampak (dari berbagai aspek) yang disebabkan oleh perlakuan tersebut, baik buat band, penyelenggara bahkan sesama penonton.

Bahasan ini tentunya tak akan berhenti di sini, terlebih antara pihak pro dan kontra sama-sama memiliki landasan tersendiri (saya tak berbicara soal mana yang lebih kuat opininya). Meskipun demikian, tetap selalu ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan dari kejadian yang telah lalu. Saya rasa musik arus pinggir memang ada buat menjadi wadah pengekspresian hasrat tak tersalurkan dari kekangan formalitas arus utama, namun untuk ‘memanfaatkannya’ dengan cara rimba pun bukan hal yang bijak. 

Tagged

#music #phenomenon #social

Leave a Reply