X

Memperkenalkan: Bitter Colour

by Prabu Pramayougha / 1 year ago / 369 Views / 0 Comments /

Memperkenalkan Bitter Colour. Sebuah band (atau duo) indie-rock-berceruk-soft-grunge-nu-gaze-emo-gaze-whatever-atau-apa-pun-itu terbaru dari Kota Kembang yang baru merilis debut lagunya. 

Tren band lokal yang nuansa musiknya berkiblat ke band-band indie rock berceruk soft grunge atau nu-gaze atau apa pun itu sepertinya sudah bukanlah hal yang tak lazim di masa sekarang. Tentu itu adalah hal yang sangat wajar – mengingat musik macam itu serta para band pengusungnya kini sedang marak digandrungi oleh berbagai lapisan penikmat musik di Indonesia. Ah mungkin bahkan di berbagai sudut dunia lainnya.

Tapi lagi-lagi kalau boleh saya jujur, sebetulnya ada pertanyaan yang masih terus bergulir di dalam kepala saya soal band-band lokal yang memutuskan untuk mengusung musik soft grunge seperti itu. Sebetulnya apa yang membuat musik macam itu kini sangat digandrungi, terutama oleh kisaran pendengar musik yang relatif masih berumur muda? Apakah memang para penikmat kawula muda musik hari ini memang semelankolis itu dan terlalu berlarut di dalam musik yang bernada miring nan minor untuk merayakan kehidupan mereka? Hmmm atau mungkin saya saja yang terlalu usang dan masih menganggap manifesto musik anak muda yang sebagai musik berirama ceria yang dibalut dengan narasi lirik sehari-hari – baik momen senang atau pun sedih. Sampai hari ini saya belum mendapatkan jawaban yang pasti akan hal itu. Mungkin itu bisa menjadi tema tulisan kapan-kapan untuk dipublikasikan di Consumed haha!

Anyway, kembali ke band lokal yang memainkan musik macam itu, beberapa waktu lalu muncul sebuah band bernama Bitter Colour yang baru saja merilis lagu debut mereka sebagai sebuah band di halaman Bandcamp mereka. Lagu yang berdurasi sekitar empat menitan tersebut berjudul “A Beautiful Mind. Di foto profil Bandcamp-nya, ternyata band ini hanya berpersonilkan dua orang saja. Mereka adalah Hiwana Wayang (vokal) dan Varis Sechan (instrumen). Tentu di era kemudahan teknologi untuk merekam karya musik dimana pun dan kapan pun, formasi minimalis macam itu bukanlah hal yang aneh untuk bisa ‘membentuk’ sebuah band. Tapi tentu saya penasaran kalau suatu hari nanti mereka akan bermain live, seperti apa rupa personil tambahan lainnya di panggung nanti.

Setelah didengarkan beberapa kali, “A Beautiful Mind” memang cocok untuk direbahkan pada kategori musik-musik indie rock ala Teenage Wrist atau Turnover. Soft grunge at its finest. Dari departemen lirik pun sepertinya memang mereka ingin mengejar estetika ala musik referensi mereka tersebut yang identik dengan nuansa pedih dan galau (emo?). Liriknya bercerita soal permasalahan batiniyah lengkap dengan baris-baris menyalahkan diri sendiri macam, “I can’t stop the loneliness” dan “I’ve tried to fix it, I’ve tried to make things right but all the lies I(‘ve been) told.” Uh. Sepertinya lirik tersebut ditulis dalam kondisi yang sangat terpuruk karena tak ada metafora atau majas-majas berdiksi filosofis di dalam lagunya. Sangat gamblang. Which is good I guess as long it’s what they want to actually say. No pretentious lexemes.

Bagi saya pribadi, Bitter Colour merupakan band yang sukses menuntaskan tugas pertama sebagai sebuah band baru – yaitu membuat musik yang bagus. Meski tak ada pembaharuan dari struktur dan artistik, setidaknya mereka mampu memainkan kaidah indie rock berceruk soft grunge dengan sahih. Mulai dari pilihan sound gitar dan tempo musik yang tepat sampai ke lirik yang emo-ish tapi tetap cenderung terasa personal. Let’s see what comes next from this emo duo.

Dengarkan “A Beautiful Mind” di sini:

Tagged

#bitter colour #music #band #indie rock #bandung emo

Leave a Reply