X

TRACK TALK: Komunal – Nostalgia (Disaster Records, 2025)

by Rio Tantomo / 7 months ago / 1058 Views / 0 Comments /

Komunal memang Komunal–setia pada selera kolot rock/metal seolah menolak gulirnya waktu, dan album Nostalgia wujud kerasnya kepala Doddy Hamson cs.


Atas nama Albar yang maha ken. . . alah, racau! Langsung saja, click bait doom: Nostalgia, album penuh keempat Komunal cuma berangus dari jelantah dekade 80-an. Kais-kais arkais, selera jamet tulen yang sibuk mengglorifikasi kejayaan masa lampau bukan karena mereka bersikap degil, konsisten memainkan musik rock abang-abang karatan, melainkan menyamarkan perasaan rendah diri akibat ketidakmampuan—keengganan mengadaptasi ritme perguliran zaman. Ini kalender 2026, kalian sadar rock & roll telah mati, ‘kan? Tiga jari hilang kendali, siapa yang pantas menyelamatkan? Berhubung Komunal tengah tersesat, diimpit mimpi frustrasi dan kobar stagnasi, silakan pilih di antara kompetensi setara para pemberontak sejati berikut ini: Dul Jaelani, Sal Priadi atau Meki Johani.

Yippe-ki-yay, kuluk katuk!

Malu seribu malu. Laknat muara dosa. Tersudikah kalian menelan pencacian barusan? Silet telinga? Hati didih? Merasa ikut terhina? Ya-ya. . . tembokin segera. Aktifkan sel eksepsi, bakar jenggot massa, sergah, rujak, badik. Kritik balas kritis, cemooh secara publik; Hey, ko burung onta! Kubur ko punya otak! Bahwa pengaminan atas pengerdilan Nostalgia sebagaimana tercetuskan tadi, merupakan cerminan boncosnya tradisi gondrong kapak di kalangan para pemuda belati penerus bangsa. Nahas. Pasti band pahlawan mereka .Feast. Dan jelas tidak memahami esensi sengatan riff glam dyad metal. 

Looks That Kill, Leather Rebel, Jet Liar, Kill ‘Em All, anyone? 

Adakah kejengkelan yang pingin kalian teriakkan, wahai umat KKK—wan kawan Komunal? Meski tidak perlu juga sampai menggerenyet senista komplotan projo-mania, tergiting-giting mendengung, membela aib mereka punya junjungan pinokio. Kentut. Fanatisme buta adalah cara mudah membugili betapa ceteknya. Apalagi bagi mereka yang hidup berlandaskan keuangan. Kurap. Kerap. Korup. KKK. ‘Ku ‘Kan Kaya. Jenis keangkuhan spiritual adalah ketika manusia berpikir bahwa dirinya bisa hidup bahagia tanpa uang. Aih makjang. . . teringat syair heroik orde barter dari perampokan masa muda Doddy ‘the handsome-killer Hamson yang maha naif: ‘sampah di depanku ‘jadi avantgarde, kamilah pembangkang! penolak rupiah!’

Uang adalah agama adalah uang adalah agama adalah uang adalah halal sampai nanti saat ketahuan belangnya. Dan ketika akal gagal meraba, setan datang menyapa. Membawa kita menafkahi spiral picik: hewan yang korup menuduh hewan yang korup melakukan korupsi, lalu hewan yang korup menyelidiki hewan yang korup dan kemudian membebaskan hewan yang korup dari tuduhan korupsi. Padamu ya negeri. . . demi simalakama yang menjera siksa kami di republik ini, siramkan soda api ke wajah koruptor sekarang juga. Manusia kelihatan begitu miskin, sampai-sampai tidak ada lagi yang mereka miliki selain uang. 

Amis wangi duit, wan-kawan. . . mudarat.

Seni mengelabui agar si miskin bersedia mati untuk membela si kaya disebut patriotisme. Si miskin menyangka kematiannya bakal datang terhormat sebab harga diri telah disuap lebih murah dari sepiring lauk MBG—mabok bareng gratis. Di republik tempat Doddy Hamson meluapkan nyanyian, iman terhadap gemuruh rock pertiwi dihadapkan pada tipu daya jargon patriot macam begitu. Ketika hak makmur kita disunat, dijadikan statistik jilat tinja pejabat, maka menyayat parau seekor rocker murba, melancarkan seruan makar atas nama seni:

‘KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT HANYALAH SIMBOL-SIMBOL YANG ADA DI DADA GARUDAAAAA!’      

Sila ke-5 kita yang curut pada praktiknya. Borok abadi. Hukum dipatgulipat, bayar jaksa tebus keparat. Monopoli konglomerat, dana politik. Sekian lama berkesan apolitis, amarah Doddy Hamson membelalak pada kenyataan bahwa dirinya kini masih mengais-ngais di republik bobrok tak sejahtera—mau sekadar survive malah dibikin bengek. Akhirnya timbul sejenis kesadaran faktual darinya untuk kemudian menyentuhkan syair-syair lagunya ke tanah realita, sesuatu yang tidak ia lakukan di tiga album awal Komunal yang terbang mengawang. Ada harga untuk sebuah utopia, ada ledakan naluri menyerang untuk sesuatu yang kita jiwai—dengan tanpa kompromi.

Mana uang di mana uang cinta hilang di mana uang cari uang di mana pisau siap hunjam.

Setidaknya ada tiga lagu berisi teriakan dompet si miskin mengguntur di Nostalgia. “Bisnis Cari Duit” adalah nyanyian doblang tentang lomba rebutan petak. Kau harus bergeliat, asa rakyat jelata ditentukan oleh skill musang mencuri perhatian. ‘Asah otak sampai cemerlang. . .’ satu bait kental Doddy Hamson berkata, menggaruk reak tenggorok. ‘Kenyataan masih terasa keras, tak seindah mimpi di dalam tidur. . .’ lanjutnya tersadar tak mengindah rima.

Kita pasti berharap Doddy Hamson selalu bisa menulis sebagus, semenggugah ngarbone. Penyairan sederhana, terasa personal menggelitik titik-titik substansi, telanjang sekaligus puitis, anthemik, dan membuncah spirit. Itu pencapaian tinggi seekor lirikus. Penulisan yang pantas disemayamkan menjalari lorong munajat Deddy Stanzah di nomor Superkid berjudul station‘jangan kau kira nyawa dapat ditukar vodka.’ Melumuri kepergian seekor kawan tercinta dengan aura Peterson, anak asuhan rembulan Grass Rock, masih ingat? Mungkin seharu itu memang rasanya menggenggam dunia.

Nostalgia membersitkan refleksi atas polemik kecil beberapa tahun silam, tepatnya 2021 sewaktu veteran rap rock Bali, Geeksmile mengklaim mahkota Indonesia Rock dengan merilis EP bertitel #indorock, sebagai proklamasi terhadap panah baru musik mereka. Tidak bermaksud menyenggol tahta ‘Indorock’ Tielman Brothers, dalam definisi politis artinya monumen karakter sejati, rock Indonesia yang dikukuhkan lewat pengaruh identikal para pendahulu. Meramu jati diri pada gelegar cadas hard rock 70-an & 80-an, dan secara filosofis menolak tampil kemenyek; ini bukan slow rock Malaysia, tidak sefrekuensi dengan bara yang menggumpal di dalam dada.

Indo rock—dengan spasi sebagai simpul penanda terminologi payung—bila perlu dijabarkan secara akademi school of rock, berarti bertabuh genderang gebukan Richard Mutter dan enigma persona Fuad Hassan. Gagah bersarang di dalamnya berondongan licks gitar se-bluesy Pay Burman, se-funky Albert Warnerin, se-speedy Edo Widiz, se-nyalang Miten, se-heavy Ricky Siahaan, se-goth Boy Faisal, sebrengsek kidung Ucok Harahap meratapi tembang mules pucukku mati yang menderu securam lengkingan nyanyian badai Mel Shandy. 

Atau bila mempertimbangkan aspek aktualitas, pita bariton Falsesque milik Sayiba Von Mencekam bisa lebih luas menerangkan cakupan Indo rock yang tak terbatas pada jenis ortodoksi tertentu. Kelelawar Malam memproduksinya dengan jembatan horor Misfits-misfitsan. Kelompok Penerbang Roket berkembang psychedelic dan kolosal seperti Benny Soebardja & Lizard, mengimplementasikan sound garage kompilasi those shocking shaking days. Begitu pun legacy hippie Usman Bersaudara yang berestafet di Hello Benji and The Cobra. Sangkakala meneruskan tradisi glam latex arek-arek kesukaan kaisar Log Zhelebour. Rombongan bell-bottoms, Black Horses dan White Swan terdengar sangat Zeppelin sebagaimana jurus eklektik The S.I.G.I.T. era Detourn (FFWD, 2013). Seringai mematenkan rock oktan tinggi dan mengilhami kelahiran banyak band stoner semisal Jangar atau ((AUMAN)) atau Ironhead. Sedang Pas, Netral, Koil, Plastik, Navicula mewakili kutub Indo rock bagian alternative/grunge.  

Doddy Hamson pasti mengangguk setuju. Konsep Indo rock selain menitikberat pada level agresivitas yang memicu insting kekal untuk menyerang, juga berpangkal pada konteks geografis. Sama halnya Afghan rap, musik bravado musuh Taliban yang merepet tentang bom bunuh diri dengan beat trap bersampling tabla dan rebab, atau Zamrock ketika anak-anak muda Zambia terjangkit Jimi Hendrix dan Blue Cheer lalu menghasilkan sound fuzz psychedelic bergaya Afrobeat di awal 70-an sebagai identitas radikal sebuah negara yang baru merdeka, atau blues Kali Sunter berupa lantunan gerutu para penganggur di bantaran pasrah rumah mereka yang terendam lumpur sepanggul. Indo rock berasal dari nyala semangat juang ’45, kegilaan seumur hidup orang Indonesia menyaksikan kepalsuan melilit kehidupan mereka yang sesengsara apa pun tetap mesti dirayakan dengan sebangsatnya. 

Di mana langit dijunjung, di situ poster Andy Liany digantung—sebagai elan pengingat. Tepat di momen Anwar Sadat mulai menjentikkan senar gitarnya dan kita bisa merasakan ringisan giginya menggeli, menari dikecup mentari, terberkatilah “Uang Dimana-mana”. Intro riff aspal datang menggulung pasca intro, mengubah jalannya melodi, membawa bobot keramat Eet Sjahranie dari album Edane yang terlupakan, Borneo (Aquarius Musikindo, 1996). Virtuoso dalam mode non-pretensi. Berkelas kumandang lagu keras milik rakyat. Kesederhanaan komposisi, liukan intonasi, dan atmosfer lapangan yang disajikan mudah dicerna, cocok didendangkan buat soundtrack mengiringi pesta-pesta amuk massa.      

 

‘Uang di mana uang. . . Nasi di mana nasi. . .’

 

 

Doddy Hamson sebenarnya cuma melanjutkan cerita paman-paman doblang kita, meledek nafsu sakau manusia akan uang. Termasuk dirinya sendiri. Dengan cerdik ia mengawinkan jatuh-bangun Meggy Z dengan potret Swami dan jiwa-jiwa miskin yang menggentayangi salah satu anugerah heavy metal terganjil kalender 2025. Mengenai kebiasaan subtil mengimplan karya orang lain ke syair-syairnya, di luar sebagai kerja penghormatan, kita anggap saja mirip perilaku beatmaker: gunting-tempel daur-ulang lagu-lagu lama guna menciptakan breaks atau menyabung nyawa baru. Pance Pondaag, Mercy’s, God Bless—setan tertawa adalah beberapa yang terdeteksi. Entah siapa lagi nama lain yang terselubung. Yang jelas, judul “Kesaksian” plek-ketiplek dicaplok dari Kantata Takwa. Bayangkan ketus Yockie Suryoprayogo meletus jika beliau dikasih dengar, bayangkan juga cetus Doddy Hamson kala mengkultus sebuah simfoni kebesaran—bayangkan betapa gagah adegan pembuka panggung mereka menggunakannya.

 

Menjilat matahari. . .

Inginku terlena lagi. . .

Terbang tinggi menerjang langit. . .’

 

 

Sungguh hipnotis Anwar Sadat membangun intensi kolosal orkestra gitar-gitarnya, bak misa baptis menyambut turunnya wangsit kudus. Menempatkan kita sebagai saksi, bernyanyi koor liturgi penghambaan. ‘Orang-orang harus dibangunkan, kenyataan harus dikabarkan, hidup yang layak harus dibela’. Yaitu hidup yang berlandaskan heavy metal – ‘musik tidak menjual,’ gidik Doddy Hamson. Suaranya menyembur senandung geram sang bapa, lengket, berlendir, dan tak tergantikan.

Tentu kita percaya semua lagu rock & roll terbaik berdiri di atas puing pengidolaan. Khusus perkara Anwar Sadat, mungkin ada baiknya, paling tidak satu hari dalam setahun kita sediakan waktu barang sejenak, merogoh sukmo selaiknya retret tapa brata memutar penuh deretan album ini: Jabrik (Aquarius Musikindo, 1994), Disharmoni (Atlantic, 1997), 17th Keatas (Aquarius Musikindo, 1997), Roxx (Blackboard, 1992), Misteri (Win, 1993), Power Demons (Logiss, 1993), Raksasa (Logiss, 1989), Metal Baja (Ski, 1991), Duel Sang Jagoan (demo, 1998), Sliting the World (ProSound, 1993), Konser Rock (Bursa Musik, 1992), Bulan Sabit (Ski, 1992), Harapan Yang Hilang (Ski, 1992), Teror (Favourite, 1990), Gigolo (Billboard, 1989), Manic Depressive (Aquarius Musikindo, 1996), Kereta Rock N Roll (Warner, 1998), Katrina (Proyek Q, 1993), Mulut Angin (Logiss, 1994), Tato (Logiss, 1991), Heavymetalithicum (Tong Setan, 2013), lalu diakhiri Cuaca Buruk (rilis-sendiri, 1992), dalam rangka memperingati betapa sontoloyo kelakuan sebuah lagu prog mengemas judul paling kehed sejagat Indo Jaya—‘musik rock anjing kurap.’

 Dari rak toko kaset berlabel Indo Rock seperti di ataslah Anwar Sadat mengibaskan kegondrongannya.  Kebosanan primal membawanya pergi menanggalkan getah sound Nola: over the under. Groove silet Dimebag telah otomatis dipatri ke nadinya, sehingga riff seberat apa pun pasti bertopi koboy dari neraka. Usah khawatir, mustahil luntur. Tapi kemudian ia pasangkan wah-wah, tancap volume treble ke puncak angka 11, crank it up! Dimainkannya kocokan funky, whammy blues menuju thrash. Selera classic akan Black Crowes dan Lynyrd Skynyrd mendekatkan dirinya kepada John Paul Ivan. Coba setel gadis extravaganza, kau terlalu grindcore kalau tidak bisa langsung mengerti. Sejujurnya Anwar Sadat cuma ingin menulis lagu cadas berkarang seperti punya Boomerang. Bukan hardcore, bukan metal, bukan pula sesuatu yang obskur seperti isi katalog Sonic Funeral.

Ketika distorsi kayu itu dientak dan Komunal bermain dalam tempo hard rock beraksen metal Log Zhelebour – sepertiga blues Potlot – sejumput hardcore Saparua – dan sisanya bangkit melalui semangat pengacuhan zaman, kita tahu belum pernah mendengar gemuruh berdebar seperti itu. Yang mencintai kegelapan, mengharap pembangkangan abadi. Gemuruh Musik Pertiwi dengan kesejatiannya layak dimahkotakan, diklaim mutlak sebagai sebuah mahakarya Indo rock lewat argot rock petir, anthem domestikasi rock & roll terbaik sejak Cole Flowers mati OD. Album itu memberi daya monumental bagi setiap sisi gerak Komunal, seolah kita sedang mempersiapkan calon ikonoklas masa depan.        

Cari duit lewat jalur metal memang gila. Bakar saja semua. Buang konjungsi dari “Cinta dan Materi”. Kita sekarat kemarin, kemungkinan esok raib, mauliate! tidak ada hidup yang lebih bercahaya dibanding hari ini. Sambar geledek. Momentum perilisan Nostalgia kena kutukan sial covid, rada aneh rasanya mendengar sebuah album anyar namun terasa usang di hadapan waktu. Butuh kepercayaan diri istimewa untuk tetap bisa antusias melepas album yang telah tertunda selama satu lustrum, bahkan saking lamanya terpaksa harus tersalip oleh dua lagu baru yang mengubah sistem rencana. Komando Badai Api dan “Keras Menyambar” akhirnya dipaket ke dalam sebuah EP (Disaster, 2022), dan disusul kemudian oleh pengunduran diri Arief Snik—bassis permanen yang ikut menulis semua materi di kedua rilisan tersebut.       

Dampak pandemi mengempas drastis. Dera paranoia merebak sekilat 38 trek di satu putaran album Dropdead. Kabar kerabat mati bertebaran, bersimpang siur dengan derita PHK dan cemas psikosomatis. Belum lagi debat kusir soal vaksin. Frustrasi bercampur negatif thinking ketidakberdayaan seekor hamba sahaya tercucuk perintah kuasa. Kecuali kau dianugerahi previlese setinggi Rothschild family, tiada seekor manusia pun yang bisa lolos dari cekik pandemi. Kita diperas, dipaksa bernapas di udara bertipu-daya infeksi.

Iklim depresi yang menimpa kita, tentu juga menghajar anak-anak Komunal. Dari posisi mereka nasib diperburuk pasrah menerima Nostalgia muskil publis dalam waktu dekat. Sesuai judulnya, lagu baru komando badai api ditulis, direkam, dirilis di bawah tekanan energi muntab. Berbeda 180 derajat dengan Nostalgia yang berkesan megah, konseptual dan sentimental. Temperamen Komunal meledak garang. Seluruh troposfer dunia beraroma pembunuhan terencana, mayat-mayat bergelimpangan menyesaki kuburan massal, bukan waktunya kini mempercantik melodi. Saatnya melontar molotov. Robek moral busuk bangsa kita. 

Berang Anwar Sadat menghantam sangar riff gitarnya menerjang prahara. Sound dipekik mentah tanpa polesan, menggagak bumbungan pekat hitam laksana asap mesin penghancur. Aransemen digubah lugas tiada bertele, mengungkap endapan murka Doddy Hamson. Geramnya bersinar seperti arang, gosong meradang dendam. Syairnya dipenuhi ujaran penghunus api yang ditujukan kepada jutaan pemberani: siapkan diri, malam ini adalah kemenangan bagi segenap milisi pembangkang.

Percayalah, setiap tirani pasti tumbang—segera. Doddy Hamson mencerca dalam pertapaan kebenciannya:

 

‘Hukum dibakar menjadi debu. . . tak berguna dan hina. . .

         Hukum saja dibakar, apalagi diri kau!’

 

Kudos! Sudah lama sekali Komunal tidak terdengar seganas dan sepolitis itu, semenjak emosi tradisi, monster masa depan, dan praktik bisnis karnivora menerkam otak kita belasan tahun dulu. EP 2022 benar dibensini kebencian, agresivitas yang menderu berkalang muak dahak venom. Berbisa. Aroma pembakaran selanjutnya menyulut keras menyambar padat tak berobat. Satu raga pun tak ada keraguan, erupsi tembang gondrong macam itulah yang bakal menyelamatkan rock petir dari kepunahannya. Seribu persen underrated. Sound yang sengaja dibikin sehangus abu mobil rantis yang terguling sedikit banyak mengingatkan pada adrenalin spartan G.I.S.M. 

Meski sebenarnya kebosanan krusial tengah mengintip di baliknya, mempertanyakan pengulangan tema glorifikasi yang sudah terlalu sering diandalkan Doddy Hamson untuk mendaya gempur syair-syairnya—masa, sih pandangannya tidak cukup luas untuk berani mengekspos hal-hal selain soal keteguhan iman terhadap heavy metal dan selingkar sengkarutnya. Misalnya—sekadar pancingan saja—nyanyikan sesuatu tentang klinik aborsi atau korosi gigi atau apakah seekor hermafrodit boleh diangkat menjadi wapres atau terserahlah. . . coba angankan pada rimbun bajing yang menggiting.

Siapa sangka dengan keberanian meragam tema, Komunal akan lebih lancar menulis lagu-lagu baru dan kita masih beruntung diberi usia untuk bisa mendengarnya. Tidak perlu menunggu sampai 13 tahun tak jelas rimba. Bayangkan berapa banyak dari kita yang kurang beruntung dalam rentang waktu segitu.

KKK – Karaoke Komunal Keparat. Bagian teraneh dari menjadi pendengar Komunal adalah selama ini kita capek disajikan lagu yang itu-itu terus. Terkadang bikin trauma karena celakanya mulai menjemukan. Tetapi taiknya, kita juga tidak bisa berhenti. ‘Lagu yang itu-itu terus’ itu mengandung daya jangkit sekuat – seindah kenikmatan speedball, merasuk candu paduan suara miras akut sulit tobat. Bekancang! Sebosan-bosannya kita disuguhi tema-tema glorifikasi cul-de-sac tadi, tak dimungkiri dan sanggup dipahami, bahwa imun mujarab, pelipur lara, pengatrol dopamin, penangkis virus di tengah kondisi stres pecah kepala bagi segenap keturunan children of the grave adalah heavy metal binge.

Raung gitar! Desis bass! Gebuk drum! Guruh vokal!

KKK – Kau! Kau! Kau! Semakin liar, dan tergila-gila. Sesungguhnya manusia termasuk golongan yang merugi, kecuali bagi mereka yang menempatkan diri ke dalam barisan take-off kerumunan konser Komunal. Menyalaklah gagak-gagak kematian, kuburkan duka. Tidak ada lagi yang perlu kau takutkan, kalian tengah didedikasikan. Telah diciptakan sebuah ode penghormatan bagi setiap jiwa yang saling terbakar bersama. Ditambah bonus pastiche domination, groove hardcore Anwar Sadat kecolok arus power metal kalender 1990. Segan. Komunal menempatkan KKK dengan derajat setara, seperti Exodus memeluk kita lewat ‘til death do us part atau serigala militia — istirahat dalam damai, ngarbone untuk Ricky Siahaan.

Kalau guru kencing berdiri, murid akan kencing ber. . . uhm, berkutil? bercermin? berlari menjabat mimpi? Air seni Komunal dijernihkan otentisitas gemuruh musik pertiwi, direfluks Nostalgia, album pengerat setiap kepingan heavy metal yang telah dirintis sedari memulai panorama 2004. Mereka sadar waktu bukan sesuatu yang bisa dicuri. “Bahagia” bukti konkretnya. Sebuah lagu speed metal oprekan seekor gitaris blues yang tumbuh-besar mendengarkan Helloween dan Van Halen. Jerit rawa Doddy Hamson menstarter tungku gemuruh, menerjang panjang dilapisi lengking falset 19 oktav ala Pungky Deaz. Kita mengira lagunya akan terus dipacu setelan pabrik Exciter, namun Anwar Sadat segera mengecoh jalur agresi. Secara nostal-gila ia mengolah sedemikian rupa elemen funk Boris Simanjuntak, kord jantan rock masokis, mengobelkan solo gitar macho target razia malaikat woke skena.

Ignorance is strength. Nostalgia, bukanlah musik buat para pussies—anak cengeng. Album itu menggedor jantung yang kebelet old school. Keberadaannya mengisi celah kosong heavy metal sejati yang menyerap esensi cringe glam rock. Era sleaze metal Ratt, Hanoi Rocks, Faster Pussycat, Lizzy Borden, Quiet Riot, W.A.S.P. dan rocker-rocker asshole bergincu syahwat keabadian Nuran Wibisono. Namun bagusnya tidak lantas mereka terperosok berkacamata kuda. Preferensi suicidal thrash dan basis sludge hardcore menjadikan metalator Komunal absolut, heavier than thou sekaligus bertalu-talu bersengat dyad metal.

Gaya purba. Doddy Hamson pun Anwar Sadat tak malu seandainya mesti mengakui referensi musik mereka berhenti di tahun 2000 ketika Marilyn Manson, Rob Zombie, Rammstein menguasai peredaran epidemi nu-metal dan Korn follow the leader adalah album terakhir yang benar-benar dikuliti. Untuk kelangsungan selanjutnya keduanya cenderung kembali ke belakang, ke era Manowar terpuja global. Tak heran Komunal sering dipandang outsider di scene metal kita. Tak cukup berbobot kontemporer untuk mendapat asersi mereka yang haus akan duit, pengakuan dan pengidolaan. Coba tanya Ravel Junardy, kenapa Komunal tidak pernah masuk deretan line-up Hammersonic?  

 

‘Ada yang suka kami tak peduli,

ada yang benci semakin tak peduli.

         Biarkan kami bermain keras,

         di dalam kancah yang membosankan!’

 

Doddy Hamson seperti biasa gemar berkelakar gembel gagah, berdiri tegak lurus dengan langit mengafirmasi podium sang ‘pemimpin besar’. Whammy bar Anwar Sadat meringkik turangga besi, menyerang dentum drum Rezha Harry Karthana yang konstan mengawal gelora jilatan dyad ‘mick mars’, memburu pondasi ritem “Rajametal”. Ia tak ’kan goyah. Permainannya mungkin tidak secaper Raiden Soedjono, tetapi simaklah insting tersembunyinya. Metronom cowbell, colongan splash, desing crescendo, rim shot mantap, double kick kompak sampai ropel gerundulan bonzo aba-aba pembuka lagu yang urgensial. Di tengah aksi gitaris eksplosif dan vokalis karismatik terdapat dramer kalem yang tak ikut mengincar lampu sorot. Justru di situlah kontribusinya unggul, ia bermain untuk membuat lagu-lagunya terdengar enak, menjadi pematen keseimbangan dengan menahan keinginan pamer gigi.      

 Dan tidakkah kalian mencium bau parno garis bass Geezer Butler saat Anwar Sadat sibuk mengobok-obok solo gitarnya? Baiklah, mungkin itu cuma kunjungan dini arwah Ozzy, sambil gagu parkinson dia bersaksi, bahwasanya cuma ada satu raja metal di kehidupan ini, yaitu Tony Iommi. Siapa pun yang beriman kepada beliau dipastikan selamat jahanam-akherat. Anwar Sadat tertawa lalu berpaling mengunjungi bar heavy metal terdekat dan minta dibuatkan koktil black tooth grin, “kasih double shot wiski—Seagram kalau bisa, tambah double shot Crown Royal, isi es batu—dua bongkah cukup, tuang coke sampai penuh, biarkan cahaya gelas menggelap,” katanya dengan logat medok Riau ke bartender yang keheranan, “itu resep Dimebag, diambil dari sweating bullets lagu Megadeth,” tutupnya mengembang senyum bangga.

 Persetan mahkota. Piala hanya barang pajangan—dari prestasi gemuruh musik pertiwi memenangkan kategori best hard rock album ajang ICEMA 2012. Sudah tidak ada yang ingat pula. Singkirkan berahi materi. Grup grunge Satu Per Empat telah menilik realisme lewat syair Bismo Triastirtoaji yang mencibir idealisme. Seni tak akan pernah sanggup memberi kenyang perut—fucklah! Kalau kau menjual musikmu untuk mendukung penguasa atau opresor dan sekarang belagak rebel seperti Slank, kau tak layak lagi dipercaya. Feodalisme kontol. Gogol malam. Lagipula apalah arti bersikap realistis jika malah menumbuhkan gondok di dalam hati. Ingat selalu petuah Njet Barmansyah: ‘jadi orang mapan, belum tentu senang. . . atau mungkin bisa jadi setan’.

Seekor nihilis pada akhirnya tetaplah seekor nihilis. Ia akan menemukan kebebasan dan ketenangan dalam ketiadaan. Sudah menjadi tendensi orok para nihilis pula untuk menghancurkan nilai-nilai mapan demi menciptakan makna baru bagi tujuan hidupnya.

Sebagai sebuah anthem, “Rajametal” tidak bisa dilepaskan dari ajakan pesta gila-gilaan adat leluhur para pendahulu. Mereka ‘senior rock’ kalau mengacu pada judul lagu Rolland Band, Judas Priest-nya Indo, orang bilang. Tumpahlah kalian ke depan sini, acungkan jari bergembira dan mencaci. Histeria metal. Seperti seruan oktav Arul Efansyah melengkingkan nomor rakyat metal. Gemakan lagu-lagu penantang jiwa, selayaknya tembang NWOBHM cult Big Panzer berjudul bursa metal. Penyanyinya Didik Bledek mengirim pesan kepada jutaan metal maniac, yang tertangkap oleh antena bengal sebagai anjuran legal berulah ugal: ‘darah metal mengalir di urat nadi, aku tak pernah frustasi.’

Dua lagu terbaik album Nostalgia hampir dipastikan akan jarang dimasukkan ke dalam repertoar panggung. Kecuali untuk sebuah show tunggal atau Doddy Hamson tiba-tiba lagi keranjingan Elmore James lalu ingin mendengar slide gitar Anwar Sadat mencolong telinganya. “Suara Masa Depan” memiliki cipta rasa elegan sebuah lagu heavy. Menggebu tidak harus selalu kebut, bermain api tak perlu sampai terbakar, tahan di dua kord bangun kemegahan dari bilik-bilik monoton yang menembus ruang dan waktu. Belum pernah Komunal menulis komposisi sederhana seelok ini. Kita hanya diberi sekali kejutan, lewat sebuah genderang geraham gemas di jembatan interlude menuju solo. Jika suatu hari nanti Komunal kedapatan membawakan lagu ini secara live, curi slide gitar Anwar Sadat, suruh main ia pakai leher botol bir.   

Kejelian mengakhiri lagu dengan koor redundan sejujurnya tidak terlalu mengejutkan, namun itu suguhan baru—setidaknya buat Komunal, sebuah benih kolosal yang menerbitkan firasat prog pada proyeksi jiwa dad rock pertumbuhan musikal mereka esok. Mari akui, Anwar Sadat adalah man of the match album ini. Bagaimana tone berat gitarnya tetap dipertahankan dengan menjaga porsi frekuensi mid tetap nyaring menyesuaikan cita-cita menggapai sound kolot hard rock yang kering menggerung.

“Seleksi Alam” dicetak dalam groove heavy grunge kelas welter. James Plotkin, produser yang kerap meremiks Sunn O))), Pelican, Earth, ISIS, Khanate sadar visi tersebut. Sebagai orang yang bertugas membidani proses mastering Nostalgia—dan EP 2022 serta versi vinyl hitam semesta dan gemuruh musik pertiwi—ia menempatkan lapisan gitar di belakang vocal, selain supaya tidak meniban mahkota suara Doddy Hamson, juga untuk menghindari pekak. Pemahaman terhadap akar hard rock ditangani sempurna. Distorsinya dibuat berharmoni gelap Jerry Cantrell, berbalut aura bangkot Slash dan Richie Sambora. Maksudnya, siapa gitaris rock lokal selain Jikun di era auto-tune yang masih menggunakan voice box sembari memainkan solo? 

Berkesan kuno? Ya pastilah. Satu-satunya relevansi antara Komunal dengan generasi rock zilenial adalah pengultusan akar di tengah surutnya populasi band cadas yang membutuhkan patron. Komunal otomatis menjadi panutan. Dedikasi mereka, pengawetan tradisi, kekeras-kepalaan, kegondrongan abadi, semangat pengacuhan generasi. . . merupakan potret kegagahan, kebesaran, keluhuran musik rock yang semakin surut diterpa zaman.  

Kekurangan terbesar Nostalgia, terkait dengan hal tema-tema glorifikasi cul-de-sac tadi, ternyata menular pada penjudulan lagu-lagunya yang sangat klise menjurus basi. Sebegitu mentok bin malasnya, kah ilmu leksikon Doddy Hamson dikerahkan hingga sebuah gemuruh speed bertenaga liar tega dinamakan secara alakadar ‘bahagia’. Daya literasinya mandul. Semua judul lagu di Nostalgia sama sekali tidak memiliki greget. Seandainya mau husnudzon, justru mungkin  Doddy Hamson sedang berniat keluar dari stereotip rock jargon yang selama ini melekat pada gaya kepenyairannya. Keklisean album ini seirama dengan bait-bait nyanyian lagunya, baca: jujur—polos—renyah.  

Termasuk “Roda Api”. Darah slow rock mengalir deras membasahi habitat ketiga punggawa Komunal. Metal—mellow total. Bahkan Pantera dan Lemmy saja menulis lagu balada. Dengan mengiris pengaruh rock kapak yang mendayu kental, cara bernyanyi Doddy Hamson kelihatan seperti seekor gembel berkemeja flanel yang menyimpan obsesi terhadap album final Plastik, Dengarkan Pada Saat Tenang (Bulletin, 1999). Dan untuk hal itu kita wajib merasa beruntung. Secentil-centilnya Anwar Sadat memetik gitar mega rock balada macam house of pain atau sanggupkah, kagak bakalan ada lagu mellow Komunal yang cemen. Nadanya tetap mampu menggetarkan gairah seekor pemuda belati, tegar seperti yellow ledbetter, remuk seperti here forever, jika kalian mengerti.      

Mengenai artwork patung gagak, ada sedikit cerita ekstra dari sebuah keheningan nan suram ketika Morrg mengangkat ponsel dan Doddy Hamson bertegur di seberang sana, ingin dibuatkan desain untuk sampul album baru Komunal. Permintaan awal klien adalah ilustrasi gagak dengan ornamen grafis ‘kayak logo film Top Gun’, seperti dibeberkan Morrg. Syukur hal itu tidak kejadian. Usai tuntas menyerap seluruh energi Nostalgia yang ditafsirnya berbuah kemegahan, nyali Viking Morgg pun bergelinjang. Kalau Senyawa mendirikan candi, Suri membingkiskan bongkahan meteor, Komunal memahat patung. Seekor gagak monolit, kurnia prasasti bagi para penyembah batu—dieksekusi oleh Erlan Adi Kurnia, pematung Mojokerto. Misterius dan pagan, berdebu seperti menhir galian akhir zaman. Artwork terbaik yang pernah dipakai untuk album Komunal, pun dibanding semua desain kaos-kaos mereka. 

“Pengennya kayak kover elang di album Damn Yankees, tapi buyar. . . jadinya malah mirip Ministry,” aku Morgg, pelukis kitsch yang selain menjabat sebagai personel tetap Rajasinga dan Vlaar, secara temporer juga kerap bermain bass untuk Komunal, bergantian kini dengan Lukas Jenggala.  

  Nostalgia bukan sekadar memorial sebuah cerita kenangan; kapan pertama kali Doddy Hamson membeli kaos beneath the remains atau saat Anwar Sadat gape mengulik solo klasik cemetary gates atau begitu sumringah Reza Harry Karthana sewaktu children of the night mengudara di radio. Dua puluh satu tahun pergumulan menghasilkan sebuah aral kesaksian, bahwa mereka harus hidup jadi kaya untuk menggapai bahagia, untuk tetap bisa main heavy metal—musik tidak menjual. 

Persetan keangkuhan spiritual. Bencana tentang uang datang ketika kita menginginkannya tetapi enggan meraih kompromi, di saat itulah seni paradoksikal mencapai titik maksimal. Komunal dengan gelora mencakar jiwa memahami betul masalah itu. Langkah mereka tertatih, tidak haus duit, tidak peduli politik, membual-bual tentang kemuliaan heavy metal, berkubang di dalamnya, mendendang lagu-lagu yang berani menyertai optimisme isi dompet yang ompong tak berbunyi. Berapa lama lagi, 23 tahun, 27 tahun, 33 tahun, 49 tahun untuk memperjuangkan sebuah jalan keyakinan. . . seumur hidup? Oh, bangsat-bangsat yang beriman, seberapa rendah lagi kita harus merunduk-runduk kompromis agar bisa hidup bahagia di republik ini?         

Ngarbone bagi Ecky Lamoh. Beliau wafat dalam kesintingannya pada 30 November 2025. Putar menang atau tergilas dari album the beast, Komunal dengan Nostalgia-nya banyak berutang ke sana.

Tagged

#nostalgia #indo rock #heavy metal #komunal #disaster records